Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Asri Bintoro Asri Bintoro

saya lahir di grabag kutoarjo purworejo

Pilar-Pilar Bangsa Negara Pancasila

OPINI | 08 October 2012 | 01:06 Dibaca: 248   Komentar: 0   0

PILAR PILAR BANGSA  (1)

PANCASILA

1.KETUHANAN YANG MAHA ESA
2.kEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB
3.PERSATUAN INDONESIA
4.KERAKYATAN YNG DIPIMPIN OLEH HIKMAT KEBIJAKSAAN
DALAM PERMUSYAWARATAN /PERWAKILAN
5.kEADILAN BAGI SELURUH SELURUH RAKYAT INDONESIA .

Pancasila terdapat dalam Preambule UUD 45 ,
Pancasila adalah perasan kebijaksanaan kuno dari masyarakat Indonesia yang pluralistis dan multikulturalistis ,
Pancasila adalah isi jiwa bangsa  Indonesia
Pancasila disebut sebagai Dasar Negara
Pancasila disebut sebagai  Sumber Hukum
Pancasila adalah Weltanschauung
Pancasila sebagai filosofische grondslag
Pancasila sebagai Philosophy of live .

Pancasila tak dapat lepas dari nama Soekarno karena Soekarnolah yang membidani Lahirnya Pancasila , 1 Juni 1945 .

Sudah sejak masih sangat muda , pemuda Soekarno kelahiran kota Blitar terpanggil untuk membela bangsanya agar dapat lepas dari belenggu penjajahan Belanda , lepas dari keterpurukan karena penghisapan kekayaan tanah air dan penghisapan tenaga yang dilakukan penjajah dan ingin mengangkat martabat bangsanya agar dapat sejajar dengan bangsa lain yang merdeka .
Beliau mulai menjadi pemikir , setelah belajar di HIS dan HBS sekolah elit dan sekolahnya para elit di kota Surabaya dan bergaul dengan para aktivis Sarikat Dagang , misalnya HOS Cokroaminoto .
Namun intelegensianya mendorong beliau untuk menyelesaikan sekolahnya di THS Bandung , suatu kebanggaan yang sangat besar pada masanya ,Beliau .justru memilih ilmu yang bukan berkaitan dengan masalah sospol melainkan tehnik bangunan .

Walaupun demikian   ternyata wahyu ( “panggilan” pikiran untuk memberi cinta kasih kepada bangsa dan tanah airnya ) yang mendorong diri beliau untuk menjadi pemimpin bangsa tak pernah menyurut .

Di Bandung beliau mendirikan partai yang bertujuan untuk membela yang disebut kaum marhaen
, menggelar idealismenya yang disebut marhaenisme .

Kalau Bung Karno begitu memusuhi kolonialisme Belanda , tak demikian dengan kolonialis Jepang .Malah tampak akrab dan berkolaborasi dengan penjajah bangsa Jepang .Bung Karno sering dituduh bekerja sama dan berbulan madu dengan penjajah Jepang .  Bung Karno mempunyai alasan  , bahwa bekerja sama dengan Jepang merupakan taktik untuk sampai kepada srateginya   meraih kemerdekaan . Sbb . :

1.Bung Karno dan penjajah Jepang mempunyai tujuan yang sama , baik Bung Karno dan Jepang ingin mendongkel penjajahan bangsa barat di Asia ,Tanpa pengorbanan Jepang hampir tak mungkin negara di Asia dapat mendongkel imperialisme barat  .Jepanglah , satu satunya negara Asia Timur Raya  yang dapat mengalahkan penjajah barat  , yaitu ketika melawan Rusia tahun 1906 (?).

2) Dibawah penjajahan Jepang , pemuda Indonesia diijinkan memiliki keleluasaan untuk

a. Mengadakan persiapan mendirikan negara Indonesia Merdeka ,
b. Menyusun Rancangan Undang Undang Dasar negara merdeka
c. Menyiapkan naskahproklamasi kemerdekaan .
d. Menyusun kekuatan militer untuk  mempertahankan negara merdeka

Bung Karno ternyata benar , semua berjalan sesuai dengan skenario.

Pemuda Soekarno mempunyai ibu orang Bali dan Bapak orang Jawa . Sebelum berada ditengah  pendidikan Eropah ,HIS dan HBS di Surabaya , mengalami pendidikan unggah ungguh  tradisional Jawa yang tertib  di keluarganya karena mempunyai ayah seorang guru . Pendidikan Jawa dirumah tangganya waktu kecil menanamkan kecintannyaa yang begitu dalam , dalam pikirannya . Tak lama beliau menikmati pergaulan dengan budaya Jawa , hanya boleh dikata secara tradisional dirumah tangga , dan kegemarannya menonton wayang  .Dalam pergaulan sepintas lintas dan tampak tak berbiasa mempelajari budaya Jawa  secara khuusus , melainkan hanya  darah yang mengalir pada diri beliau sehingga beliau begitu mencintai budaya Jawa atau budaya kuno .

Catatan :

1.Perlu kiranya penjelasan bahwa arti kuno tidak identik dengan kata buruk yang tak berguna .Penemu penemu jaman kuno dibarat sana baik dalam bidang filsafat, hukum ,phisika dan lain sebagainya  tak lekang oleh panas dan tak lapuk karena hujan dan hasil pikirannya tetap menjadi acuhan para modernis dimana mana .

2.Budaya Jawa ?

Juga kata budaya Jawa , sebetulnya yang dimaksud bukan khusus budayanya orang Jawa  thok , tetapi mempunyai arti yang lebih jauh   dari pemikiran orang sekarang tentang budaya Jawa  , Sebut saja  budaya Jawa  sebagai budaya  asli dari orang di Indonesia yang pluralis .
Seperti halnya sebutan orang  Jawa , munyak Jawa , gula Jawa tentu bukan milik orang Jawa thok .
Penulis  pernah mempunyai guru  Bapak  Hadiwijono dosen luar biasa bidang sastra di UGM yang  berusaha mempercerah   pengertian tentang budaya Jawa ,dari pada yang umumnya dimengerti orang ketika itu . Beliau berniat   mengganti istilah Jawa kuno atau Bahasa Kawi yang menjadi bidang keahlian beliau .  Bapak guru  ini mengusulkan supaya istilah bahasa Jawa Kuno atau Bahasa Jawa  Kawi itu diganti dari dengan istilah Bahasa Kawi Indonesia , karena naskah naskah kuno berbahasa kawi tersebut terdapat dimana mana di seluruh Indonesia .
Juga antara lain untuk menghindari hantu Jawa sentris yang banyak tak disukai orang .

Kita kembali kepada cerita Soekarno .

Namun kelak pemuda Soekarno meskipun  mempunyai pendidikan Eropah , dan pergaulan cara Eropah tumbuh  sebagai seorang nasionalis yang modern , justru kembali mencintai budaya sendiri , kepribadian bangsa sendiri yang kuno yang sulit dan  seperti budaya menjadi masa lalu ?

Mengapa dan darimana beliau belajar hal hal yng semacam itu ? Mungkin  didapat dari  membaca  sejarah atau melihat kenyataan  . Maka   timbul pertanyan pertanyaan mengapa mengapa bangsaku terjajah hingga terpuruk begitu lama dan begitu dalam .

Memang sebagai calon pemimpin beliau tumbuh ,bukan seperti yang lain yang bahkan menjadi lebih Belanda dari Belandanya sendiri .

Memang sebetulnya Bung Karno lebih fasih berpidato tentang Weltanshauung , filosofie grongslag  ketimbang soal soal budi luhung , unggah ungguh , tepo saliro, alon alon asal klakon  . Beliau lebih mengenal  ahli pikir seperti John Lock ,Thomas Hobes  , Machiavili , Jean Jack Russeau , Montesqieu ,Robespierre    ketimbang pujangga Mpu Tantular , Dharmawangsa  Paku Buono IV  , Mangkunegoro , Yasadipuro , Ronngowarsito .
Beliau lebih mengetahui  Das Kapital  ,Declaration of Human Right , Laissez Passer Laissez Fairez “    dari pada Asta Barata  SUTA SOMA , Centini ,Wulang Reh dan Weda Tama ,

Yaah , tak maido wong beliau memang bersekolah Belanda , hidup dalam lingkungan elite (Belanda ) dan kemudian selalu sibuk dengan urusan (karena menentang )  pemerinthan Belanda  .

Barang kali  yang selalu terngiang ngiang adalah kata gotong royong , tolong menolong , kekeluargaan kata kata yang beliau anggap memuat seluruh pandangan hidup orang dahulu  dan pertanyaan mengapa bangsaku menjadi bangsa tempe .

Bahkan kadang kadang sebagai orator yang selalu berapi api dan emosional mengenai nasib bangsa dan budayanya , pidato dan  perkataannya dipertanyakan orang yang kurang memahami maksudnya .

Barangkali soal soal yang kuno kuno ini , Pak Dalang dan Guru guru Ngelmu , wong tuwo adalah gudangnya,namun beliau beliau ini kurang disukai Bung Karno  .Alasannya dalang dan guru ilmu tak modern dan tak rational atau tak mendapat tempat karena tak diakui oleh pikiran yang berkuasa yaitu penjajahan . Sukarno kadang kadang menjadi kurang suka pada mistik ,klenik  tetapi mencintai budaya kuno .Pada hal budaya kuno banyak mengandung mistik, klenik dan irrasionalisasi . Disini juga terletak keanehan Soekarno , beliau ingin kembali kepada kebudayaan kuno , padahal beliau pasti mengerti yang kuno kuno itu menjadi tempat mistik ,ilmu  klenik, dinamisme,animisme , irrasionalisasi
Kadang menjadi modernis yang rasionalis , western membawakan wajah barat , disisi lain besar hasratnya untuk kembali ke budaya kuno .

Sebabnya ialah penjajah barat selalu menjauhkan nasionalisme dari pikiran anak jajahannya .Manuver yang menistakan budaya kuno  dimaksud untuk menghancurkan keberadaan budaya kuno  .
Hanya Soekarno dan segelintir orang yang bisa berdiri tegak , membawa yang kuno kuno kedalam medan perdebatan .

Yaitu karena Soekarno mempunyai pendidikan Eropah yang dapat mensejajarkan keberadaannya dengan intelektuelen lain .Karena Soekarno memiliki  pendidikan Eropah sebagai legalitas pikiran modern , setaraf dengan modernis yang lain yang umumnya mempunyai Hollandshe weten dan Hollandsce  denken .

Hal ini tentu lain dengan kedudukan dalang dan guru ilmu yang meskipun lebih ahli dalam bidangnya tak punya legalitas untuk berdiri sama tinggi duduk sama rendah dengan ahli yang kekuar dari pendidikan formal (Belanda ).
Malah merupakan golongan yang disikang sikang oleh orang orang yang dikatagorikan punya hollandsche denken dan hollandsche weten .

Apa yang beliau kuasai sudah sangat baik dari pada yang lain , para pejabat yang umumnya kaki tangan Pemerintah Belanda yang hanya  menghayati dan menikmati  budaya Belanda .

Yang lebih hebat lagi ternyata beliau  emoh terendam dalam budaya Eropah yang dapat memberikan kemudahan kemudahan , tetapi meloncat seperti ikan yang nakal dari dalam bak  ,satu bak budaya Eropah yang dapat memberi kenyamanan dan kemewahan . Beliau malah, memilih jalan kepribadian sendiri , budaya timur yang kuno kuno ,yang masih belum jelas keadaannya , dengan puncak Lahirnya Pancasila yang menjadi dasar berpijaknya bangsa Indonesia . Preambule UUD 45 .

Selanjutnta bahkan :

Antara kubu kubu yang betah berada di kolam budaya Belanda dan kelompok ikan yang meloncat dari kolam Ini kelak akan selalu menjadi kubu kubu yang selalu berhadap hadapan  . saling menyerang saling menjegal , sampai mati , patah tumbuh hilang berganti .Devide et empera NEKOLIM merubah dengan versi versi lain sesuai dengan sikonnya .

Dengan sAngat minimnya pengetahuan budaya kuno , Kelak akan terbukti, hal ini sangat menghambat dan merugikan perjuangan beliau  ketika ingin menyampaikan penjelasan penjelasan tentang apa yang beliau maksud tentang budaya kuno , “kepribadian sendiri” tersebut , bahkan kadang kadang   ,  ada kemungkinan antara penerima dan pemberi menjadi kurang klop .

Kalau kita cermati seruan Bung Karno kepada bangsanya   untuk kembali kepada “kepribadian sendiri ,bukan dimulai dari ” kembali kekepribadian sendiri” seperti dalam Manipol USDEK tahun 1957 , tetapi justru paling tidak dikemukakan dari sejak awal pembentukan negara R.I ,bahkan sejak sebelum Lahirnya Pancasila .

Untuk menghayati Pancasila ,tentu saja kita tak boleh terpacak pada figur bidang yang melahirkan yaitu sosok Soekarno  .Bahwa kita menghargai sosok yang membidani Lahirnya Pancasila adalah suatu keharusan ,tetapi hindarilah  asumsi bahwa Pancasila adalah sebagai Soekarnoisme . Ini berbahaya bagi Pancasia itu sendiri ,bukankah sudah terbukti dan menjadi padatan  bila ada pemimpin yang tersingkir akan tersingkir pula dengan ajaran ajarannya , karya karynya ( apakah  yang baik baik apalagi yang dianggap buruk) yang menjadi kebanggaan dan andalannya  .

Pancasila juga bukan barang mati , sebagai halnya jimat , rajah atau wiridan yang perlu disakralkan karena memberi kekuatan .

Pancasila adalah nama kumpulan kumpulan kebijaksanaan kebijaksanaan kuno yang berasal dari nenek moyang leluhur masyarakat kita yang pluralis .Kumpulan itu diberi wadah dalam lima kelompok Pancasila .Panca = Lima  Sila = Tempat , dasar . Pancasila bukanlah datang dari dunia mistik dan klenik yang irrasional  tetapikumpulan  kata mutiara yang mengandung rasoinalisme , yang dapat disejajarkan dengan ilmu westernisasi .

Justru sekalipun belum dipahami benar benar telah  dijadikan pembadingan untuk mengantisipasi ilmu westerinasi yang menguasai bangsa kita .

Memang bukan mudah untuk memahami Pancasila ,

pertama Lahirnya Pancasila  ,Bung karno hanya mengaku  membidani , atau menggali warisan leluhur yang sudah lama terpendam . Itupun sudah merupakan langkah pertama kearah dan suatu pertanda adanya kehendak untuk kembali ke Kepribadian Indonesia .

kedua  Apa yang terpendam belum diketahui dengan jelas , selain hanya keyakinan bahwa itu adalah baik dan cocok  bagi bangsa kita .Beliau yakin itulah kebribadian sendiri yang pling cocok dengan bangsa kita . Pancasila ini sekian lamanya terpendam bisu dalam dan oleh penjajahan asing .

ketiga Ada keyakinan bahwa apa yang kita gali adalah dapat mengantisipasi kekuasaan barat yang menjajah kita .

Keempat Belum ada cara yang tepat untuk membedah Pancasila , “keperibadian sendiri ” warisan leluhur , selama belum ada “umwertung alla werte ” merubah cara pandang, nilai dari pikiran barat menjadi cara pandang sesuai dengan niai nilai timur . Justru Sukarno sendiri sebagai penganjur selalu menguraikan Pancasila dengan pandangan barat (vide pidato lahirnya Pancasila 1 Juni 1945 ) .

Pancasila yang selalu dijadikan semboyan perjuangan kemerdekaan , dan selanjutnya semboyan persatuan  sebenarnya masih berupa kehendak yang disampaikan oleh Soekarno dalam rapat BPUPKI tanggal 1 Juni 1945. Dalam sidang pertama Badan Pembentukan UUD ,apa yang dikemukakan  Soekarno , dimupakati sidang sebagai Mukadimah UUD  . Kurang jelas apa sidang telah dapat dipahami pikiran Soekarno dengan Panncasilanya atau belum , namun semua orang terkesimak pada Pancasila sebagai pikiran baru yang berasal dari bumi Indonesia sendiri atau terkesimak oleh kharisma sosok Soekarno .

Apakah Soekarno betul mengerti budaya kuno sebagai keribadian sendiri yang paling cocok buat bangsanya , apakah Soekarno pernah tahu keburukan dan cacat budaya kuno yang selalu semboyan “mbedah projo mboyong putri ngelar jajahan dan njarah rayah mas picis rojo brono ” memerangi negara tetangga ,yang kalah harus jadi batur dan yang menang jadi tuan .

Apakah Soekarno tak mngerti ada penjajahan dari bangsa sendiri , penjajahan dari kaum aristokrat kepada kaum pidak pedarakan . Atau Soekarno pernah  mengatakan “right or wrong our  culture ” , dan  ini yang paling cocok dengan kepribadian kita .Tak ada orang yang sempat berdebat untuk itu .

Karena itu perlu kiranya kita pelajari sejak awal , APAKAH ANTARA CITA CITA YANG TERKANDUNG DALAM PANCASILA SEPERTI DIMAKSUD PENGGALINYA (Bung KARNO ) bisa dimengerti oleh yang ;ain , sehingga cita cita ber Pancasila itu sejalan atau diikuti oleh pembuat rancangan UUD yang terdiri oleh para yuris yang mempunyai pendidikan barat , mempunyai kebiasaan hidup dan  pergaulan dengan masyarakat barat . Tentu saja jika sudah cocok tak akan terjadi kesimpang siuran yang berdampak panjang berpuluh tahun .

Namun masalahnya tak semudah itu , karena apa yang ditemukan dan menjadi Pancasila adalah temuan yang sudah terpendam ratusan tahun sehingga tidak mudah untuk mengenalinya dan perlu waktu  Sedangkan Panitya Pembentuk UUD hanya mempunyai waktu sangat terbatas , apa lagi pemerintah Jepang yang menjadi sponsor dari ide membetuk negara RI sudah menjelang kematiannya .

Karena untuk merubah cara  berpikir dengan cara berpikir baru yang sesuai dengan kepribadian kita sendiri memerlukan waktu . Bahan bahan yang menjelaskan kebribadian sendiri juga masih merupakan bayang bayang yang buram , baik bagi masyarakat sendiri yang terbiasa hidup dalam alam penjajahan . Maka bukan salahnya jika Prof.Mr.Soepomo sebagai Panitia ahli dan lain lain  Pembentuk UUD tetap bekerja dengan kebisaan yang dipelajari di Nederland dan kebiasaan westernisasi yang merupakan budaya dan budaya barunya .

Sementara orang masih bertanya tanya bercam macam hal , RI sudah harus mulai terjun perang melawan penjajah Belanda yang ingin come back , sesuai dengan perjanjian negara negara sekutu yang memenangkan Perang Dunia ke 2 .

Dalam kurun waktu mulai kemerdekaan diumumkan , barangkali hingga kini tak ada orang mengutik utik Pancasila , Apa penyelenggaraan negara sesuai Pancasila atau tidak .Semua mengalir melalui liku liku peperangan , perebutan kekuasaan , ketidak pastian . Namun Pancasila tetap berkharisma meskipun hanya sebatas sebagai  lambang  ,tak pernah bergeming dan tetap bertengger sebagai Mukadimah UUD , baik RIS , UUDS RI 50 dn ketika kemabali lagi menjadi UUD 45 orde orde yang berikutnya .

Yang berpikir pada akhir akhir ini hanya sebagian anggota DPD , mengenai perimbangan kekuasaannya yang tidak adil dibanding kekuasaan yang dimiliki DPR .( Karena pembuat undang undang adalah DPR tentu saja DPR mempunyai wewenang untuk memenangkan jatah kerjanya .

Sekalipun dikatakan bahwa seluruh  Bangsa Indonesia nampaknya menerima Pancasila ini  Pendukung pendukung Pancasila ,  yang tercatat oleh  penulis :

Satu    : Pak Prof.Soediman Kartohadiprodjo .
Dahulunya    Dekan Fakltas Hukum,Sospol UI . Univ.Parahyangan Bdg. dan           Universitas Pajajaran Bandung .

“Bukunya yang berjudul KUMPULAN KARANGAN Pen.PT.Pembanguan 1963 berisi  pembenaran tentang Pancasila dan sepak terjang penggalinya. sekalipun beliau yang menerima anjuran penggalinya harus berpikir secara Pancasila , karena kebisaandan kebiasaan beliau  justru menganalisa Pancasila dengan pisau bedah hollanshce denken dan hollandsce weten , karena dari situlah kepintarannya didapat .Beliau bukan ahli dalam bidang budaya atau budaya Jawa .Pembahasan menurut jalur hukum yang menjadi keahliannya .

Kedua   : Pak .Dr.Ruslan Abdulgani .
Bapak Dr.Ruslan Abdul Gani mendapat tugas dari ORLA untuk menjelaskan Pancasila , terkenal sebagai jubir usman Usdek (Juru Bicara Manipol USDEK ) yang wajib memasyarakatkan Manipol Usdek kepada rakyat , melalui indoktrinasi , indoktrinasi .Beliau terima tugas itu bukan karena keahlian dalam budayanya , tetapi karena jabatan menteri  yang harus djalankan .
Untuk kedua kalinya Pak Dr. Ruslan Abgul Gani bertugas sebagai Menteri Penerangan ORBA untuk lebih menjabarkan dan memasyarakatkan Pancasila kepada seluruh rakyat Indonesia melalui penataran penataran dan memimpin para manggala manggala manggala . Tidak jelas apakah Pak Ruslan Abdul Gani bekerja sama dalang dalang dan guru nelmu yang merupakan gudang pengetehuan budaya , atau tidak , karena antara budaya dan modernisme terletak garis pemisah yang belum terjembatani .Dari mana beliau menguraikan budaya  Dasar dasar beliau  untuk menguraikan budaya tak jelaas atau hanya mengarang sesuai dengan pendapat sendiri dan diterima oleh pemberi perintah . Justru Pak Hartolah yang punya dasar dasar budaya , karena beliau mempunyai ASPRI yang mempunyai kepandaian bukan dalam hal ilmiah modern, tetapi ilmiah kuno .

Ketiga  : Pak Doktor Driyarkoro S.J .

Pak DR,Driyarkoro S.J ,Guru Besar Filsafat UGM Jogyakarta .Sebagai filosuf           beliau tentu saja sangat berhati hati ucapannya .Melawan ? Tentu tidak mungkin             melawan kekuasaan yang sedang berjalan dan rakyat mayoritas yang mendukungnya ,           menerima tentu           harus ada bukti buktinya ,
Berkata Prof.DR.Driyarkoro S.J pada satu seminar “para sarjana           yang bersangkutan .menegakkan pendapat (benarnya Pancasila )tersebut
denan bukti bukti yang berdasarkan ilmiah .Dan betullah (kataPak SK ) “tak ada             satu  suara yang menolak Pancasila .Semua aliran ,tidak pandang golongan agama             atau pelompokan lain ,yah, seluruh Bangsa           Indonesia nampaknya menerima Pancasila ini .

Keempat : Pak Haryoto

Sekretaris Jendral Menteri Penerangan  dalam Pembukaan Semnar Pancasila I di           Jogyakarta menyatakaan ” Pncasila sebagai dasar negara Republik Indonesia tidak            perlu diperdebatkan lagi.

Kadang kadang sulit menebak maksud Pak Haryoto seperti ini .

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kisah Haji Warto tentang Lumpur Lapindo …

Windu Andhika | | 17 April 2014 | 14:58

Introspeksi Pascapemilu (Kado buat Caleg …

Nurjanah Nitura | | 17 April 2014 | 11:14

Tahan Nafas di Kereta Gantung Ngong Ping …

Eddy Roesdiono | | 17 April 2014 | 15:42

Parkir Sebabkan PAD Bocor …

Eta Rahayu | | 17 April 2014 | 14:54

Inilah Pemenang Kompasiana - ISIC 2014 Blog …

Kompasiana | | 17 April 2014 | 15:52


TRENDING ARTICLES

Meski Tak Punya Ijin, JIS Berani Menolak …

Ira Oemar | 14 jam lalu

Agar Tidak Menyusahkan di Masa Tua …

Ifani | 21 jam lalu

Menguji Nyali Jokowi; “Say No to …

Ellen Maringka | 22 jam lalu

Dinda, Are You Okay? …

Dewi Nurbaiti | 22 jam lalu

Pelajaran Mengenai Komentar Pedas Dinda …

Meyliska Padondan | 23 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: