Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Konspirasi (?)

OPINI | 31 October 2012 | 18:15    Dibaca: 173   Komentar: 0   0

Sejak bom Bali tahun 2001 lalu, ribuan orang tanpa dosa tewas menggenaskan oleh aksi pemboman. Kerugian materi yang diakibatkan terorisme di Indonesia pun sudah tidak terhitung jumlahnya. Berbagai asumsi muncul, mulai gerakan Islam radikal hingga gerakan -sekelompok orang- yang menginginkan Negara berasas Islam alias NII, jaringan osama dan lain sebagainya. Asumsi itu bisa benar dan bisa salah.

Peristiwa pemboman ini menggambarkan betapa nyawa manusia sudah tidak ada harganya. Mereka dengan mudah mengorbankan orang-orang tak berdosa yang tidak ada sangkut pautnya dengan politik kekuasaan, politik ekonomi, budaya dan yang lainnya. Tentu hal ini sangat mencengangkan kita, kenapa bisa terjadi dan apa motif dibalik aksi kekerasan itu. Sudah sebrutal itukah orang-orang kita Indonesia?

Dan yang lebih mengcengangkan lagi, setiap kali pihak kepolisian melakukan penangkapan orang-orang yang “terduga” teroris itu selalu ada keganjilan dan kesalah pahaman. Sehingga tidak jarang orang yang “diduga” teroris pun heran apa yang tengah terjadi. Keluarga terduga sering terheran-heran dengan kasus penangkapan salah seorang anggota keluarganya.

Selain itu, pelaku teror yang sering ditangkap oleh kepolisian kebanyakan pemuda-pemuda desa yang tidak tahu apa-apa. Bagaimana mungkin mereka akan mampu meracik bom sendiri, dari mana mereka mendapatkan bahan peledak? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang belum terpecahkan kalau aksi terorisme murni dari pelaku teror itu sendiri. Seperti kata pepatah tidak ada asap kalau tidak ada api, tidak akan ada teror kalau tidak ada pemeliharanya.

Setelah penangkapan demi penangkapan terjadi, kepolisian melakukan jumpa pers dan berpendapat dengan alasan klasik bahwa aktivitas terduga sudah lama diintai dan dicurigai.

Semua itu sudah berlalu, namun dari peristiwa yang berlalu itu ada semacam kecurigaan masyarakat yang peduli dengan bangsa Indonesia. Aksi teror yang masih sering terjadi hingga kini sudah membosankan. Masyarakat mulai membuka mata dan menaruh beberapa pertanyaan curiga. kenapa aksi teror muncul setiap kali isu nasional dan kebangsaan memanas?

Perlu disimak dengan baik, teror bom Bali I satu muncul ketika kasus BLBI tengah menjadi pembicaraan yang menasional. Kasus BLBI pun hilang tak jelas rimbanya. Ketika beberapa kali bank Century menjadi pemberitaan media, sebanyak itu berita teror pun menggelinding di berbagai daerah. Dan daerah yang sangat strategis untuk dijadikan aksi teror memang daerah rawan konflik seperti poso dan ambon.

Beberapa hari terakhir ini misalnya, aksi teror kembali muncul disaat-saat kasus korupsi Hambalang dan simulator SIM menjadi buah bibir banyak orang. Apakah ini sebuah konspirasi atau hanya kebetulan saja? Kalau ada yang berpendapat kebetulan, kenapa puluhan bahkan ratusan aksi teror terjadi bersamaan dengan kasus besar menjadi bulan-bulanan pemberitaan media. Adakah konsep “kebetulan” memang seperti itu?

Kiranya kalau kita berfikir jernih dan rasional, di dunia ini tidak ada yang kebetulan apa lagi soal kekuasaan dan politik dan tidak akan pernah suatu peristiwa terjadi kalau tidak pernah direncanakan.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

42 Tahun Pesan Damai dari Perang Vietnam …

Abanggeutanyo | | 29 May 2015 | 01:59

Ketika 1000 Mawar Menghampiriku …

Christie Damayanti | | 28 May 2015 | 16:38

Sudah Resmi Dilepas Jokowi, Timnas U-23 …

Achmad Suwefi | | 28 May 2015 | 17:06

Rongga Hidup Si Hari …

Seneng Utami | | 29 May 2015 | 01:01

Menengok Komplek Pemandian Raja Jawa: Taman …

Etta Adil | | 28 May 2015 | 16:38


TRENDING ARTICLES

Sumbu Ahok Bertambah Panjang …

Daniel H.t. | 9 jam lalu

Pangeran Ali, Sosok yang …

Djarwopapua | 9 jam lalu

Begini Praktik Mafia Sepakbola …

Muthiah Alhasany | 11 jam lalu

Sugiharto, Petral Bermanfaat bagi Indonesia, …

Hendi Setiawan | 15 jam lalu

Mengenal Loretta Lynch, Perempuan Kulit …

Sang Pujangga | 16 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: