Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Ghazul Fikri

OPINI | 26 October 2012 | 15:23 Dibaca: 389   Komentar: 0   0

Ghazul Fiqri sebagai Tantangan Tabligh

Oleh : Amirrulloh

Kalau kita telah menyatakan, bahwa agama Islam itu agama pamungkas atau agama terakhir yang berlaku dimana saja dan kapan saja, maka itu berarti keyakinan kita juga, bahwa agama islam itu dapat membeikan pedoman dasar, memberikan bimbingan dan memberikan pemecahan-pemeahan masalah prinsip yang dihadapi umat manusia sepanjang zaman. Logika demikian memberikan konsekwensi implementatif kepada umat Islam, untuk dapat membuktikan dan mengangkat nilai-nilai Islam dalam realitas kehidupan, tanpa melakukan penyebrangan dari wilayah ke-Islamannya, tapi juga tidak melakukan sikap-sikan konyol yang menempatkan umat Islam dalam posisi terbuang kepinggiran daerah cagar budaya.

Namun, menjalani hidup di zaman yang serba canggih sekarang ini menyebabkan sebagian orang menghalalkan segala cara untuk mewujudkan apa yang diinginkannya tanpa peduli lagi hukum positif dan agama yang membatasinya. Salah satu faktor yang mempengaruhi hal tersebut terjadi adalah adanya perbedaan dan pembandingan antara tata aturan Barat yang menganut sistim pemikiran liberal dengan adat dan tata aturan Timur yang lekat dengan ketimurannya yang sering kali terjadi perbedaan bias pemikiran yang sangat mencolok diantara keduanya. Pemikiran Barat yang bepusat pada kebebasan berpikir pada hasil ijtihad akal tanpa didasari dan dibatasi oleh al Quran dan as Sunna, sedangkan tata aturan Timur yang bercermin pada al Quran dan as Sunnah yang memberikan kebebasan pada akal dan pikiran manusia untuk berijtihad dengan tanpa keluar dari koridor yang ditentukan al Quran dan as Sunnah. Selain dari itu perbedaan budaya yang terjadi antara keduanya juga menjadi problematika tersendiri bagi dunia Islam. Ini menjadi sebuah problematika tabligh dalam hal Ghazul Fiqri atau perang pemahaman antara budaya Barat dan budaya Timur, serta berbeda pemikiran antara Islam itu sendiri yang dilatar belakangi oleh adat budaya dan tradisi daeah-daerah tertentu. Ini merupakan peroblematika yang harus dicari jalan keluanya bersama-sama. Pada kesempatan kali ini, pemakalah akan mencoba memaparkan Ghazul Fiqri sebagai problematika tabligh dan menelisik satu persatu permasalahannya dan berusaha menciptakan solusi dan jalan keluarnya.

Akan tetapi sebelum menguraikan permasalahan-permasalahan yang dihadapi dunia tabligh menganai ghazul fikri, ada baiknya kita mengetahui juga hal-hal berikut dibawah ini:

1. Pengertian Ghazul Fikri

Etimologi ghazul fikri terdiri dari dua suku kata yang berasal dari bahasa Arab, yaitu Ghazul yang artinya perang atau penyerbuan, dan Fikri yang berarti pemikiran. Dalam bahasa Inggris sering diistilahkan dengan Brain Washing, Thought Control, dan Menticide.

Sedangkan menurut terminologi ghazul fikri adalah upaya-upaya gencar pihak musuh-musuh Islam untuk menghancurkan Islam dengan meracuni pikiran umatnya agar jauh dari Islam yang pada akhirnya membencinya, atau dengan kata lain istilsh ysng menunjuk kepada suatu program yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis dan terstuktur oleh musuh musuh Islam untuk melakukan pendangkalan pemikiran dan cuci otak kepada kaum muslim dengan tujuan kaum muslim tunduk dan mengukuti cara hiduo mereka sehingga melanggengkan kepentingan mereka untuk mengeksploitasi sumberdaya milik kaum muslim.

Ghazul fikri mempunyai makna “perang yang dilancarkan musuh-musuh Islam dalam rangka menghancurkan ummat Islam beserta aqidahnya dengan tidak melalui perang konvensional tapi melalui perang pemikiran atau invasi pemikiran”. Mereka tidak akan berhenti memerangi kaum muslim dari segala arah, sebagaimana diterangkan dalam firman Allah SWT:

Ÿwur tbqä9#t“tƒ öNä3tRqè=ÏG»s)ム4Ó®Lym öNä.r–Šãtƒ `tã öNà6ÏZƒÏŠ ÈbÎ) (#qãè»sÜtGó™$# 4 `tBur ÷ŠÏ‰s?ötƒ öNä3ZÏB `tã ¾ÏmÏZƒÏŠ ôMßJuŠsù uqèdur ֍Ïù%Ÿ2 y7Í´¯»s9résù ôMsÜÎ7ym óOßgè=»yJôãr& ’Îû $u‹÷R‘‰9$# ÍotÅzFy$#ur ( y7Í´¯»s9ré&ur Ü=»ysô¹r& ͑$¨Z9$# ( öNèd $ygŠÏù šcrà$Î#»yz

“mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu Dia mati dalam kekafiran, Maka mereka Itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka Itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya” (al Baqarah: 217).

Firman Allah yang lain:

`s9ur 4ÓyÌös? y7Ytã ߊqåkuŽø9$# Ÿwur 3“t»|Á¨Y9$# 4Ó®Lym yìÎ6®Ks? öNåktJ¯=ÏB 3 ö@è% žcÎ) “y‰èd «!$# uqèd 3“y‰çlù;$# 3 ÈûÈõs9ur |M÷èt7¨?$# Nèduä!#uq÷dr& y‰÷èt/ “Ï%©!$# x8uä!%y` z`ÏB ÉOù=Ïèø9$# $tB y7s9 z`ÏB «!$# `ÏB <c’Í<ur Ÿwur AŽÅÁtR

“orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)”. dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu” (al Baqarah: 120).

šcr߉ƒÌãƒ br& (#qä«ÏÿôÜムu‘qçR «!$# óOÎgÏdºuqøùrÎ/ †p1ùtƒur ª!$# HwÎ) br& ¢OÏFム¼çnu‘qçR öqs9ur on̍Ÿ2 šcrãÏÿ»s3ø9$#

“mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan- ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai” (at Taubah: 32).

Melihat beberapa ayat diatas, maka jelas bahwa perang pemahaman atau ghazul fikri telah diprediksi akan terjadi, Karena dengan jelas al Quran telah mengatakannya.

2. Pengertian Tabligh

Tabligh berasal dari kata kerja ballaga – Yuballigu yang artinya menyampaikan. Menurut Istilah arti Tablig adalah menyampaikan ajaran-ajaran (Islam) yang diterima Allah SWT kepada umat manusia agar dijadikan pedoman hidup supaya memperoleh kebahagian di dunia dan akherat. Orang yang bertablig disebut Mubalig (laki-laki) dan Mubaligah (perempuan). Mubaligh adalah sebutan bagi orang laki-laki yang bertabligh dan untuk orang wanita disebut mubalighah, sedangkan untuk laki-laki yang berdakwah disebut dengan Da`i dan Da`iyah untuk wanita yang berdakwah.

Mengacu kepada pengertian diatas, pada hakikatnya antara tabligh dan dakwah hanya berbeda pada pengertiannya saja, sedangkan tugas dan tujuannya adalah sama.

Pada awalnya, kegiatan tabligh dan dakwah merupakan kewajiban Nabi Muhammad, SAW. Allah berfirman pada surah Al-Maidah ayat 67:

$pkš‰r¯»tƒ ãAqߙ§9$# õ÷Ïk=t/ !$tB tA̓Ré& šø‹s9Î) `ÏB y7Îi/¢‘ ( bÎ)ur óO©9 ö@yèøÿs? $yJsù |Møó¯=t/ ¼çmtGs9$y™Í‘ 4 ª!$#ur šßJÅÁ÷ètƒ z`ÏB Ĩ$¨Z9$# 3 ¨bÎ) ©!$# Ÿw “ωöku‰ tPöqs)ø9$# tûï͍Ïÿ»s3ø9$#

Artinya: “Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia[430] . Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.”

Setelah Nabi Muhammad wafat, maka kewajiban tabligh dan dakwah dipikulkan kepundak setiap muslim dan muslimah sesuai dengan kemampuan dan pengetahuan yang dimilikinya. Bahwa bertabligh dan berdakwah merupakan kewajiban setiap muslim sesuai dengan firman Allah pada surah Ali Imran ayat 104 dan An Nahl ayat 125:

`ä3tFø9ur öNä3YÏiB ×p¨Bé& tbqããô‰tƒ ’n<Î) Ύösƒø:$# tbrããBùtƒur Å$rã÷èpRùQ$$Î/ tböqyg÷Ztƒur Ç`tã ̍s3YßJø9$# 4 y7Í´¯»s9ré&ur ãNèd šcqßsÎ=øÿßJø9$#

Artinya: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar[217] ; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Qs. Ali Imran: 104)

äí÷Š$# 4’n<Î) È@‹Î6y™ y7În/u‘ ÏpyJõ3Ïtø:$$Î/ ÏpsàÏãöqyJø9$#ur ÏpuZ|¡ptø:$# ( Oßgø9ω»y_ur ÓÉL©9$$Î/ }‘Ïd ß`|¡ômr& 4 ¨bÎ) y7­/u‘ uqèd ÞOn=ôãr& `yJÎ/ ¨@|Ê `tã ¾Ï&Î#‹Î6y™ ( uqèdur ÞOn=ôãr& tûïωtGôgßJø9$$Î/

Artinya: “serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[845] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Qs. An Nahl: 125)

Juga sabda Rasullullah,SAW yang artinya “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat.”(HR. Bukhari, At Tirmidzi wa Ahmad)

Dalam bertablig atau berdakwah tidaklah boleh dilakukan dengan paksaan atau kekerasan, karena pada akhirnya yang memberikan petunjuk kepada seseorang untuk menerima seruan itu hanyalah Allah,SWT. seperti yang difirmankan oleh Allah pada surat Al Qasas ayat 58.

öNx.ur $uZò6n=÷dr& `ÏB ¥ptƒös% ôNtÏÜt/ $ygtGt±ŠÏètB ( šù=ÏFsù öNßgãYÅ3»|¡tB óOs9 `s3ó¡è@ .`ÏiB óOÏdω÷èt/ žwÎ) Wx‹Î=s% ( $¨Zà2ur ß`øtwU šúüÏO͑ºuqø9$#

Artinya: “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.”

3. Latar Belakang Ghazul Fikri

Menurut DR. Anwar al Jundi, ghazul fikri ditempuh olah orang kafir khususnya Yahudi dan Nasrani, setelah mereka gagal menaklukan dunia Islam melalui perang konvensional dalam perang salib ke-VII. Orang yang pertama kali menyadari akan langkah-langkah ini adalah panglima perang salib ke-VII itu sendiri yakni Louis XIV raja perancis. Saat ia tertawan oleh pasukan kaum muslimim pada perang salib ke-VII di al Mansyuriah pada tahun 647 H/1250 M, dalam memorinya ia menulis catatan yang berbunyi: “ setelah melalui perjalanan panjang segalanya jelas bagi kita kehancuran kaum muslimin dengan jalan perang konvensional adalah mustahil karena mereka memiliki manhaj yang jelas, yang tegak di atas konsep jihad fi sabilillah. Dengan manhaj ini mereka tidak akan pernah mengalami kelelahan militer”. Yang mencetuskan adanya ghazul fikri adalah, diantaranya:

· Louis XIV Raja Perancis 647 H/1250 M, “ setelah melalui perjalanan panjang segalanya jelas bagi kita kehancuran kaum muslimin dengan jalan perang konvensional adalah mustahil karena mereka memiliki manhaj yang jelas, yang tegak di atas konsep jihad fi sabilillah. Dengan manhaj ini mereka tidak akan pernah mengalami kelelahan militer”.

· Samuel Marinus Zwemer misionaris Amerika, “tujuan kita bukan mengkristenkan ummat Islam, ini tidak akan sanggup kita lakukan. Tetapi target kita adalah menjauhkan kaum muslimin dari Islam. Ini yang harus kita capai, walaupun mereka tidak bergabung dengan kita…”

· William Ewart Gladstone, perdana mentri Inggris pada tahun 1809-1898 M, “selama al Quran ini masih ada, Eropa tidak akan sanggup menguasai wilayah timur, bahkan Eropa sendiri tidak akan tentram…”

· Thomas Edward Lawrence, 1888-1935 M, “bahaya yang sebenarnya tersembunyi pada sistim Islam adalah kemampuannya untuk menyebar dan vitalitasnya. Hal ini merupakan tembok penghalang satu-satunya bagi penjajahan Eropa…bila ummat Islam bersatu dibawah satu pemerintahan, mereka bisa menjadi malapetaka bagi dunia!”.

Phobia Barat akan perkembangan Islam sangatlah tinggi, dari tulisan atau ungkapan yang ditulis oleh beberapa tokoh di atas, mereka sangat tidak menginginkan bahwa ummat Islam itu berkembang dan maju, bahkan mereka sangat takut jika ummat Islam itu bersatu dan tunduk pada satu penguasa yang taat dan menjalankan Islam yang secara benar-benar Islam.

Untuk mengantisipasi hal teresebut mereka melakukan segalacara, mereka berpendapat bahwa perang konvensional atau perang secaka adu fisik mereka tidak akan pernah bisa mengalahkan kekuatan ummat Islam, itu tercermin dari ungkapan tokoh mereka yang bernama Louis yang mengatakan “ setelah melalui perjalanan panjang segalanya jelas bagi kita kehancuran kaum muslimin dengan jalan perang konvensional adalah mustahil karena mereka memiliki manhaj yang jelas, yang tegak di atas konsep jihad fi sabilillah. Dengan manhaj ini mereka tidak akan pernah mengalami kelelahan militer”. Mereka memilih untuk berperang secara halus, yaitu dengan cara memasukan paham-paham yang ditujukan untuk merusak Islam dengan tidak menghancurkan Islamnya. Pergerakan mereka hampir tidak nampak karena mereka berperang ideologi buka perang adu fisik untuk menghancurkan Islam atau yang sering kita segut dengan ghazul fikri. Tujuan mereka adalah menghantam Islam dari dalamdengan cara Tasywih (pengaburan) seluruh aspek Islam, Tasykik (menciptakan keragu-raguan) terhadap sejarah masa lalu ummat Islam dan masa kininya, Tadzwib (penghancuran/peleburan) terhadap karakteristik dan kepribadian ummat Islam, dan Taghrib (pembaratan/westerenisai) sebuah penanaman budaya Barat secara total ketengah-tengah kaum muslimin dengan menyebarkan faham sekularisme, nasionalisme, perubahan politik, dan perubahan sosial.

Seluruh materi yang disampaikan di atas tadi adalah problematika bagi ummat Islam sediri terutama bagi dunia Tabligh yang harus dengan serius memperhatikan ummatnya agar tidak terkontaminasi dengan hal-hal tersebut dan menjaga bagaimana caranya agar nilai Islam tetap bisa berdiri kokoh di atas bumi ini dan terutama di dalam hati dan pemikiran ummat yang memeluknya sebagai jalur dan tuntunan hidup yang akan menyelamatkan mereka dari dunia yang sangat kejam dengan tantangan dan perkembangannya yang sudah sangat tidak bisa ditolransi lagi.

Sebelum kepembahasan yang lebih jauh lagi, akan lebih baiknya kita memahami hal-hal dibawah ini:

1. Islam sebagai ad Dyin, yang mempunyai kompetensi ajaran yang dianggap mampu menjadi agama dunia sepanjang zaman, yaitu adanya vitalitas, totalitas, dan universalitas dalam Islam.

2. Islam sebagai hadlarah, yang dapat mengalami pasang surut sebagai mana watak setiap kultur, semua itu akan tergantung pada ummatnya dalam memberikan jawaban-jawaban terhadap setiap tantangan waktu dan tempat yang dihadapi.

Dalam perkembangannya banyak tantangan yang menghadang dalam situasi ummat Islam itu sendiri, bukan saja dari faktor ekstern melainkan juga hambatan dari dalam ummat Islamnya itu sedniri yang bisa jadi merupak peluang bagi mereka yang menginginkan Islam itu hancur. Dengan mudah mereka memanfaatkan situasi di bawah ini sebagai media dan jalan untuk nanamkan faham-faham mereka:

A. Faktor Intern yang Menjadi Tantangan Tabligh

a. Social-ekonomi, yang member isyarat bahwa penduduk dunia yang sekarang berjumlah kurang lebih dari 6 milyar, dimana sekitar 30%-nya adalah muslim sebagaian mereka tersebar beradadi Negara-negara yang sedang berkembang yang tingkat kesejahteraan social-ekonominya masih rendah.

b. Sains dan teknologi, yang karena kemajuan ilmu pengetahuan dan hasil teknologi terus berkembang, maka corak kehidupan manusia akan terjurng dalam sistem kompleks dari, “business-science-technology”, dengan tujuan menghasilkan produk-produk yang lebih banyak, dengan pekerjaan yang lebih sedikit, sedang unsur emosional dan spiritual tidak masuk dalam wilayahnya, yang berakibat pasa sistim masyarakat yang mekanis, memakai kultur nomor, dan menuju sikap-sikap dehumanisasi (al La insaniyah), yang berorientasi matrealistik, jauh dari ideal jangka panjang, apalagi akhirat.

c. Tantangan etis religious, srebagai korban kehidupan dalam modernisasi matrealis, maka konsekwensinya adalah terjadinya suatu pergeseran kemauan masyarakat dari kemauan alami atau natural will menjadi kemauan yang rasional atau rational will. Dalam proses perubahan ini, kehidupan emosional manusia mengalami erosi, dan berlanjut pada pemiskinan spiritual dimana terjadi kesenjangan antara manusia dengan Tuhan nya dinegara-negara maju, dan dinegara-negara berkembang terjadi kesenjangan antara orientasi keagamaan dengan tuntunan duniawinya.

Diamping tiga tiga macam tantangan tersebut, masih ada lagi tantangan lain yang akan dihadapi, seperti krisis ekologi, kependudukan dan ketidak seimbangan (disequlibrium antara agama dan dunia) dan yang lainnya yang itu semua mereka jadikan alat dan jalan mulus buat menghancurkan Islam dengan mudah yang pada akhirnya Islam hanya akan tinggala namanya saja.

B. Faktor Ekstrn yang Menjadi Tantangan Tabligh

Selain tantangan dari dalam tubuh Islam itu sendiri, deawasa ini tabligh juga menghadapi tantangan dari luar tubuhnya sendiri, karena Islam tidak hidup soliter akan tetapi hidup berbaur dengan berbagai macam problematika hidup dan perkembangan zaman yang sangat pesat. Takterkecuali dengan problematika yang datang dari dunia internasioal yang akan menjadi problem bagi umat Islam dan tantangan bagi dunia tabligh yang berhubungan dengan bagaimana mengantisipasi dan menyikapi serta membuat paham ummatnya bagaimana harus bersikap agar tetap dalam koridor Islam yang sesungguhnya tanpa harus ikut terhadap pemikiran yang mereka tanamkan di dalam permasalahan tersebut sebagai solusi sesaat yang mereka ciptakan dan akan menghancurkan Islam dengan perlahan tentunya.

Umat Islam sekarang ini sedang gencar-gencarnya diserang dari duia internasional dengan perang pemahaman dari bidang politik, ekonomi, keilmuan, teknologi, dan kesejahteraan. Secara tidak langsung hal tersebut merubah sudut pandang umat islam terhadap sesuatu dan secara tidak langsung juga membenarkan dan menerima solusi yang mereka buat.

Masalah yang dihadapi tabligh terhadap ummtanya adalah:

1. Bagainama kita mampu memahami ajaran-ajaran Islam dengan tepat, ditengah-tengah penemuan baru dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

2. Bagaimana ummat Islam mengejar ketertinggalannya dari masyarakat dunia sehinnga mitos mayoritas selalu diimbangi dengan etos kualitas.

3. Masalah agama bukan hanya difahami sebagai doktrin normatif (al mabadi’ an namudzajiah) semata, tetapi harus dapat dikembangkan menjadi konsepsi operatif (an nazhoriyah al fi’aliyah).

Selain masalah-masalaha yang tadi disebutkan di atas, Islam juga dihadapkan dengan perang atau pertarungan dalam hal modernisasi. W.C. Smith dalam bukunya memberikan dasar orientasi bahwa hakekat suatu agama dan tradisi serta penampilan pemeluk agama teresebut adalah dua hal yang berlainan. Demikian pula dengan Islam, bahwa hakekat agama Islam yang ditetapkan oleh Allah dengan wahyu itu tidak identik dengan Islam yang ditampilkan oleh pemeluk-pemeluknya dari masa ke masa, dan oileh pemeluk-pemeluknya di berbagai tempat. Islam hakekatnya merupakan nilai-nilai ideal dan ajaran samawi yang luhur, sedangkan para pemeluknya berusaha memahami dan mendekatkan diri dalam tingkah laku dengan nilai-nilai dan jararan tersebut, tetapi tidak ada yang berhasil menyesuaikan diri dengan sempurna dan utuh dengan hakekat nilai ajaran tersebut.

Problematika modernisasi yang dialami ummat Islam sekarang menurut Smith, adalah dalam mengatasi kesenjangan antara upaya mempertahankan Islam sebagaimana yang diyakini kebenarannya dengan realitas kehidupan yang dialaminya yang menuntut penyesuaian dan perubahan. Selama ini umumnya ummat Islam beranggapan bahwa agam Islam telah mentediakan segala macam resep kehidupan dan cara memecahkan problemya, sehingga tatanan komunitas Islam dipolakan dalam satu macam saja, system social ummat islam yang beraneka ragam ras, bahasa dan ekologinya diusahakan seragam dimana-mana dan kapan saja, dengan referensi buku yang sudah siususn oleh pembawa-pembawa Islam di masa lalu dan hasil produk kecemerlangan para mujtahid terdahulu. Menurutna kejayaan Islam masa lalu dengan pandangan yang begitu akan sulit, menurutnya ada empat pola pemikiran yang mempengaruhi gerakan-gerakan modern Islam pada masa sekarang, yaitu:

1. Pola pemikiran liberalis,

2. Pola pemikiran nasionalis,

3. Pola pemikiran apologetic, dan

4. Pola pemikiran dianamis.

Smith juga membagi Islam tiga kategori: pertama Islam Klasik, yang berakhir sampai jatuhnya Baghdad. Kedua Islam Medium, yang berakhir dengan kesultanan Ottoman (Daulah Utsmaniyah) Turki. Dan yang ketiga Islam Modern, atau Islam Kontgemporer ialah Islam yang berorientasi kepada peradaban Barat.

Dalam hubungan modernisasi Islam, Smith menganjurkan agar umat Islam siap untuk menanggalkan tradisi keagamaannya, dan bersedia merubah hokum-hukumnya sesuai dengan tuntutan realitas sosial dan perkembangan zamannya. Smith menyarankan agar dikembangkan gerakan liberalism Islam dan humanisme Islam, kedua gerakan ini harus dicarikan pijakan ke-Islaman dan diberikan penampilan serba religious, dan disebutkan dua macam pijakan yang mengkin dapat dipakai sebagai referensi leberalisme dan humanisme Islam tersebut adalah “Filsafat Islam dan Tashawwuf Islam”.

Para pemikir modernisasi Barat seperti Donald E. Smith, Gabriel Almond, Lucien W. Pye dan kawan-kawannya, mempunyai persepsi atau anggapan bahwa sekularisasi merupakan salah satu ciri utama modernisasi. Mereka secara linier berpikir bahwa proses sekularisasi itu bersifat universal, seperti bangsa-bangsa Barat yang sekarang mencapai kemajuan-kemajuan itu tidak lain kecuali melewati proses sekularisasi, dan karena itu bangsa-bangsa lain (non Barat) yang mendambakan kemajuan harus juga melalui sekularisai.

Cirri-ciri modernisasi model itu ditandai dengan:

1. Pemisahan masyarakat politik dari berbagai ideologi dan struktur gerejani (agama),

2. Ekspansi kegiatan politik dengan melakukan berbagai fungsi dalam bidang sosio-ekonomi yang semula dilakukan oleh institusi keagamaan, dan

3. Tranvaluasi budaya politik dengan menekankan nilai-nilai politik sekuler.

Pada umumnya mereka memandang “agama dengan segala tradisinya sebagai suatu rintangan untuk kepentingan modernisasi, terutama dalam proses perubahan tatanan politik, ekonomi dan sosial budaya.”

Persepsi semacam itu, tentunya tidak terkecuali diarahkan juga kepada Islam, seperti catatan yang dikemukakan oleh Michael C. Hudson : “kecendrungan para penulis tentang Islam dan modernisai adalah menekankan pada:

1.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Produksi Murah Jualnya Mahalan …

Gaganawati | | 23 October 2014 | 16:43

Astaghfirulloh, Ada Kampung Gay di …

Cakshon | | 23 October 2014 | 17:48

[BALIKPAPAN] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:00

”Inspirasi Pendidikan” dari Berau …

Rustan Ambo Asse | | 23 October 2014 | 18:22

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Pak Presiden, Kok Sederhana Banget, Sih! …

Fitri Restiana | 6 jam lalu

Acara Soimah Menelan Korban …

Dean Ridone | 12 jam lalu

Dua Cewek Kakak-Adik Pengidap HIV/AIDS di …

Syaiful W. Harahap | 12 jam lalu

Singkirkan Imin, Jokowi Pinjam Tangan KPK? …

Mohamadfi Khusaeni | 14 jam lalu

Pembunuhan Bule oleh Istrinya di Bali …

Ifani | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Makna Kegagalan …

Hanif Amin | 8 jam lalu

Ketika Islam Dianaktirikan Penganutnya …

Anni Muhammad | 8 jam lalu

Menimba Ilmu bersama Komunitas Media di JMR …

Iwan Permadi | 8 jam lalu

Kapan Tahun Baru 1436 H? …

Kasmui | 8 jam lalu

Catatan Yayat: Remote Control Traveller …

Kompasiana | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: