Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Linda Sari Wulandari

Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran

Analisis Slogan Kampanye Calon Legislatif

OPINI | 11 October 2012 | 03:32 Dibaca: 6654   Komentar: 4   1

Banyak orang mencoba mencalonkan dirinya menjadi pimpinan daerah mulai dari tingkat RT, RW, desa, kecamatan, kota / kabupaten, provinsi, hingga menduduki kursi DPR/MPR RI. Para calon legislatif tersebut berlomba-lomba untuk mendapatkan suara terbanyak supaya mereka dapat memenangkan pemilu. Mereka berlomba untuk mendapatkan perhatian dan simpati dari masyarakat dengan cara membuat baliho kampanye yang berisi slogan-slogan kampanye yang dapat menarik perhatian masyarakat.

Baliho kampanye yang mereka buat mengandung kalimat-kalimat yang kadang membuat geli pembacanya karena terkadang kata-katanya terlalu dibuat-buat dan mengada-ada. Selain itu, masyarakat juga sering tidak kritis dalam memahami isi dari slogan-slogan kampanye tersebut. Sehingga, kadang ada calon legislatif yang ketika baru menjadi caleg menggunakan slogan kampanye dengan pernyataan yang dapat meluluhkan hati masyarakat dengan kata-katanya, yang padahal setelah caleg tersebut memenangkan pemilu dan menjabat menduduki kursi kepemimpinan itu, mereka menjadi lupa diri dan tidak menghiraukan kehidupan serta kesejahteraan rakyatnya. Mereka lupa akan pernyataan yang mereka buat ketika mereka berkampanye. Hingga akhirnya, pada saat ini sudah sering terungkap banyaknya kasus korupsi yang dilakukan oleh ketua-ketua legislatif tersebut.

Oleh karena itu, kita harus lebih berhati-hati dan kritis lagi dalam memahami makna dari kalimat-kalimat yang menjadi slogan kampanye para calon legislatif. Karena gaya bahasa yang digunakan setiap orang berbeda-beda dan juga dari gaya bahasa itu sendiri dapat mencerminkan bagaimana jati diri si penulisnya. Sehingga, untuk dapat memahami para caleg tersebut, kita dapat meneliti lewat gaya bahasa yang mereka gunakan dalam slogan-slogan kampanye yang meraka buat, apa slogan itu sesuai dengan kepribadian dan sikapnya atau mungkin slogan itu hanya dibuat-buat hanya untuk menarik simpati dan perhatian masyarakat.

Adapaun beberapa slogan kampanye para calon legislatif yang di dapat dari baliho-baliho kampanye yang terdapat dipinggir-pinggir jalan beserta analisisnya sebagai berikut.

1. “Percayakan kami untuk bisa merubah

Masa depan DKI Jakarta tergantung pemimpin yang jujur, tegas, wibawa, bertanggung jawab dan cerdas.”

Pernyataan di atas merupakan slogan kampanye dari calon anggota legislatif Jakarta partai PDI. Pernyataan di atas menggunakan gaya bahasa Preterito. Gaya bahasa preterito adalah ungkapan penegasan dengan cara menyembunyikan maksud yang sebenarnya. Dengan adanya kalimat “Percayakan kami untuk bisa merubah”, sebenarnya caleg tersebut meminta rakyat untuk memberi keyakinan kepadanya untuk dapat diberi kepercayaan bahwa dia bisa merubah, padahal yang sebenarnya tidaklah demikian. Dia sebenarnya meminta masyarakat untuk memercayakan –menyerahkan dengan sepenuh kepercayaan- kepada mereka untuk dapat merubah. Hal tersebut dapat dilihat pada kalimat selanjutnya yang mengandung penegasan bahwa mereka patut untuk dipercayai. Tetapi, caleg tersebut tidak mendeskripsikan apa yang akan diubah menjadi lebih baik atau mungkin malah sebaliknya, kondisi menjadi semakin buruk dari yang sebelumnya.

Dengan adanya kalimat “Masa depan DKI Jakarta tergantung pemimpin yang jujur, tegas, wibawa, bertanggung jawab dan cerdas.”, sesudah caleg tersebut meminta masyarakat untuk memeberinya kepercayaan, tetapi seolah-olah sudah terlalu percaya diri bahwa dia adalah seorang yang jujur, tegas, wibawa, bertanggung jawab, dan cerdas. Calon pemimpin yang seperti itu kelak akan menjadi pemimpin yang bertindak hanya sesuai kehendaknya sendiri, tanpa mendengarkan masukkan dari pihak lain. Karena ia sudah merasa dirinya jujur, tegas, wibawa, bertanggung jawab, dan cerdas. Padahal tidak seharusnya ia menilai dirinya sendiri seperti itu, tetapi rakyatlah yang akan menilainya, bukan dia yang menilainya sendiri.

Memang benar, pemimpin yang baik dan benar itu haruslah seorang yang jujur, tegas, wibawa, bertanggung jawab, dan cerdas. Tetapi dia sebagai caleg tidak perlu mempromosikan dirinya demikian.

2. “Aku bukan Superstar

Aku Cuma orang biasa dan apa adanya, aku hanyalah ingin dicintai oleh rakyat…..”

Pernyataan di atas merupakan slogan kampanye dari caleg partai Golkar.Pernyataan tersebut menggunakan gaya bahasa hipokorisme: penggunaan nama timangan atau kata yang dipakai untuk menunjukkan hubungan karib. Dan juga gaya bahasa litotes: ungkapan berupa penurunan kualitas suatu fakta dengan tujuan merendahkan diri.

“Aku bukan superstar” dari kalimat tersebut caleg menggunakan kata ganti diri dengan kata “Aku” dengan menggunakan majas hipokorisme. Hal tersebut dilakukan agar mendapatkan kesan lebih akrab dengan masyarakat. Dia menyatakan bahwa dirinya bukanlah superstar yang serba bisa dan dapat melakukan apapaun, serta pada umumnya menjadi sorotan masyarakat. Dia seolah-olah merendahkan dirinya dimata masyarakat, bahwa dia pun rakyat biasa, tetapi yang terjadi adalah sebaliknya. Dengan adanya kalimat “Aku bukan Superstar”, sebenarnya ia ingin mendapat sorotan dari rakyat. Terlihat dari kalimat selanjutnya yang menyatakan “Aku Cuma orang biasa dan apa adanya, aku hanyalah ingin dicintai oleh rakyat…..”, ia menyatakan dirinya hanyalah orang biasa dan apa adanya, mungkin dapat dipahami bahwa dia akan berbeda dengan pemimpin-pemimpin lainnya yang hanya mengutamakan kedudukan saja bagaikan seorang superstar. Dengan adanya pernyataan “orang biasa” dan “apa adanya”, ia ingin mengatakan pada masyarakat bahwa ia tidak bertindak merugikan rakyat seperti banyak pemimpin pada masa sekarang yang hanya mementingkan kepentingan pribadi saja.

Tetapi, dengan menggunakan slogan seperti itu, ia seolah mengemis belas kasih rakyat. Sekarang kita berpikir, jika belum juga menjadi pemimpin masyarakat dia sudah merengek dan mengemis seperti itu, lalu bagaimana ia dapat memimpin rakyatnya kelak. Dirinya saja masih kekurangan, lalu bagaimana ia dapat memberikan yang terbaik untuk rakyatnya. Hal tersebut dapat dilihat dari kalimat terakhir, “Aku hanyalah ingin dicintai oleh rakyat…”

Dari kalimat tersebut, dia menyatakan bahwa ia memohon ingin dicintai oleh rakyat, seharusnya sebagai pemimpin itu tidak memohon dicintai rakyatnya, tetapi pemimpin itu lah yang seharusnya mencintai rakyatnya supaya ia dapat memimpin dan menyejahterakan rakyatnya. Dapat disimpulkan, bahwa ia sebaiknya menjadi anak-anak yang hanya bisa merengek saja, dan tidak akan dapat memberikan yang terbaik untuk rakyatnya karena tidak adayang “istimewa” pada dirinya untuk dapat dibanggakan menjadi seorang pemimpin. Tidak ada keoptimisan dalam dirinya.

Apabila dia terpilih menjadi pemimpin, ketika ada masalah berat pada masa kepemimpinanya, dia bukannya menyelesaikan masalah itu dengan bijaksana, tetapi dia tidak akan bertanggung jawab bahkan melarikan diri dari masalah tersebut.

3. “Menuju BANTEN yang terbaik dan dapat dibanggakan”

Caleg ini menggunakan slogan kampanye yang mengandung pernyataan yang biasa saja dan ditemukan sering dipakai oleh caleg-caleg lainnya. Kalimat dalam slogan tersebut kurang kreatif karena untuk menjadi daerah yang terbaik dan dapat dibanggakan memang sudah menjadi harapan dan keinginan masyarakat. Dan hal tersebut menjadi keharusan bagi setiap pemimpin untuk menjadikan wilayah yang dipimpinnya menjadi daerah yang terbaik dan dapat dibanggakan.

Tetapi, tanpa disadari calon legislatif tersebut telah merendahkan daerah Banten yang akan dipimpinya. Hal itu terlihat dengan adanya kalimat “Menuju Banten yang terbaik”, dia menyatakan bahwa sebelumnya Banten bukanlah daerah yang baik dibandingkan dengan daerah-daerah lainnya dan belum dapat dibanggakan.

Setiap calon pemimpin sudah seharusnya memiliki rasa bangga tersendiri kepada daerah yang akan dipimpinya kelak bukannya malah merendahkan. Selain itu, caleg ini pun tidak memberi penjelasan akan menjadikan daerah Banten yang terbaik seperti apa dan dapat dibanggakan bagaimana, serta dari segi apa dapat dibanggakannya. Dari segi sosial, ekonomi, budaya atau apa? Lalu, bagaimana akan memajukan Banten menjadi daerah yang terbaik dan dapat dibanggakan, jika pemimpinnya saja tidak memiliki kekreatifan dan keinovatifan.

4. “Kalau dulu memang zamannya Suharto. Tapi sekarang zamannya Suharti.

Dukung saya dengan cara yang benar. Cari partai no.9 dan contreng PAN no.5”

Dalam slogan kampanye di atas caleg ini menggunakan perbandingan antara zaman Suharto dan masa pimpinannya kelak yakni yang ia sebut dengan zaman Suharti. Caleg ini memanfaatkan pengetahuan masyarakat akan masa kepemimpinan Suharto. Banyak diantara mereka, kaum awam, yang menganggap zaman pemerintahan Suharto itu tidak menyejahterakan rakyatnya. Tetapi, bagi kaum intelektual anggapan yang ada adalah sebaliknya. Soeharto memerintah dengan otoriter, suara masyarakat dibungkam, semua harus sesuai dengan kehendaknya.

Caleg ini memanfaatkan pengetahuan rakyat atas masa kepemimpinan Suhartopada masa lalu, dia sebenarnya ingin menyatakan bahwa kepemimpinannya kelak akan berbeda dengan masa Suharto.

Tetapi, kita sendiri belum mengetahui bagaimana Suharti kelak memimpin, apakah dapat lebih baik dari Suharto atau malah sebaliknya? Selain itu, dia juga menyuruh masyarakat untuk mendukungnya dengan adanya kalimat “Dukung saya dengan cara yang benar.”, dengan adanya kata “benar” seolah-olah dia juga tidak mempercayai rakyat, bahwa tanpa dia beri himbauan masyarakat tidak dapat mendukungnya dengan cara yang benar. Hingga ia pun menjelaskan bagaimana cara rakyat untuk dapat memilihnya dengan adanya kalimat terakhir, Cari partai no.9 dan contreng PAN no.5”.

5. “SBY-BOEDIONO

SIAP MENANG

Melanjutkan pembangunan rakyat dan bangsa Indonesia”

Baliho kampanye milik calon presiden SBY-Boediono yang kini telah terpilih menjadi presiden, menggunakan slogan “SBY-BOEDIONO. SIAP MENANG. Melanjutkan pembangunan rakyat dan bangsa Indonesia.” terbukti dengan menggunakan slogan tersebut pasangan SBY-Boediono mendapatkan kepercayaan rakyat untuk menjadi presiden dan wakil presiden RI. Tetapi, setelah mereka dapat memenangkan pemilu presiden tersebut, setelah mereka memerintah, menduduki kursi kepresidenan, ternyata pembangunan yang mereka lakukan tidak begitu mengubah kehidupan rakyat menjadi lebih sejahtera dari pemerintahan sebelumnya. Sebenarnya, jika masyarakat Indonesia dapat lebih mengkritisi isi dari slogan kampanye tersebut, sebenarnya pernyataan yang ada di dalamnya tidak mengandung suatu sikap ketegasan dari penulisnya. Mereka memang siap untuk menang, tetapi mereka tidak berani untuk mengambil risiko dan ragu dalam bertindak untuk membuat gebrakkan pembaharuan untuk menuju pembangunan yang lebih baik dari yang sebelumnya.

Hal tersebut dapat dilihat dari cara penulisan “SIAP MENANG” yang menggunakan huruf kapital, serta kalimat “Melanjutkan pembangunan rakyat dan bangsa Indonesia.” Dari kalimat tersebut dapat kita sadari bahwa pasangan tersebut semata-mata hanya akan memanfaatkan pembangunan saja, tanpa melakukan perubahan yang lebih nyata dari pemerintahan sebelumnya. Selain itu, pemerintahan sebelum pasangan SBY-Boediono, SBY sudah menjadi presiden sebelumnya. Hal tersebut dapat menjadi salah satu faktor penyebab mengapa SBY-Boediono menggunakan kata “melanjutkan”.

Kemudian, apabila kita melihat kenyataannya pada tahun 2012 ini, mungkin kita sebagai rakyat Indonesia dapat merasakan perubahan dari yang sebelumnya, tetapi perubahan tidak begitu dapat rakyat rasakan. Pada kenyataannya, misalnya, masih banyak kasus korupsi, kemiskinan rakyat, bencana alam, kerusuhan, dan lain-lain, yang hingga saat ini masih menjadi momok bagi bangsa Indonesia.

6. “Jangan PILIH GUA!! Gua pasti bakal korupsi masalah banjir dan macet. Bodo amatlah! Loe pikir gua pawang ujan dan tukang parkir. Rakyat miskin pasti bikin sengsara.”

Sangat mengejutkan ketika membaca slogan kampanye pada baliho yang terpangpang di pinggir jalan raya Jakarta. Pernyataan tersebut dibuat oleh salah satu calon gubernur Jakarta. Gaya bahasa yang digunakan oleh cagub tersebut penuh dengan gaya bahasa satire: ungkapan yang menggunakan sarkasme, ironi, atau parodi, untuk mengecam atau menertawakan gagasan, kebiasaan, dll. Sarkasme adalah sindiran langsung dan kasar. Selain itu juga pernyataan tersebut mengandung gaya bahasa sinisme: ungkapan yang bersifat mencemooh pikiran atau ide bahwa kebaikan terdapat pada manusia (lebih kasar dari ironi).

Sepertinya, cagub tersebut melakukan hal tersebut tidak tanpa alasan. Dia memberikan sindiran pedas bagi pemimpin-pemimpin lainnya yang tidak mengutamakan kepentingan rakyatnya dan kadang malah membuat rakyat menderita. Dari kalimat-kalimat yang ia buat penuh dengan rasa kekesalan dan kekecewaan dia terhadap pemimpin yang sebelumnya, hingga ia berani memasang baliho kampanye yang berisikan pernyataan seperti itu. Hal itu dilakukannya mungkin dengan tujuan agar para pemimpin-pemimpin lainnya yang hanya sering mengubar janji, akan teringat kembali pada janjinya kepada rakyat. Sepertinya, cagub ini tidak mementingkan apakah orang akan memilihnya menjadi gubernur atau tidak, yang penting ia sudah meluapkan kekesalan dan rasa kekecewaan pada pemimpin-pemimpin yang tidak menjaga kepercayaan rakyat dan mengingkari janjinya kepada rakyat.

Dia menuliskan kesulitan yang dialami oleh masyarakat seperti bencana banjir dan juga kemacetan. Tetapi, pada kenyataanya para pemimpin itu tidak langsung tanggap dan tidak mengacuhkan kesengsaraan yang dialami oleh masyarakat.

7. Jakarta Jangan lagi berkumis- berantakan kumuh miskin”

Kalimat singkat itu merupakan slogan kampanye dari salah satu kandidat calon gubernur dan wakil gubernur Jakarta. Kalimat tersebut menggandung sindiran untuk pemerintahan kota Jakarta pada masa sebelumnya. Dengan adanya kata “berkumis” seperti yang kita ketahui, gubernur Jakarta yang sebelumnya selalu menggunakan simbol “kumis”, yaitu Fauzi Bowo. Secara tidak langsung, cagub ini ingin mengatakan bahwa sudah saatnya Jakarta berganti pemimpin untuk menuju kota Jakarta yang lebih baik lagi. Cagub ini seharusnya dapat lebih menghargai hasil pembangunan yang dilakukan pemerintahan sebelumnya.

Tetapi, yang terjadi adalah sebaliknya, cagub ini malah tidak menghargai usaha pembangunan yang telah dilakukan oleh pemerintahan sebelumnya, lalu apa yang akan terjadi apabila cagub ini yang akan terpilih sebagai gubernur Jakarta. Cagub ini mungkin saja tidak dapat menghargai suara-suara rakyat dan membangun dengan tangan besi, bisa juga menghalalkan segala cara untuk mencapai pembangunan maksimal sesuai yang dia kehendaki, sekalipun itu dapat membuat rakyat atau pihak lain menderita.

8. “Kalau tidak ada perubahan, tidak ada perubahan”

Caleg tersebut menginginkan adanya perubahan seperti yang dia kehendaki. Sebenarnya, ia ingin mengatakan pada masyarakat, apabila masyarakat menginginkan adanya perubahan maka dari masyarakat itu sendiri yang dapat mengubahnya. Tetapi, jika masyarakat tetap berdiam diri saja, maka masyarakat pula yang akan merasakan tidak akan adanya perubahan.

Caleg ini juga tidak memberi tahu perubahan apa yang ia maksud apa menuju yang lebih baik atau mungkin sebaliknya. Tujuan dari caleg ini mengunakan pernyataan seperti itu sebenarnya adalah supaya masyarakat memilihnya, secara tidak langsung ia ingin mengatakan jika masyarakat menginginkan perubahan maka pilihlah dia. Karena dia merasa dapat memberikan perubahan, tetapi untuk perubahan yang seperti apa, hal itu belum jelas.

Tags: stilistika

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kapan Kota di Indonesia Jadi World Book …

Benny Rhamdani | | 23 April 2014 | 09:29

Para Wanita Penggiat Bank Sampah Memiliki …

Ngesti Setyo Moerni | | 23 April 2014 | 05:10

Ina Craft Apakah Mampu Membantu dan …

Een Irawan Putra | | 23 April 2014 | 06:01

Pelajaran Politik Busuk Ternyata Dimulai …

Muhammad Irsani | | 23 April 2014 | 09:41

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Hotma Paris Hutapea dan Lydia Freyani …

Zal Adri | 2 jam lalu

Jokowi, Prabowo, dan Kurusetra Internet …

Yusran Darmawan | 4 jam lalu

Wuih.. Pedofilia Internasional Ternyata …

Ethan Hunt | 4 jam lalu

Bukan Hanya BCA yang Menggelapkan Pajak …

Pakde Kartono | 5 jam lalu

Kasus Hadi Poernomo, Siapa Penumpang …

Sutomo Paguci | 7 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: