Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Harja Saputra

http://www.harjasaputra.com

Budaya Unik Suku Sasak: Menculik Calon Pengantin

HL | 11 September 2012 | 14:14 Dibaca: 2246   Komentar: 19   8

13473276121978736718

Pengantin diarak setelah prosesi pernikahan pada suku sasak Lombok (harjasaputra)

Indonesia sungguh kaya budaya, termasuk dalam budaya pernikahan. Setiap suku punya budaya khas tersendiri dalam merayakannya, dari mulai pakaian yang harus dikenakan, sampai pada prosesi pernikahannya.

Nusa Tenggara Barat adalah wilayah di timur Indonesia yang dihuni oleh 3 suku besar, yang disingkat Sasambo (Sasak, Samawa, Mbojo). Suku Sasak adalah suku yang mendiami wilayah pulau Lombok, suku Samawa adalah suku yang mendiami wilayah Sumbawa, dan suku Mbojo yang mendiami wilayah Bima dan Dompu. ‘

Suku Sasak dari bahasa dan budaya berbeda dengan 2 suku lainnya meskipun wilayahnya berdekatan. Tak ketinggalan dalam budaya pernikahannya. Ada yang unik dalam prosesi pernikahannya: calon pengantin pria harus menculik calon pengantin wanita tanpa sepengetahuan orang tua. Wow, benar-benar unik. Saya berusaha menggali informasi tentang ini selengkap mungkin dari hasil wawancara dengan beberapa warga Lombok.

Hari Sabtu-Minggu kemarin (8-9 September) saya ke Lombok dan berkunjung ke seorang teman. Sebut saja namanya Angger. Saya sendiri bukan orang Lombok, sedang ada tugas ke sana. Kebetulan dia berencana mau menikah dan bercerita mengenai pengalamannya “menculik” calon pengantin wanita. “Hah, menculik?”, tanya saya. Duduk langsung bergeser karena penasaran ingin tahu mengenai budaya pernikahan di suku Sasak Lombok.

Orang tuanya yang lagiĀ  berkumpul di rumah Angger lalu menceritakan, bahwa seorang laki-laki disebut sebagai laki-laki jantan ketika ia sudah bisa menculik calon pengantinnya. Lho, bukannya menculik itu tidak boleh? Dijawab, ya memang begitu budayanya.

Si laki-laki yang berniat menikahi wanita harus menculik calonnya, dan harus tanpa sepengetahuan orang tua wanita. Biasanya dilakukan pada malam hari. Si wanita pun tidak boleh memberitahu orang tuanya ia pergi ke mana. Lalu si wanita dibawa ke rumah keluarga laki-laki selama 3 hari atau lebih. Setelah itu, maka pihak kepala dusun dari wilayah laki-laki akan menyelesaikan masalah ini. Dengan cara mendatangi rumah orang tua wanita untuk memberitahukan bahwa anak wanitanya diculik untuk dinikahi oleh calonnya. Inilah cara yang kalau dalam budaya umum dikenal dengan “meminang”.

Kalau keluarga wanita tidak menerima anaknya diculik karena misalnya berbeda status sosial maka pertikaian muncul. Apalagi jika si laki-laki tak mau mengembalikan wanita yang diculiknya. Tapi, menurut keterangan beberapa warga, pertikaian tentang ini jarang terjadi. Penolakan memang sering terjadi setelah proses penculikan, tapi bisa diselesaikan dengan damai agar tidak muncul huru-hara.

Kemudian, jika si keluarga wanita menerima alasan anaknya diculik untuk dinikahi, maka keluarga wanita lalu meminta sejumlah uang tebusan. Mungkin dalam bahasa umumnya mas kawin atau mahar. Dan, si calon laki-laki harus mengusahakan uang tebusan yang diminta oleh orang tua si wanita. Jika tidak, maka orang tua tidak merestui anaknya menikah.

Setelah memenuhi permintaan orang tua wanita maka pernikahan dilakukan. Dari suku sasak yang beragama Islam, maka pernikahan dilakukan seperti umumnya budaya Muslim, dan jika Hindu dilakukan dengan budaya Hindu. Setelah prosesi pernikahan selesai, si pengantin pria dan wanita lalu akan diarak mengelilingi kampung untuk menunjukkan bahwa ia sudah punya pasangan. Ia sudah sukses menculik dan menikahi wanita pujaannya. Prosesi mengarak pengantin ini merupakan budaya yang sering dijumpai, karena mengarak pengantin sering menggunakan jalan-jalan umum, sehingga tak jarang menimbulkan kemacetan.

1347329260968215947

Pengantin diarak dengan musik Gendang Belek (harjasaputra)

Pengantin diarak mengeliling kampung, dari kampung laki-laki ke kampung istri dengan iringan musik gendang Beleq (gamelan dengan gendang khas budaya suku Sasak Lombok). Ada juga yang diarak dengan musik dangdut yang disebut di sana dengan istilah “musik kecimol”. Budaya ini sering menjadi tontonan untuk para turis asing.

Ayo..siapa yang mau saya culik?**[harja saputra]

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kyai Jumairi dan Pengobatan Orang Stress …

Junanto Herdiawan | | 15 September 2014 | 21:54

Wisata Murah Meriah di Pinggir Ibukota …

Agung Han | | 16 September 2014 | 03:59

Asuransi Kesehatan Komersial Berbeda dengan …

Ariyani Na | | 15 September 2014 | 22:51

Awas Pake Sepatu/Tas Import kena …

Ifani | | 16 September 2014 | 06:55

Nangkring Bareng Paula Meliana: Beauty Class …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 10:14


TRENDING ARTICLES

Ternyata Ahok Gunakan Jurus Archimedes! …

Tjiptadinata Effend... | 3 jam lalu

Revolusi Mental, Mungkinkah KAI Jadi …

Akhmad Sujadi | 4 jam lalu

RUU Pilkada: Jebakan Betmen SBY buat Jokowi, …

Giri Lumakto | 10 jam lalu

Timnas U-23 Pimpin Grup E Asian Games …

Abd. Ghofar Al Amin | 11 jam lalu

Festival Film Bandung, SCTV, dan Deddy …

Panjaitan Johanes | 18 jam lalu


HIGHLIGHT

Aceh Semakin Terpuruk …

Jeffry Watumena | 7 jam lalu

Safe Area Goradze: Sebuah Komik Tentang …

Achmad Hidayat | 8 jam lalu

Benarkah Menara Saidah Miring? …

Jonatan Sara | 8 jam lalu

Wahai Guru Indonesia, Tidak Semua Hal di …

Vera Wati | 8 jam lalu

Jika (Calon) Istri Menyembunyikan Status …

Syaiful W. Harahap | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: