Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Muhammad Armand

Lahir di Polmas-Sulbar. Penulis Buku: "Remaja & Seks". ILUNI. Mengajar di Universitas Sultan Hasanuddin, Makassar-Sulawesi selengkapnya

Angka Istri Gugat Cerai Menakjubkan

REP | 26 October 2012 | 12:59 Dibaca: 1022   Komentar: 0   4

Harian FAJAR, Makassar pernah menayangkan rubrik: “Hati Yang Luka”. Saya hobi membacanya. Di sana terkisahkan pilunya perceraian. 1001 problematika bahtera rumah tangga retak biduknya. Dan saat memplototi data termutakhir di Pengadilan Agama Makassar siang tadi (25/10/2012). Saya sedikit kaget ketika memandangi data perkara tahun 2012 dimana GUGAT CERAI (Istri gugat suami) dua kali lipat dibanding GUGAT TALAK (suami gugat istri)

* * *

Bagi Kompasianer yang belum mengerti apa perbedaan Gugat Cerai dengan Gugat Talak, maka saya tambahkan wawasan Anda. Gugat Cerai adalah istri yang mengajukan gugatan cerai kepada suami secara tertulis kepada suami, sedangkan Gugat Talaq ialah suami yang mengajukan talak secara tertulis kepada sang istri.

Data tersebut di atas saya ambil langsung di Pengadilan Agama, Makassar dan saya komparasikan secara sederhana antara angka gugat cerai dengan gugat talak, faktanya adalah istri melakukan gugatan cerai dua kali lipat dibanding gugat talak. Di bawah ini adalah data aslinya yang terpampang di dinding ‘papan bicara’ Pengadilan Agama, Makassar.

13512321761674452472

Sumber: Data primer diolah dengan sangat sederhana (Armand Doc)

Fenomena Usia Produktif

Saya penasaran menyaksikan aktifitas perceraiaan ini, mayoritas berusia muda, istri yang nyentrik. Jangan katakan bahwa saya menuding sang wanita sebagai penyebab kehancuran dan kegaduhan rumah tangga mereka. Saya hanya penasaran, mengapa usia-usia muda ini berseliweran di area pengadilan agama?. Perlakuan apakah yang telah diterima dari suami mereka hingga mereka ‘tak tahan’ lagi dan menggugat sang suami untuk bercerai.

1351232358776007589

Ini data primer/autentiknya

Salah Kaprah

Awamnya masyarakat kita terhadap referensi pengadilan dalam perkara perceraian, banyak anggapan yang menyatakan bahwa ketika mereka melaporkan secara tertulis akan gugatan perceraian, maka bayangan mereka adalah gugatan tersebut segera terpenuhi. Majelis Hakim sungguh memiliki tanggungjawab dan beban moral yang sangat luar biasa hingga mereka sangat hati-hati dalam memutus perkara perceraian.

Mereka mengutamakan proses perdamaian dan menjadi mediator yang bijaksana hingga sidang demi sidang sering ditunda dengan maksud bahwa kedua pasangan suami istri memimikirkan kembali nasib rumah-tangganya dan anak-anaknya.

Sayapun mengamati perkara demi perkara bahwa ada pasangan yang sebetulnya masih bisa diselesaikan kisruh rumah tangga mereka secara kekeluargaan namun mereka langsung melakukan ‘aduan’ ke pengadilan.

Saling Menuding

Perdebatan tergugat melawan penggugat yang saya saksikan adalah bernuansa emosional dan malah sampai saling memermalukan. Apakah ini fenomena berlanjut dari kisruhnya rumah tangga mereka. Yang pasti apapun alasannya, mereka berdua (suami-istri) keduanya benar menurut versi masing-masing dan keduanya salah menurut versi idealnya. Bahwa rumahtangga yang retak bukanlah sebuah cita-cita. Selanjutnya, jika mereka ‘cerdas’ maka mereka akan berhati-hati untuk melarikan persoalan rumah tangga ke tingkat pengadilan.

Anakpun Korban

Saya pernah membaca sebuah analisa psikologik bahwa anak-anak yang mengalami perceraian kedua orangtuanya akan dilemma dalam interaksi sosialnya, jika temannya bertanya mana ayahmu, ia bingung menjawabnya. Sisi lain, dapat dikatakan bahwa sosok ayah antara ada dan tiada, ibupun demikian. Maka timpanglah keseimbangan psikologik sang anak. Dan analisa antropologi bahwa kecenderungan ayah-ibu bercerai akan ‘menurunkan’ ke anak-anaknya. Walau ini tak dapat dibuktikan secara ilmiah. Mungkin determinannya karena reinforcing factor (penguat) hingga perceraian selanjutnya dikaitkan dengan perceraian orangtuanya.

Apa tanggapan Anda?

Berdasarkan data tersebut, istri dominan melakukan gugatan cerai. Analisa sederhananya, istri tak betah lagi bersama suaminya, istri tak tahan lagi hidup bersama ayah dari anak-anaknya. Ini hanyalah hipotesa sederhana akan maraknya gugatan cerai kepada suami, yang dulunya termasuk ‘luar biasa’ jika seorang istri menggugat cerai suami. Namun sekarang teramat mudah bagi istri untuk menggugat cerai suaminya dengan beragam alasan, entah subtantif/obyektif maupun subyektif.

Mari berdiskusi dan semua pendapat mengandung kebenaran berdasarkan perpekstif masing-masing. Yang absolut adalah bahwa perceraian adalah sebuah perobohan bangunan mahligai rumah tangga^^^.

Tags: freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pemangsa Anak-anak Sasar Sekolah-sekolah …

Jonas Suroso | | 24 April 2014 | 01:14

“Blocking Time” dalam Kampanye …

Ombrill | | 24 April 2014 | 07:48

Kota: Kelola Gedung Parkir atau Hunian …

Ratih Purnamasari | | 24 April 2014 | 13:59

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Bila Separuh Gaji Karyawan Memang untuk …

Agung Soni | 4 jam lalu

Demam Masha and Bear, Lagi-lagi Film Animasi …

Heru Andika | 8 jam lalu

Senayan, Panggung Baru Para Artis… …

Iswanto Junior | 10 jam lalu

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 11 jam lalu

Provokasi Murahan Negara Tetangga …

Tirta Ramanda | 12 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: