Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Jonny Hutahaean

Sarjana Strata 1, hobby membaca

Tawuran Pelajar SMA, Hanya Sebuah Titik Kecil

OPINI | 29 September 2012 | 22:53 Dibaca: 232   Komentar: 3   1

Tawuran antara pelajar, mengapa banyak yang heran, ataukan kita pura-pura heran?. Cermatilah kondisi masyarakat, maka anda akan menyimpulkan tawuran pelajar itu hanya setitik masalah di tengah-tengah samudera masalah. Tawuran pelajar hanya sebongkah kecil dari gunung es yang muncul ke permukaan laut. Ini hanya sebuah petunjuk betapa sakitnya bangsa ini, meskipun kita bersolek dengan sangat baik sehingga orang luar melihat bahwa kita bangsa yang sedang tumbuh menjadi gagah dan tampan, sesungguhnya wajah kita adalah wajah yang penuh koreng dan bisul, yang kita tutupi dengan bedak citra pertumbuhan ekonomi.

Kenapa begitu?

Pertama: anak-anak yang menjadi siswa, hanya mempunyai guru saat mereka di sekolah. Di luar gedung sekolah dan di luar waktu sekolah tidak ada guru untuk mereka.

Sinetron apapun yang mereka tonton, semua memamerkan kebodohan, sebab semua sinetron mempertontonkan cara menikmati hidup tanpa pernah menunjukkan perjuangan hidup. Program TV yang mereka tonton adalah tentang perceraian artis anu dan perselingkuhan artis ini, seolah-olah itu berita sangat penting dan berguna. Di stadion manapun mereka menonton sepak bola yang mereka lihat adalah perkelahian dan pameran ketidaksportivan. Semua iklan yang mereka lihat menyuruh mereka untuk berkonsumsi, bahkan mereka disuruh untuk internetan selama tiga hari tiga malam, dan minum kratingdaeng sebanyak-banyaknya?. Bagi anak-anak jaman sekarang, tidak ada guru selain guru di sekolah.

Jaman dulu, bapak menjadi guru di rumah tentang perjuangan hidup. Siaran TV di kelurahan dapat menjadi guru tentang kebanggaan, nasionalisme, dan kepahlawanan, stadion sepak bola masih mempertontonkan sportivitas.

Kedua : anak-anak yang menjadi siswa ini dan terlibat tawuran, adalah anak-anak yang tidak diajari di rumah tentang tanggung jawab oleh bapak ibunya. sedikit saja masalah dihadapi anak, bapaknya langsung turun tangan mengatasi. Guru di sekolah mencoba mendisplinkan anak melalui hukuman, bapaknya yang pejabat atau yang mempunyai uang langsung turun tangan memindahkan guru yang bersangkutan. Bukan rahasia lagi jika pada saat penerimaan siswa baru, sangat banyak titipan dari para pejabat ke sekolah. Mulai dari DPR, DPRD, Wali kota, Polres, Polsek, menitipkan anak atau ponakan atau saudara tiri, atau apalah. Siswa-siswa titipan inilah yang akan menjadi biang kerok masalah, karena mereka merasa lebih berkuasa dibanding guru. Bukankah bapakku adalah pejabat dan akan segera turun tangan jika ada guru yang menghukumku ?.

Bapakku dulu berterimakasih ke guru yang menghukumku karena lupa mengerjakan PR. Aku dihukum guruku untuk menuliskan hukum Newton sebanyak 100 kali. Ibuku juga berterimakasih ke guru yang memukul betisku dengan penggaris karena aku sering ngantuk di kelas.

Masih begitukah bapak/ibu jaman sekarang?

Ketiga: emang yang tawuran hanya anak sekolah?, warga gang sana dengan gang situ juga tawuran, umat agama itu dengan umat agama sana juga tawuran, pendukung partai anu tawuran juga dengan pendukung partai ini, mahasiswa universitas itu tawuran dengan mahasiswa institut sana, anggota Polri tawuran juga dengan anggota TNI bahkan dengan memakai senjata api, KPK tawuran dengan POLRI, pengusaha tawuran dengan buruh, POLRI tawuran dengan rakyat. Maka siapa yang berhak melarang siswa SMA tawuran?.

Begitulah kita sekarang.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bergembira Bersama Anak-anak Suku Bajo …

Akhmad Sujadi | | 17 September 2014 | 05:23

Nangkring dan Test Ride Bareng Yamaha R25, …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 06:48

Jokowi Menghapus Kemenag atau Mengubah …

Ilyani Sudardjat | | 17 September 2014 | 13:53

Menempatkan Sagu Tidak Hanya sebagai Makanan …

Evha Uaga | | 16 September 2014 | 19:53

5 Hal yang Perlu Dipertimbangkan dalam …

Hendra Makgawinata | | 17 September 2014 | 19:50


TRENDING ARTICLES

Bangganya Pakai Sandal Jepit Seharga 239 …

Jonatan Sara | 8 jam lalu

Percayalah, Jadi PNS Itu Takdir! …

Muslihudin El Hasan... | 11 jam lalu

Yang Dikritik Cuma Jumlah Menteri dan Jatah …

Gatot Swandito | 11 jam lalu

Sebuah Drama di Akhir Perjalanan Studi …

Hanafi Hanafi | 13 jam lalu

Di Airport, Udah Salah Ngotot …

Ifani | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Pijat Refleksi Hilangkan Keluhan Lambungku …

Isti | 7 jam lalu

(Lumen Histoire) Sejarah dan Seputar …

Razaf Pari | 8 jam lalu

Kisah Pilu “Gerbong Maut” di …

Mawan Sidarta | 8 jam lalu

Batik Tulis Ekspresif yang Eksklusif …

Anindita Adhiwijaya... | 8 jam lalu

Akherat, Maya Atau Nyata? …

Akhmad Fauzi | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: