Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Yan Latifah

student of urban and regional planning ITS surabaya since 2009-now & student of Professional designer selengkapnya

Memaksimalkan Potensi Wisata Alam Loksado, Kalimantan Selatan

OPINI | 13 November 2012 | 22:56 Dibaca: 848   Komentar: 0   0

ABSTRAK

Pengembangan wilayah dengan segala potensi yang dimilikinya merupakan suatu langkah untuk meningkatkan peran dan kontribusi daerah menuju kemandirian yang berkelanjutan, salah satu potensi yang dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan wilayah adalah pariwisata, kegiatan pariwisata adalah salah satu usaha untuk mengangkat potensi suatu daerah dan wisata alam merupakan kegiatan perjalanan atau sebagian dari kegiatan tersebut yang dilakukan secara sukarela bersifat sementara untuk menikmati gejala keunikan dan keindahan alam di taman nasional, taman hutan raya dan taman wisata alam. Loksado adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, Indonesia. Loksado terletak di pegunungan Meratus merupakan salah satu daerah wisata alam dan atraksi budaya masyarakat Dayak Bukit yang sebenarnya bisa menjadi daya tarik potensi alam yang luar biasa terkenal dengan bamboo rafting dan dapat memberikan kontribusi besar untuk pengembangan daerah tersebut.

Kata Kunci : Wisata Alam

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pariwisata adalah suatu industri yang mengalami pertumbuhan yang sangat pesat di seluruh dunia dan berangsur-angsur telah mengalami perubahan dari suatu kebutuhan sekunder (kebutuhan mewah) menjadi suatu kebutuhan primer (kebutuhan pokok) yang berarti bahwa pada suatu periode tertentu seseorang harus dapat melakukan kegiatan pariwisata. Wisatawan adalah orang yang bepergian dari tempat tinggalnya untuk berkunjung ke tempat lain dengan menikmati perjalanan dari kunjungan itu. Demikian dikatakan Dr. James J. Spillane dalam bukunya Pariwisata Indonesia, Sejarah dan Prospeknya.

Demikian juga apa yang diungkapkan oleh yoeti (1993:109) bahwa pariwisata adalah suatu perjalanan yang dilakukan untuk sementara waktu yang diselenggarakan dari suatu tempat ke tempat lain, dengan maksud bukan untuk berusaha atau mencari nafkah ditempat yang dikunjungi, tetapi semata-mata untuk menikmati perjalanan tersebut guna bertamasya dan berekreasi untuk memenuhi keinginan yang beraneka ragam. Perjalanan tersebut, biasanya dilakukan untuk mencari suasana baru yang berbeda dengan suasana rutinitasnya sehari-hari dengan tujuan yang bermacam-macam, ada yang bertujuan beristirahat, mencari ketenangan atau bersenang-senang dan masih banyak lagi tujuan lainnya.

Berdasarkan hal tersebut maka pariwisata merupakan suatu kegiatan yang dinamis namun kompleks, dimana didalamnya dibutuhkan suatu pengelolaan yang melingkupi sarana dan prasarana yang layak agar tujuan wisata dapat tercapai. Loksado adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, Indonesia. Loksado terletak di pegunungan Meratus merupakan salah satu daerah wisata alam dan atraksi budaya masyarakat Dayak Bukit. Dalam jangka waktu terakhir ini Loksado menjadi salah satu tujuan wisata yang berdatangan dari masyarakat lokal maupun mmancanegara. Kepala Dinas Pariwisata Kalimantan Selatan mengatakan bahwa ramainya maskapai penerbangan dari wisatawan luar daerah ataupun mancanegara dengan tujuan ingin berwisata ke pasar terapung dan menikmati wisata alam loksado.

Masa Keemasan Loksado beberapa  tahun lalu sempat  meredup dan kurang diminati wisatawan lokal maupun mancanegara karena kurangnya perhatian dari pemerintah daerah maupun provinsi dalam mengembangkan dan menggali potensi yang ada. Akibatnya beberapa fasilitas yang dibangun menjadi tidak terawat dan hancur sia-sia. Hingga pada saat menyambut Visit Indonesia Year 2009, seluruh fasilitas tersebut dibenahi dan siap untuk kembali dipromosikan ke berbagai negara, kerjasama dengan beberapa daerah dan instansi terkait baik itu penerbangan maupun tourism.

Gambaran Umum

Loksado adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, Indonesia. Kecamatan Loksado memiliki jarak 160 km dari Banjarmasin, ibukota Kalimantan Selatan memiliki ciri demografi yang khas. Luas kecamatan 338,89 kilometer persegi dengan jumlah penduduk mencapai 7.254 jiwa. Masyarakatnya tersebar pada beberapa bukit, lereng gunung, hutan, serta di sekitar bantaran sungai Amandit, dengan jumlah kepadatan 21 jiwa per satu kilometer persegi. Karena masyarakatnya didominasi oleh suku Dayak, otomatis banyak dari mereka yang menganut kepercayaan animisme (Kaharingan), lainnya lagi Kristen dan Islam. Mata pencaharian utama mereka adalah berladang. Sebagian besar masyarakat menempati rumah adat yang disebut balai. Secara umum, terdapat 300 balai adat Dayak yang tersebar di Kalimantan selatan. Dan sebagian lainnya telah menempati rumah di pemukiman. Untuk mencapai Kecamatan Loksado, fasilitas transportasi umum relatif mudah didapatkan. Dari Banjarmasin ke Kandangan Kota ditempuh dengan perjalanan melewati jalan provinsi. Dari ibukota kabupaten Hulu Sungai Selatan inilah, perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Loksado, dengan kendaraan roda dua menempuh waktu selama 1,5 jam.

Didukung oleh Panorama keindahan alam yang masih sangat asri. Bentangan alam khas Pegunungan Meratus dipenuhi dengan pepohonan yang dikaitkan banyak jembatan gantung,  dengan objek utama Sungai Amandit yang curam berkelok-kelok dan dipenuhi bebatuan. Wisata alam Loksado adalah perjalanan wisata menelusuri suasana alam Pegunungan Meratus, dengan keindahan hutan tropis yang terdiri dari beraneka ragam flora dan fauna didalamnya. Derasnya aliran sungai Amandit yang jernih dan segar dapat ditelusuri dengan menggunakan rakit bambu (bamboo rafting), dapat juga digunakan sebagai tempat wisata Arung Jeram. Selain keindahan sungai Pegunungan Meratus di Loksado juga terkenal dengan hutan tropisnya yang memiliki keaneka ragaman flora dan fauna dengan berbagai spesies yang merupakan spesies khas dari pulau Kalimantan, seperti : Anggrek Meratus (Meratus Orchid) dan Tanaman Kantung Semar (Exotic Pitcher Plant).

Objek wisata di kawasan Loksado adalah sebagai berikut : Air Terjun Haratai, Air Terjun Riam Hanai, Air Terjun Kilat Api, Air Terjun Rampah Menjangan, Air Terjun Pemandian Anggang, Air Terjun Tinggiran Hayam, Pemandian Air Panas Tanuhi, wisata Dayak Loksado, 43 Balai (rumah adat), Gunung Kentawan, Balanting Paring (Bamboo Rafting), Dan lain-lain. Selain pesona alam yang memikat ada hal lain yang ternyata menjadi tujuan utama para wisatawan lokal maupun asing untuk berkunjung ke wisata alam Loksado yaitu menikmati keindahan alam dengan bamboo rafting yang sudah menjadi ciri khas dan keunikan tersendiri. Arung Jeram Bambu atau lebih dikenal dengan bamboo rafting merupakan salah satu wisata terkenal di Chiang Mai. Di Indonesia, khususnya di Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Provinsi Kalimantan Selatan Arung jeram menggunakan bambu ini disebut dengan Balanting Paring dan juga menjadi objek wisata unggulan.

Kalau dilihat dari sejarahnya, balantng paring ini merupakan kebiasaan penduduk loksado dalam menjual bambu (“paring” dalam bahasa banjar) menuju kota, biasanya di bawa ke Kandangan, bahkan terus sampai ke Nagara (Kec. Daha Utara dan Daha Selatan). Karena belum ada atau minimnya alat transportasi untuk membawa bambu, petani memakai cara mengikat bambu hasil panenannya dalam jumlah sekitar 50 sampai 70 batang ke dalam satu ikatan, dan mereka naiki menuju Kota kandangan. Jika waktu tempuh di darat hanya sekitar dua jam, dengan mengarungi sungai Amandit, petani membutuhkan dua hari perjalanan untuk sampai di Kandangan, Ibu Kota Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Selain membawa bambu untuk dijual di kota, para petani juga sekaligus membawa hasil bumi lainnya yang bisa mereka jual. Seperti karet atau kayu manis yang mereka tumpuk di atas bambu. Waktu yang mereka pilih adalah di saat air Sungai Amandit pasang, sehingga mereka tidak banyak menjumpai halangan batu-batu di sepanjang sungai.  Karena kebiasaan penduduk lokal itulah, saat ini banyak sekali wisatawan yang ingin menikmati asyiknya petualangan menyusuri sungai Amandit. Tetapi bamboo rafting untuk wisatawan dilakukan saat arus sungai Amandit surut, karena ada tantangan batu-batuan sepanjang perjalanan yang bisa dinikmati. Bambo Rafting Loksado  menggunakan rakit bambu yang berasal dari beberapa batang bambu diikat menjadi satu, dan biasanya berjumlah sekitar 16 batang.

Pada tahun 2010 kemarin dalam rangka Hari Ulang Tahun Kabupaten Hulu Sungai Selatan ke-60 Pemerintah mengadakan festival bamboo rafting diikuti oleh 40 tim dari berbagai daerah, Rute loksado – Kandangan menempuh jarak sekitar 40 kilometer dari Loksado di Pegunungan Meratus hingga Kandangan, ibu kota Kabupaten Hulu Sungai Selatan, dan memerlukan waktu selama dua hari. Biasanya, Hari pertama  dari Loksado menuju ke Kandang Haur, dan diteruskan dari Kandang Haur ke Kandangan yang dilakukan Hari berikutnya. Festival ini juga cukup ramai disaksikan oleh para wisatawan.

Salah satu upacara adat suku Dayak

Wisata Alam Loksado jika ditinjau dari aspek lingkungan alamiahnya merupakan jenis pariwisata atraksi wisata, yaitu suatu wisata yang telah ada sebelumnya berupa tari-tarian, nyanyian, kesenian rakyat tradisional, upacara adat dll yang dipertunjukkan bagi wisatawan. Di Kecamatan Loksado terdapat 43 balai (rumah adat) yang biasanya wisatawan dapat melihat secara langsung adat dan kebudayaan masyarakat Dayak pegunungan meratus. Diantaranya ada Balai Hambawang Masam, Balai Adat Malaris, Balai Haratai dan masih banyak nama-nama Bali yang lainnya. Biasanya Masyarakat Dayak Meratus melakukan , Balai Kacang Parang pesta adat Aruh Ganal sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen mereka yang dilangsungkan sesuai dengan kepercayaan yang dianut masyarakat setempat yaitu agama kaharingan. Pesta Adat Aruh Ganal biasanya berlangsung pada malam hari ratusan undangan dari berbagai balai adat di Kecamatan Loksado berkumpul mengelilingi panggung persembahan. Para kepala adat duduk pada tempat khusus, untuk melakukan prosesi ritual adat. Kepala Adat Balai Kacang Parang (Kepala adat yang mengundang), mulai memimpin prosesi dengan Bakapur. Kemudian Bamamang yaitu membaca mantera yang bahasanya hanya bisa mereka pahami sendiri. Selanjutnya, puluhan anak muda Bakanjar, menari seperti elang mengelilingi panggung. Usai Bakanjar, para kepala adat Batandik, yaitu prosesi utama membaca mantera mengelilingi panggung sambil memberi pemberkatan. Batandik dilakukan sampai pagi dan pesta diakhiri dengan memberi beras hasil panen (semacam zakat) kepada para undangan.

Aruh Ganal ramai dilangsungkan pada bulan-bulan panen. Puluhan balai adat di Kecamatan Loksado melakukannya secara bergantian. Masyarakat adat Dayak tetap melangsungkan pesta adat ini dari tahun ketahun, meski dilangsungkan dalam keadaan yang memperihatinkan. Dikatakan memprihatinkan Karena belakangan, pesta yang merupakan salah satu eksotis budaya adat setempat, nyaris terlupakan orang, terutama oleh pemerintah setempat.

Identifikasi Pemasalahan

Kurangnya perhatian dari pemerintah setempat terhadap sarana maupun prasarana yang dapat menunjang wisata alam tersebut membuat seringkali para wisatawan asing maupun lokal merasa kesulitan untuk mendapatkan informasi tentang wisata alam Loksado mulai dari informasi yang akan di akses para calon wisatawan dari dunia maya (internet) sangat minim hanya ada cerita mengenai loksado dari orang-orang yang sudah pernah berkunjung kesana, tidak ada web resmi ataupun termuat dalam situs resmi Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Selatan. Akses untuk menuju ketempat lokasi juga sangat minim, angkutan yang cukup sulit didapat karena tidak ada angkutan khusus yang ditujukan untuk perjalanan wisatan menuju tempat lokasi, jalan beraspal yang rusak terutama pada jalan yang menuju air terjun haratai, Air Terjun Riam Hanai, Air Terjun Kilat Api, Air Terjun Rampah Menjangan, Air Terjun Pemandian Anggang. Bukan hanya potensi keindahan alam yang didukung dengan sarana dan prasarana yang memadai yang kurang diperhatikan oleh pemerintah setempat, selain itu eksotime budaya masyarakat Dayak Meratus juga kurang diperhatikan terbukti dari pemerintah daerah sendiri tidak peduli dengan jadwal pelaksanaan Aruh Ganal di Kecamatan loksado. Sebenarnya, bukan sekadar keindahan alam Loksado yang bisa ‘dijual’ kepada dunia, namun keindahan eksotisme budaya adatnya juga menjadi sajian ampuh yang tidak bisa dijumpai di tempat lain. Padahal jika pihak pemerintah jeli melihat potensi tersebut dapat menjadi daya tarik wisata yang luar biasa yang nantinya dapat memberikan kontribusi yang cukup besar bagi daerah setempat.

Penyelenggaraan festival bamboo rafting yang diadakan pemerintah dalam rangka Hari Ulang Tahun Kabupaten Hulu Sungai Selatan menjadi daya tarik baru bagi wisatawan dan tentunya akan lebih baik lagi jika diimbangi dengan fasilitas yang juga memadai.

PEMBAHASAN

Tinjauan Teori dan Analisa

Menurut Leiper (1990) yang mengklasifikasikan 7 sektor dalam komponen pariwisata yang dapat menunjang sistem pariwisata berkelanjutan yaitu sektor pemasaran (the marketing sector), sektor perhubungan (the carier sector), sektor akomodasi (the accomodation sector), Sektor daya tarik/atraksi wisata (the attraction sector), sektor operator wisata, sektor pendukung/rupa-rupa (the miscellaneous sector) dan sektor pengkoordinasian/regulator (coordinating sector). Sistem Pariwisata Loksado dapat dianalisa berdasarkan 7 sektor tersebut, antara lain :

· Sektor pemasaran (the marketing sector)

Sektor pemasaran mencakup semua unit pemasaran dalam industri pariwisata yang berada di ‘traveller generating region.

Kegiatannya meliputi: promosi, advertising, publikasi, penjualan produk dan paket wisata. Promosi untuk Wisata Alam Loksado sendiri dapat dikatakan masih sangat kurang. Informasi yang ada selama ini hanyalah dari mulut ke mulut, referensi atau cerita pengalaman dari wisatawan melalui weblog internet. Padahal pemerintah dapat memaksimalkan promosi wisata alam Loksado melalui web resmi pemerintah yang memberikan informasi lebih tentang wisata Alam Loksado mengenai rute perjalanan, biaya yang dikeluarkan, paket wisata yang menarik untuk dijadikan objek wisata menarik bagi wisatawan lokal maupun mancanegara.

· Sektor perhubungan (the carier sector)

Mencakup semua bentuk dan macam transportasi publik, khususnya yang beroperasi sepanjang jalur transit yang menghubungkan tempat asal wisatawan (traveller generating region) dan tempat tujuan wisatawan (tourist destination region).

Transportasi publik menuju wisata alam Loksado hanya terbatas angkutan umum berupa taksi colt apabila dari arah kota seperti Banjarmasin, Banjarbaru, Kandangan dan kota lainnya, setelah itu berhenti di pedesaan dilanjutkan dengan angkutan roda dua yang ada di daerah Loksado. Belum ada tranpostasi khusus yang menuju tempat lokasi sehingga wisatawan lokal lebih senang menngunakan kendaraan pribadi.

· Sektor akomodasi (the accomodation sector)

sebagai penyedia tempat tinggal sementara dan pelayanan yang berhubungan dengan hal itu (food and beverage), berada di tempat tujuan (tourist destination region) dan tempat transit. Tempat tinggal atau tempat transit sementara berupa wisma loksado yang dikelola oleh  pemerintah, hotel dan cottage yang dikelola oleh swasta

· Sektor daya tarik/atraksi wisata (the attraction sector)

Penyediaan daya tarik atau atraksi wisata di lokasi tujuan wisata. Daya tarik khas Loksado adalah dengan atraksi wisatanya. Atraksi wisata adalah segala sesuatu sajian wisata yang dipersiapkan terlebih dahulu agar dapat dilihat dan dinikmati. Atraksi wisata dapat berupa tari-tarian, nyanyian, kesenian rakyat tradisional, upacara adat dan lain-lain seperti pesta Adat Aruh Ganal dan aktivitas yang menjadi daya tarik utama yaitu bamboo rafting.

· Sektor operator wisata

Mencakup perusahaan penyelenggara dan penyedia paket wisata (tempat, paket wisata, atraksi wisata). Belum ada penyediaan paket wisata yang dikelola oleh pemerintah setempat yang ada hanyalah jasa travel tour dari perusahaan Kakaban Tour yang memberikan paket wisata Provinsi Kalimantan Selatan yang salah satunya adalah mengunjungi wisata alam Loksado dari serangkaian wisata yang ada di kalimantan selatan.

· Sektor pendukung/rupa-rupa (the miscellaneous sector)

Pendukung terselenggaranya kegiatan wisata; toko souvenir, restoran, bank, dan lain-lain. Lokasi tujuan wisata yang berada di lereng pegunungan meratus sehinga jauh dari fasilitas umum seperti bank, namun untuk restoran/rumah makan dan toko souvenir dapat ditemui didekat balai (rumah adat)

· Sektor pendukung/rupa-rupa (the miscellaneous sector)

Mencakup peran pemerintah selaku regulator dan asosiasi bidang pariwisata baik tingkat lokal, regional maupun internasional. Misalnya; Departemen pariwisata, dinas pariwisata, perhimpunan hotel dan restoran.

Tempat tinggal sementara berupa wisma loksado yang dikelola oleh  pemerintah, hotel dan cottage yang dikelola oleh swasta.

Dari Tinjauan teori dan analisa diatas terlihat bahwa masih ada beberapa poin yang belum ada ataupun masih sangat kurang dari 7 sektr yang menunjang sistem pariwisata. Poin yang paling banyak kekurangan ialah sarana dan prasarana serta fasilitas umum yang menunjang pariwisata dan pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan pengembangan dan pengelolaan kawasan wisata alam.

Solusi

Solusi yang dapat ditawarkan dalam sistem wisata alam Loksado, Kalimantan Selatan antara lain :

· Meningkatan peran pemerintah dalam menunjang fasilitas yang memadai untuk sarana dan prasarana alam wisata Loksado seperti informasi/petunjuk, memperbaiki transportasi, infrastruktur dan aksesibilitas terutama jalan-jalan yang rusak ke arah air terjun, menyediakan jasa penginapan.

· Pengoptimalan fungsi kawasan Loksado sebagai pelestarian adat dengan daya tarik eksotisme adat istiadat budaya dayak meratus.

· Pemberdayaan masyarakat lokal terutama dalam sektor ekonomi.

KESIMPULAN

Dari hasil analisa dapat dilihat bahwa masih ada beberapa sekto yang masih sangat minim untuk menunjang sistem pariwisata alam Loksado seperti halnya transportasi, infrastruktur dan aksesibilitas yang masih kurang memadai. Serta informasi tentang wisata alam Loksado yang masih sangat kurang, padahal banyak wisatawan yang tertarik dengan kegiatan menyusuri sungai amandit dan menikmati keindahan alamnya dengan bamboo rafting. Sehingga untuk memaksimalkan potensi alam Loksado tidak hanya perhatian dari pemerintah saja, promosi dan informasi yang meluas, namun keluwesan masyarakat lokal dengan kentalnya adat istiadat dan peran serta pihak swasta juga diperlukan untuk menunjang sistem pariwisata yang lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi, Direktorat Jendral Pariwisata, 1994,

Indonesia : khasanah Pariwisata Nusantara, Jakarta, Deparpostal RI.

Maryani, Enok, 2002. Pengelolaan Sumberdaya Secara Terpadu Melalu Ekowisata.

Yoeti, OkaA, 1992, Perencanaan dan pengembangan Pariwisata, Jakarta, Pradya Paramita.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Stanley, Keindahan Sisi Selatan Hongkong …

Moris Hk | | 29 August 2014 | 14:46

Kisah Hidup Pramugari yang Selamat dari …

Harja Saputra | | 29 August 2014 | 12:24

Jose Mujica, Dihormati Meskipun Tidak Punya …

Putu Djuanta | | 29 August 2014 | 14:30

Kompasiana Nangkring bareng Sun Life: Kenapa …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 12:58

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Doa untuk Mas Vik …

Aiman Witjaksono | 8 jam lalu

Kejadian di SPBU yang Bikin Emosi… …

Ryan M. | 11 jam lalu

Jokowi Mengkhianati Rakyat Jika Tidak …

Felix | 12 jam lalu

Ganteng-Ganteng Hakim MK …

Balya Nur | 12 jam lalu

Cara Unik Jokowi Cabut Subsidi BBM, …

Rizal Amri | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Kapusan (Tertipu) …

Amin | 7 jam lalu

Jokowi-JK Berhentilah Berharap Tambahan …

Win Winarto | 8 jam lalu

Jogja Terhina, France Tidak Perlu Minta Maaf …

Nasakti On | 8 jam lalu

Rising Star Indonesia, ‘Ternoda’ …

Samandayu | 8 jam lalu

Makna Kesaktian 2 (Episode : …

Akhmad Fauzi | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: