Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Hadisang

lahir di sanglor gunungkidul yogyakarta, 18 desember 1970,mantan pencari rumput dan kayu bakar, saat ini selengkapnya

Kisah Nyata Umat Islam dan Umat Kristen

REP | 22 December 2012 | 22:37 Dibaca: 5088   Komentar: 0   0

salah satu desa terpencil di kabupaten gunungkidul tigapuluh tahun yang lalu ketika usiaku masih belasan tahun dan masih duduk di bangku sekolah dasar, terdapat dua agama yang ada di desa saya yaitu islam dan kristen. letak bangunan gereja dan masjid pun jaraknya tidak jauh, kira - kira hanya duaratus meter. meskipun saya seorang muslim dan rumah saya berada persis di samping sebuah gereja namun saya tidak merasa terganggu dengan kegiatan umat kristen. pun sebaliknya dengan teman saya yang seorang kristen dan rumahnya dekat dengan masjid, mereka juga tidak merasa terganggu dengan kegiatan pengajian umat muslim.

dan yang paling saya ingat hingga saat ini adalah ketika umat kristen merayakan natal, maka umat muslim secara berpatungan mengumpulkan dana untuk membantu atau dengan kata lain menyumbang kepada umat nasrani tersebut. dan sumbangannya bukan berupa uang yang terkumpul, melainkan berupa minyak tanah satu blek (jerigen terbuat dari plat seng berbentuk kotak ) dan nasi bungkus berikut lauk pauknya sesuai dengan jumlah umat kristen yang ada dan tentunya diberikan kelebihan beberapa bungkus. berhubung di desa saya belum ada listrik dan penerangannya dari lampu petromak maka sumbangan minyak tanah lebih diperlukan.

begitu juga sebaliknya ketika hari raya idul fitri tiba maka pada malam takbiran,  dari pihak umat kristen pun tidak lupa gantian membantu atau menyumbang sesuai apa yang pernah umat muslim lakukan kepada umat kristen sebelumnya yaitu ketika hari natal tersebut.

dan entah dari mana awalnya dan siapa yang memulai duluan, karena setahu saya ketika saya pertama kali ikut takbiran di masjid, ada beberapa perwakilan dari umat kristen yang datang dengan membawa minyak tanah dan beberapa nasi bungkus.

namun dengan seiringnya waktu dan jaman semakin modern, entah siapa yang mengakhiri kebiasaan tersebut, akhirnya tidak ada lagi yang saling menyumbang. berhubung umat kristen pecah menjadi dua yaitu yang salah satu pengurusnya mendirikan katolik. dan membangun gereja sendiri maka pihak umat muslim bersifat netral tidak menyumbang kepada dua - duanya. dan pihak kristen dan katolik pun demikian.

padahal jika mengingat tigapuluh tahun yang lalu saya merasa kehidupan di desa saya sangatlah damai dan tentram dengan segala keharmonisan masyarakatnya. meskipun terisolasi dari segala keterbatasan namun kehidupan masyarakatnya sangat harmonis.

terimakasih kompasiana

hadisang

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kalau Bisa Beli, Kenapa Ambil yang Gratis?! …

Tjiptadinata Effend... | | 01 November 2014 | 14:03

Sebagai Tersangka Kasus Pornografi, Akankah …

Gatot Swandito | | 01 November 2014 | 12:06

Danau Toba, Masihkah Destinasi Wisata? …

Mory Yana Gultom | | 01 November 2014 | 10:13

Traveling Sekaligus Mendidik Anak …

Majawati Oen | | 01 November 2014 | 08:40

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

MA si Tukang Sate Ciptakan Rekor Muri …

Ervipi | 5 jam lalu

Jokowi Kelolosan Sudirman Said, Mafia Migas …

Ninoy N Karundeng | 6 jam lalu

Pramono Anung Sindir Koalisi Indonesia Hebat …

Kuki Maruki | 6 jam lalu

Keputusan MK Tentang MD3 Membuat DPR Hancur …

Madeteling | 7 jam lalu

Karena Jokowi, Fadli Zon …

Sahroha Lumbanraja | 9 jam lalu


HIGHLIGHT

Mencari Azan ke Kampung Segambut …

Rita Kunrat | 8 jam lalu

Wonderful Indonesia: Menelusuri Jejak …

Casmudi | 8 jam lalu

Memanfaatkan Halaman Rumah untuk Tanaman …

Akhmad Sujadi | 8 jam lalu

Jangan-jangan Jokowi (juga) Kurang Makan …

Eddy Mesakh | 8 jam lalu

Susi yang Bikin Heran …

Mbah Mupeang | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: