Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Agung Webe

Agung Webe telah menulis 15 buku motivasi dan pengembangan diri. Melalui Training & Seminar pemberdayaan selengkapnya

Borobudur peninggalan Nabi Sulaiman? So What?

OPINI | 02 January 2013 | 14:30 Dibaca: 8992   Komentar: 32   3

Pertama akan saya katakan bahwa saya tidak menentang adanya penelitian bahwa Borobudur di asumsikan peninggalan Nabi Sulaiman dan Keraton Boko (di selatan Prambanan) adalah Keraton dari Ratu Bilqis (terkait kata Boko hampir sama dengan Bilqis).

Biarkan penelitian tersebut berjalan dan sangat mungkin sekali bahwa memang sejarah yang semula kita kenal adalah yang keliru. Hal ini bisa saja terjadi. Atau mungkin saja bahwa penelitian itu yang keliru yang akhirnya hanya akan menjadi manipulasi sejarah yang dipaksakan.

Dikatakan dan dipercaya oleh para peneliti bahwa Borobudur adalah peninggalan Nabi Sulaiman karena adanya nama daerah dimana Borobudur berada yaitu Sleman yang dikaitkan dengan nama Nabi Sulaiman. (bagi saya ini sangat dipaksakan sekali)

Pertama adalah umur batu yang digunakan pada Candi Borobudur sudah diteliti oleh para arkeolog adalah dibangun pada sekitar abad 750-847 Masehi. Menurut prasasti Kulrak, bahwa pembangungan Candi tersebut memakan waktu 1 abad dengan melibatkan 3 Generasi Raja dari Wangsa Syailendra, yaitu Raja Danajaya, Raja Samaratungga, dan Ratu Dyah Pramudawardani.

Sedangkan Istana Nabi Sulaiman menurut para peneliti arkeologi diperkirakan ada pada abad 950 Sebelum Masehi.

Nama daerah Sleman yang dihubungkan dengan nama Nabi Sulaiman ini terlalu dipaksakan. Marilah kita terlebih dahulu mencari tahu asal usul nama daerah Sleman, dan mencari tahu juga asal usul nama-nama kabupaten lainnya atau tempat lainnya di wilayah Yogyakarta atau kerajaan Mataram waktu itu.

Di wilayah Yogakarta atau kerajaan Mataram, pemberian nama daerah biasanya adalah sesuai dengan nama orang yang merupakan tokoh di daerah tersebut atau nama profesi karyawan Keraton waktu itu.

Contoh adalah daerah yang bernama Wirobrajan.

Wirobrojo adalah nama prajurit terdepan dari keraton Yogyakarta. Para prajurit tersebut tinggal di sebuah daerah yang kemudian dinamakan Wirobrajan.

Ada juga daerah yang bernama Ngampilan.

Di daerah ini adalah tempat tinggalnya para abdi dalem Ngampil atau para penabuh gamelan kerajaan. Maka tempat para abdi dalem Ngampil ini tinggal disebut dengan nama Ngampilan.

Sama seperti daerah yang dinamakan Sleman.

Mengapa dinamakan Sleman? Nama ini diambil dari tokoh (walaupun masih merupakan spkesulasi juga karena tidak ada surat akte yang menyatakan demikian) pada jaman Mataram Islam yang menyebarkan agama Islam di daerah tersebut. Tokoh itu bernama Sayyid Sulaiman Mojoagung (bergelar pangeran Kanigara)

Walaupun semua nama di Yogyakarta dan asal usulnya tidak pernah diketahui pasti berasal dari mana, dan semua adalah spekulatif, namun kita dapat melihat jarak spekulatif yang paling dekat dan paling dapat kita cerna dengan hubungan daerah yang ada.

Nah, apakah anda tetap akan memaksakan bahwa nama kabupaten Sleman itu berasal karena pernah adanya Nabi Sulaiman disana?

Terlepas dari itu semua,

Kalau Borobudur itu dinyatakan peninggalan Nabi Sulaiman, lalu … so what?

Ini sama ketika digembar-gemborkan bahwa Indonesia adalah Atlantis! Saya mengatakan hal yang sama, yaitu so what?

Apakah kita dapat membuktikan bahwa kebudayaan yang tinggi tersebut masih kita miliki? Membuktikan bahwa letak benda-benda tersebut memang ada di Indonesia adalah hal yang lebih mudah daripada membuktikan bahwa kita benar-benar mewarisi ketinggian budaya dan tingginya kreatifitas bangsa tersebut.

Tindakan meng-klaim atau protes atas kepemilikan Borobudur atas nama umat tertentu hanya membuktikan bahwa kita tidak memiliki budaya yang tinggi atau kreatifitas yang tinggi yang telah dibuktikan dengan bangunan yang kita klaim milik kita tersebut.

Bila Nabi Sulaiman pernah tinggal di Jawa dan meninggalkan Borobudur, dan juga bila Atlantis yang berbudaya tinggi tersebut adalah Indonesia, maka dimana sisa kreatifitas dan budaya masyarakat kita yang tinggi tersebut?

Pembuktian daerah secara mati-matian yang kita klaim merupakan milik kita hanya merupakan tindakan sia-sia karena kita benar-benar kehilangan ‘esensi’ peninggalan budaya tersebut.

Kalau memang benar nabi Sulaiman pernah ada di tanah Jawa, maka mari kita munculkan kembali peninggalan dari sisi moral budaya dan kreatifitas yang pernah ada tersebut.

Kita buktikan dari hasil tindakan yang bisa kita lakukan dengan moral budaya yang tinggi tersebut. Kita lahirkan kembali tingginya moralitas dan kreatifitas yang pernah ada tersebut.

Kalau hanya sebatas tempat dan wujud yang pernah ada so what? Mungkin itu tidak akan berguna untuk kemajuan kita tanpa kita memahami bahwa peninggalan moral yang tinggi, kreatifitas yang tinggi dan kesadaran yang tinggi itulah yang penting bagi kemajuan kehidupan kita ke depan!

Kita boleh bangga apabila hal tersebut memang terbukti secara penelitian, namun yang lebih harus kita banggakan adalah apabila saat ini kita benar-benar dapat melahirkan kembali tingginya moralitas dan tingginya kreatifitas yang pernah kita punyai tersebut.

Dengan tindakan melahirkan kembali atau Re-Inviting Culture, maka kita dapat membangun kehidupan Indonesia yang gemilang!

Salam cerdas Indonesia!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Wahana Baru Ice Age Arctic Adventure, Dufan …

Rokhmah Nurhayati S... | | 19 April 2014 | 01:35

Sesat Pikir Koalisi …

Faisal Basri | | 18 April 2014 | 19:08

Jangan Prasangka Pada Panti Jompo Jika Belum …

Mohamad Sholeh | | 19 April 2014 | 00:35

Araira …

Fandi Sido | | 16 March 2014 | 19:39

Memahami Skema Bantuan Beasiswa dan Riset …

Ben Baharuddin Nur | | 18 April 2014 | 23:26


TRENDING ARTICLES

Mengintip Kompasianer Tjiptadinata Effendi …

Venusgazer™ | 6 jam lalu

Kasus Artikel Plagiat Tentang Jokowi …

Mustafa Kamal | 9 jam lalu

Kue Olahan Amin Rais …

Hamid H. Supratman | 18 jam lalu

Puan Sulit Masuk Bursa Cawapres …

Yunas Windra | 18 jam lalu

Misteri Pertemuan 12 Menit yang Membungkam …

Gatot Swandito | 19 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: