Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Sutomo Paguci

Pewarta warga mukim di Padang | Advokat | Nonpartisan | Menulis sebagai rekreasi

Vasektomi, Mengubah Paradigma KB

OPINI | 15 December 2012 | 10:34    Dibaca: 1888   Komentar: 1   1

Saat ini saya sudah punya tiga anak—wow, banyak juga ya. Setiap kali… (sensor!) istri selalu was-was jangan-jangan hamil lagi. Membesarkan anak zaman ini ternyata tidak semudah tiga puluh tahun lalu. Inilah fakta zaman yang tak terelakkan. Maka, keluarga berencana (KB) menjadi suatu kemutlakan. KB adalah gerakan untuk membentuk keluarga yang sehat dan sejahtera dengan membatasi kelahiran.

Persoalannya, istri ogah KB dengan pil, suntik, spiral, dan IUD. Katanya takut efek samping. “Ngapain tidak papa saja, kan kesetaraan gender,” ujarnya spontan. Benar juga, ya, mengapa KB cenderung dibebankan ke pundak wanita saja, kataku membatin. Tiba-tiba aku ingat kondom! Tapi kondom cenderung dipsersepsi bikin hubungan intim kurang enak. Terus apa lagi selain kondom? Ternyata, baru nyadar, sedikit sekali alat kontrasepsi buat kaum pria.

Aku pun cari info sana-sini, kulik-kulik di Google, dan tanya sama dokter dan bidan. Setelah mendengar latar belakang istri dan ceritaku lainnya, rerata mereka menyarankan mengapa tidak vasektomi saja. Katanya, vasektomi adalah tindakan memotong atau mengikat mati saluran sperma yang menghubungkan buah zakar dengan kantong sperma, sehingga tidak dijumpai lagi bibit dalam ejakulasi seorang pria.

Vasektomi nyaris sepenuhnya aman. Operasinya pun tak butuh waktu lama. Soal untung rugi vasektomi selengkapnya bisa dibaca di sumber ini. Sedikit catatan, vasektomi tidak sepenuhnya permanen. Saluran sperma yang dipotong/diikat dapat disambung/dibuka kembali jika kelak menginginkannya. Mendengar info-info ini reaksi pertamaku…cukup tertarik.

Vasektomi tidak sama dengan kebir. Pada vasektomi kehidupan seksual si lelaki masih normal alias tidak terganggu bahkan katanya lebih hot dan “tahan lama”. Ini karena vasektomi bukan membuang buah zakar melainkan hanya memotong/mengikat saluran sperma (vas deferens), sehingga produksi sperma tidak berhenti.┬áNah, ini bedanya sama si ‘kondom’ dan si ‘kebir’. Di titik ini yang bikin aku makin tertarik.

Tinggal sedikit merenung lagi. Terutama memikirkan secara matang; apakah benar saya dan istri tidak ingin punya anak lagi. Pasalnya, mengutip M Armand di sini, sekalipun ikatan saluran sperma dapat dibuka kembali (rekanalisasi), akan tetapi tingkat kesuburan pria pasca vasektomi akan menurun dibandingkan pria non-vaksetomi dengan perbandingan 1:3. Selebihnya, istri mesti yakin bahwa suaminya tidak akan memanfaatkan vasektomi untuk berselingkuh dengan “aman”.

Vasektomi? Mentapa tidak!

1355541041592945915

Ilustrasi vasektomi/yourdictionary.com

13555420361278805066

Ilustrasi operasi vasektomi/wellsphere.com

(SP)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kegigihan Anik Sriwatiah Berdayakan Mantan …

Hadi Santoso | | 30 May 2015 | 17:29

Ayo Jalan-jalan ke Lapangan Banteng Jakarta! …

Amirsyah | | 30 May 2015 | 16:31

Mini Market Tanpa Miras, Kita Lihat …

Kompasiana | | 30 May 2015 | 18:33

Fenomena Gelombang Panas, Saatnya …

Alifiano Rezka Adi | | 30 May 2015 | 18:04

Sambutlah: Kompasiana Baru 2015 yang Lebih …

Kompasiana | | 20 May 2015 | 19:02


TRENDING ARTICLES

Menpora & PSSI, Silahkan Menikmati …

Djarwopapua | 7 jam lalu

Kesamaan Sepp Blatter dan PSSI: Jokowi Tak …

Ninoy N Karundeng | 7 jam lalu

Ini Alasan Wapres JK Membela Budi Waseso …

Abd. Ghofar Al Amin | 10 jam lalu

Gagasan Khilaf Khilafah …

Iqbal Kholidi | 15 jam lalu

Salah Membaca Gestur, Calon Doktor Itu …

Muhammad Armand | 16 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: