Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Ihwanul Muaripin

Mahasiswa Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Mengintip Permainan Anak Beda Generasi

OPINI | 06 November 2012 | 07:59 Dibaca: 354   Komentar: 0   0

Masa anak-anak merupakan masa yang sangat menyenangkan, masa eksplorasi diri manusia untuk mengenal lingkungan sekitar, bercengkrama dan menjelajahi dengan alam sekitar tempat tinggalnya. Pengalaman masa kecil seseorang akan menentukan sebagian besar watak individu ketika mereka tumbuh dewasa.

pada era globalisasi dan modernisasi seperti saat ini perkembangan anak tidak bisa dilepaskan dari sesuatu yang bernama “teknologi”. Tentu ini sangat berbeda dengan anak yang dilahirkan sebelum zaman teknologi berkembang sangat marak seperti saat ini. Secara umum anak-anak yang mengalami masa kecil sebelum tahun 2000, mereka bermain dengan permainan dan alat-alat tradisional. Suatu permainan yang sudah ada sejak zaman pendahulu mereka. Permainan yang diwariskan kepada generasi muda (atau mungkin sangat muda karena diwariskan pada anak-anak) merupakan permainan sederhana yang hanya bermodalkan keterampilan individu dalam memanfaatkan alam sekitar.

Permainan tradisional yang biasa dimainkan oleh anak-anak desa memiliki manfaat yang cukup baik bagi perkembangan mental dan watak anak. Sebut saja gobak sodor, permainan tradisional yang dimainkan secara beregu ini menuntut anak untuk selalu bekerja sama dengan rekan mereka dan menuntut para anak untuk bergerak secara gesit agar bisa memenangkan permainan. Dengan kebiasaan bekerja sama dengan orang lain seseorang akan menjadi terbiasa untuk hidup secara sosial dan bekerja saling membantu untuk mencapai kesuksesan secara bersama-sama. Bergerak dengan lincah dalam permainan ini secara tidak langsung membuat seorang anak menjadi sehat karena hal ini bisa dikatakan sebagai olahraga yang menyenangkan. Selain itu dengan kebiasaan bermain secara kelompok walaupun ketika bermain mereka sebagai lawan tapi tidak ada dendam diantara mereka bahkan yang ada adalah keakraban yang lebih terjalin diantara anak-anak tersebut. Walaupun hal ini mungkin tidak disadari oleh masyarakat desa pada umumnya dan kerjasama yang dibangun ketika masa kanak-kanak tidak berlanjut ketika mereka mulai tumbuh dewasa. Sehingga seakan-akan kebiasaan kerja sama hilang begitu saja dan yang ada hanyalah kepentingan individu seseorang dalam bekerja.

Hal ini sangat berbeda dengan kehidupan anak-anak indonesia pada zaman sekarang tidak di kota maupun di desa semua hampir sama “penjajahan” teknologi sudah menyentuh masyarakat miskin sekalipun. Pada zaman sekarang banyak anak yang telah dan selalu menggunakan HP maupun komputer/laptop. Walaupun mungkin barang-barang modern tersebut sebenarnya tidak bernilai guna jika dipegang oleh mereka, dengan kata lain kepemilikan barang-barang elektronik tersebut hanya karena trend zaman yang dianggap modern ini. Selain penggunaan barang-barang “mewah” tersebut anak-anak zaman sekarang juga cenderung mulai meninggalkan permainan tradisional, dan beralih kepermainan modern sebut saja play station ataupun beyblade (bahasa jadulnya adalah gangsing atau bahasa lebih jadulnya lagi “kekean” dalam bahasa jawa).

Permainan anak-anak zaman sekarang dengan menggunakan play station (PS) membuat seorang anak cenderung bersikap subjektif karena permainan ini hanya dilakukan individu karena permainan ini hanya dilakukan individu ataupun hanya bisa dilakukan dalam kelompok kecil. Permainan ini juga hanya bisa dilakukan jika anak tersebut berada didepan layar monitor dan memegang pengendali game yang biasa disebut “stik”. ketika seorang anak kecanduan bermain PS dan menghabiskan sebagian besar waktunya hanya untuk bermain, membuat anak tersebut kurang berolahraga sehingga dapat membuat tubuhnya kalah sehat dengan anak-anak yang biasa memainkan permainan tradisional. Selain itu dengan kebiasaan sikap individualis seorang anak akan mengalami masalah ketika menjalin hubungan sosial.

Selain itu anak pada zaman sekarang memiliki komsumsi informasi yang sangat sulit disaring sehingga dengan sifat dasar anak yang mengikuti segala bentuk tindakan berdasarkan pengalaman panca indranya, seorang anak akan dengan mudahnya mengikuti hal-hal yang diberitakan di media massa. Padahal informasi tersebut bukanlah porsi mereka. Hal ini tentu sangat memprihatinkan dimana seorang anak “dipaksa” untuk menjadi dewasa sebelum waktunya oleh lingkungan sekitarnya melalui informasi yang tersebar.

Untuk itulah mari kita bersama membangun bangsa mulai dari generasi yang sangat muda, dengan mempertahankan “local wisdom” indonesia, dan mengkolaborasikan dengan kemajuan teknologi. Perpaduan antara kebaikan tradisional dan modern yang diharapkan mampu membuat generasi muda indonesia menjadi generasi yang mampu mengikuti arus globalisasi tetapi tidak melupakan tradisi sebagai masyarakat INDONESIA.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sepotong Senja di Masjid Suleeyman yang …

Rumahkayu | | 19 April 2014 | 10:05

Pengakuan Mantan Murid JIS: Beberapa Guru …

Ilyani Sudardjat | | 19 April 2014 | 20:37

Kompas adalah Penunjuk Arah, Bukan Komando …

Dita Widodo | | 19 April 2014 | 21:41

Kakak-Adik Sering Bertengkar, Bagaimana …

Lasmita | | 19 April 2014 | 22:46

Kompasianer Mengawal Pemilu 2014 …

Kompasiana | | 09 April 2014 | 04:17


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: