Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Bambang Nurdiansah

I am human being who don't have nothing

Sisingaan Bukan Odong-odong

OPINI | 18 November 2012 | 03:17 Dibaca: 440   Komentar: 0   0

Manusia merupakan mahluk berbudaya karena memiliki daya cipta, karssa dan rasa. Setiap hari selalu bersentuhan dengan kebudayaan yang diciptakan oleh manusia itu sendiri. Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Kesenian merupakan bagian dari pada kebudayaan karena dalam kesenian memuat beberapa unsur dari kebudayaan itu sendiri.

Setiap daerah memiliki kesenian masing - masing yang dijadikan ikon atas daerah tersebut. Dari kesenian tersebut memiliki nilai sejarah, pesan moral, ajaran serta norma yang berlaku di lingkungan masyarakatnya. Tidak jarang kita menemukan kesenian yang menjadi filosofis kehidupan dari suatu masyarakat yang memiliki nilai tinggi khususnya seni tradisi. kesenian juga memiliki nilai ekonomi ketika kesenian tersebut dijadikan seni pertunjukan sehingga mendatangkan keuntungan bagi para pelaku dan pegiat dari seni tersebut.

Subang sebagai bagian dari Jawa Barat yang memiliki keaneka ragaman seni ini mmemiliki satu kesenian yang menjadi kebanggaan dan menjadi ikon bagi perkembangan kesenian di daerah jawa barat dan sudah menjadi salah satu kekayaan budaya nasional yakni Sisingan. seni pertunjukan Sisingan ini merupakan gabungan dari berbaga unsur seni, di dalamnya terdapat seni bela diri penca silat, seni musik serta seni suara.

Seiring perkembangannnya Sisingaan ada juga yag menyebut dengan gotong singa bahkan ada yang menyebutnya odong - odong. Penamaan ini memiliki dampak pergeseran makna  terhadap nilai filosofis Sisingaan itu sendiri, padahal sisingaan dan odong - odong itu berbeda sekali. Sisingan atau gotong singa menggambarkan suatu perjuangan masyarakat Subang ketika masa penjajahan, dan daerah Subang sedang di jajah oleh Inggris dengan sistem tanam paksa perkebunan teh. Dalam seminar kebudayaan yang di adakan di Wisma Karya Subang tentang ‘Politisasi Seni Tradisi dan Kebudayaan’,  Abah renggo mengungkapkan tentang membedah tentang kesenian Sisingaan. Singa meerupakan gambaran dari penjajah ( inggris ), sedang anak kecil yang menungganginya adalah simbol dari generasi penerus perjuangan masyarakat. Empat orang yang mengusung sisingaan tersebut memiliki arti perjuangan dan gotong royong masyarakat pada masa penjajahan untuk menaklukan penjajah. Seni sisingaan merupakan simbol masyarakat subang yang bersatu padu untuk menaklukan penjajah sehingga generasi penerus perjuangan harus mampu untuk menguasai kekuatan sekuat singa untuk membangun subang.

Berbeda dengan odong - odong, odong - odong muncul ketika para pelaku seni Sisingan ramai di pinta untuk pertunjukan ketika ada acara khitanan atau rasulan. Menurut informasi bahwa odong - odong ini muncul pertama kali di daerah indramayu yang menirukan Sisingaan namun dengan mengganti Sisingaan ( patung singa) dengan yang lain seperti Burung Elang atau harimau. Dari bentuknya pun memiliki perbedaan sehingga para seniman Sisingan tidak mau disamakan antara sisingaan dan odong - odong.

Seni pertunjukan awalnya tidak dijadikan sebagai seni pertunjukan, baru ketika Bupati subang dijabat oleh Bapak Acu. Pada waktu itu RAF (Rachmatulah Ading Affandi) yang juga tengah berdinas di Subang, karena ia dikenal sebagai seniman dan budayawan dimintakan katanya untuk menampilkan kesenian di Anjungan Jawa Barat sekitar tahun 70-an. Dalam prosesnya itu, akhirnya ditampilkanlah Gotong Singa atau Sisingaan yang dalam bentuknya masih sederhana, termasuk musik pengiringnya dan kostum penari pengusung Sisingaan. Ternyata sambutannya sangat luar biasa, sejak itu Sisingaan menjadi dikenal masyarakat.

Seni pertunjukan Sisingaan pada dasarnya dimulai dengan tetabuhan musik yang dinamis. Lalu diikuti oleh permainan Sisingaan oleh penari pengusung sisingaan, lewat gerak pencak silat antara lain: Pasang/Kuda-kuda, Bangkaret, Masang/Ancang-ancang, Gugulingan, Sepakan dua, Langkah mundur, Kael, Mincid, Ewag, Jeblag, Putar taktak, Gendong Singa, Nanggeuy Singa, Angkat jungjung, Ngolecer,Lambang, Pasagi Tilu, Melak cau, Nincak rancatan, dan Kakapalan. Sebagai seni Helaran, Sisingaan bergerak terus mengelilingi kampung, desa, atau jalanan kota. Sampai akhirnya kembali ke tempat semula.

Pola penyajian Sisingaan meliputi:

  1. Tatalu (tetabuhan, arang-arang bubuka) atau keringan
  2. Kidung atau kembang gadung
  3. Sajian Ibingan di antaranya solor, gondang, ewang (kangsreng), catrik, kosong-kosong dan lain-lain
  4. Atraksi atau demo, biasanya disebut atraksi kamonesan dalam pertunjukan Sisingaan.
  5. Penutup dengan musik keringan.

Musik pengiring Sisingaan pada awalnya cukup sederhana, antara lain: Kendang Indung (2 buah), Kulanter, Bonang (ketuk), Tarompet, Goong, Kempul, Kecrek. Karena Helaran, memainkannya sambil berdiri, digotong dan diikatkan ke tubuh. Dalam perkembangannya sekarang memakai juru kawih dengan lagu-lagu (baik vokal maupun intrumental), antara lain: Lagu Keringan, Lagu Kidung, Lagu Titipatipa, Lagu Gondang, Lagu Kasreng, Lagu Selingan (Siyur, Tepang Sono, Awet rajet, Serat Salira dll), Lagu Gurudugan, Lagu Mapay Roko atau Mars-an (sebagai lagu penutup). Lagu - lagu dalam Sisingaan tersebut diambil dari lagu-lagu kesenian Ketuk Tilu, Doger dan Kliningan.

Ada beberapa makna yang terkandung dalam seni pertunjukan Sisingaan, diantaranya:

· Makna sosial, masyarakat Subang percaya bahwa jiwa kesenian rakyat sangat berperan dalam diri mereka, seperti egalitarian, spontanitas, dan rasa memiliki dari setiap jenis seni rakyat yang muncul.

· Makna teatrikal, dilihat dari penampilannya Sisingaan dewasa ini tak diragukan lagi sangat teatrikal.

· Makna komersial, karena Sisingaan mampu meningkatkan kesejahteraan, maka antusiasme munculnya sejumlah puluhan bahkan ratusan kelompok Sisingaan dari berbagai desa untuk ikut festival, menunjukan peluang ini, karena si pemenang akan mendapatkan peluang bisnis yang menggiurkan, sama halnya seperti seni bajidoran.

· Makna universal, dalam setiap etnik dan bangsa seringkali dipunyai pemujaan terhadap binatang Singa (terutama Eropa dan Afrika), meskipun di Jawa Barat tidak terdapat habitat binatang Singa, namun dengan konsep kerakyatan, dapat saja Singa muncul bukan dihabitatnya, dan diterima sebagai miliknya, terbukti pada Sisingaan.

· Makna Spiritual, dipercaya oleh masyarakat lingkungannya untuk keselamatan/ (salametan) atau syukuran.

Assimilasi budaya memang tidak bisa dihindari selama masih menjaga nilai dan norma didalamnya. begitu pula dengan Sisingaan di dalam perkembangannya berassimilasi baik dalam bentuk singanya yang diganti dengan hewan lain, ataupun dari segi pakaian pengusung serta lagu - lagu yang disindenkan ataupun musik pengiringnya yang ditambah dengan instrumental musik modern seperti Guitar, Keyboard dll. Sehingga menjadi memiliki daya tarik tersendiri dan mampu diterma pementasannya oleh semua kalangan. Namun orisinalitas seni tradisi sisingaan harus juga diperhatikan oleh para ssanggar seni yang memberikan jasa pertunjukan itu.

Dengan diterimanya seni pertunjukan sisingaan ini dapat dilihat dari banyaknya pemakai jasa seni pertunjukan ini setiap kali ada acara khitanan atau rasulan, sehingga banyak para pelaku seni berlomba - lomba mendirikan sanggar seni sisingaan. Secara tidak langsung Seni pertunjukan sisingaan ini mengkrak angka kesejahteraan dikalangan seniman itu sendiri.

Seni pertunjukan sisingaan yang saat ini sudah diterima oleh masyarakat lokal, nasional bahkan internasional semakin rentan dengan assimilasi dan hilangnya nilai orisinalitas dari Sisingaan itu sendiri sehingga para pelaku seni ini harus mendorong pada pelestarian nilai filosofisnya dengan cara mempertunjukan seni sisingaan yang asli dari warisan kokolot Subang, agar tidak tersisihkan oleh seni gotong singa dan odong - odong. Seniman sisingaan juga jangan berpikir tentang profit oriented semata tapi bagaimana ngajaga, ngariksa titingal karuhun anu kapungkur.

Sumber : diambil dari berbagai artikel dan makalah seni pertunjukan Sisingan

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jejak Indonesia di Israel …

Andre Jayaprana | | 03 September 2014 | 00:57

Ironi Hukuman Ratu Atut dan Hukuman Mati …

Muhammad | | 03 September 2014 | 05:28

Persiapan Menuju Wukuf Arafah …

Dr.ari F Syam | | 03 September 2014 | 06:31

Kasus Florence Sihombing Mengingatkanku akan …

Bos Ringo | | 03 September 2014 | 06:01

Tiga Resensi Terbaik Buku Tanoto Foundation …

Kompasiana | | 03 September 2014 | 08:38


TRENDING ARTICLES

Ini Nilai Ujian Kuliah Politik Pertanian …

Felix | 3 jam lalu

Florence Sihombing Disorot Dunia …

Iswanto Junior | 4 jam lalu

Manuver Hatta Rajasa dan Soliditas Koalisi …

Jusman Dalle | 5 jam lalu

Awasi Jokowi, Kita Bukan Kerbau Dungu …

Mas Wahyu | 6 jam lalu

Kekuatan Jokowi di Balik Manuver SBY di …

Ninoy N Karundeng | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Catatan Perjalanan: +Nya Stasiun Kereta Api …

Idris Harta | 8 jam lalu

Oposisi Recehan …

Yasril Faqot | 8 jam lalu

Orangtua yang Terobsesi Anaknya Menjadi …

Sam Edy | 8 jam lalu

Indo TrEC 2014 : Mengurai Kekusutan Lalu …

Wahyuni Susilowati | 8 jam lalu

Elpiji 12 kg, Antara Kelas Menengah dan …

Tubagus Encep | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: