Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Sutomo Paguci

Pewarta warga mukim di Padang | Advokat | Nonpartisan | Menulis sebagai rekreasi

Mengabaikan Fatwa MUI tentang Selamat Natal

OPINI | 20 December 2012 | 23:49 Dibaca: 1213   Komentar: 61   8

Era Buya Hamka (1908-1981) waktu beliau memimpin Majelis Ulama Indonesia (1977-1981) adalah titik terpanas seputar polemik umat Islam yang mengucapkan selamat Natal kepada umat Kristiani. Waktu itu MUI mefatwakan dengan tegas sebagai haram mengikuti perayaan dan kegiatan natal, namun tidak disoal ucapan selamat Natal.

Buya Hamka tetap kukuh dengan fatwanya. Tak sungkan-sungka Buya Hamka mempertaruhkan jabatannya demi konsistensi terhadap fatwanya itu. Belakangan fatwa demikian cenderung dipertahankan oleh MUI hingga hari ini dan menyarankan tidak usah mengucapkan selamat Natal. Dalam pada itu tidak sedikit ulama lain yang tidak mempersoalkan ucapan selamat Natal.

Bagaimana kita sebaiknya menyikapi fatwa MUI terkait ucapan selamat Natal kepada umat Kristiani? Saya tidak akan berpolemik terkait kaidah fiqihnya, karena bukan bidang garapan saya. Saya hanya berpendapat secara sosial dan hukum, bahwa fatwa ulama di MUI yang haramkan ucapkan selamat Natal demikian sebaiknya diabaikan saja.

Diantara dua kutub pendapat ulama yang mengharamkan dan membolehkan pengucapan selamat Natal, umat tinggal pilih saja. Dua pilihan tersedia. Namun mengabaikannya lebih masuk akal.

Menaati fatwa MUI demikian, pun tak jadi soal bagi pribadi masing-masing. Namun, dengan yakin saya pribadi mengabaikan fatwa MUI demikian sejak dulu. Fatwa MUI hanyalah pendapat/opini yang tidak mengikat secara hukum publik, boleh diikuti atau sebaliknya ditolak, apalagi kredibilitas ulama di MUI sekarang patut dipertanyakan: mulai dari kasus Sampang, pernikahan siri Aceng Fikri, dsb.

“Selamat Natal dan Tahun Baru kepada umat Kristiani di mana pun berada. Semoga damai Natal memberikan inspirasi bagi perbaikan bangsa dan negara ke arah yang lebih baik: lebih aman, lebih sejahtera, dan lebih rukun.”

(SP)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bledug Kuwu, Fenomena Langka Alam Indonesia …

Agoeng Widodo | | 27 August 2014 | 15:18

Taufik Mihardja dalam Sepenggal Kenangan …

Pepih Nugraha | | 27 August 2014 | 22:34

Ini yang Harus Dilakukan Kalau BBM Naik …

Pical Gadi | | 27 August 2014 | 14:55

Cinta dalam Kereta (Love in The Train) …

Y.airy | | 26 August 2014 | 20:59

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Hilangnya Acara Budaya Lokal di Televisi …

Sahroha Lumbanraja | 8 jam lalu

Lamborghini Anggota Dewan Ternyata Bodong …

Ifani | 9 jam lalu

Cara Mudah Latih Diri Agar Selalu Berpikiran …

Tjiptadinata Effend... | 10 jam lalu

3 Kebebasan di K yang Buat Saya Awet Muda …

Hendrik Riyanto | 11 jam lalu

Boni Hargens cs, Relawan atau Buruh Politik …

Munir A.s | 20 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: