Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Rahmad Agus Koto

"Alam Terkembang Jadi Buku," dibaca, dipelajari, dipahami dan diamalkan… Insyaallah… Belajar sampai nafas terakhir. Suka selengkapnya

Pendekatan Biologis: Kepala Dingin, Hati Panas atau Kepala Panas, Hati Dingin?

OPINI | 29 October 2012 | 18:13 Dibaca: 952   Komentar: 0   2

Masalah identik dengan kehidupan, masalah adalah bagian dari kehidupan itu sendiri, normal, alamiah. Jenis-jenis permasalahan inipun beragam, seberagamnya pola pikir manusia. Tingkat kesulitannyapun juga berbeda-beda berdasarkan karakter kepribadian masing-masing.

Ada kalanya ketika kita sedang menghadapi suatu permasalahan yang sangat berat, sampai mempengaruhi hati dan pikiran kita sedemikian rupa.

Nah, ada jargon yang pernah saya dengar mengenai hal ini di salah satu televisi swasta, seorang reporter mengatakan, kurang lebih,

“Hati boleh panas, namun kepala harus tetap dingin menghadapi permasalahan tawuran ini.”

Saya kepikiran ketika mendengar pernyataan itu, logiskah pernyataan itu?

Kalau kita menghadapi suatu masalah, ada dua sikap yang biasanya diambil, fight or flight, hadapi atau lari. Okelah kita ambil fight.

Tentunya kita akan memikirkan apa yang jadi permasalahan, apa penyebabnya dan apa solusinya. Secara biologis otak akan bekerja lebih cepat dan lebih banyak. Aktivitas ini akan menaikkan suhu dalam kepala, sesuai dengan hukum biokimia, kenaikan suhu adalah efek dari naiknya reaksi-reaksi metabolisme.

So, kepala akan panas.

Bagaimana dengan hati?

Kata “hati” ini adalah salah satu misteri dalam dunia biologi, bisa “dianggap” tidak ada. Penjelasan yang pernah saya pelajari adalah bahwa otak adalah pusat pengendali mesin kehidupan manusia, dibantu oleh “akar-akarnya”.

Apa yang kita rasakan di bagian dada, adalah efek atau respon otak yang “menyuruh” kelenjar-kelenjar untuk mengeluarkan hormon-hormon tertentu di dalam dada. Saya tidak tahu pasti organ yang mana, apakah jantung atau hati (lever), atau mungkin saja kedua-duanya.

Inilah sebabnya sebagian peradaban (umumnya orang timur) mengatakan “di dalam hatiku” dan sebagiannya lagi “di dalam jantungku” (umumnya orang barat).

Baiklah untuk saat ini kita abaikan dulu mengenai hal itu, yang pasti terasa di dalam dada, untuk tulisan ini saya wakili dengan kata hati, sepakat? iya ajalah hehehe…

Melalui mekanisme yang luar biasa rumit dan penuh misteri, “data-data” (output yang dihasilkan oleh otak melalui proses berpikir, dikirim ke dalam dada untuk dihayati, direnungi, kemudian disampaikan ke sesuatu di luar otak dan hati (jiwa) untuk memilih dan memutuskan solusi mana yang kita gunakan untuk permasalahan yang sedang dihadapi.

Dilihat dari kinerjanya, otak lebih banyak bekerja dibandingkan dengan hati.

Analoginya seperti chip CPU (otak), yang suhunya meningkat drastis ketika sedang bekerja aktif memproses data, sedangkan north dan south bridge (hati) relatif lebih dingin, yang bertugas “menyaring” data-data output dari chip CPU, kemudian di kirim ke pengguna (jiwa).

Kalau hati kita biarkan panas dan otak (kepala) tidak karena sedikit bekerja, berarti telah menentang cara kerja biologis tubuh, menentang sifat alami tubuh.

Bagaimana kalau dua-duanya panas? menurut saya sih, tetap saja sistemnya kacau, tidak fokus, sehingga tidak bisa memberikan solusi dan keputusan yang tepat.

Kalau dua-duanya dingin? yahhh yang ini mah flight mechanism, lari dari permasalahan hehehe…

Jadi, berdasarkan pemaparan di atas melalui pendekatan biologis, yang tepat (sesuai dengan cara kerja tubuh alami) adalah,

“Kepala boleh panas, tapi hati harus tetap dingin.”

Maap..maap.. ini adalah hipotesa ilmiah loh, karena belum memasuki tahapan eksperimen hehehe… belum bisa dibuktikan secara ilmiah. Kalau bisa dibuktikan secara ilmiah, gue harus bilang WOW! karena akan menjadi teori biopsikologi baru hahahaiyy… #ngayal deh…

Sekedar berbagi hayalan, maaf ya kawan-kawan…

Salam Hangat Sahabat Kompasianers… ^_^

[-oleh Rahmad Agus Koto, yang sepertinya gi error-]

Tags: freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Baduy, Eksotisme Peradaban Ke XV yang Masih …

Ulul Rosyad | | 20 December 2014 | 23:21

Batita Bisa Belajar Bahasa Asing, …

Giri Lumakto | | 21 December 2014 | 00:34

Penulis Kok Dekil, Sih? …

Benny Rhamdani | | 20 December 2014 | 13:51

Bikin Pasar Apung di Pesing, Kenapa Tidak? …

Rahab Ganendra 2 | | 20 December 2014 | 20:04

Real Madrid Lengkapi Koleksi Gelar 2014 …

Choirul Huda | | 21 December 2014 | 04:22


TRENDING ARTICLES

Konyol, @estiningsihdwi Bantah Sanggahannya …

Gatot Swandito | 18 jam lalu

Jangan Nodai Sukacita Natal Kami dengan …

Sahroha Lumbanraja | 20 jam lalu

Presiden Jokowi-Wapres JK Atasi Korban …

Musni Umar | 21 jam lalu

Dihina “Kampret”, Pilot Garuda …

Felix | 21 jam lalu

Salahkah Menteri Rini Menjual Gedung BUMN? …

Daniel Setiawan | 22 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: