Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Suwito Ns

Bekerja di STAIN Purwokerto Alumni UIN Jakarta (S.3) IAIN Ar-Raniry (S.2) IAIN Walisongo (S.1) PGAN Kudus MTs Sunan Muria selengkapnya

Cara Mudah Mengundang Setan

OPINI | 31 December 2012 | 09:01 Dibaca: 920   Komentar: 0   0

Oleh: Suwito NS. Sejak beberapa hari lalu, ketika nonton TV kita disuguhi berita-berita yang sedang ramai dibicarakan, di antaranya banjir, kekerasan, demo anarkhis, korupsi, narkoba, illegal logging, dan berita-berita jelek lain. Berita-berita yang mendidik, membangun motivasi jarang diekspos sedemikian rupa, seolah negeri ini penuh dengan musibah dan keangkaramurkaan.

Berita tentang banjir bandang dan rumah tenggelam menjadi langganan setiap tahunnya setiap musim hujan. Setelah berganti musim, seolah musibah itu tidak pernah ada. Kebiasaan lama kembali lagi, yakni lupa. Karena penyakit ini, tidak ada rencana dan aksi untuk mencegah terjadinya musibah yang berulang ulang setiap tahunnya.

Dalam QS. Yunus: 12, kita diberi informasi oleh Allah salah satu sifat buruk manusia, yakni pelupa dan melampaui batas. Sifat buruk ini akan menjadi penyebab buruk lainnya datang. Saat ditimpa musibah, kita seakan-akan dia sangat dekat dengan Allah. Saat banjir datang semua mencoba untuk sadar dan ingat akan musibah yang datang. Kita beramai-ramai berdoa. Tetapi, saat musibah tersebut dihilangkan, mereka kembali kepada tradisi semula. Yakni, lupa dan ingkar kepada Allah. Ini dalam al-Quran disebut dengan kufur nikmat sebagaimana dilakukan oleh umat-umat terdahulu.

Pelajaran seharusnya dipetik saat musibah datang. Banjir yang datang berkali-kali seharusnya dapat menyembuhkan tradisi buruk masyarakat yang tidak ramah lingkungan. Tradisi membuang sampah sembarang harus segera dihentikan. Harusnya, banjir memantik manusia untuk tobat ekologis. Yakni, menyadari bahwa selama ini kebiasaan berlingkungan seperti membuang sampah tidak pada tempatnya, membabat hutan, menebang pohon sembarangan, memakai bukan hak milik, seperti memakai bantaran sungai, trotoar, dan seterusnya harus disadari bahwa ini adalah perbuatan yang yang keliru.

Kekeliruan satu akan mengakibatkan kekeliruan lain berikutnya. Salah dalam membuang sampah menyebabkan banjir. Banjir menyebabkan penyakit dan ketidaknyaman hidup. Ini juga berlaku pada illegal logging, korupsi, manipulasi, narkoba, dan lain-lain. Perbuatan tersebut adalah wujud dari keserakahan. Keserakahan adalah cara paling mudah mengundang setan masuk dalam diri kita. Setan mudah masuk dalam aliran darah kita. Penikmat illegal logging atau barang haram lainnya mulai dari pelaku, backing, kuli angkut, penadah, dan semua yang terlibat telah mengundang bahkan menfasilitasi setan masuk dalam tubuh kita.

Keputusan yang keluar dari mereka yang menikmati hasil haram pasti kebutusan-kebutusan yang tidak jernih dan tidak pro kebaikan. Keburukan satu memunculkan keburukan lainnya. Kerusakan satu mengakibatkan kerusakan lainnya. Setan satu memunculkan setan lainnya.

Keburukan akan menimbulkan keburukan berikutnya. Kenapa masyarakat dan bangsa kita ini tidak segera sadar walau telah didera dengan musibah dan cobaan yang bertubi-tubi ? Di antaranya jawabannya adalah kita sebagai bangsa telah tumpul hati nurani kita karena telah tertup dengan dzulmani. Potensi nurani (dari kata nur atau cahaya) telah tertutup dengan zulmani (dari kata dzulm berarti kegelapan). Ibarat hati seperti kaca cermin telah tidak jernih karena kotor. Bahkan kaca atau cermin itu telah rusak tidak bisa dipakai lagi.

Satu-satunya cara adalah mengembalikan kesadaran kita dengan cara melakukan renungan akan kehidupupan ini. Sadar kembali tujuan dan makna kehidupan. Menyesalai kesalahan dan dosa yang telah kita perbuat. Berkomitmen untuk tidak mengulangi kembali kesalahan. Mendelete virus-virus setaniyah dalam CPU hati dan pikiran kita. Setelah itu, kita install program-program aplikasi kebaikan sekalipun sangat kecil. Misal membuat lubang biopori di sekitar rumah kita, menanam pohon di lahan milik kita, atau memotivasi orang lain agar membuang sampah pada tempatnya dan seterusnya.

Amalan ini akan mendorong keberkahan dan kebaikan berkelanjutan (ajrun ghair mamnun). Investasi kebaikan sepanjang masa yang pahalanya selalu mengalir walaupun orangnya sudah meninggal dunia.

Allah A’lam bi Shawab

Ngawi, Wisma Latansa GP 1, 27 Desember 2012, 07:08.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Karnaval Kota yang Paling Ditunggu …

Ikrom Zain | | 30 August 2014 | 14:46

Dua Puncak Lawu yang Terlupakan …

Munib Muhamad | | 30 August 2014 | 16:19

Madrid yang Tak Belajar dari Pengalaman …

Garin Prilaksmana | | 30 August 2014 | 16:19

Makna Perjalanan Adalah Menambah Sahabat …

Ita Dk | | 30 August 2014 | 13:06

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Ternyata Inilah Sebabnya Pendeta Paling …

Tjiptadinata Effend... | 9 jam lalu

Kesaksian Relawan Kerusuhan Mei …

Edo Panjaitan | 10 jam lalu

Masalah Sepele Tidak Sampai 2 Menit, Jogja …

Rudy Rdian | 11 jam lalu

Jogja Miskin, Bodoh, Tolol dan Tak …

Erda Rindrasih | 13 jam lalu

Tentang Mengusahakan Jodoh …

Adin_noel | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Peranku bagi Indonesia …

Wiranota Hesti | 8 jam lalu

Penghematan Subsidi dengan Penyesuaian …

Eldo M. | 8 jam lalu

Penampilan Wadyabala Kanjuruhan dan …

Mas Ukik | 8 jam lalu

Florence Penghina Jogja Akhirnya Ditahan …

Ifani | 8 jam lalu

Kuliner Vietnam Kala Itu… …

Fillia Damai R | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: