Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Khrisnanda Satya

Mahasiswa Komunikasi UIN Sunan Kalijaga 11730039 | follow me on twitter @khrisnandasmu

Warung Kopi = Ruang Kuliah Kami

REP | 21 December 2012 | 06:47 Dibaca: 223   Komentar: 0   0

13560470561905918319Warung Kopi = Ruang Kuliah Kami, ya memang benar judul diatas menggambarkan keadaan dunia perkuliahan kami yang memang begini adanya. Saya kuliah di salah satu PTN di Yogyakarta. Yang namanya Perguruan Tinggi Negeri, tentu dana dari Negara mengucur deras. Akan tetapi, fasilitas yang kami dapatkan tak sebanding dengan fasilitas PTN lain. Tak hanya itu, masih sangat banyak ditemukan dosen yang belum menguasai materi perkuliahan. Bukan iri ataupun menyalahkan, namun kami berhak menuntut hak-hak kami yang tersingkirkan. Tulisan ini dibuat atas dasar kegelisahan-kegelisahan yang kami rasakan. Yaaa kami, tidak hanya saya yang merasakan.

Berbicara mengenai kegelisahan akan fasilitas yang kami dapatkan, tentu semua berpendapat kurang puas. Bagaimana tidak, pihak rektorat mengumumkan bahwasannya kampus kami akan dibuat menjadi kampus digital dengan keadaan ruang perkuliahan yang sangat jauh dari kata layak. Dinding-dinding yang berlubang sangat sering ditemukan di fakultas kami. Remote proyektor yang entah dimana keberadaannya kini telah tergantikan oleh tongkat panjang untuk menghidupkan proyektor yang dipasang dilangit-langit ruang kelas. Bagaimana bisa dengan keadaan seperti ini, kampus kami di-upgrade menjadi kampus digital? Ya hanya mimpi para petinggi yang ingin memajukan kampus tanpa melihat realita sekitar.

Dosen, yaaa lagi-lagi dosen. Dosen seharusnya menjadi fasilitator, bisa memfasilitasi mahasiswa sekaligus mentransformasi ilmu dan materi-materi seputar perkuliahan. Berbicara fasilitas kampus, suatu hari saat jam perkuliahan tiba-tiba listrik di kampus kami padam, ada salah satu dosen yang membubarkan perkuliahan dikarenakan materi yang ada didalam slideshow tidak dapat di tampilkan. Apakah dosen tersebut tidak mampu menjelaskan materi tanpa slideshow yang dia buat dalam komputernya? Apa bedanya dengan mahasiswa baru yang belum paham cara menyampaikan materi di dalam kelas, yang baru bisa mengandalkan slideshow saat presentasi? Ya memang begini keadaan perkuliahan kami.

Lantas bagaimana dengan kami sebagai mahasiswa yang katanya agent of change yang dituntut untuk bisa memahami serta mengaplikasikan materi-materi perkuliahan jika yang menyampaikan materi saja tidak berkompeten? Apa yang bisa kita lakukan? Apa hanya bisa diam saja? Mahasiswa harus menjemput bola, tidak lagi menunggu bola datang. Jika memang keadaannya seperti itu, tak pantas kita disebut mahasiswa jika kita hanya diam saja. Menuntun ilmu itu tak hanya terjadi dan berlangsung didalam ruang kelas. Tapi dimanapun, kapanpun dan dengan cara apapun bisa kita lakukan. Mulai dari diskusi kelompok di kampus saat ada waktu luang, sampai nongkrong di warung kopi untuk sekedar bercerita sampai tengah malam dan masih banyak lagi cara-cara lain.

Warung kopi, setidaknya menjadi salah satu tempat favorit mahasiswa untuk sekedar kumpul-kumpul, bercerita-ria, ditemani secangkir kopi hangat dan sebatang rokok yang terkadang disertai permainan seven skop (salah satu permainan kartu bridge). Salah satunya saya. Sering saya ke warung kopi untuk bercerita, berdiskusi dan berdialektika masalah apa saja. Mulai dari masalah percintaan, seluk-beluk dunia perkuliahan, sampai berdiskusi masalah negara. Banyak sekali pengetahuan yang saya dapatkan di tempat ini.

Seperti yang dijelaskan diatas, warung kopi merupakan salah satu tempat yang ramai di kunjungi oleh Mahasiswa, tidak sekedar menjadi tempat untuk nongkrong sembari menikmati racikan kopi sang barista, namun juga kami anggap sebagai ruang kuliah selain di kampus. Ruang kuliah yang tak berdinding, tak ber-AC, tak ada dosen yang manja, pegawai TU yang galak, proyektor tanpa remote, whiteboard yang tak lagi putih dan segala fasilitas ruang kelas yang ada di kampus. Tapi satu hal, sangat banyak pengetahuan-pengetahuan baru yang bisa ditemukan disini, mulai dari yang berhubungan dengan dunia perkuliahan, sampai yang tidak ada hubungannya dengan kuliah. Lebih baik sedikit tahu tentang banyak hal, daripada banyak tahu tentang sedikit hal. Itulah sisi lain dari warung kopi.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Patung Malaikat Tuhan Pembawa Warta …

Blasius Mengkaka | | 30 August 2014 | 09:27

Jadi Donor Darah di Amerika …

Bonekpalsu | | 30 August 2014 | 06:25

Nasib Sial Florence Bisa Terjadi di …

Pebriano Bagindo | | 29 August 2014 | 20:14

Dian Sastrowardoyo dan Mantan ART Saya …

Ariyani Na | | 30 August 2014 | 10:04

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Jogja Terhina, France Tidak Perlu Minta Maaf …

Nasakti On | 15 jam lalu

Rising Star Indonesia, ‘Ternoda’ …

Samandayu | 15 jam lalu

Yogya, Kamar Kos, dan Segarnya Es Krim Rujak …

Wahyuni Susilowati | 19 jam lalu

Doa untuk Mas Vik …

Aiman Witjaksono | 22 jam lalu

Kejadian di SPBU yang Bikin Emosi… …

Ryan M. | 29 August 2014 11:50


HIGHLIGHT

Apa amyotrophic lateral sclerosis? …

Ahmed Ridho | 8 jam lalu

Twitter : Kami Menghormati Hukum Pornografi …

Reidnash Heesa | 9 jam lalu

Menjadi Pejalan Cerdik …

Anjas Prasetiyo | 9 jam lalu

Lukisan Kabut …

Gunawan Wibisono | 9 jam lalu

Sepenggal Kisah dari Laut …

Adi Arwan Alimin | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: