Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Marlin Bato

"Sesungguhnya Dalam Kesalahan Aku Diperanak - Dalam Dosa aku Dikandung Ibu" Taurat------

Perburuan 10 Jejak Bung Karno di Ende

HL | 30 November 2012 | 19:22 Dibaca: 1117   Komentar: 0   2

13542888881651769004

Soekarno (AFP)

Oleh: Marlin Bato
Jakarta, 30 November 2012

“Gaja mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang dan manusia mati meninggalkan nama”, begitulah hakikat peribahasa tua yang pantas disandang Bung Karno.Pagi itu, Kamis, 22 November 2012 suasana kota Ende begitu sejuk. Sejak pukul 06.00 Wita simpul-simpul kehidupan masyarakat Ende mulai kembali bergeliat, denyut dan nafas pun perlahan berdegub kencang. Seperti biasa setiap insan melakukan ritual pagi dengan rutinitas yang sudah dilakoni sehari-hari. Ada hal paling menarik dari kota ini. Ende berkembang begitu pesat. Sejak reformasi bergulir, perlahan Ende terus memetamorfosikan diri beradaptasi dengan era globalisasi. Tak pelak, sejumlah hotel dan penginapan, pusat perbelanjaan, serta pasar-pasar tradisonal terus berdenyut memutar roda perekonomian masyarakat Ende.Tampak pula Hotel Grand Wisata yang sudah masuk taraf hotel nasional dengan menyandang predikat bintang tiga. Tidak heran, hotel ini selalu ramai dikunjungi oleh pejabat pusat maupun daerah. Disitulah saya bersama tim survei dari Jakarta menghabiskan waktu seminggu untuk menelusuri sepuluh jejak-jejak Bung Karno yang ada di Ende. Target kami adalah menelusuri kesepuluh tempat-tempat yang pernah di jejaki Bung Karno selama di Ende, diantaranya;

1. Pelabuhan
2. Pos Militer
3. Rumah Pengasingan Bung Karno
4. Taman Rendo,
5. Masjid Ar-Rabitah
6. Katedral
7. Gedung Pertunjukan Imacullata
8. Rumah Pastoran
9. Hotel/Tokoh
10. Makan Ibu Amsi

Pagi itu, tepat pukul 08:00 Wita tim ekspedisi mendatangi kantor bupati Ende di Jl. Eltari, membawah misi khusus berkaitan dengan “Master Plan Kawasan Bersejarah Bung Karno di Ende”. Karena itu kehadiran kami disana adalah untuk menyampaikan sekaligus memberikan surat undangan resmi dalam acara rapat pembahasan dan workshop diseminasi draft master plan kawasan bersejarah Bung Karno di Ende. Namun, sesampainya disana kami mendapati seluruh staff beserta bupati sedang melaksanakan apel bendera. Akhirnya kami harus menunggu beberapa saat hingga apel tuntas. Tak lama berselang, upacara apel pagi telah selesai dan kami pun merangsek masuk ke kantor bupati untuk menemui beliau. Akan tetapi lagi-lagi kami harus berbalik arah karena pagi itu bupati mendadak rapat diluar kantor bersama beberapa kepala dinas. Sehingga kami pun harus memutuskan untuk kembali pukul 10.00 pagi.

Selisi waktu dua jam, kami pun memanfaatkannya untuk mendatangi beberapa tokoh dan pelaku sejarah berkaitan dengan Bung Karno. Rumah alm. H. Abdullah Ambuwaru pertama kali kami kunjungi untuk menyampaikan undangan sekaligus menggali sedikit informasi tentang Bung Karno. H. Abdullah Ambuwaru adalah pemilik rumah Bung Karno di jalan perwira ketika diasingkan di Ende. Selepas itu, kami langsung menuju makam ibu Amsi mertua Bung Karno untuk sekedar memotret. Dari makam ibu Amsi, kami bergegas menuju ke Universitas Flores untuk memberikan undangan kepada Rektor. Prof. Stefanus Djawa Nai asal Nagekeo sebagai pembicara.

Lika-liku terus kami tempu dalam tempo kurang dari dua jam. Tak hanya itu, sekolah menengah atas (SMA) Ndao juga kami hampiri untuk menemui saudari Maria Marietta Bali Larasati dosen Universitas Flores, juga untuk menyerahkan undangan resmi. Dari Ndao, kami menuju masjid Ar-Rabitah yang terletak di jalan Ikan Duyung Ende Selatan untuk memotret. Di masjid tersebut kami menemui seorang wanita perwakilan remaja mesjid yang mengaku keturunan langsung dari raja Indradewa.

Dari beliau, kami memperoleh penuturan bahwa masjid tersebut didirikan tahun 1700-an (abad 18). Masjid inilah yang kerap didatangi Bung Karno untuk melaksanakan shalat ketika beliau diasingkan di Ende. Sampai dengan saat ini, masjid tersebut telah mengalami beberapa kali renovasi, terakhir renovasi dilakukan tahun 1990.

Tidak terasa, waktu sudah menunjukan hampir pukul 10.00 wita. Kami pun memutuskan untuk kembali ke kantor bupati untuk menemui beliau. Sesampainya disana kami mendapati bupati sedang kedatangan tamu NTT 2, Esthon Foenay. Akhirnya kami disarankan oleh sekretaris pribadi ibu Mia Mbata untuk menunggu sejenak di ruang ajudan. 10 menit berselang muncul pula dua mosalaki yang akan menemui bupati, untuk mengadukan kasus sabotase tapal batas.

Beberapa menit kemudian tim kami dipersilahkan menemui bupati. Setelah menggambarkan maksud kedatangan kami, sang bupati pun dengan sangat bersemangat langsung memerintahkan ajudannya agar turun ke titik-titik lokasi bersama beliau sendiri. Sigap!! Sekitar 10 menit kemudian kami sudah tiba di lapangan perse Ende. Beliau langsung menggambarkan secara detail jejak-jejak Bung Karno selama di Ende. Beliau seperti memahami betul seluruh urat nadi kota Ende bahkan setiap jengkal tanah dan setiap batu pijakan. Rupanya api pancasila telah berkobar begitu lama di tempat ini. Seperti ungkapan Bung Karno; “Disinilah, Dibawah Pohon Sukun Itulah, Aku Menemukan Lima Butir Mutiara”. Kutipan ini adalah pidato Bung Karno ketika beliau mengunjungi Ende tahun 1950.

Setelah kurang lebih 20 menit bersafari bersama bupati Ende Drs. Don Bosco Wangge M.Si, kami pun melanjutkan petualangan kami menuju rumah ibu Mahani Sarimin. Menurut informasi, ibu Mahani ini mengetahui betul aktfitas Bung Karno selama di Ende. Dari beliau kami banyak mendapatkan informasi yang berharga. Usia ibu Mahani sekarang sudah beranjak 95 tahun. Usia yang sudah sangat rentah untuk orang-orang sebayanya. Uniknya ketika berbicara tentang Bung Karno, dia harus memangku foto Bung Karno agar ingatan-ingatan tentang Bung Karno dapat kembali merekah di benaknya.

Beliau mengisahkan, ketika di tahun 1950 Bung Karno mengunjungi Ende untuk pertama kalinya sejak menjadi Presiden. Bung Karno menemui bapak H. Abdullah Ambuwaru pemilik rumah yang ditempati Bung Karno pada masa pengasingan dan meminta rumah tersebut dijadikan museum.

Di lain pihak, ketika kami menyambangi gereja katedral Ende, disana kami menemui romo Perno sedang melaksanakan ritual misa pemberkatan umat gerejanya. Dari beliau kami mendapatkan banyak informasi tentang bung Karno. Romo Perno menjelaskan bawah; Dulu, pada masa-masa pengasingan, Bung Karno sangat dekat dengan pater Huijtink dan pater Bouman berkebangsan Belanda sehingga dikabarkan bahwa pater Huijtink sudah meramalkan Bung Karno akan menjadi pemimpin besar. Beliau menuturkan; Suatu waktu, pater Huijtink memutuskan untuk berjalan disamping kiri Bung Karno. Bung Karno di kanan beliau. Bung Karno langsung protes, katanya; “Pater harus di kanan”. Namun pater Huijtink menjawab dalam nada yang agak meramal, “Tidak, Soekarno, Presiden Indonesia, di kanan”.

Nantikan artikel saya selanjutnya tentang,
-”Napak Tilas Bung Karno Di NOL Kilometer Flores”
- “Syndrom Kemosalakian”

Terimakasih, semoga bermanfaat.
Salam Embun!!!!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sambut Sunrise Dari Puncak Gunung Mahawu …

Tri Lokon | | 28 July 2014 | 13:14

Pengalaman Adventure Taklukkan Ketakutan …

Tjiptadinata Effend... | | 28 July 2014 | 19:20

Membuat Hidangan Lebaran di Moskow (Jika …

Lidia Putri | | 28 July 2014 | 17:08

Kampanye Wisata Thailand’s Best …

Olive Bendon | | 28 July 2014 | 16:49

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Pijat Ala Dubai International Airport …

Ardi Dan Bunda Susy | 8 jam lalu

Jangan Terlalu Berharap Banyak Pada Jokowi …

Bambang Srijanto | 9 jam lalu

Berlebaran Tetap Gaya dengan Kaos Kompasiana …

Topik Irawan | 10 jam lalu

Jangan Nanya Panci ke Polisi Amerika …

Usi Saba Kota | 13 jam lalu

” Dari Tahun Ketahun Tak Pernah …

Rere | 18 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: