Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Michael Sendow

Redaktur Majalah Infosulut. Writer. Trainer di PT.BSM Indonesia. As long as you are still alive, selengkapnya

Tradisi Pulang Kampung Setiap Hari Raya

HL | 23 December 2012 | 10:38 Dibaca: 697   Komentar: 0   13

Pulang Kampung Natalan Warga Kawanua

1356251454911424584

Ilustrasi/Admin (KOMPAS.com/Ronny Adolof Buol)


Tradisi merayakan hari Natal sudah turun temurun bagi warga Kristiani di mana saja. Untuk mereka yang berasal dari Manado dan Minahasa, perayaan tersebut juga dilakukan dengan sangat meriah. Dari ujung Utara ke Selatan, Barat ke Timur, dan di pelosok desa maupun pusat kota suasana Natal pasti sudah sangat terasa.

Bagi orang-orang perantauan seperti saya misalnya, dan juga ribuan ‘Kawanua’ (sebutan khas untuk orang Manado dan Minahasa) lainnya merayakan Natal akan selalu identik dengan pulang kampung. Keinginan untuk merayakan natal di kampung halaman sendiri sepertinya sudah menjadi magnet atau ‘keharusan’ tersendiri. Secara tradisi maka merayakan Natal akan memiliki nilai kekeluargaan yang amat tinggi bila itu dirayakan dengan keluarga-keluarga terdekat kita, juga lingkungan dari mana kita berasal. Ketika kita mengadakan ibadah secara khusuk dalam lingkup terdekat kita terlebih dahulu.

Tradisi lain di Manado dan Minahasa adalah jauh-jauh sebelum Natal, mereka sudah mulai mengentalkan suasana natal, hal itu dilakukan antara lain dengan misalnya pemasangan lampion Natal serta pohon Natal jauh sebelum bulan Desember, bahkan pada bulan Oktober dan November saja sudah terdengar lagu-lagu Natal dan orang-orang sibuk membuat kue Natal. Angkutan umum memutar lagu-lagu Natal di sepanjang perjalanan. Hal lain yang biasanya saya saksikan adalah bahwa sejak tanggal 1 Desember, maka hampir setiap kolom (persekutuan terkecil dalam suatu lingkup Gereja), jemaat, lingkungan, sampai kepada istansi pemerintah maupun perusahaan swasta mengadakan apa yang disebut sebagai ‘Ibadah Pohon Terang’. Setelah Natal tanggal 25 usai pun secara tidak resmi tanggal 26 dirayakan melalui rangkaian ibadah yang dikenal sebagai ‘Natal Hari Ke Dua’.Saya memperoleh kesan tersendiri yang amat dalam, ketika pulang dari Amerika Desember tahun lalu untuk merayakan Natal kembali di kampung halaman, setelah belasan tahun merayakannya di negeri orang. Saya mendapati betapa kerukunan umat beragama di kampung halaman saya bukan hanya isapan jempol semata yang sering saya dengar, dan baca.

Kawan-kawan yang muslim pada saat itu bahkan ada yang terlibat sebagai panitia perayaan natal. Pemuda-pemuda muslim yang lain ikut menjaga jalannya rangkaian ibadah pohon terang yang sementara berlangsung. Saya jadi teringat kata-kata Richard Nixon ini, “If you want to make beautiful music, you must play the black and the white notes together.” Bukankah alunan musik kehidupan, keragaman dan keberagamaan kita akan terasa lebih manis dan indah, bila lantunan melodi persatuan dan persaudaraan dimainkan secara bersama dan tanpa tendensi negatif apapun? “For we know that our patchwork heritage is a strength, and not a weakness. We are a nation of Muslims and Christians, Buddhists and Hindus….”

Natal Kawanua Pulang Kampung

Tahun ini, rencananya ada sekitar ratusan sampai ribuan warga kawanua (kumpulan warga Manado dan Minahasa) yang telah berdiaspora di berbagai penjuru dunia akan datang untuk mengadakan acara “Kawanua Baku Dapa” dan puncaknya yaitu perayaan Natal bersama. Panitianya sudah sejak lama terbentuk. Tahun ini sepertinya akan dibuat semeriah dan sebermanfaat mungkin

Beberapa kawan saya yang datang dari Amerika dan Kanada sudah sempat menelepon sekedar memberi kabar bahwa mereka ada yang sudah mendarat di Manado, dan ternyata mereka disambut secara khusus di Bandara Sam Ratulangi. Musik-musik tradisional seperti Musik Bambu dan kolintang turut meyemaraki dengan melantunkan melodi-melodi Natal. Aha, saya pun sepertinya ingin segera menyusul mereka pulang kampung untuk menghadiri acara Kawanua Bakudapa dan perayaan Natal bersama itu. Jakarta - Manado kan hanya makan waktu 3 jam lebih sedikit.

Tempat-tempat yang sudah disiapkan, dan menurut saya bakal paling ramai dikunjungi antara lain adalah Boulevard Manado, Batu Nona di Minahasa Utara, Bukit Doa yang berlokasi di Kakaskasen, dan tentu saja Desa Sonder tempat di mana akan dilangsungkannya Karnaval Natal. Selain itu, kunjungan-kunjungan ke Bukit Kasih Kanonang, Danau Linouw yang warna warni itu, serta kota bunga Tomohon pasti akan gencar dikunjungi.

Khusus di Boulevard Manado sudah sementara dilaksanakan sebuah acara bertajuk Christmas@Boulevard 2012. Acara yang digagas oleh berbagai pihak termasuk IT Center, Pemkot Manado, Pemprov Sulut, Polda Sulut, dan Korem 131 Santiago tentu menyita banyak pengunjung.  Di situ ditampilkan Parade Santa, kemudian ada juga Christmas Tree Competition, Vocal Group Competition. Bagi Anda para penyuka kuliner dapat mencoba galeri dari Christmas Food, juga ada sajian berbagai makanan tradisional khas daerah-daerah yang ada di Manado dan Minahasa.

Puncak acara perayaan Natal Kawanua Sedunia II itu sendiri rencananya akan dilangsungkan pada tanggal 28 Desember 2012 nanti, Tempat yang sudah disiapkan adalah Sutan Raja Hotel di Minahasa Utara (Minut).

Isi Toples Mulai Berkurang?

Ada beberapa kelakar warga Manado, katanya “Jangan pernah buka toples berisi kukis (kue) Natal sebelum tanggal 25 Desember tiba.” Ketika ditanya kenapa? Jawabnya, karena kata mereka pamali kalau makan kukis (kue) Natal sebelum waktunya. Ibarat mengucap selamat ulang tahun pada seseorang padahal yang bersangkutan nanti berulang tahun besok hari. Kalau itu sih bagi saya hanyalah lelucon saja. Buktinya sudah sejak beberapa Minggu lalu mulut saya tidak berhenti mengunyah kukis-kukis Natal, aman-aman saja.

Lantas kenapa ada semacam ‘larangan’ seperti itu? Ya barangkali supaya isi toplesnya tidak berkurang sebelum tanggal 25. Kan tamu-tamu nanti bermunculan mulai tanggal 25, masak mau berikan ke tamu-tamu toples setengah penuh.

Tapi juga, mulai tanggal 25 sampai tanggal 2 Januari adalah puncak berkurangnya isi toples secara drastis. Ini menandakan bahwa pada masa-masa itulah saling berkunjung, atau orang Manado bilang ‘baku pasiar’ terjadi. Saat di mana rumah warga Kristiani tidak pernah sepi tamu atau sepi kunjungan. Bahkan, tetangga sebelahan rumah juga bisa saling mengunjungi sampai dua tiga kali. Saling balas kunjungan, dan saling mencicipi isi toples, dan juga hasil masakan masing-masing.

Ah, tapi saya mesti menyudahi tulisan ini sebelum perut saya benar-benar menjadi semakin lapar, karena banyak bicara soal makanan. Ada yang pasti akan selalu saya kenang ketika pulang kampung. Sama seperti dengan antusiasme saudara-saudara Muslim saya yang berbondong-bondong mudik ketika lebaran, demikian juga halnya saya. Apa penyebabnya? Kenapa tradisi pulang kampung ini terasa begitu penting? Karena di manapun kita berada, rasa-rasanya tiada yang lebih indah dan berkesan daripada ketika kita dapat merayakan hari raya bersama keluarga terdekat, dan di tempat darimana kita berasal. —Michael Sendow—

***

“When you finally go back to your old hometown, you find it wasn’t the old home you missed but your childhood, and also your harmonization with others there…”

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pengalaman Menjadi Tim Sukses Caleg Gagal …

Harja Saputra | | 24 April 2014 | 08:24

Di Balik Cerita Jam Tangan Panglima …

Zulfikar Akbar | | 24 April 2014 | 01:13

Bapak-Ibu Guru, Ini Lho Tips Menangkap …

Giri Lumakto | | 24 April 2014 | 11:25

Pedagang Racun Tikus Keiling yang Nyentrik …

Gustaaf Kusno | | 24 April 2014 | 10:04

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 6 jam lalu

Provokasi Murahan Negara Tetangga …

Tirta Ramanda | 7 jam lalu

Aceng Fikri Anggota DPD 2014 - 2019 Utusan …

Hendi Setiawan | 7 jam lalu

Prabowo Beberkan Peristiwa 1998 …

Alex Palit | 11 jam lalu

Hapus Bahasa Indonesia, JIS Benar-benar …

Sahroha Lumbanraja | 13 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: