Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Robert Parlaungan Siregar

Sekarang Pemerhati Indonesia Kekinian.

Ledakan Penduduk Merupakan Ancaman Terbesar Bagi Indonesia

OPINI | 17 December 2012 | 03:52 Dibaca: 2270   Komentar: 0   3

Mari Renungkan Apa yang Akan Kita Wariskan pada Anak Cucu Kita

Berdasarkan hasil sensus penduduk 2010, jumlah penduduk Indonesia adalah 237,6 juta jiwa (melebihi angka proyeksi nasional), bertambah sekitar 32,5 juta jiwa selama 10 tahun terakhir, artinya setiap tahun ada penambahan penduduk sebesar 3,25 juta.

Saat ini Indonesia menduduki peringkat ke-4 negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia. Ini bukan suatu aib, bahkan bisa menjadi kekuatan negeri yang membanggakan, dengan syarat, seluruh manusia yang terlahir di bumi Indonesia adalah sumber daya manusia yang berkualitas. Sampai disini, coba kita renungkan, fakta yang sesungguhnya terjadi.

13556563451505054260

ledakan penduduk-foto bkkbn

Penyebab pesatnya pertumbuhan penduduk

Turunnya angka kematian disumbangkan oleh beberapa faktor yaitu meningkatnya produksi dan distribusi pangan, tersedianya sarana prasarana air bersih dan sanitasi, penemuan vaksin dan obat-obatan, dan meningkatnya pendidikan dan standar kehidupan masyarakat.

Secara umum angka kematian menurun jauh lebih cepat dibandingkan dengan angka kelahiran. Kawasan Asia, Afrika dan Amerika Latin adalah yang tercepat dalam pertumbuhan penduduk.

Konsekuensi pertumbuhan penduduk yang pesat

Dengan laju pertumbuhan penduduk Indonesia sebesar 1,49% per tahun, penduduk Indonesia pada 45 – 50 tahun mendatang diperkirakan akan berlipat ganda yakni menjadi 480 juta jiwa.

Pertumbuhan penduduk yang meningkat drastis, tentunya menyisakan penduduk miskin. Penduduk miskin mempunyai keterbatasan mengakses kebutuhan dasar yang tentunya berpengaruh pada tubuh yang lemah dan kesehatan secara keseluruhan, sehingga mereka tidak dapat mencari nafkah dengan baik, tentunya hal ini membawa konsekuensi pada kemiskinan yang lebih dalam dan panjang dari generasi ke generasi, biasa disebut lingkaran setan kemiskinan, atau kemiskinan struktural.

Jadi, sangat perlu untuk menggeser nilai tradisional bahwa banyak anak banyak rejeki, menjadi keluarga kecil sehat sejahtera.

Menurut Sestama BKKBN, Sudibyo Alimoeso, proyeksi penduduk perlu direvisi, kalau tidak direvisi, dampaknya akan sangat luas kalau dikaitkan dengan penyediaan kebutuhan dasar penduduk, seperti pelayanan kesehatan, pangan, perumahan, lapangan kerja, dan lainnya.

Dampak jumlah penduduk Indonesia yang merupakan pemandangan keseharian:

Tak terbilang banyaknya penderitaan bangsa ini, yang diakibatkan langsung maupun tidak langsung oleh ketidak mampuan bangsa ini memenuhi kebutuhan penduduk Indonesia.

1.Macet lalu lintas      4. sampah menggunung

2.Tawuran                    5.impor singkong

3.Banjir

Keluarga Berencana

Dalam mengupayakan pengendalian laju pertumbuhan penduduk, menurut Kepala BKKBN, Sugiri Syarief memerlukan upaya percepatan dan strategi yang lebih inovatif, salah satunya adalah melalui KB Mandiri Lingkaran Biru , pada Hari Kontrasepsi Dunia, 26 september yang lalu.

KB Mandiri Lingkaran Biru pertama kali diluncurkan oleh Presiden Soeharto pada akhir 1987 dengan empat jenis kontrasepsi, yaitu IUD, pil, implan dan suntik. Program itu sukses karena pelaksanaannya dilakukan dengan mendorong pasangan usia subur mengikuti KB sendiri menggunakan alat dan obat berlogo lingkaran biru yang dijual di tempat-tempat pelayanan, dokter, dan bidan praktik swasta.

Menandai 25 tahun program KB Mandiri Lingkaran Biru pada 26 September lalu dan Hari Kontrasepsi Dunia 2012, BKKBN menggelar program bertema Revitalisasi dan Reaktualiasi Lingkaran Biru Menuju Kemandirian Bangsa. Program itu bertujuan meningkatkan minat penyedia pelayanan KB swasta dalam mendongkrak kualitas pelayanan KB mandiri bagi pasangan usia subur keluarga sejahtera II ke atas

Keluarga Berencana menjadi kebutuhan sangat mendesak ketika ancaman ledakan penduduk menghadang di depan mata, dan seharusnya menjadi hulu bagi kebijakan pembangunan bidang-bidang lain.

Kemiskinan struktural, krisis pangan, pengangguran, arus penduduk masuk kota menghasilkan perumahan kumuh, kemacetan, krisis energi dan air bersih adalah persoalan yang akan menerpa jika laju pertumbuhan penduduk tak terkendali. Kita tahu bahwa cadangan minyak kita hanya untuk 10 tahun mendatang. Berapa lama cadangan energi tak terbarukan seperti batubara dan gas dapat memenuhi kebutuhan manusia Indonesia? Apa yang akan kita wariskan kepada anak cucu kita kelak? Tanah yang tandus karena terlalu banyak ditanami kelapa sawit dan tembakau? Kemiskinan dan kebodohan? Oleh karena itu, sejak saat ini kita perlu mengupayakan terwujudnya keluarga kecil sehat sejahtera, dan kelak menurunkan anak cucu yang lebih berkualitas dan berdaya saing secara global. Anak cucu kita diharapkan mempunyai kemampuan berinovasi untuk mengatasi berbagai krisis di masa yang akan datang, mengejar ketertinggalan di segala bidang, kelak meningkatkan peradaban dan martabat bangsa.

Sumber informasi:

http://www.collinsdictionary.com/dictionary/english/population-explosion

http://www.yale.edu/ynhti/curriculum/units/1998/7/98.07.02.x.html

http://www.all-indonesia.com/hasil-sensus-penduduk-2010

http://gayahidup.inilah.com/read/detail/1792465/proyeksi-jumlah-penduduk-perlu-direvisi

http://www.metrotvnews.com/metronews/news/2012/09/29/107860/Peserta-KB-Meningkat-Disaat-Program-KB-Menurun/6

http://finance.detik.com/read/2012/06/11/155029/1938192/1034/cadangan-minyak-ri-habis-10-tahun-lagi-saatnya-berhemat

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bukti Nyata Power Sosial Media; Jonan, Ahok, …

Prayitno Ramelan | | 23 November 2014 | 10:59

Supermaterial yang Akan Mengubah Wajah Dunia …

Rahmad Agus Koto | | 23 November 2014 | 11:02

Akrobat Partai Politik Soal Kenaikan BBM …

Elde | | 22 November 2014 | 21:45

Awal Musim Dingin di Gunung Manin, Daejeon, …

Ony Jamhari | | 23 November 2014 | 11:49

Saatnya Kirim Reportase Serunya Nangkring …

Kompasiana | | 12 November 2014 | 11:39


TRENDING ARTICLES

Selamat ke Pak Tjip, Elde dan Pakde Kartono …

Pakde Kartono | 8 jam lalu

Kesan-kesan Saya Ikuti Kompasianival 2014, …

Djarwopapua | 16 jam lalu

Catatan Kompasianival 2014: Aksi Untuk …

Achmad Suwefi | 18 jam lalu

Duuuuuh, Jawaban Menteri ini… …

Azis Nizar | 21 November 2014 22:51

Zulkifli Syukur, Siapanya Riedl? …

Fajar Nuryanto | 21 November 2014 22:00


HIGHLIGHT

Bagaimana Menjadi Penulis Opini, Kuliah …

Hendi Setiawan | 10 jam lalu

Di bawah Alunan Malam …

Arrizqi Titis Anugr... | 11 jam lalu

Cenderamata Kompasianival 2014 …

Mabate Wae | 11 jam lalu

Awal Musim Dingin di Gunung Manin, Daejeon, …

Ony Jamhari | 11 jam lalu

Benarkah Reformasi Birokrasi Harus Dipaksa? …

Efendy Naibaho | 11 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: