Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Lihin

Sementara hanya bisa merangkai huruf, dan masih takut mati…. Malas menulis di kompasiana, sukanya baca selengkapnya

Kepedulian Sosial dalam Kurban Itu Nomor 2…

OPINI | 27 October 2012 | 01:40 Dibaca: 355   Komentar: 0   0

Hampir sudah menjadi tradisi tahunan pada lebaran Idhul Adha, bukan semarak dan khidmat yang menjadi pemberitaan utama, namun hal negatif dari proses berkurban lebih mewarnai.Kurban pun dimanifesto dalam wujud HANYA berbagi. Betulkah kurban hanyalah bentuk kepedulian kepada sesama?, bagi saya, “sambil menyelam minum air”. Berkurban adalah menyelam-nya, dan minum air adalah kepedulian-nya. Loh???

13512765831383103388

Ilustrasi, Sumber: fummri.org

Sehari sebelum Lebaran Idul Adha, seorang teman lama menulis di akun facebooknya, “adakah sampel lain penyembelihan hewan pada saat Lebaran Idhul Adha selain kisah Ibrahim dan Ismail as??. Status menarik sampai-sampai saya share beberapa kali di group berbeda.

Dalam tradisi sembelih menyembelih hewan kurban pada lebaran Idhul Adha, memang cenderung dikaitkan dengan rentetan ayat yang mengisahkan Ibrahim as ketika akan menyembelih anaknya Ismail. Berikut kronologi kejadian tersebut berdasarkan terjemahan ayat dan hadis pendukung;

“Ketika Ibrahim bermimpi. Dalam mimpinya Ibrahim diperintahkan menyembelih anaknya sendiri, Ismail. Ibrahim sedikit tidak percaya dengan perintah itu, namun setelah mimpi yang sama berulang sampai tiga kali, barulah Ibrahim percaya. Ibrahim segera memberitahukan kepada istri dan anaknya, Hajar dan Ismail. Keduanya bersedia. Pada waktu yang ditentukan, dilaksanakanlah proses penyembelihan itu. Ismail sempat menegur ayahnya, agar lebih tenang, karena menurutnya ketenangan dalam proses, juga merupakan ketenangan batiniah baginya. Dan pada detik menentukan, Allah menghadirkan Domba sebagai pengganti Ismail kepada Ibrahim”.

Dari kisah tersebut, penulis mengambil beberapa hikmah sebagai hal yang penting, yaitu keimanan, pengorbanan, keikhlasan, dan ketenangan. Keraguan Ibrahim pada mimpi pertama, bahwa perintah itu datang dari Allah, tertutupi dengan kadar keimanan pada mimpi yang ketiga kalinya. Kesediaan berkorban mesti itu adalah anak sendiri dari Ibrahim dan Hajar istrinya, dan Ismail atas perintah ayahnya. Kerelaan keluarga tidak diragukan lagi, begitupula ketenangan dalam pelaksanaan.

“Kurban” dalam konteks menyembelih hewan pada lebaran Idul Adha, adalah istilah yang dalam bahasa agama “udhiyyah”, berasal dari kata dluha yang bermakna “waktu dluha” yaitu waktu antara pukul 7 pagi hingga pukul 11 siang. Kemudian dijadikan sebagai nama bagi sembelihan kurban yang pelaksanaannya dianjurkan pada waktu dluha. Jika dikaitkan dengan “Qurban” yang berarti dekat, maka ibadah kurban bisa dimaknai sebagai usaha mendekatkan diri kepada Allah, dengan berkurban berupa sesembelihan hewan.

Sampai di sini tergambar, bahwa ibadah kurban tidak murni terfokus kepada masalah kepedulian sosial belaka. “Tidak akan sampai daging-daging dan darah (dari binatang yang kamu sembelih), akan tetapi yang sampai adalah ketakwaanmu dari apa yang kamu lakukan”, firman Allah (QS; al-Hajj). Jelas Allah ingin mengukur kadar keimanan dan ketakwaan dari semua ibadah yang kita lakukan termasuk kurban.

Dalam proses kurban, Islam telah mengatur mulai dari seputar hewan sampai proses pembagiannya. Dari sekian hadis yang mengatur masalah ibadah kurban, ada satu hadis yang menurut penulis urgen dijadikan pertimbangan dalam berkurban. Hadis ini dirwayatkan oleh Salamah Ibn al-Akwa’. Nabi saw bersabda;

“Barang siapa diantara kamu sekalian berkurban maka janganlah menyimpan sesuatu pun (dari daging kurban) setelah tiga hari. Kemudian pada tahun berikutnya para sahabat bertanya: ya Rasulullah apakah kami melakukan seperti tahun lalu? Rasulullah bersabda ”makanlah (dari kurbanmu), dan berilah orang-orang, dan simpanlah, sesungguhnya pada tahun yang lalu itu orang-­orang mendapat kesusahan, maka aku ingin kamu menolong mereka”.

Jelas tergambar, bagaimana Islam memperhatikan masalah sosial, dan kondisi kemasyarakatan. Bagaimana Nabi saw, begitu feleksibel merasakan keadaan orang-orang di sekitarnya.

Namun perlu pula diperhatikan dengan seksama, dari hadis ini pun tersirat bahwa menolong mereka yang kesusahan hanyalah bentuk perbuatan berbarengan dengan hal yang dilakukan sebelumnya. Dalam artian, ada atau tidak ada masyarakat yang membutuhkan pertolongan, ibadah kurban tetap menjadi ibadah penting bagi yang mampu. Seperti dalam ilustrasi sebelumnya, “berkurban adalah menyelam-nya, dan minum air adalah kepedulian-nya”.

Wallahu A’lam…

@as Sejadah

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | | 25 October 2014 | 14:51

Kompasiana Nangkring Special di Balikpapan …

Bambang Herlandi | | 25 October 2014 | 13:44

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Gayatri Wailisa, Anggota BIN? Perlukah …

Arnold Adoe | | 25 October 2014 | 16:01

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Serunya di Balik Layar Pemotretan Presiden …

Gatra Maulana | 3 jam lalu

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | 5 jam lalu

Hatta Rajasa Tahu Siapa Bandit Migas …

Eddy Mesakh | 6 jam lalu

Presiden Jokowi, Ibu Negara, dan …

Sintong Silaban | 7 jam lalu

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | 7 jam lalu


HIGHLIGHT

Kenapa Lebih PD Dengan Bahasa Asing Dari …

Seneng | 8 jam lalu

Car Free Day Bukan Solusi …

Nitami Adistya Putr... | 9 jam lalu

ATM Susu …

Gaganawati | 9 jam lalu

Perjamuan Akhir di Bali …

Tjiptadinata Effend... | 10 jam lalu

Serunya di Balik Layar Pemotretan Presiden …

Gatra Maulana | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: