Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Adjat R. Sudradjat

orang biasa, tinggal di desa, masih sedang belajar mengeja aksara

Mengapa Orang Sunda Tak Pernah Jadi “Number One” di Republik Ini?

OPINI | 31 October 2012 | 19:40 Dibaca: 4187   Komentar: 25   0

KETIKA saya muncul di warung kopi, bangku yang terbuat dari bambu itu ternyata sudah terisi penuh. Karena selain ada Si Akang, pelanggan setia warung kopi itu, ditambah lagi oleh Pak Asep, pensiunan Sekcam (Sekretaris Kecamatan), Pak Eman, mantan guru SD, Ujang Suryana, karyawan KUD, dan Pak Kuwu.

Sebagai orang yang datang belakangan, sebelum memesan segelas kopi saya menyalami mereka terlebih dahulu. Tak lupa bertegur sapa tentang keadaan masing-masing. Kemudian saya menyeret kursi plastik dari dalam warung, dan membersihkan kotorannya sebelum diduduki.

Topik pembicaraan yang sedang diperbincangkan mereka ternyata tentang Pemilukada Propinsi Jawa Barat yang akan digelar tahun 2013 mendatang.

“Kira-kira siapa ya yang bakal berjaya nanti? Apa Ahmad Heryawan, Sang Incumbent, Dede Yusuf, Rieke Oneng, atawa Yance?” tanya Pak Asep.

“Entahlah. Yang jelas rakyat Jawa Barat sepertinya ikut terkena sihir Jokowi juga sekarang ini. Mereka ikut terpesona seperti warga Jakarta…” sahut Pak Eman.

“Tapi saya yakin… Haqqul yaqin. Tidak bakalan ada Joko Widodo di Jawa Barat ini… “ Si Akang memotong kalimat Pak Eman.

“Lho siapa tahu ada sosok bakal calon yang memiliki karakter seperti Jokowi itu di Jawa Barat ini…”

“Jelaslah tidak bakal ada, Pak. Yang ada ya Jaka Widara , atawa Jaka Wijana. Urang Sunda tidak akrab dengan ahiran huruf O ‘kan?”

Semua orangpun tergelak.

“Tapi ngomong-ngomong, mengapa ya urang Sunda sampai sekarang belum pernah ada yang jadi RI satu. Padahal urang Sunda ini paling dekat ke pusat pemerintahan. Malahan menurut kabar, urang Sunda ini termasuk dua besar jumlahnya. Paling banter hanya menduduki posisi RI dua saja. Itupun baru sekali saja, yaitu Jenderal Umar Wirahadikusumah di era Orde Baru dulu. Demikian juga dalam jabatan di militer maupun Polri. Selalu saja kalah sama Wong Jowo. Heran saya. Padahal potensi untuk menduduki posisi nomor satu tampaknya banyak juga. seperti kemarin dulu saja, Jenderal Nanan Sukarna malah disalip sama Jenderal Timur Pradopo…” Ujang Suryana mengalihkan topik obrolan ke arah yang lebih tinggi.

“Itulah masalahnya. Mitos huruf O sampai sekarang masih dominan menguasai negeri ini, “ kata Pak Eman. “Selain itu meskipun kita bertetangga dengan Wong Jowo, urang Sunda memiliki kelemahan dari orang Jawa sana. Kalau urang Sunda ada yang sukses dalam kehidupannya, mereka seringkali terkena penyakit adigung-adiguna, atawa sombong. Sehingga membuat dia melupakan purwadaksi-nya (Asal-usulnya). Jangankan kepada orang lain, terhadap sanak-saudara pun dia (Maksudnya orang yang telah sukses dalam hidupnya itu) bersikap seperti raja kepada abdi dalemnya saja…Maunya dilayani. Malahan kadang-kadang  sulit memberi bantuan kepada sanak –saudara yang masih membutuhkan uluran tangan orang lain…”

“Sementara Wong Jowo, memiliki budaya mudah berkumpul. Contohnya saja ormas NU berdiri dan besarnya di Jawa Timur. Lalu menyebar ke daerah lain. Demikian juga Muhammadiyah, dan Persis. Mana di Tatar Sunda ada yang seperti itu. Maka jangan heran kalau pucuk pimpinan di republik inipun dikuasai mereka…”

“Wah, Pak Eman ini malah menjelek-jelekan diri sendiri, menghina urang Sunda sama saja menghina karuhun kita…” kata Si Akang sengit.

“Suka maupun tidak, kenyataannya tokh begitu. Atau kalau jangan disebut terlalu ekstrim seperti itu, ya sudahlah alasannya karena urang Sunda mah punya watak seperti Si Kabayan saja. Puas?”

“Maksudnya?” timpal Ujang Suryana.

“Suka bercanda, sederhana, dan tidak ambisius… Hehehe…” sahut Pak Eman sambil menghirup kopinya.

“Lalu kalau masalah calon Gubernur bagaimana?” tanya Si Akang

“Yah sudahlah cari saja sosok  seperti Si Kabayan…”

Kembali semua orang tergelak…

Dasar.

Memang dasar urang Sunda mah suka bercanda…***

Gegerbeas, 31/10/2012

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jejak Indonesia di Israel …

Andre Jayaprana | | 03 September 2014 | 00:57

Ironi Hukuman Ratu Atut dan Hukuman Mati …

Muhammad | | 03 September 2014 | 05:28

Persiapan Menuju Wukuf Arafah …

Dr.ari F Syam | | 03 September 2014 | 06:31

Kasus Florence Sihombing Mengingatkanku akan …

Bos Ringo | | 03 September 2014 | 06:01

Tiga Resensi Terbaik Buku Tanoto Foundation …

Kompasiana | | 03 September 2014 | 08:38


TRENDING ARTICLES

Ini Nilai Ujian Kuliah Politik Pertanian …

Felix | 3 jam lalu

Florence Sihombing Disorot Dunia …

Iswanto Junior | 4 jam lalu

Manuver Hatta Rajasa dan Soliditas Koalisi …

Jusman Dalle | 5 jam lalu

Awasi Jokowi, Kita Bukan Kerbau Dungu …

Mas Wahyu | 6 jam lalu

Kekuatan Jokowi di Balik Manuver SBY di …

Ninoy N Karundeng | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Tur Eropa dan Blunder Lanjutan Timnas U-19 …

Mafruhin | 7 jam lalu

Catatan Perjalanan: +Nya Stasiun Kereta Api …

Idris Harta | 8 jam lalu

Oposisi Recehan …

Yasril Faqot | 8 jam lalu

Orangtua yang Terobsesi Anaknya Menjadi …

Sam Edy | 8 jam lalu

Indo TrEC 2014 : Mengurai Kekusutan Lalu …

Wahyuni Susilowati | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: