Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Triwidodo

Pemerhati kehidupan http://triwidodo.wordpress.com Pengajar Neo Interfaith Studies dari Program Online One Earth College of Higher Learning (http://www.oneearthcollege.com/id/ selengkapnya

Kalender Jawa dan Pengaruh Rasi Perbintangan Terhadap Manusia

OPINI | 04 January 2013 | 04:21 Dibaca: 1779   Komentar: 0   1

Seri Kearifan Lokal

1357248035858897871

Ilmu Astrologi yang berkembang di wilayah peradaban Sindhu atau Hindia tidaklah berdasarkan takhayul. Tapi, berdasarkan pengetahuan para ahli mereka tentang ruang angkasa, sebagai hasil penelitian selama ribuan tahun. Dari penelitian-penelitian ilmiah itu pula mereka dapat menyimpulkan bila kehidupan di bumi sangat terpengaruh oleh keadaan di ruang angkasa. Konstelasi perbintangan saat kelahiran tidak hanya menentukan sifat dasar manusia, tetapi juga memengaruhinya sepanjang hidup. (Catatan: “Sifat dasar” di sini tidak berarti harga mati. Ia ibarat kain blacu yang biasa digunakan untuk batik tulis. Kita memang tidak bisa mengubah tenunan kain itu. Tapi, dengan mengetahui sifat kain, kita bisa menentukan bahan celup, dan tulis yang sesuai. Kita juga bisa menentukan corak sesuai dengan selera kita. Pada akhirnya, harga kain itu bisa meningkat beberapa kali lipat karena tambahan-tambahan” yang kita lakukan-a.k). (*Menurut pandangan Anand Krishna peradaban Sindhu terhampar dari Sungai Sindhu di India sampai Astraleya, Australia yang pada zaman dahulu masih merupakan satu Continent. Sindhu, Shin, Chin, Shintu, Hindu, Hindia, Indo mempunyai kaitan-TW). Demikian pandangan Anand Krishna dalam buku “Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, Bhakti Seva, Terjemahan Bebas, Re-editing , dan Catatan Oleh  Anand Krishna”, Gramedia Pustaka Utama, 2010.

Dasar Pembuatan Kalender

Kalender atau Penanggalan adalah suatu cara yang disepakati untuk menandai unsur rentang waktu. Perhitungannya dapat berdasarkan pada gerakan matahari (kalender solar) dan gerakan bulan (kalender lunar). Ada juga kalender yang tidak berdasarkan gerakan benda langit dan hanya berupa penghitungan matematis seperti Kalender Pawukon. Patokan kalender adalah hari, bulan dan tahun. Hari dihitung  berdasarkan waktu putaran bumi pada porosnya dengan rentang waktu 24 jam. Bulan dihitung berdasarkan revolusi (putaran) bulan mengelilingi bumi dengan rentang waktu 1 bulan. Tahun dihitung berdasarkan revolusi (putaran) bumi mengelilingi matahari dengan rentang waktu 1 tahun. Kalender solar mempunyai rentang waktu 365.242819 hari untuk setiap putaran, yang dibulatkan menjadi 365 ¼ hari, sehingga dalam 1 tahun ada 365 hari dan setiap empat tahun ada tahun kabisat yang berumur 366 hari. Kalender lunar mempunyai rentang waktu 354.36707 hari yang dibulatkan dalam Kalender Jawa menjadi 354 3/8, sehingga 1 tahun Jawa ada 354 hari dan dalam 8 tahunan (windu) ada 3 tahun kabisat yang berumur 355 hari. Dalam perkiraan Kalender Hijriah 1 tahun dibulatkan menjadi 354 11/30 yang artinya dalam 30 tahun terdapat 11 tahun kabisat yang berumur 355 hari. Kalender Gregorian (Kalender Tahun Masehi yang dipakai secara internasional) dan Kalender Jawa dihitung berdasarkan matematis, sedangkan Kalender Hijriyah dan Kalender China menggunakan cara astronomis dengan melihat posisi bulan.

Kalender Jawa adalah sebuah kalender yang istimewa karena merupakan perpaduan antara budaya Islam, budaya Hindu-Buddha Jawa dan bahkan juga sedikit budaya Barat. Dalam sistem kalender Jawa, siklus hari yang dipakai ada dua: siklus mingguan yang terdiri dari 7 hari seperti yang kita kenal sekarang, dan siklus pasar yang terdiri dari 5 hari pasaran. Menurut Wikipedia, pada tahun 1625 Masehi, Sultan Agung Mataram mengeluarkan dekrit untuk mengubah penanggalan Saka. Sejak saat itu kalender Jawa versi Mataram menggunakan sistem kalender lunar, namun tidak menggunakan angka dari tahun Hijriyah (saat itu tahun 1035 H). Angka tahun Saka tetap dipakai dan diteruskan demi asas kesinambungan. Sehingga tahun saat itu 1547 Saka, diteruskan menjadi tahun 1547 Jawa.

Pada tahun 1855 Masehi, karena penanggalan lunar dianggap tidak memadai sebagai patokan para petani yang bercocok tanam, maka kalender berdasarkan rasi bintang yang berpengaruh pada musim tanam yang disebut sebagai Pranata Mangsa, dikodifikasikan oleh Sri Paduka Mangkunegara IV dan digunakan secara resmi. Contohnya adalah rasi bintang Waluku (Orion) sebagai tanda musim tanam. Sebenarnya Pranata Mangsa ini adalah pembagian bulan yang asli Jawa dan sudah digunakan pada jaman pra-Sultan Agung. Oleh Sri Paduka Mangkunagara IV tanggalnya disesuaikan dengan penanggalan tarikh kalender Gregorian yang juga merupakan kalender solar.

Pengaruh Konstelasi Perbintangan Terhadap Manusia

Semua Rasi Bintang akan mempunyai pengaruh terhadap manusia. Nenek moyang kita mempercayai, bahwa tidak ada hari-hari penting seperti kelahiran, perkawinan dan kematian secara kebetulan. Setiap kejadian pasti sedikit banyak dipengaruhi oleh pengaruh bulan, pengaruh matahari dan pengaruh planet lainnya. Candra, atau Soma adalah penguasa Bulan, dan leluhur kita menamakan hari yang dipengaruhi bulan sebagai Soma, Senin, Monday, hari yang dipengaruhi “moon”, “manas”. Selasa dipengaruhi oleh planet Mars, leluhur kita menyebutnya Bintang Anggara. Rabu dipengaruhi oleh planet Mercurius, yang dalam bahasa Jawi Kuno hari Rabu disebut Budha, Planet Mercurius. Kamis dipengaruhi oleh planet planet Yupiter, penguasanya Brihaspati, guru para dewa, leluhur kita menyebutnya Respati. Jum’at dipengaruhi oleh planet Venus, penguasanya adalah Sukracharya, leluhur kita menyebut hari Jum’at sebagai Sukra. Saptu dipengaruhi oleh planet Saturnus, sehingga disebut Saturday, leluhur kita menyebutnya Tumpak atau Saniscara (Dewa Sani, Putera Dewa Surya, Matahari). Sedangkan Minggu dipengaruhi oleh Matahari, Surya, Ra, sehingga harinya disebut Sunday, para leluhur kita menyebut Radite. Selain Kalender Solar (berdasar matahari), leluhur kita juga memperhitungkan Kalender Lunar (berdasar bulan) dan ada 5 hari pasar Legi, Paing, Pon Wage, Kliwon.

Kombinasi dari pengaruh matahari (7 hari mulai Senin hingga Minggu) dan pengaruh bulan (5 hari pasar), diamati dalam jangka waktu lama. Ada 35 kombinasi, dan waktu 35 hari dimana hari dan hari pasar berulang disebut ”satu lapan”.  Dari intuisi para nenek moyang tersebut muncullah ramalan tentang potensi sifat seseorang berdasar hari kelahiran atau ”weton”. Orang yang lahir hari Minggu Wage akan mempunyai potensi tabiat dasar yang dipengaruhi oleh karakter hari Minggu dan posisi bulan pada hari pasaran Wage. Waktu jam kelahiran juga berpengaruh, seperti Presiden Pertama RI yang bangga disebut sebagai Putera Sang Fajar karena lahir pada waktu matahari akan terbit. Disebutkan juga dalam dongeng-dongeng lama bahwa hujan, guntur dan kejadian alam lain juga mempengaruhi kelahiran. Untuk menghormati hari kelahiran, Orang Jawa biasa berpuasa apit weton yaitu puasa satu hari sebelum, pada, dan sesudah weton. Pada saat hari weton suami atau weton istri diusahakan tidak berhubungan badan. Ada yang berpendapat bahwa masa bayi di dalam kandungan adalah 280 hari, atau 9 bulan 10 hari, sama dengan 8 ”lapan” (8×35 hari). Apabila sel telur berhasil dibuahi benih pada hari weton, maka anak yang lahir akan sama weton dengan orang tuanya, yang menurut pengamatan biasanya menjadi kurang akur pada saat dewasa.Sebagian yang lain berpendapat agar tidak berhubungan badan pada hari weton untuk menghormati diri kita sendiri.

Karakter yang Terpengaruh Rasi Bintang Dapat Diperbaiki

Lewat buku ini (Spiritual Astrology-TW), saya hendak menyampaikan bahwa pengetahuan tentang sifat dasar membantu kita untuk melakukan sesuatu yang menguntungkan dan menghindari apa yang tidak menguntungkan. Silakan mempelajari pengaruh konstelasi perbintangan terhadap rasi Anda. Pelajari pula kekuatan-kekuatan alam yang siap mendukung Anda, dan membantu dalam hal pengembangan diri. Gunakan kekuatan-kekuatan itu untuk meraih keberhasilan. Di saat yang sama, pelajari pula kelemahan-kelemahan, dan kekurangan-kekurangan diri. Janganlah berpikir bila kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan itu tidak dapat diatasi. Semuanya dapat diatasi dan diperbaiki. Adalah kehendak yang kuat dan karya nyata untuk mengubah diri, dan mengubah keadaan. Itu saja yang dibutuhkan. Demikian pandangan Anand Krishna dalam buku “Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, Bhakti Seva, Terjemahan Bebas, Re-editing , dan Catatan Oleh  Anand Krishna”, Gramedia Pustaka Utama, 2010.

Mengapa sebaiknya calon suami dan istri mempunyai karakter bawaan (dipengaruhi weton, hari kelahiran) yang sesuai? Dalam buku Spiritual Astrology tersebut Anand Krishna menyampaikan…….. Pernikahan antara dua anak manusia yang berada pada gelombang kesadaran yang sama dapat memperkuat “gelombang bersama” mereka. Dan, dengan kekuatan itu pula mereka dapat mengundang kekuatan-kekuatan alam yang kemungkinan tidak dapat diakses secara terpisah. Banyak orang menjadi sukses setelah pernikahan. Kenapa? Karena alasan yang telah dijelaskan di atas. Kekuatan ganda suami istri mampu meningkatkan gelombang mereka bersama dan mereka bisa meraih keberhasilan yang tak terbayangkan sebelumnya. Dukungan dari keluarga dan pasangan hidup adalah faktor penting untuk meraih keberhasilan sejati. Oleh sebab itu, para Yogi selalu menasihati kita untuk mencari pasangan hidup dari kalangan sosial yang sama/mirip supaya hubungan kita langgeng di atas dasar kesetaraan-tidak ada yang lebih tinggi dan tidak ada yang lebih rendah………

Semua Rasi Ada Di Dalam Diri Anda

Sebenarnya besar atau kecil, semua rasi bintang telah mempengaruhi kita. Ini memberi keyakinan bahwa karakter semua rasi pun ada dalam diri, tergantung bagaimana kita mengolahnya. Dalam buku “Spiritual Astrology” Anand Krishna menyampaikan……… Semua Rasi Ada Di Dalam Diri Anda. Kekuatan semuanya adalah kekuatan Anda. Kelebihan semuanya adalah kelebihan Anda. Dan kelemahan, serta kekurangan semua rasi itu adalah tantangan bagi Anda untuk dihadapi, dan diatasi! Lewat buku ini (Spiritual Astrology), penulis hendak meyakinkan kita bila kita memiliki kemampuan untuk mengubah diri, dan mengubah nasib kita sendiri. Ia mengajak kita untuk meningkatkan rasa percaya diri kita, atau faith – menjadi keyakinan, atau trust. Dalam bahasa Sanskerta, “shraddha”. Leluhur kita yakin bila suratan takdir adalah buatan kita sendiri. Mengikuti hukum sebab-akibat kita menuai sesuai dengan apa yang kita tanam. Buah “akibat” yang kita peroleh hari ini adalah hasil perbuatan kita di masa lalu. Memang kita tidak bisa menolak buah itu. Tapi, kita bisa memastikan buah hari esok, dengan memperbaiki perbuatan kita hari ini. Manusia bukanlah korban nasib yang tidak berdaya. Ia memiliki kemampuan untuk mengubah nasibnya, demikianlah keyakinan leluhur kita. Demikianlah ajaran para bijak dari wilayah peradaban Sindhu, atau Hindia………

Situs artikel terkait:

http://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ada Kain Benang Emas dan Ulos Gendongan Bayi …

Piere Barutu | | 24 April 2014 | 22:40

Lost in Translation …

Eddy Roesdiono | | 24 April 2014 | 22:52

PLN Gagap Online …

Andiko Setyo | | 24 April 2014 | 23:40

Drawing AFC Cup U-19: Timnas U-19 Berpotensi …

Primata Euroasia | | 24 April 2014 | 21:28

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Ahmad Dhani: Saya Dijanjikan Kursi Menteri …

Anjo Hadi | 9 jam lalu

Partai Manakah Dengan Harga Suara Termahal? …

Chairul Fajar | 11 jam lalu

Siapa yang Akan Bayar Utang Kampanye PDIP, …

Fitri Siregar | 11 jam lalu

Riska Korban UGB jadi “Korban” di Hitam …

Arnold Adoe | 12 jam lalu

Tangis Dahlan yang Tak Terlupakan …

Dedy Armayadi | 15 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: