Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Aldin Djapari

Already to fight with other, to save our nation and glory http://aldjapari.blogspot.com

Syair Kehidupan

OPINI | 01 December 2012 | 06:46 Dibaca: 233   Komentar: 0   0

Ayah kepada anaknya :
‘Peganglah gitar ini, mainkan dengan indah. Warnai rasamu dengan musik , sastra, dan seni, jangan lupa penuhi otakmu dengan sains. Hidup ini lelucon belaka, tapi jalanilah dengan kesungguhan.
‘Kamu bebas memeluk agama apapun termasuk tidak beragama. Satu yang pasti pilihan itu harus pilihanmu sendiri dengan pemikiranmu sendiri.
‘Ayah tidak akan memberimu apa-apa selain kasih sayang, pendidikan, dan hidup sederhana. Selebihnya Semua harta ayah akan disumbangkan untuk amal.
‘Laki-laki tidak boleh nangis, airmata itu tanda kelemahan. Jadi lelaki itu harus tangguh, kuat, tahan banting. ‘

Kakak kepada adik-adiknya :
‘Kita adalah anak-anak petani miskin, berpijak pada kaki sendiri, berpeluh meretas masa depan.
‘Kita adalah anak-anak desa, murni tanpa pretensi, tapi harus cerdas berisi.
‘Kita datang dari pinggir peradaban, tapi harus menghunjamkan semangat kemajuan, melabrak dogma, menetaskan postulat masa.
‘Adalah suatu kehormatan bekerja dan bermimpi bersama kalian. Perjalanan masih panjang, tapi bersama kita rebut dunia’.

Adik kepada kakak-kakaknya :
‘Hantarkan aku melihat semesta, bersekolah kehidupan, meraba keindahan laut, dan memanjat tingginya gunung. ‘Bersama kita mendobrak perdaban, keras penuh ambisi.
‘Bersama kita berontak, tanpa mengutuk hidup, menyobek kenaifan. Bersama kita berjuang, sehingga tak perlu mati memuaskan birahi.
‘Bersama kita bersenandung, karena tak terbatas dalam fantasi dan karya.
‘Adalah sebuah penghargaan, berburu kebaikan dan ketenangan bersama kalian.
Makam kita adalah sama, menaklukkan malam, menyulam bingkai utopia menjadi nyata’.
Ibu kepada anaknya :
‘Menunduklah kepada yang lebih tua, agar kau tahu, kalau kesempatanmu berbuat kebaikan lebih besar..
Hargailah yang lebih muda, agar kau tahu, kalau suatu saat kehebatanmu tak ada apanya dibanding mereka..
Bukalah pikiranmu, karena itu adalah senar-senar kehidupan..
Bukalah dirimu, karena itu adalah kebahagiaan sejati..
Kau boleh egois, dalam melawan kemungkaran..
Karena hanya setitik kutu dalam jagad semesta’
dan, kepada kekasih-kekasihku :
‘Bukan cinta yg kuberikan, tapi kehidupan….
Bukan bunga yg kuhaturkan, tapi perjuangan…
Karena bersamamu, kuingin menghirup nafas jaman yg pucat pasi, dengan harapan bersemi…
Karena denganmu, kubagi setiap langkah dengan senyum dan tawa….
damai apa adanya’.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Memotret Kinerja Warga Kubangwungan …

Roselina Tjiptadina... | | 21 December 2014 | 22:08

Kejutan Tingkah Polah Remaja di Lokasi …

Dhanang Dhave | | 22 December 2014 | 11:47

Rimba Beton dalam Labirin Kota …

Ratih Purnamasari | | 22 December 2014 | 11:25

Drama Proyek Jembatan Linggamas …

Kandar Tjakrawerdaj... | | 22 December 2014 | 12:32

Ayo Tulis Ceritamu untuk Indonesia Sehat! …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 21:46


TRENDING ARTICLES

Evan Dimas, Tengoklah Chanathip ‘Messi …

Achmad Suwefi | 7 jam lalu

Ibu Melemparku ke Tiga Benua …

Sunaryoadhiatmoko | 10 jam lalu

Hari Ibu Selow Aja …

Ifani | 11 jam lalu

Gol Telat Skrtel, Bawa Liverpool Imbangi …

Achmad Suwefi | 19 jam lalu

Karena Gede Pasek, SBY Akan Terus Berjaya …

Giri Lumakto | 19 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: