Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Fey Down

I am a simple lady who likes the simple things in life. Email : fennydown@gmail.com selengkapnya

Apa Enaknya Menjadi Istri Muda

OPINI | 04 December 2012 | 22:56 Dibaca: 1467   Komentar: 0   2

Dari jaman dulu hingga sekarang banyak wanita siap jadi istri muda. Mereka tak peduli hanya nikah siri, tak peduli  hanya disimpan. Bagi mereka yang penting jatah lahir dan batin lancar. Ada yang bangga menjadi istri muda, ada juga yang menyesal. Kata seseorang yang bangga dengan statusnya sebagai istri kedua.

“Enak gila jadi bini muda, ngga repot ngurusin suami kalau sakit. Uang lancar asal kita kasih service maksimal. Kalau suami siri macam macam tinggal ancam aja. Kalau kita mau senang senang ya gampang, cari aja pacar buat selingan” Astagfirullah, ini yang pintar siapa, yang bodoh siapa ya?

Namun ada juga seorang istri muda yang menyesal menjadi istri kedua. Sebut saja namanya Laila, janda beranak dua .  Ia  bekerja disebuah perusahaan import export. Ada salah satu atasan bernama Indra (samaran) yang begitu perhatian padanya. Ia  mengaku duda dengan dua anak lelaki. Selama Laila  bekerja diperusahaan itu, tak pernah sekalipun melihat Indra membawa istri atau anak anaknya ke kantor. Hubungan Laila dan Indra makin dekat, ia  sering diajak ke apt Indra dikawasan Jakarta Pusat. Maka makin yakinlah Laila bahwa Indra benar seorang duda.

Beberapa bulan kemudian Laila dan Indra menikah siri di daerah Bekasi. Menurut mereka lebih baik nikah siri dari pada berzina. Seminggu kemudian keluar pengakuan dari Indra bahwa sebenarnya ia belum bercerai , hanya pisah ranjang dengan istri pertama. Kini istrinya ingin kembali dan dapat menerima pernikahan mereka. Laila menangis menyesali diri, tapi apa kata orang jika dia harus bercerai lagi. Lalu ia  minta dipertemukan dengan istri dan anak anak Indra.

Disebuah rumah makan, bertemulah Laila dengan Sari  ( samaran) dan kedua anak Indra. Dimatanya Sari begitu cantik dan anggun, tak ada raut kebencian ketika bicara dengan Laila. Katanya ia sudah menerima Laila sebagai bagian dari keluarga asal suaminya bahagia.

Setahun berlalu Laila tak pernah hidup tenang walau  di luar ia kelihatan bahagia. Sari dan anak anaknya yang begitu baik, membuat ia makin merasa bersalah. Ia mengerti bahwa tak ada satupun wanita yang rela berbagi suami.

Suatu hari ia menerima sms dari Sari  ” Laila , mas Indra terlalu sering bermain api, makanya aku senang dia menikah denganmu dan tak lagi liar seperti dulu. Namun ada 1 mimpiku yang belum terwujud. Kuingin suatu hari mas Indra menjadi milikku seutuhnya.” SMS kedua dari anak sulung Indra  ” Tante tolong kembalikan ayahku, kembalikan kebahagiaan bundaku..Itu saja permintaanku. Aku sayang tante” Airmata Laila  menetes membaca SMS itu, ia  berjanji bahwa suatu hari , pada saat yang tepat ia akan pergi dari Indra. Diam diam ia melamar kerja  keluar negeri.

Tiga bulan kemudian Laila mendapat pekerjaan di Saudi Arabia, ia pamit dan berpisah baik baik dengan Indra. Tak lupa ia ucapkan terima kasih pada Sari dan anak anaknya.

Dalam penerbangan Jakarta - Jeddah, sambil menatap awan dari balik jendela , Laila berkata  ” Apa enaknya menjadi istri kedua? selalu dikejar rasa bersalah, bahagia pun semu belaka. Mana mungkin bahagia  di atas derita dan airmata wanita lain  karena ulah kita. “

Hidup adalah pilihan, manusia diberi kebebasan namun kadang kebablasan. Mereka lupa bahwa setiap perbuatan harus dipertanggung jawabkan dihadapan Tuhan.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Andai Masyarakat Tangerang Selatan Sadar, …

Ngesti Setyo Moerni | | 28 November 2014 | 17:27

Dari (Catatan Harian) Kompasiana ke (Sudut …

Lizz | | 28 November 2014 | 16:22

Kampret Jebul: Rumah …

Kampretos | | 28 November 2014 | 15:50

Saran untuk Ahok Cegah Petaka Akibat 100 …

Tjiptadinata Effend... | | 28 November 2014 | 15:30

Tulis Ceritamu Membangun Percaya Diri Lewat …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 14:07


TRENDING ARTICLES

Kongkalikong Dokter dengan Perusahaan Obat …

Wahyu Triasmara | 6 jam lalu

Hampir Saja Saya Termakan Rayuan Banci …

Muslihudin El Hasan... | 9 jam lalu

Lagu Anak Kita yang Merupakan Plagiat …

Gustaaf Kusno | 11 jam lalu

Edisi Khusus: Kompas 100 Halaman dalam …

Tubagus Encep | 11 jam lalu

Ahok Narsis di Puncak Keseruan Acara …

Seneng Utami | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Perempuan Berkabut Musim …

Budhi Wiryawan | 7 jam lalu

Kado Berwarna Biru Dari Alex …

Agustina | 7 jam lalu

Cerita dari Kotamobagu, Kota Terkecil di …

Ferdinand Mokodompi... | 7 jam lalu

Rakyat Miskin Tidak Boleh Sakit …

Emilia . | 8 jam lalu

Tak Ada Tionghoa Kristen atau Islam, Semua …

Erwin Alwazir | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: