Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Tabrani Yunis

Tabrani Yunis adalah Direktur Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh, juga sebagai selengkapnya

HAMIL DI LUAR NIKAH? ITU BIASA!

OPINI | 15 December 2012 | 06:48 Dibaca: 6151   Komentar: 0   2

Oleh Tabrani Yunis

Bak disambar petir saja. Begitulah yang dialami keluarga pak Burhan ( bukan nama sebenarnya) kala mendapat kabar anaknya ( Rina, nama samaran) yang sedang duduk di kelas 3 SMA sudah hamil 3 bulan. Amarah yang besar bercampur malu dan kecewa menyelimuti hati Pak Burhan. Betapa tidak, anak satu-satunya yang menjadi tumpuan harapannya, yang seharian di rumah terlihat sangat santun dan baik itu, kini sudah berbadan dua. Padahal ia masih berstatus pelajar. Harapan Pak Burhan dan keluarga untuk menyekolahkan anaknya ke jenjang lebih tinggi, buyarlah sudah. Karena Rina, dikeluarkan dari sekolahnya. Jalan yang harus ditempuh adalah dengan menikahkan Rina dengan pacarnya yang usianya masih sebaya itu atau melakukan aborsi.

Fitri, seorang sahabat di Jakarta bercerita soal kasus hamil di luar nikah yang menimpa adiknya. Adiknya sebut saja gadis, terpaksa menikah setelah terlanjur hamil sebelum mereka menikah. Pernikahan yang terpaksa ini, bukan berbuah keindahan, tetapi sebaliknya sepanjang pernikahan mereka, gadis mengalami berbagai bentuk tindak kekerasan fisik, ekonomi, seksual dan psikologis yang dilakukan oleh suami yang sangat dicintainya itu. Walaupun keluarga Fitri siap menjadi pendukung untuk gadis, ternyata membutihkan waktu hampir 4 tahun untuk membawa gadis keluar dari lingkaran kekerasan tersebut.

Desy, seorang sahabat dari Bengkulu memaparkan tentang kasus-kasus remaja hamil di luar nikah di Bengkulu. Katanya, di Bengkulu, hampir menjadi kesepakatan di setiap sekolah untuk mengeluarkan siswi yang hamil di luar nikah atau yang sering disebut married by accident itu. Alasannya karena tindakan ini melanggar moralitas, etika dan lain-lain. Sayangnya, lanjut Desy, Saya tidak sempat mengkliping soal angka DO siswi MBA ini, tetapi fenomena ini selalu ramai dibicarakan terutama menjelang ujian akhir nasional, dimana salah satu penyebab absennya pelajar perempuan dalam UAN adalah kasus MBA.” Biasanya, anak perempuan jadi korban.

Jumlah kasus remaja atau ABG yang hamil di luar nikah belakangan ini semakin memprihatinkan kita. Betapa tidak, setiap tahun angka tersebut terus bertambah sejalan dengan semakin longgarnya nilai-nilai social, agama dan etika pergaulan di tengah masyarakat kita. Paling tidak pergaulan bebas yang kini banyak dianut oleh kaum remaja di tanah air, telah berkontribusi terhadap tingginya angka kasus –kasus aborsi di tanah air tercinta ini. Tidak percaya?

Majalah Detik edisi 25 Juni-1 Juli 2012 dalam rubric Fokusnya menghentak rasa galau kita. Mengerikan sekali, ternyata sebanyak 21 persen remaja atau satu di antara lima remaja di Indonesia pernah melakukan aborsi. Data menyedihkan itu merupakan hasil pengumpulan data yang dilakukan Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA). Data diperoleh dengan cara mengumpulkan 14.726 sampel anak SMP dan SMA di 12 kota besar di Indonesia, antara lain Jakarta, Bandung, Makassar, Medan, Lampung, Palembang, Kepulauan Riau dan kota-kota di Sumatera Barat dalam Forum Diskusi Anak Remaja pada 2011. Hasilnya mengagetkan, mereka mengaku hampir 93,7 persen pernah melakukan hubungan seks. “Lalu 83 persen mengaku pernah menonton video porno, dan 21,2 persennya itu mengaku pernah melakukan aborsi,” jelas Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait.

Selain itu, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Maria Ulfa Anshori y pernah melakukan penelitian bersama Pusat Kajian Kesehatan Perempuan Universitas Indonesia (UI) soal aborsi pada 2003. Dari penelitian itu tercatat rata-rata terjadi 2 juta kasus aborsi per tahun. Lalu pada tahun berikutnya, 2004 penelitian yang sama menunjukkan kenaikan tingkat aborsi yakni 2,1-2,2 juta per tahun. Sangat mengerikan bukan?

Ya. Tentu saja sangat mengerikan dan membahayakan bangsa ini. Apalagi bagi anak-anak perempuan. Fakta lain berbicara bahwa berdasarkan penelitian dari Australian National University (ANU) dan Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia (UI) tahun 2010/2011 di Jakarta, Tangerang dan Bekasi (Jatabek), dengan jumlah sampel 3006 responden (usia 17-24 tahun), menunjukkan 20.9 persen remaja mengalami kehamilan dan kelahiran sebelum menikah. Kemudian 38,7 persen remaja mengalami kehamilan sebelum menikah dan kelahiran setelah menikah.

Sementarta riset Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia (UI) menyebutkan, 650 ribu ABG tidak perawan. Riset itu dilakukan tahun 2010/2011. Jika ditambah Tangerang dan Bekasi, ada 20,9 persen remaja hamil sebelum menikah. Angka ini juga semakin membengkak bila riset dilakukan secara nasional. Tentu angka ABG yang kehilangan keperawanan karena perilaku seks bebas akan semakin besar. Betapa mirisnya bukan?

Edan. Inikah zaman edan? Rasanya memang zaman semakin edan. Masalah hamil di luar nikah semakin parah dan sangat miris serta menyedihkan–remaja perempuan kita akhir-akhir ini. Beberapa fakta tentang fenomena hamil di luar nikah, di negeri kita ini saat ini seperti diutarakan di atas, memang sangat menggalaukan hati kita. Walau sebenarnya, kasus – kasus hamil di luar nikah yang merupakan kasus kecelakaan dalam pergaulan yang bebas itu, sesungguhnya sejak dahulu kala dengan jumlah yang tidak terlalu gila seperti sekarang ini. Namun, bila kita melihat dari angka-angka kasus dari perjalanan sejarah anak manusia, kasus hamil di luar nikah itu sekarang ini memang sangat parah. MBA dianggap hal biasa. Padahal, dahulu, seseorang yang terlanjur hamil di luar nikah itu dalam tatanan masyarakat kita dinyatakan sebagai tindakan yang sangat memalukan, keluarga, dan bahkan masyarakat dalam sebuah komunitas. Pelaku hamil di luar nikah dianggap sebagai pembawa sial. Bahkan ada yang diusir dari keluarga dan juga dari kampong. Karena, hamil di luar nikah, hamil karena kecelakaan, hamil karena perbuatan zina, atau dalam istilah masa kini disebut dengan married by accident (MBA) adalah sebuah berita buruk, memalukan dan hina bagi sebuah keluarga dan kelompok masyarakat di sebuah daerah, juga suatu bangsa seperti Indonesia. Artinya, kala orang tua atau sebuah keluarga mengetahui anak perempuannya hamil sebelum menikah, orang tua dan keluarga bahkan masyarakat akan merasa dipermalukan oleh kasus itu. Maka, mendapat kabar bahwa anak perempuan sesorang mengalami hamil di luar nikah itu adalah sebuah berita yang sangat mencoreng nama baik keluarga dan masyarakat. Apalagi dalam keluarga masyarakat muslim, ini justru sangat tidak bisa diterima. Sehingga kasus-kasus hamil di luar nikah, sulit didata dan selalu terselubung serta banyak berujung dengan tindakan aborsi yang bertentangan dengan nilai-nilai universal HAM dan nilai-nilai agama itu.

Ironisnya, walau itu bertentangan dengan nilai –nilai agama dan hak asasi manusia, gaya hidup seks bebas yang menyebabkan hamil di luar nikah dan sering berujung dengan tindakan aborsi itu, hingga kini terus semakin menggila. Meningkatnya jumlah kasus hamil di luar nikah dan kasus aborsi di tanah air saat ini, menjadi keprihatinan semua orang. Karena dengan semakin meningkatnya kasus hamil di luar nikah ini, maka semakin besar risiko yang dialami oleh genarasi bangsa ini. Namun celakanya, banyaknya kasus hamil di luar nikah tersebut sudah dianggap sebagai hal biasa. Padahal bila kita kaji lebih dalam, meningkatkanya kasus hamil di luar nikah ini sangat membahayakan generasi bangsa ini, terutama para remaja itu sendiri.

Mengorbankan Perempuan

Pergaulan bebas yang diikuti dengan hubungan seks bebas oleh banyak remaja di dalam masyarakat kita selama ini, selalu saja membawa risiko yang besar bagi diri remaja, maupun bagi masa depan bangsa ini. Risiko yang dihadapi tentu saja pada kedua jenis kelamin, yakni laki-laki dan perepuan. Namun bila kita kaji lebih dalam, maka dalam semua kasus pergaulan bebas, perempuanlah yang sangat rentan menjadi korban dan dikorbankan. Mengapa demikian?

Tentu saja banyak factor yang memposisikan perempuan sebagai korban. Perempuan adalah pihak yang sangat dirugikan, karena akan kehilangan banyak hal dan hak. Sebagai contoh saja, ketika perempuan mengalami hamil di luar nikah, maka risiko pertama yang dialami adalah munculnya rasa malu yang amat besar dan berat. Kedua, kehilangan keperawanan yang selama ini menjadi modal yang berharga bagi perempuan. Ketiga, ketika hamil, maka beban penderitaan selama hamil menjadi risiko utama bagi perempuan. Ke empat, bila keputusan diambil dengan cara menikahkankan, maka banyak hak lain yang juga hilang. Salah satunya adalah hilangnya ha katas pendidikan. Sebab dalam banyak kasus hamil di luar nikah, remaja perempuan yang hamil, dikeluarkan dari sekolah, karena mencemar nama baik sekolah. Secara adat perkawinan pun banyak hak remaja perempuan yang hilang. Ketika memilih opsi menikah, maka rentetan peristiwa yang memilukan sering mengancam kehidupan keluarga. Misalnya KDRT, penelantaran oleh suami dan bahkan ditinggalkan begitu saja, sementara beban anak yang dilahirkan menjadi tanggung jawab perempuan. Menyedihkan bukan?

Lalu, bila keputusan yang diambil dengan cara melakukan aborsi, membuang anak dan sebagainya, maka remaja perempuan yang melakukan itu akan berhadapan dengan risiko kematian dan juga risiko hukum yang amat berat. Jadi, sebenarnya buah dari poergaulan bebas yang berdampak pada munculnya kasus hamil di luar nikah tersebut sangatlah merugikan perempuan. Namun, hal ini bisanya tidak disadari oleh para remaja kita yang terus digerus oleh sebuah proses degradasi moral yang kita sebut dengan demoralisasi itu. Hamil di luar nikah, bukan hal biasa, tetapi ini masalah luar biasa yang harus segera ditangani bersama. Maka, mulai sekarang bergeraklah untuk mengantisipasi semua kemungkinan buruk dari budaya pergaulan bebas tersebut.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mengubah Hujan Batu Menjadi Emas di Negeri …

Sekar Sari Indah Ca... | | 19 December 2014 | 17:02

Haruskah Jokowi Blusukan ke Daerah Konflik …

Evha Uaga | | 19 December 2014 | 12:18

Artis, Bulu yang ‘Terpandang’ di …

Sahroha Lumbanraja | | 19 December 2014 | 16:57

Jalanan Rusak Kabupaten Bogor Bikin …

Opi Novianto | | 19 December 2014 | 14:49

Blog Competition Coca-Cola Sampai Akhir …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

RUU MD3 & Surat Hamdan Zoelfa …

Cindelaras 29 | 5 jam lalu

Potong Generasi ala Timnas Vietnam Usai …

Achmad Suwefi | 9 jam lalu

Penyebutan “Video Amatir” Adalah …

Arief Firhanusa | 10 jam lalu

Menteri Rini “Sasaran Tembak” …

Gunawan | 12 jam lalu

Inilah Drone Pesawat Nirawak yang Bikin …

Tjiptadinata Effend... | 13 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: