Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Fikr Abdillah

Tak Harap DiPuji,Tak Takut DiCaci,.....

Ketika Kesadaran Sosial Ditinggalkan

REP | 13 September 2012 | 15:33 Dibaca: 145   Komentar: 0   0

Seperti biasa Pukul 8.15 WIB selepas menghantarkan istri saya di kantornya didaerah Karang Asem, saya beranjak pulang melewati jalan yang sama ketika saya berangkat dari Rumah menuju Kantor Istri saya tersebut, melewati jalan Adisucipto, kemudian menuju terminal arah ke timur jalan Ahmad Yani,..nah disinilah kejadian kecelakaan itu bermula. Selepas dari lampu Lalu Lintas Jalan Ahmad Yani (SMP 12) menuju timur dengan kecepatan kurang lebih 40-50 Km / Jam. Perlu diketahui terlebih dahulu Dijalan Ahmad Yani sebelum Pom Bensin Balekambang (dari arah barat). Kondisi jalan ada sebuah tingkungan cukup berbahaya dengan kondisi agak menurun, dan belokan cukup tajam. Saat masuk tikungan itu saya ambil kiri dengan sebuah keputusan kondisi motor yang tidak bisa diajak kencang dan lebih mengarah di jalur kiri yang notabene untuk jalur yang lebih lambat. Namun tiba-tiba sebuah motor dengan kecepatan lumayan cepat menyalip dari sebelah kiri saya. Saya pun terguling dan Alhamdulillah kondisi saya hanya lecet di sebelah lengan, pinggang, paha, dan jari kecil kaki saya.

Kondisi yang menyerempet dari belakang saya tidak sadarkan diri. Orang-orang disekitar TKP pun membantu menepikan motor saya dan orang tersebut. Namun tidak ada satupun yang mendekati orang yang menyerempet saya dari belakang tadi. Bagi sebagian orang mungkin akan menyatakan bahwa orang yang menabrak saya tadi tewas seketika, namun setelah bangkit dari kondisi jatuh saya kemudian menghampiri orang tadi saya observasi kemudian saya cek nadinya Alhamdulillah menurut hipotesa saya Insya Allah orang ini tadi masih bisa terselamatkan, lalu dengan niat Bismillah, Lillahi Ta’alla saya tekadkan hati untuk menolong yang menabrak saya tadi. Saat itu ada mas-mas yang agak muda menyarankan untuk memanggil polisi terlebih dahulu, saya langsung bilang jangan,..yang penting ialah prioritas bapak ini dulu dulu kalo bisa panggil ambulance atau apalah yang sekiranya bisa mengevakuasi orang yang menabrak saya tadi ke Rumah Sakit, dan jatuhlah pilihan saya dengan mobil Pick Up hitam yang melintas untuk saya berhentikan. Pengemudi mobil Pick Up tadi bilang “saya Bantu mas, tapi harus ada yang bertanggung jawab di Rumah Sakit”, saya bilang “ya mas saya”, dalam perjalanan menuju rumah sakit sedikit terbesit bisikan syetan,”dah pulang ajah toh kamu aman, motor aman,barang2 kamu aman, cuman luka lecet ajah, kamu bisa masuk jalan-jalan kampung untuk menghindar dari segala masalah yang terjadi ini,….” Namun Alhamdulillah dengan Niat Bismillah semua godaan itu hangus dan saya abaikan dengan sebuah harapan Insya Allah ini niat baik dan akan menjadi ladang amal tak terhingga di akhirat kelak. Sebuah jaminan dari kebesaran ayat alQuran yang telah dijelaskan pada kita bahwa “Sesungguhnya sesudah kesulitan itu pasti ada kemudahan, sesudah kesulitan itu pasti ada kemudahan” biarkan ini menjadi sebuah “kesempitan”,”masalah” yang kecil bagi saya dan sekeluarga karena saya yakin ainul yakin apapun yang terjadi setelah ini Allah Yang Maha Besar akan memberikan berkah dan hikmah tak terkira bagi saya.

Dan orang yang menabrak saya tadi akhirnya dibawa ke UGD kemudian diberikan tindakan medis pertama oleh pihak Rumah Sakit Brayat Minulya, sebagai seorang Muslim yang sudah beriltizam menekadkan diri membantu, saya ambil keputusan untuk menunggu keluarga korban untuk kemudian menjelaskan kronologi kejadian sesuai fakta yang terjadi di TKP. Menyusul setelah itu adik dan bunda saya datang kemudian Istri tercinta juga datang memberikan support terbaiknya untuk saya. Dan tak beberapa lama pula Polisi yang nampaknya sudah mengolah TKP datang dan meminta keterangan kepada saya terkait identitas, kronologi kecelakaan yang baru saja terjadi.

Setelah beberapa lama menunggu akhirnya mendapat kabar bahwa orang yang menabrak saya tadi menderita patah tulang iga sebanyak 4/5 (agak lupa). 1 pinggul bawah juga patah. Dan akhirnya harus diopname untuk menjalani perawatan lanjutan dan masuk bangsal.

Keesokan Harinya ayah mertua dari orang yang menabrak saya tadi tadi sowan kerumah dan sudah seharusnya sebagai seorang muslim kami terima kehadirannya dengan baik, bapak tadi menceritakan segala keluh kesahnya terhadap saya terkait biaya yang harus dikeluarkan pada operasi anak menantunya itu dengan kisaran biaya 30 juta Rupiah, beliau mengetuk hati saya untuk memberikan bantuan uang semampunya kepada beliau tanpa menargetkan harus berapa persen dan lain sebagainya. Dan kami pun menerima uneg-uneg tersebut untuk kemudian nanti dibahas lebih lanjut dengan keluarga kami.

Sejam kemudian saya dan adik saya menuju keKantor Lantas Surakarta untuk menanyakan kondisi motor dan surat-surat yang sudah disita Dikepolisian, disana kami diterangkan mengenai Olah Kejadian perkara di TKP yang diantaranya kurang lebih menyebutkan orang yang menabrak saya tadi TIDAK BISA mengontrol jarak dan kecepatan sehingga menimbulkan kecelakaan / jatuhnya pengemudi yang lain (entah redaksi lengkapnya gimana seingat saya kurang lebih seperti itu). Kemudian secara garis besar memberi kesimpulan bahwa saya berada di posisi yang tepat dan tidak menjadi awal penyebab kecelakaan itu terjadi. Kemudian pihak kepolisian juga menjelaskan jika ingin mengambil barang bukti berupa sepeda motor kemudian surat-surat yang lain yang disita oleh kepolisian harus membuat surat pernyataan kesepakatan bersama untuk menyelesaikan kasus kecelakaan ini secara kekeluargaan.diketahui oleh pihak penengah yaitu pihak kepolisian.

Sejam setelah dari kepolisian saya berangkat ke Rumah Sakit untuk mengkabarkan ini kePihak keluarga orang yang menabrak saya tadi, dengan harapan bisa segera menyelsaikan permasalahan ini di ranah kepolisian untuk kemudian dibawa ke Urusan kekeluargaan. Ketika sampai disana harapan saya bertemu dengan ayah mertua dari orang yang menabrak saya, tapi yang ada hanya istri dan kakak ipar, kemudain saya berbincang sopan dengan orang tersebut, untuk mengajak perwakilan keluarganya bersama saya menuju kePolantas, namun ternyata kondisi disana kakak Ipar dan Istri harus menunggui Orang yang menabrak saya tadi untuk dioperasi, akhirnya dengan hati lapang dan sikap seorang muslim memberikan kesempatan kepada keluarga untuk terlebih dahulu menemani operasi.

Banyak Fitnah yang diceritakan keluarga yang menabrak saya tadi kepada penjenguk yang hadir bahwa sayalah yang menabrak bapak tadi, kronologi cerita diputar balikkan, Masya Allahu saya hanya bisa Istighfar dan berharap Sabar mengharap pertolongan Allah semata.

To Be Continued,…….

Yang saya mau minta pendapat dari teman-teman. :

  1. Berapakah nominal yang sepantasnya harus saya berikan untuk membantu keluarga yang menabrak saya tadi (dengan melihat posisi saya di olah TKP, Iktikad baik saya menolong ke RS bahkan sampai menunggu keluarganya datang)?
  2. Seandainya uang pemberian saya dirasa kurang oleh pihak keluarga orang yang menabrak saya tadi dan ngotot minta lebih, apa yang harus saya lakukan?? (padahal saat ini kondisi saya dan keluarga juga baru tidak punya uang, untuk diketahui Ibu Merua saya baru saja keluar dari Rumah Sakit dan sayapun ikut menyumbang biaya perawatan Ibu mertua saya, ditambah lagi Hutang bank yang kami harus membayar kurang lebih 1, 2 Juta perbulannya plus biaya hidup bulanan kami dengan satu anak usia 10 bulan, Gaji Istri saya hanya 1 juta Rupiah, sedangkan kondisi saya yang sedang merintis usaha mempunyai kondisi ekonomi yang bisa dikatakan berada dibawah, tidak ada pemasukkan selama kurang lebih 4 bulan terakhir, perlu diketahui usaha yang saya lakukan ialah dibidang EO Outbound)
  3. Solusi terbaik apa yang hendaknya bisa saya lakukan agar permasalahn ini tidak berlarut-larut ??

Banyak orang yang bilang sikap saya yang menolong itu merupakan perbuatan bodoh, sok Pahlawan dan lain sebagainya. Banyak yang memberi komentar dan usulan “kalau saya mah mendhing tak tinggal saja daripada repot panjang urusannya”. Bisa jadi anda benar dengan pernyataan gak mau repot tadi. Tapi semoga saja tulisan yang saya tulis minimal mampu menyentuh hati nurani kita tentang semngat kesadaran, kepekaan social untuk tidak menjadi egois, pengecut, dan lari dalam masalah..

Based On True Story ; Kecelakaan yang saya alami di tikungan sebelum pom bensin Balekambang dari arah barat menuju terminal, Selasa, 11 September 2012, kurang lebih pukul 08.30 WIB

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bukti Nyata Power Sosial Media; Jonan, Ahok, …

Prayitno Ramelan | | 23 November 2014 | 10:59

Bagaimana Menjadi Penulis Opini, Kuliah …

Hendi Setiawan | | 23 November 2014 | 12:04

Akrobat Partai Politik Soal Kenaikan BBM …

Elde | | 22 November 2014 | 21:45

Awal Musim Dingin di Gunung Manin, Daejeon, …

Ony Jamhari | | 23 November 2014 | 11:49

Saatnya Kirim Reportase Serunya Nangkring …

Kompasiana | | 12 November 2014 | 11:39


TRENDING ARTICLES

Selamat ke Pak Tjip, Elde dan Pakde Kartono …

Pakde Kartono | 9 jam lalu

Kesan-kesan Saya Ikuti Kompasianival 2014, …

Djarwopapua | 17 jam lalu

Catatan Kompasianival 2014: Aksi Untuk …

Achmad Suwefi | 19 jam lalu

Duuuuuh, Jawaban Menteri iniā€¦ …

Azis Nizar | 21 November 2014 22:51

Zulkifli Syukur, Siapanya Riedl? …

Fajar Nuryanto | 21 November 2014 22:00


HIGHLIGHT

Di bawah Alunan Malam …

Arrizqi Titis Anugr... | 12 jam lalu

Cenderamata Kompasianival 2014 …

Mabate Wae | 12 jam lalu

Awal Musim Dingin di Gunung Manin, Daejeon, …

Ony Jamhari | 12 jam lalu

Benarkah Reformasi Birokrasi Harus Dipaksa? …

Efendy Naibaho | 12 jam lalu

Peniti Community, Wadah Kompasianer …

Isson Khairul | 12 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: