Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Artini Trisetiati

punya tiga peran: anak, istri dan ibu

Belajar di Trans Studio Bandung

OPINI | 03 January 2013 | 11:52 Dibaca: 397   Komentar: 0   0

Liburan panjang kemarin selagi pulang kampung ke Bogor, saya sempatkan mampir ke Trans Studio Bandung karena permintaan anak-anak. Saya yang lama tinggal di luar Jawa, paling banter tahu tentang Dufan dan TMII terakhir 2 tahun yang lalu. Selebihnya Kidzania dan lain-lain hanya tahu ceritanya saja. Berdasar informasi dari web Trans Studio saya berangkat tanggal 28 December kemarin. Sesampainya disana tiket masuk akhir tahun di bandroll Rp 250.000 per orang dan ada penawaran VIP Access bagi orang yang mau merogoh kocek tambahan Rp 250.000 lagi. Berhubung perjalanan masih panjang, ya saya pilih tanpa VIP Access. Lagian hitung-hitung anak diajak belajar antri dan bersabar.

Pelajaran pertama di Trans Studio justru saya peroleh saat antri tiket masuk. Saat itu di antrian loket di depan saya, ada sebuah keluarga yang bertanya apakah bisa menggunakan debit atau kartu kredit untuk pembayaran. Di jawab bisa oleh seorang gadis dari pihak Trans Studio yang tampaknya bertugas membantu kelancaran antrian tiket. Pada kaca loket juga terdapat tulisan loket mana yang tunai dan non tunai. Jadi buat saya sudah cukup jelas. Keluarga di depan saya antri di loket dengan tulisan tunai. Namun pada saat hendak membayar mereka mengeluarkan kartu debit. Petugas loket menolak dengan alasan mereka hanya melayani tunai, dalam hal ini mereka benar karena tulisan di kaca loket sudah jelas. Pihak pembayar berkeras bahwa mereka diberitahu bisa menggunakan debit, dalam hal ini mereka juga benar karena memang bisa pakai debit. Tiba-tiba saya lihat keluarga tersebut dihampiri oleh seorang wanita yang merunut penampilannya ia yang bertanggung jawab di area tersebut. Sambil terkesan emosi ia bertanya kepada keluarga tersebut,”Boleh Ibu tunjuk siapa yang tadi memberikan informasi tersebut?” Tentu saja dari keluarga tersebut menunjuk gadis pemberi informasi. Dan yang terjadi selanjutnya adalah, sang gadis diceramahi didepan orang banyak oleh seorang atasan. Selanjutnya saya tidak tega memperhatikan adegan itu. Sayangnya saat saya keluar dari antrian, sang atasan dan bawahan sudah tidak ada di lokasi. Ingin rasanya saya koreksi tingkah atasan seperti itu. Menurut hemat saya, kesalahan komunikasi seperti itu harusnya disikapi dengan lebih profesional dan tidak berkesan menekan bawahan secara membabi buta.

Pelajaran kedua saya peroleh saat menikmati wahana di Trans Studio. Sampai beberapa wahana saya tidak ada masalah dengan VIP Access. Justru ketika masuk wahana anak-anak saya agak terganggu dengan keistimewaan akses masuk ini. Hal ini karena anak sudah antri lama, tapi dipotong jalurnya oleh anak yang orangtuanya membeli VIP Access. Pada wahana semua umur, hal ini tidak akan begitu tampak. Dan orang yang lebih dewasa akan tahu sama tahu. Bagaimana dengan anak-anak? Secara emosi mereka akan memberontak, karena hak mereka seperti diambil paksa oleh orang lain. Bahkan saya agak khawatir apabila orang tua tidak menjelaskan secara hati-hati, dibawah sadar mereka akan mengambil kesimpulan ada uang semua jalan. Jadi kita mungkin perlu bersiap di kemudian hari kalau anak-anak kita lebih mengejar uang daripada sportivitas.

Akhirnya saya berkesimpulan ternyata memang Trans Studio adalah tempat hiburan yang lengkap. Ada ilmu pengetahuan, ada kesenangan, ada juga kegetiran, dan betapa pentingnya uang.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pemeriksaan di Bandara Sydney Ekstra Ketat …

Tjiptadinata Effend... | | 20 November 2014 | 18:49

Divisi News Anteve Diamputasi! …

Syaifuddin Sayuti | | 20 November 2014 | 22:45

Ikuti Lomba Resensi Buku “Revolusi …

Kompasiana | | 08 November 2014 | 15:08

Kenapa Wisatawan Asing Suka Datang ke …

Elly Maria Silalahi | | 21 November 2014 | 00:18

Panduan Mengikuti Kompasianival 2014 …

Kompasiana | | 18 November 2014 | 15:19


TRENDING ARTICLES

Islah DPR, Pramono Anung, Ahok, Adian …

Ninoy N Karundeng | 14 jam lalu

Putra Kandias, Kini Ramai Dibully Karena …

Djarwopapua | 15 jam lalu

Ahok, Gubernur Istimewa Jakarta …

Rusmin Sopian | 15 jam lalu

Keberanian Seseorang Bernama Jokowi …

Y Banu | 15 jam lalu

Kesalahan Jokowi Menaikan BBM …

Gunawan | 19 jam lalu


HIGHLIGHT

Dari Negeri Petro Dollar Menuju Panggung …

Muhammad Samin | 8 jam lalu

Pagi-pagi Kena Tilang …

Ridlo Syamsul | 8 jam lalu

Ayo Sukseskan Hari Ikan Nasional (Harkanas) …

Ratna Amaliania | 9 jam lalu

Calon Polwan (Tidak) Harus Perawan …

Arief Firhanusa | 9 jam lalu

Inspirasi dari Seorang “Penjual …

Fathan Muhammad Tau... | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: