Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Noviendra Fando

mahasiswa komunikasi UPN "Veteran" Yogyakarta

Kendaraan Tradisional yang Bertahan Dalam Gempuran Zaman

REP | 21 September 2012 | 03:02 Dibaca: 256   Komentar: 0   1

Terkenal sebagai kota pendidikan dan kota budaya merupakan icon yang paling mendominasi bagi kota Yogyakarta. Salah satu keunikan dari kota ini yang masih terpampang, yaitu masih adanya pemakaian transportasi tradisional yang hingga saat ini masih dilestarikan dan membudaya bagi masyarakatnya, sebut saja “andong”. Andong sampai sekarang masih menjadi tumpuan sebagian masyarakat Yogya. Meskipun transportasi ini bisa dibilang jadul dan bahkan sudah jarang ditemukan, tapi tidak sedikit masyarakat yang masih menggunakan andong. Bagi para wisatawan yang datang ke kota ini, andong justru dijadikan sebagai alat transportasi yang sangat menyenangkan dan efisien, karena dengan menaiki andong penumpang dapat menikmati setiap perjalanan menyitari sudut kota Yogyakarta sesuai permintaan penumpang.

Profesi sebagai kusir andong menjadi salah satu pilihan bagi masyarakat Yogya, meskipun profesi ini banyak yang menilai gengsi untuk melakukannya, tapi sebagian masyarakat Yogya masih melakoninya. Bukan karena minimnya lapangan pekerjaan, karena profesi ini sudah turun temurun dan bahkan sudah ada dalam silsilah keluarga yang mana sejak dulunya sudah melakoni pekerjaan ini, dan dengan tujuan menjunjung tinggi budaya dan tradisi ada. Andong, alat transportasi tradisional yang masih bertahan sampai saat ini ditengah maraknya transportasi lain dan bahkan sudah banyaknya pemakaian kendaraan pribadi.

Bila dilihat dari sejarahnya, kendaraan tradisional ini sudah ada sejak masa Sultan HB VII, bahkan sampai sekarang andong masih mendomininasi bagi keraton Yogyakarta. Terbukti dengan adanya museum kereta yang sampai saat ini masih terawat dan selalu dijaga oleh para abdi dalam keraton. Ini membuat masyarakat awam turut melestarikan andong serta menjadi kusir andong sebagai profesi.

Seperti yang dilakoni oleh Bapak Sayuti, sudah 48 tahun beliau melakoni pekerjaan sebagai kusir andong. Dahulunya hanya bermodal pada satu kuda, dengan ketekunannya hingga saat ini beliau sudah memiliki enam kuda dan itu semua diberikan kepada cucunya. Profesi sebagai kusir andong sudah mendarah daging bagi pak Sayuti, pekerjaan yang sudah turun temurun membuatnya tidak merasa terbebani di tengah himpitan ekonomi. Pak Sayuti tinggal dirumah yang sederhana, hidup yang tergolong cukup dengan anak-anaknya dan bahkan sekarang sudah memiliki enam cucu. Dimasa pak Sayuti, andong merupakan alat transportasi yang sangat berpengaruh untuk kehidupan masyarakat, khususnya masyarakat Yogya.

Seiring bertambahnya usia membuat beliau memilih untuk pensiun. Namun, profesi yang digeluti pak Sayuti dulu sudah diturunkan kepada menantu bahkan sampai ke cucunya. Ilmu yang ada baik dari segi perawatan hingga memelihara kuda selama menjadi kusir andong diturunkan kepada menantu dan cucunya. Walaupun tidak semua cucunya bisa menyelesaikan pendidikan namun mereka sudah bisa membantu keluarga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Profesi tersebut ternyata juga dinikmati oleh cucunya. Dua orang cucunya Fian dan Fendi yang sampai saat ini masih melanjutkan profesi yang sudah lama dilakoni oleh sang kakek.

Mungkin tidak semua orang yang mengerti dalam perwatan kuda, hanya orang-orang yang ahli dan mengerti tentang kuda. Sebelum melakukan aktifitas sebagai kusir andong, mereka selalu mempersiapkan segala kebutuhan sang kuda. Diawali dengan memotong rendeng (rendeng adalah daun kacang tanah) yang kemudian dicampur dengan katul sebagai makanan kuda. Pemberian makan kuda dilakukan 3x sehari. Kuda-kuda yang dipelihara pak Sayuti juga diberi jamu dengan tambahan lima butir telur plus madu untuk tenaga kudanya. Dilanjutkan dengan memandikan kuda dan tidak lupa setiap satu bulan sekali memeriksa tepel kuda (sepatu kuda) yang sudah menipis karena gesekan aspal. Hal ini tidak hanya dilakukan oleh Fendi dan Fian saja, tapi juga dilakukan oleh para semua kusir andong.

Berkembanganya IPTEK sedikit membuat posisi andong sedikit tersingkirkan. Seperti kata pak Sayuti dengan istilah, “dahulu penumpang cari andong, sekarang andong yang cari penumpang”. Itu istilah yang saat ini melekat bagi para kusir andong. Ditengah maraknya masyarakat yang lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi, tidak membuat para kusir andong untuk gulung tikar. Justru menjadi penyemangat bagi mereka demi menjaga budaya yang sudah ada untuk selalu dipertahankan ditengah banyaknya budaya yang datang.

Sebagai kota wisata yang bisa dibilang tidak pernah sepi dan selalu dikunjungi oleh para wisatawan, bisa dikatakan bahwa andong-andong yang ada di Yogya tidak mungkin akan sepi penumpang. Apalagi disaat suasana libur, dimana jumlah pengunjung meningkat dan ini menjadi keuntungan bagi para kusir andong. Pada saat liburan sekolah atau lebaran pendapatan bisa mencapai Rp 2 juta per hari bisa diraupnya, atau bahkan bisa melebihi dari itu. Namun, situasi ini juga harus disesuaikan dengan kondisi kuda. Kondisi fisik kuda harus diperhatikan, apabila situasi liburan karena kondisi kuda sangat berpengaruh pada penghasilan sang kusir. Bahkan setelah andong berjalan mengantarkan penumpangnya, dalam hitungan menit andong tersebut bisa dinaiki penumpang lagi. Waktu istirahat yang teramat cepat bagi kuda. “Kuda Gila” itu istilah yang selalu diucapkan oleh kusir andong disaat kudanya berada dalam kondisi yang fit. Pendapatan yang bisa dibilang memuaskan, karena aktifitas pekerjaan biasanya hanya selang waktu sembilan jam bahkan kurang, namun penghasilan tersebut bisa melebihi dari penghasilan pegawai tetap. Akan tetapi, saat sepi atau hari biasa mereka biasanya mendapatkan penghasilan Rp 800 ribu perhari, atau seminimalnya Rp 500 ribu perharinya.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Nangkring Bareng Pertamina …

Maria Margaretha | | 29 August 2014 | 23:37

BBM Naik Kenapa Takut? …

Mike Reyssent | | 30 August 2014 | 00:43

5 Polusi Rumah yang berbahaya selain Rokok …

Hendrik Riyanto | | 30 August 2014 | 04:53

Jokowi-JK Berhentilah Berharap Tambahan …

Win Winarto | | 29 August 2014 | 22:16

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Jogja Terhina, France Tidak Perlu Minta Maaf …

Nasakti On | 13 jam lalu

Rising Star Indonesia, ‘Ternoda’ …

Samandayu | 13 jam lalu

Yogya, Kamar Kos, dan Segarnya Es Krim Rujak …

Wahyuni Susilowati | 17 jam lalu

Doa untuk Mas Vik …

Aiman Witjaksono | 20 jam lalu

Kejadian di SPBU yang Bikin Emosi… …

Ryan M. | 23 jam lalu


HIGHLIGHT

Sepenggal Kisah dari Laut …

Adi Arwan Alimin | 8 jam lalu

Dian Sastrowardoyo dan Mantan ART Saya …

Ariyani Na | 8 jam lalu

Media Baru: Jurnalistik Online …

Adi Arwan Alimin | 8 jam lalu

Hotel Beraroma Jamu Tradisional …

Teberatu | 8 jam lalu

Menanti Pagi Di Kintamani …

Dewi Nurbaiti | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: