Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Dewa Gilang

Single Fighter!

Benarkah Gus Dur Mengganti Assalamualaikum dengan “Selamat Pagi”?

REP | 01 January 2013 | 09:00 Dibaca: 1641   Komentar: 47   13

Terlahir dengan nama Abdurrahman Ad-Dakhil, sosok pria yang merupakan cucu dari pendiri NU, Hasyim Asy’ari, ini memang benar-benar sesuai dengan namanya (Ad-Dakhil). Ad-Dakhil sendiri bisa berarti “sang pendobrak” atau “sang penakluk”.

Sepak terjangnya mendobrak kejumudan berpikir umat muslim di Indonesia. Entah karena pemikirannya yang terlalu maju atau ucapannya sering dipelintir oleh media, wacana-wacana Gus Dur kerap menjadi perbincangan dan kehebohan di kalangan umat.

Jangankan orang luar pagar NU, orang dalam pagar-pun sering dibuat pening oleh Tingkah polah dan berbagai wacana Gus Dur. Sehingga tak terlalu berlebihan bila pengamat politik, Fachri Ali, pernah berujar bahwa Gus Dur itu bak “orang asing di tengah NU”.

Salah satu wacana yang paling kontroversial, dan juga paling sering diputar ulang, entah untuk diperbincangkan secara ilmiah atau sekedar untuk memojokkan tokoh yang memiliki garis keturunan “darah biru NU” itu, ialah wacananya mengganti ucapan salam dalam Islam (Assalamualaikum) dengan “selamat pagi”.

Lalu benarkah Gus Dur pernah mengucapkan wacana tersebut?. Untuk menjawabnya saya akan mengutip keterangan dari artikel Ahmad Tohari berjudul “Kulo Ndherek Gus”. Ahmad Tohari sendiri adalah redaktur senior di Majalah Amanah. Majalah yang pertama kali memuat berita perihal tersebut. Berikut kutipannya:

Adalah Edy Yumaedi almarhum. Suatu siang, pada 1987, wartawan majalah Amanah itu bergegas masuk ke ruang redaksi di Jalan Kramat VI Jakarta. Dengan wajah gembira dia meminta beberapa redaktur, di antaranya saya, mendengar laporannya. Dia baru selesai mewawancarai Gus Dur. Topik wawancaranya adalah pluralitas internal umat Islam Indonesia.

Rekaman wawancara-pun diputra. Intinya Gus Dur mengatakan, kemajemukan di dalam masyarakat muslim di Indonesia sudah menjadi kenyataan sejak berabad lalu……Namun, ujar Gus Dur, kemajemukan itu harus tetap terikat di dalam ukhuwah Islamiyyah atau persaudaraan Islam.

Gus Dur tidak suka terhadap istilah Islam KTP atau Islam abangan, baginya, semua orang yang sudah bersyahadat dan berkelakuan baik, ya muslim. Mereka yang bertamu masih memberi salam dengan ucapan “kulo nuwun”, “punteun” atau selamat pagi, ya muslim karena syahadatnya.

“Kalau begitu Gus, ucapan Assalamu’alaikum bisa diganti dengan selamat pagi?”, tanya Edy Yumaedi.

“Ya bagaimana kalau petani atau orang-orang lugu itu bisanya bilang “kulo nuwun”, punteun atau selamat pagi? Mereka kan belum terbiasa mengucapkan kalimat dalam bahasa arab kayak kamu?”.

Itulah inti pendapat Gus Dur dalam wawancara dengan Edy Yumaedi. Edy mengusulkan agar wawancara itu dimuat dalam majalah Amanah edisi depan dengan penekanan bahwa Gus Dur menganjurkan mengganti Assalamu’alaikum dengan “selamat pagi”. Alasannya cukup konyol. Menurut Edy, majalah Amanah yang kala itu baru berumur satu tahun, harus membuat gebrakan dalam rangka menarik perhatian pasar.

“Kan nanti Gus Dur akan membantah. Dan bantahan itu kita muat pada edisi berikut. Nah, jadi malah ramai kan? Ini cuma taktik pasar kok,” Edy ngotot.

Singkat kata dalam artikel Ahmad Tohari itu digelarlah rapat pemimpin redaksi. Ada yang pro dan juga ada yang kontra. Celakanya yang pro lebih banyak. Akhirnya terbitlah majalah Amanah edisi Assalamu’alaikum tersebut, yang kemudian menjadi polemik dan kontroversi di kalangan umat.

Dengan membaca artikel yang berisikan pernyataan dari Ahmad Tohari di atas, maka tak ditemukan satu-pun kalimat Gus Dur langsung mengenai penggantian Assalamu’alaikum dengan selamat pagi. Namun, api telah terlanjur merembet sehingga membakar hangus suatu bangunan.

Berawal dari majalah Amanah-lah polemik itu kemudian bergulir dan dikutip oleh media lainnya. Lebih celakanya lagi, hingga Beliau wafat (Gus Dur) kontroversi mengenai “selamat pagi” itu terus menyertai Gus Dur. Bahkan melebar hingga kepada bahwa Gus Dur ingin mengganti shalat dengan ucapan selamat.

Hingga sampailah kabar angin tersebut di haribaan kompasianer Bang Pilot, yang tanpa ampun langsuk “menghujani” sosok Gus Dur dengan artikelnya yang memuat 40 “dosa-dosa” Gus Dur. Dengan berbekal ilmu “nyambungisme” Kompasianer Bang Pilot kemudian benar-benar meracik bom (seperti pada artikelnya mengenai cara-cara merakit bom) dan meledakkannya di rumah sehat Kompasiana. Dan korban-pun berjatuhan. Warga NU meradang. Gusdurian bak dipojokkan oleh logika “nyambungisme” Bang Pilot.

Menurut Alquran, Jika seseorang membawa kabar, maka kita diharuskan untuk men-cek dan ricek kebenaran dari kabar tersebut. Rupanya kita sama sekali tak pernah mau melakukan cek-ricek terhadap kabar mengenai Gus Dur. Sikap subjektif yang disertai dengan kebencian yang tertoreh dalam membuat kita gelap mata, akal dan hati.

Sekali lagi, ini adalah artikel saya yang kedua setelah edisi “Benarkah Gus Dur” yang pertama. Saya hanya mencoba menghadirkan versi lain dari kontroversi seorang Abdurrahman Ad-Dakhil di masyarakat. Selanjutnya saya serahkan ke hadirat sidang pembaca Kompasiana yang terhormat. “Kulo Ndherek, Gus!”.

Semoga Gus Dur selalu dalam naungan Rahmat Allah Swt dan Syafaat dar baginda Nabi Muhammad Saww. Al-Fatihah.

Gitu aja koq repot.

Selamat menikmati hidangan.

Ditulis sebagai tanggapan atas artikel Bung Pilot dan komentar “nyeleneh”-nya di artikel Dewa Gilang.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Menjelajah Pulau Karang Terbesar di …

Dizzman | | 31 October 2014 | 22:32

Menjawab Keheranan Jokowi …

Raden Suparman | | 31 October 2014 | 08:42

Hati Bersih dan Niat Lurus Awal Kesuksesan …

Agung Soni | | 01 November 2014 | 00:03

Rayakan Ultah Ke-24 JNE bersama Kompasiana …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 12:53


TRENDING ARTICLES

Susi Mania! …

Indria Salim | 7 jam lalu

Gadis-Gadis berlagak ‘Murahan’ di Panah …

Sahroha Lumbanraja | 9 jam lalu

Pramugari Cantik Pesawat Presiden Theresia …

Febrialdi | 10 jam lalu

Kerusakan Demokrasi di DPR, MK Harus Ikut …

Daniel H.t. | 12 jam lalu

Dari Pepih Nugraha Untuk Seneng Utami …

Seneng | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Karena Jokowi, Fadli Zon …

Sahroha Lumbanraja | 7 jam lalu

Sengkuni dan Nilai Keikhlasan Berpolitik …

Efendi Rustam | 10 jam lalu

Wakatobi, Potongan Surga yang Jatuh ke Bumi …

Arif Rahman | 10 jam lalu

Danau Poso, Keelokannya Melahirkan Rindu …

Jafar G Bua | 11 jam lalu

Politik Saling Sandera …

Salman Darwis | 12 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: