Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Sutomo Paguci

Pewarta warga mukim di Padang | Advokat | Nonpartisan | Menulis sebagai rekreasi

Tradisi “Gadaikan Anak” di Minangkabau

HL | 01 November 2012 | 18:55 Dibaca: 1189   Komentar: 0   4

13517698821102227048

Keluarga muda Minang sedang akad "gadai anak". Foto: SP

Tradisi “gadai anak” acap ditemui dalam beberapa suku atau etnis di Indonesia, tidak terkecuali etnis Minang. Anak yang “digadaikan” tetap dalam pengasuhan orang tua kandung si anak.

Tradisi ini lebih kurang bermakna, orang tua “menggadaikan” anaknya (biasanya balita), yang diikuti menyerahkan anak secara simbolis ke pihak penerima gadai, biasanya keluarga dekat atau orang yang dikenal lainnya, yang diikuti pemberian sejumlah benda gadai—uang, kelapa dan beras—oleh si penerima gadai pada pemberi gadai.

“Gadai anak” ini akan ditebus pada saat si anak kelak tumbuh dewasa dan akan kawin. Benda gadai—uang, kelapa dan beras tadi—akan ditebus kembali sesuai permintaan atau sekerelaan penerima gadai.┬áPenebusan gadai bisa dilakukan ke ahli waris andai penerima gadai semula meninggal dunia.┬áPada saat penebusan itulah “gadai anak” berakhir.

Bagaimana jika gadainya tidak ditebus? Konsekuensinya ternyata menarik. Si anak yang “digadaikan” akan menjadi “anak” dari si penerima gadai.

Tentu saja tidak setiap anak memenuhi kriteria layak digadaikan. Yang digadaikan hanya anak lelaki yang wajahnya mirip bapaknya atau anak perempuan yang wajahnya mirip ibunya.

Adapun tujuan digadaikan adalah, supaya salah satu dari yang memiliki kemiripan wajah tersebut tidak “diambil” (baca: meninggal dunia) dan supaya tidak selalu berlawanan/bertengkar.

Sebagian orang masih mempercayai sepenuhnya tradisi “gadai anak” ini. Sebagian lagi tidak mempercayai tapi tetap menjalankan sekedar penghormatan tradisi saja. Selebihnya sama sekali tidak lagi menjalankan tradisi ini.(*)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mencari Jejak Pencetus Indonesia …

Olive Bendon | | 05 March 2015 | 13:31

Watu Jaran, Sepotong Surga di Keheningan …

Hendra Wardhana | | 05 March 2015 | 15:18

Menyibak Akar Sengkarut APBD DKI …

Zetya1 Setiawan | | 05 March 2015 | 16:00

Mengenal “Swinger”: Ancaman dan …

Wahyu Tanoto | | 05 March 2015 | 15:31

[Tutorial] Google Hangout dan Cara …

Kompasiana | | 09 January 2015 | 22:15


TRENDING ARTICLES

Pelayanan Luar Biasa Fx Sudirman …

Thamrin Dahlan | 10 jam lalu

Perbedaan Negara Bekas Jajahan Belanda …

Rudi Hartono | 11 jam lalu

Humor Revolusi Mental #071: Repetitio Mater …

Felix | 11 jam lalu

Coretan Tangan Ahok: “Pemahaman Nenek …

Edi Abdullah | 11 jam lalu

Horree! Indonesia Punya Polisi Terjujur …

Anton Kapitan | 13 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: