Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Hasrul Harahap

*Penulis adalah Peneliti di Candidate Center

“SUMPAH PEMUDA” DALAM PERSPEKTIF KEKINIAN

OPINI | 30 October 2012 | 20:39 Dibaca: 96   Komentar: 0   0

(Refleksi memperingati 84 Tahun Sumpah Pemuda)

*Hasrul Harahap

Peringatan 84 tahun sumpah pemuda mestinya menjadi momen refleksi diri bagi bangsa Indonesia untuk menakar sejauh mana peranan bangsa dalam pergaulan internasional. Sebagai sebuah bangsa perjalanan bangsa Indonesia belumlah lama jika dibandingkan dengan negara-negara Eropa lainnya. Seperti yang kita ketahui bahwa nasionalisme dan kebangsaan rakyat Indonesia di pupuk sejak abad ke-20. Kalau kita di kawasan benua Asia dan Afrika pada awal abad ke-20 menginjak zaman  modern yang membawa perubahan baru, sehingga pada waktu itu timbul kata-kata baru Renaissance(kebangkitan kembali) dari benua Asia. Kemenangan Jepang dari beberapa negara di Asia terhadap Tsar Rusia  dari Barat (1905) telah membangkitkan semangat kepercayaan bangsa-bangsa Asia Timur untuk bangkit sendiri. Semangat nasionalisme berhembus hingga ke bumi Nusantara. Muculnya nasionalisme di bumi nusantara dilatar belakangi oleh suburnya kolonialisme dan imperialisme yang dilakukan oleh negara-negara Barat selama tiga setengah abad. Kemauan hidup bersama dalam sebuah bangsa dan keinginan untuk menentukan nasib sendiri mendorong munculnya gerakan-gerakan rakyat. Tahun 1908 lahir organisasi masyarakat pertama bernama Budi Utomo. Pada awalanya organisasi ini bersifat kedaerahan, dasarnya adalah keturunan sama (common descent), adat istiadat sama (common tradition), bahasa sama (common language), dan agama sama (common religion). Fase berikutnya dari pertumbuhan itu adalah a common effort in a fight for political rights for individual liberty and tolerance (suatu usaha bersama dalam perjuangan untuk hak-hak politik, untuk kemerdekaan pribadi dan menghormati orang lain). Nasionalisme kemudian menjadi suatu state of mind, atau prinsip rohani, dimana kesetiaan  dari individu diabdikan kepada negara. Hingga tahun 20-an pergerakan nasional telah berjiwa “Kebangsaan Indonesia” yang memuncak pada pertemuan Kongres Pemuda II pada tanggal 27-28 Oktober 1928. Para pemuda dari berbagai perkumpulan pergerakan pemuda seperti Jong Java, Jong Sumatera Bond, Jong Bataks Bond, Jong Islamaten Bond, Jong Ambon, Pemuda Kaum Betawi, Pemuda Indonesia, dan Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) membentuk penitia Kongres Pemuda II. Kongres ini bermaksud untuk menguatkan perasaan persatuan dan kebangsaan yang di masa itu telah hidup di dalam hati tiap-tiap pemuda Indonesia. Tak mengherankan jika dalam kongres kata-kata “Kemerdekaan” sempat muncul. Hingga pada akhirnya menyepakati sebuah konsensus yang mengaku bertumpah darah yang satu, Tanah Air Indonesia; mengaku berbangsa satu, Bangsa Indonesia, dan menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.Sumpah Pemuda ini menjadi tonggak persatuan Indonesia di bumi Nusantara. Sumpah Pemuda menjaditempat dasar yang tiga dan tujuan yang satu bagi rakyat Indonesia.

Semua untuk Satu

Seperti dikatakan Presiden Soekarno pada pidato 1 Juni 1945, “Kita mendirikan negara Indonesia, yang kita semua harus mendukungnya. Semua buat semua! Bukan Kristen buat Indonesia, bukan golongan Islam buat Indonesia, bukan Hadikoesoemo buat Indonesia, bukan Van Eck buat Indonesia, bukan Nitisemito yang kaya buat Indonesia, tetapi Indonesia buat Indonesia, semua buat semua! Jikalau saya peras yang lima menjadi tiga, dan yang tiga menjadi satu, maka dapatlah saya satu perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan “Gotong-royong”. Negara Indonesia yang kita dirikan haruslah negara gotong-royong!”. Nasionalisme Indonesia sangat berbeda dengan nasionalisme Barat. Nasionalisme Barat bangkit dari reaksi masyarakat yang merasakan ketidaknyamanan budaya terhadap perubahan-perubahan yang terjadi akibat kapitalisme dan individualisme. Namun mereka diuntungkan dengan karena budaya mereka dapat mengakomodasi standar-standar modernitas. Sebaliknya, Nasionalisme Kebangsaan Indonesia adalah akumulasi pengalaman penjajah yang dilakukan (kolonialisasi) oleh bangsa Eropa. Apa yang diperjuangkan rakyat Indonesia dulu adalah kemerdekaan diri, kedaulatan dirinya ditengah-tengah bangsa-bangsa di dunia. Nasionalisme adalah motif dan pembenaran atas Revolusi Indonesia. Kemerdekaanlah yang menjadi tujuannya. Merdeka dari segala bentuk penindasan. Nasionalisme adalah faktor pendorong Kemerdekaan untuk membentuk masyarakat Indonesia yang sejahtera, adil, dan makmur. Nasionalisme perlu terus dirawat dengan memberikan makna. Meski begitu Soekarno mengingatkan bahwa nasionalisme kita bukanlah nasionalisme borjuis atau nasionalisme keningratan. Nasionalisme borjuis bukanlah nasionalisme kemanusiaan, bukan nasionalisme yang ingin keselamatan massa, yang paling jauh hanya ingin Indonesia Merdeka saja dan tidak mau mengubah susunan masyarakat sesudah Indonesia Merdeka itu merekalah yang harus menjadi “kepala” merekalah yang tetap harus menjadi kaum yang memerintah.

Lokomotif Kaum Muda

Sejarah bangsa-bangsa juga mencatat peran penting kaum muda dalam perubahan politik menyeluruh di masing-masing bangsa itu. Beberapa momentum pergerakan nasional yang motori oleh kaum muda memainkan peranan sangat penting seperti peristiwa 1908, 1928, 1945, 1974, 1983, dan 1998. Tidak hanya di Indonesia tetapi pergerakan kaum muda terjadi seperti revolusi di Perancis tahun 1968 digerakkan dan bersumber dari kreativitas dan keberanian politik kaum muda. Tidak heran jika Bung Karno dalam slogannya mengatakan, “Beri aku 10 orang pemuda, maka aku akan mengguncang dunia”. Kaum muda dan perubahan ibarat dua mata pisau yang tak dapat dipisahkan sepanjang sejarah kehidupan manusia. Kaum muda adalah sebuah kelompok dimana pikiran-pikiran idealisme yang genuine masih tertanan dan bergelora dalam jiwa seorang pemuda bahkan semangat/spirit perubahan tumbuh tiada henti tanpa dipengaruh sahwat kepentingan pragmatis sesaat. Kaum muda adalah tulang punggung sekaligus ruh penggerak perubahan. Momentum sumpah pemuda yang ke 84 ini merupakan munculnya kesadaran baru para intelektual muda untuk membawa kemajuan bagi bangsa dan negara. Ini tergambar dari karyanya Pramoedya Ananta Toer yang berjudul “Bumi Manusia” dan “Jejak Langkah” yang menceritakan bagaimana para pemuda dan pemudi kita pada saat masa penjajahan mengalami penindasan, keterbelakangan dan diskriminasi oleh kaum kolonialis. Itulah sebabnya, pemuda Indonesia harus mengubah nasibnya sendiri. Keterbelakangan itu harus segera dihadiri dengan cara memperkuat sistem pendidikan, kebudayaan, ekonomi, dan politik.

Penutup

Akhirnya, Jika kita melihat dari konteks sejarah, peranan pemuda menjadi kata kunci dari perjalanan bangsa ini. Itulah sebabnya mengutip apa yang dikatakan, Benedict Anderson, menyebut, bahwa sejarah Indonesia adalah sejarah pemudanya. Kehadiran pemuda kata Anderson yang akan menciptakan momen sejarah Indonesia kedepan, yakni sejarah terbentuknya sebuah bangsa yang satu dan merdeka dari ketertindasan kolonialisme. Semangat perjuangan para pemuda pendahulu bangsa yang sudah lama tertanam dalam nilai-nilai Sumpah Pemuda seyogiyanya dijadikan entri poin pada setiap waktu dan tempat dimanapun pemuda berada. Pemuda sebagai agen perubahan (agent of social change) dan agen kontrol (agent of social control) harus menjadi lokomotif perubahan dalam setiap sendi-sendi berbangsa dan bernegara. Memperingati Sumpah Pemuda dalam 8 dekade terakhir ini tentu saja bukan hanya menikmati romantisme masa lalu semata, tetapi ini harus dijadikan entri poin dalam menjawab persoalan-persoalan kebangsaan dalam menatap Indonesia yang dicita-citakan. Pemuda Indonesia memiliki pekerjaan rumah yang cukup kompleks untuk mencarikan solusi permasalahan kebangsaan yang amat carut marut khususnya dalam proses penegakan hukum di republik ini. Indonesia jaya adalah cita-cita para pendiri bangsa kita beberapa tahun lalu ketika bersama-sama merumus dasar-dasar negara Indonesia. Indonesia kaya akan sumber daya alamnya dan keberagaman seperti agama, budaya, bahasa, adat istiadata, etnis dan lainnya. Malangnya kekayaaan yang dimiliki Indonesia belum bisa bangkit keluar dari keterpurukan yang melanda kita sekarang ini. Justru sebaliknya kasus korupsi yang masih melilit para elit politik kita belum bisa diatasi secara maksimal.

*Penulis adalah Peneliti di Candidate Center

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | | 25 October 2014 | 17:32

ATM Susu …

Gaganawati | | 25 October 2014 | 20:18

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Gayatri Wailisa, Anggota BIN? Perlukah …

Arnold Adoe | | 25 October 2014 | 16:01

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Serunya di Balik Layar Pemotretan Presiden …

Gatra Maulana | 8 jam lalu

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | 9 jam lalu

Hatta Rajasa Tahu Siapa Bandit Migas …

Eddy Mesakh | 10 jam lalu

Presiden Jokowi, Ibu Negara, dan …

Sintong Silaban | 11 jam lalu

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Fakta & Rahasia Saya Tentang Buku …

Indria Salim | 9 jam lalu

Hanya Tontowi/Liliyana di Final Perancis …

Sapardiyono | 9 jam lalu

Pilih Steak Sapi New Zealand Atau Ramen …

Benny Rhamdani | 9 jam lalu

Upacara Adat Satu Suro Kampung Adat Cirendeu …

Sandra Nurdiansyah | 10 jam lalu

50 Yacht Luar Negeri “Serbu” …

Mustafa Kamal | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: