Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Ulul Rosyad

Menyukai hal yang berbau misteri dan tempat bersejarah. http//www.akarasa.com

Mengulik tentang Rejeki Transparan dan Rejeki Samar-Samar

REP | 13 September 2012 | 16:29 Dibaca: 813   Komentar: 1   2

Ini yang saya rasakan, entah anda setuju atau tidak. Rejeki terduga itu letaknya dipikiran, perlu dipikir dan direncanakan, setelah terencana baru jasmani dan seluruh awak tubuh yang ada didalamnya bergerak sesuai dengan apa yang direncanakan. Rejeki yang kita rencanakan dalam hal ini rejeki yang samar atau dengan kata lain agak kelihatan atau juga dengan bahasa terkini transparan bersarang di otak kita. namun demikian meskipun telah matang dipikiran ada saja halangan didepannya kecuali ikhtiar kita sudah menemukan sumber rejeki itu sendiri. Demikian juga dengan rejeki tak terduga/samar-samar letaknya ada di hati, ia harus ditanamkan di hati agar rejeki tak terduga atau samar-samar itu dapat terwujud. Rejeki tak terduga atau smar-samar perlu ikhtiar batin dengan berbagai cara atau metode yang telah ditemukan baik melalui tirakat/puasa ataupun mengamalkan amalan-amalan yang kita yakini akan mendapatkan rejeki secara samar.

Banyak sebagian kita yang salah mengartikan tentang ini baik rejeki tak terduga/rejeki samar menjadi nyata maupun rejeki samar-samar. Orang yang tidak sukses atau hidupnya gitu-gitu saja seringkali membuat pembenaran bahwa rejeki itu sudah ada yang ngatur sehingga dia tidak perlu bersusah payah bekerja/berusaha ataupun ikhtiar secara batin. Padahal menurut saya rejeki itu dibagi menjadi tiga. Yang pertama, rejeki yang sudah pasti. Yang kedua rejeki yang masih mengambang dan yang ketiga atau yang terakhir adalah rejeki yang perlu diusahakan.

Masalahnya kita tidak tahu berapa besarnya porsi-porsi dari ketiga rejeki tersebut. namun banyak orang yang mengira bahwa rejeki otomatis diberikan oleh-Nya tanpa berusaha. Memang ada yang seperti itu, tapi mana kita tahu bahwa itu akan terjadi pada kita, kalau tidak dengan ihktiar secara batiniah atau secara kerohanian.

Manusia tidak tahu seberapa besar porsi rejeki nomer 1, 2, ataupun 3. Maka kitalah yang mengubah nasib kita sendiri, Dialah yang menentukan dan mengaturnya untuk kita. Adapun yang terjadi malah sebaliknya khususnya di Barat. Orang terlalu memakai pikirannya untuk mencari rejeki namun mereka lupa akan kekuatan hati atau batin. Banyak orang di Barat tidak mempercayai kekuatan rejeki tak terduga. Padahal sering rejeki tak terduga ini jumlahnya berkali-kali lipat dibanding rejeki terduga. Secar kualitas dan kuantitas, rejeki tak terduga seringkali menang jika dibandingkan dengan rejeki terduga, dapat disimpulkan rejeki tak terduga menarik rejeki itu sendiri pada orang lain agar memberikan sesuatu, misal job pekerjaan secara mendadak, atau memberikan order bisnis yang besar secara tidak sengaja yang diberi oleh orang lain, teman atau saudara yang memberikan modal bisnis secara cuma-Cuma ataupun secara diberi pinjaman untuk mengembangkan usaha, akan tetapi jangan berprasangka buruk, ketertarikan orang lain memberikan modal bukan karena si penerima rejeki samar tersebut mempengaruhi pikiran orang dengan ilmu hipnotis tetapi ini murni ikhtiar secara batiniah dengan cara mendekatkan diri kepada Allah swt, melalui orang itulah Allah memberika rejeki. Saya rasa semua ada perantaranya bila masih berhubungan denga dunia, jangan terlalu dini mengatakan musyrik kalau orang lain memberikan sesuatu itu hakrkatnya pemberian Allah semata kepada hambaNya yang mendekat/ikhtiar batiniah. Tentu saja semua itu ada korelasinya penyambungan signal dariNya yang menyambungkan kepada si pemberi rejeki dan si penerima rejeki.

Hukum alam adalah hukum keseimbangan, untuk jauhnya baca disini. semua diupayakan untuk berjalan harmoni. Antara hati dan pikiran, antara yang satu dengan yang lainnya. Atara golongan satu dengan golongan yang lain, antara manusia satu dengan manusia yang lain. Keseimbangan alam dan keseimbangan manusia sudah dibentuk olehNya serasi dan harmoni.

Pun, antara rejeki tak terduga dan terduga disinilah mengandung nilai tafakur dan perenungan letak konsep logika hati, mengharmonikan hal-hal tersebut. ada kata-kata bijak 9 dri 10 pintu rejeki ada pada perniagaan? Sebuah pernyataan yang indah. 9 dari 10 pintu? Timbul pertanyaan lalu apa kuncinya? Saya menjawabnya ada 3 knci disana yang letaknya pada hti. Kunci-kunci inilah yang akan menyibak tabir rahasia antara manusia dengan Sang Pencipta.

Runtutannya kurang lebihnya seperti ini untuk mengharmonikan keduanya, Niat (hati)—mencari cara (pikiran)—tindakan (harmonisasi)—pasrah (hati)—hasil dan sukur (hati). Dalam runtutannya, hati mempunyai peran lebih dibandingkan dengan pikiran. Berawal dari hati (niat), berakhir pun denagn hati (sukur).

Kesalahan kita adalah meletakkan niat pasrah terlalu dekat. Niat no.1 kemudian langsung dilanjutkan dengan pasrah ini, meloncatnya langsung anak tangga yang mana kaki belum bisa menggapai tangga yang ketiga langsung. Semestinya urutannya adalah niat—ikhtiar batin yang ada dihati melalui doa atau amalan-amalan sesuatu yang diyakini mendatangkan rejeki—prihatin/puasa termasuk dalam ikhtiar batin—lalu tindakan yang harus mewujudkan niat itu sendiri, kalau toh itu semua sudah diikhtiarkan atau dilakukan belum berwujud maka “PASRAH” jalan terakhir yang dilakukan. Dengan pasrah ini apa ikhtiar sudah berhenti…?? Tentu saja belum, maish ada seribu cara untuk ikhtiar danbelum saatnya untuk kita pasrah setelah niat. Ibarat lampu lalu lintas, niat yang baik apabila kita meminta pengiriman signal lampu hijau atau merah pada-Nya, maka akan ditunjukkan jalannya. Jika hijau, jalannya kan dibuka. Kita boleh jalan. Justru jangan berhenti karena akan mneyebabkan kemacetan, kalau sudah waktunya ditunjukkan hijau olehNya maka kita diwajibkan untuk berjalan terus!!

Jika merah, jalannya akan ditutup. Berhenti, jika perlu mundur. Ambil jalan lain. Temukan persimpangan lain dan lihat warna apa yang menyala di sana. Langgarlah lampu merah maka segalanya kan menjadi kacau. Ada yang lucu lagi, sudah diberi lampu hijau namun dia tetap berhenti. Tidak mau jalan. sampai dipersimpangan lampu berikutnya, diberi lampu hijau lagi. Sayangnya, lagi-lagi dia tidak mengerti kalau lampunya hijau, maka itu dinamakan signalnya diotak dan dihati masih tulalit denganNya. Dia terlalu takut untuk berjalan. Makanya, hijau atau merah….bagi orang yang satu ini semuanya merah jika ia takut, was-was untuk berjalan apalagi perasaan malas menyelimuti semuanya. Meskipun saya bukan orang yang sukses namun saya berusaha untuk bisa bersyukur atas semua karuniaNya. Semoga tulisan singkat ini bermanfaat untuk semua. Wassalam

Tuban, 13 September 2012

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Melihat Lagi Fenomena Jokowi di Bentara …

Hendra Wardhana | | 25 October 2014 | 05:13

Bertualang dalam Lukisan Affandi …

Yasmin Shabrina | | 25 October 2014 | 07:50

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15

Pengabdi …

Rahab Ganendra | | 24 October 2014 | 22:49

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 4 jam lalu

Mejikuhibiniu: Perlukah Menghapal Itu? …

Ken Terate | 6 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 9 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 10 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Cara Efektif Menghafal …

Masykur | 7 jam lalu

Sembilu Cinta …

Christian Kelvianto | 7 jam lalu

Pembunuhan Karakter Keprofesian Industri …

Vendy Hendrawan | 7 jam lalu

Seorang Perempuan di Pemakaman …

Arimbi Bimoseno | 7 jam lalu

Gayatri Si Anak Ajaib Yang Terbang Ke Negeri …

Birgaldo Sinaga | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: