Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Sutomo Paguci

Pewarta warga mukim di Padang | Advokat | Nonpartisan | Menulis sebagai rekreasi

Vasektomi, Mengubah Paradigma KB

OPINI | 15 December 2012 | 10:34 Dibaca: 1652   Komentar: 1   1

Saat ini saya sudah punya tiga anak—wow, banyak juga ya. Setiap kali… (sensor!) istri selalu was-was jangan-jangan hamil lagi. Membesarkan anak zaman ini ternyata tidak semudah tiga puluh tahun lalu. Inilah fakta zaman yang tak terelakkan. Maka, keluarga berencana (KB) menjadi suatu kemutlakan. KB adalah gerakan untuk membentuk keluarga yang sehat dan sejahtera dengan membatasi kelahiran.

Persoalannya, istri ogah KB dengan pil, suntik, spiral, dan IUD. Katanya takut efek samping. “Ngapain tidak papa saja, kan kesetaraan gender,” ujarnya spontan. Benar juga, ya, mengapa KB cenderung dibebankan ke pundak wanita saja, kataku membatin. Tiba-tiba aku ingat kondom! Tapi kondom cenderung dipsersepsi bikin hubungan intim kurang enak. Terus apa lagi selain kondom? Ternyata, baru nyadar, sedikit sekali alat kontrasepsi buat kaum pria.

Aku pun cari info sana-sini, kulik-kulik di Google, dan tanya sama dokter dan bidan. Setelah mendengar latar belakang istri dan ceritaku lainnya, rerata mereka menyarankan mengapa tidak vasektomi saja. Katanya, vasektomi adalah tindakan memotong atau mengikat mati saluran sperma yang menghubungkan buah zakar dengan kantong sperma, sehingga tidak dijumpai lagi bibit dalam ejakulasi seorang pria.

Vasektomi nyaris sepenuhnya aman. Operasinya pun tak butuh waktu lama. Soal untung rugi vasektomi selengkapnya bisa dibaca di sumber ini. Sedikit catatan, vasektomi tidak sepenuhnya permanen. Saluran sperma yang dipotong/diikat dapat disambung/dibuka kembali jika kelak menginginkannya. Mendengar info-info ini reaksi pertamaku…cukup tertarik.

Vasektomi tidak sama dengan kebir. Pada vasektomi kehidupan seksual si lelaki masih normal alias tidak terganggu bahkan katanya lebih hot dan “tahan lama”. Ini karena vasektomi bukan membuang buah zakar melainkan hanya memotong/mengikat saluran sperma (vas deferens), sehingga produksi sperma tidak berhenti.┬áNah, ini bedanya sama si ‘kondom’ dan si ‘kebir’. Di titik ini yang bikin aku makin tertarik.

Tinggal sedikit merenung lagi. Terutama memikirkan secara matang; apakah benar saya dan istri tidak ingin punya anak lagi. Pasalnya, mengutip M Armand di sini, sekalipun ikatan saluran sperma dapat dibuka kembali (rekanalisasi), akan tetapi tingkat kesuburan pria pasca vasektomi akan menurun dibandingkan pria non-vaksetomi dengan perbandingan 1:3. Selebihnya, istri mesti yakin bahwa suaminya tidak akan memanfaatkan vasektomi untuk berselingkuh dengan “aman”.

Vasektomi? Mentapa tidak!

1355541041592945915

Ilustrasi vasektomi/yourdictionary.com

13555420361278805066

Ilustrasi operasi vasektomi/wellsphere.com

(SP)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Visa on Arrival Turki Dihapus? …

Sifa Sanjurio | | 29 July 2014 | 06:03

Kaum Dhuafa Berebut Zakat, Negara Gagal …

Nasakti On | | 28 July 2014 | 23:33

Membuat Hidangan Lebaran di Moskow (Jika …

Lidia Putri | | 28 July 2014 | 17:08

Kampanye Wisata Thailand’s Best …

Olive Bendon | | 28 July 2014 | 16:49

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Pijat Ala Dubai International Airport …

Ardi Dan Bunda Susy | 28 July 2014 23:45

Jangan Terlalu Berharap Banyak Pada Jokowi …

Bambang Srijanto | 28 July 2014 22:40

Berlebaran Tetap Gaya dengan Kaos Kompasiana …

Topik Irawan | 28 July 2014 21:13

Jangan Nanya Panci ke Polisi Amerika …

Usi Saba Kota | 28 July 2014 18:24

” Dari Tahun Ketahun Tak Pernah …

Rere | 28 July 2014 13:56

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: