Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Misszp

Book-admirer • Writer • Music enthusiast • Professional procrastinator • Wanderlust • Keep calm and eat tahu *nom nom nom*

Pencitraan

OPINI | 10 September 2012 | 23:30 Dibaca: 2514   Komentar: 0   0

Ijinkan saya menjelaskan apa  itu pencitraan dalam pendapat saya sendiri. Pencitraan adalah suatu upaya pembentukan opini publik sesuai dengan harapan pihak yang melakukan pencitraan tersebut. Umumnya, yang melakukan pencitraan ini adalah orang yang bersangkutan. Tetapi, bisa juga dilakukan dengan bantuan tim sukses atau orang terdekat. Bisa secara ekplisit atau implisit. Bisa tertulis ataupun lisan.

Contohnya bisa kita lihat di dalam film The Iron Lady, yang mengkisahkan tentang Margaret Thatcher, mantan PM Inggris. Dalam film tersebut, ada adegan yang menunjukkan bagaimana Margaret belajar dengan seorang guru vokal untuk merubah gaya bicara Margaret agar tidak melengking lagi. Agar terdengar lebih lugas dan tegas.

Nah, pencitraan tidak hanya dibuat dengan cara merubah penampilan. Tapi, ada juga yang melakukan pencitraan dengan tulisan seperti yang dilakukan oleh kebanyakan petinggi organisasi atau bahkan negara. Kebanyakan mempunyai tim penulis pidato khusus yang berkewajiban untuk membuat suatu pidato yang akan meningkatkan citra baik tapi tetap sesuai dengan karakter orang yang akan membacakannya.

Paling mudah, di jejaring sosial bisa kita temukan beberapa akun milik selebriti atau orang terkenal lainnya yang dikelola oleh tim managemen atau tim sukses orang yang bersangkutan. Mereka bertugas memastikan bahwa berita yang tersampaikan terdengar/terlihat personal tapi tetap tidak membawa dampak buruk atau minimal, tidak membawa dampak yang tidak diharapkan. Bukan tidak mungkin pula, mereka yang mengelola jejaring sosialnya sendiri sebenarnya tetap diarahkan oleh tim atau mungkin orang tertentu.

Lalu, pertanyaan yang mungkin akan muncul selanjutnya, apakah ini adalah suatu hal yang baik? Jawabannya bisa ya dan bisa tidak.

Ya, karena kebanyakan orang tidak bisa menerima ketidaksempurnaan. Seperti yang saya sebut di awal, kebanyakan orang menuntut untuk diterima apa adanya tapi tidak bisa menerima orang lain apa adanya. Seseorang bisa diserang dengan begitu kejam karena kesalahan memilih kata padahal dia sudah mengucapkan jutaan kata baik.

Tidak, karena terkadang pencitraan akhirnya membentuk opini publik terhadap sosok ‘lain’ dari orang tersebut yang sebenarnya bahkan tidak dia miliki. Anggap saja, demi pencitraan, dia harus berbohong, mengatakan dia melakukan suatu hal yang tidak pernah dia lakukan. Pencitraan tersebut akan membuatnya tersiksa dan paling penting, membuatnya tidak menjadi diri sendiri. Apalagi, saat kebohongannya terbongkar, bukankah itu hanya akan menambah masalah?

Sadar atau tidak sadar, suka atau tidak suka, kita pernah dan terkadang perlu melakukan pencitraan. Contoh paling simple, ada beberapa dari kita yang enggak mau mengumbar kegalauan kita ke publik. Padahal, kita sering banget terjebak dalam kegalauan. Atau, sebenernya jago banget nulis puisi dan saat ada yang komentar, malah bilang itu cuma nyontek dari buku yang entah terbitnya dimana. Atau bisa juga enggak mau upload foto narsis kita karena takut dibilang alay.

Yang ingin saya sampaikan disini adalah, pencitraan itu bisa berdampak baik kalau kita tau batasnya. Pencitraan bisa menolong kita dianggap sebagai seseorang yang kita harapkan. Tapi, menurut saya, bukankah lebih asyik dan lebih menyenangkan kalau orang mengenal kita sebagai diri kita sendiri?

Kita tidak akan pernah jadi sempurna. Masyarakat memang selalu sulit menerima ketidaksempurnaan seseorang. Siapa yang bisa menganggap seseorang sempurna selain dirinya sendiri?

Jaga sikap, itu harus. Jaga omongan, itu penting. Tapi, lakukan karena memang kamu adalah orang yang menghargai orang lain dan paling penting, menghargai dirimu sendiri. Bukan karena kamu butuh ‘pengakuan’ dan ‘penerimaan’ dari orang lain.

Be your self and proud.

Cheers!

:D

- disadur dari http://zpetronella.wordpress.com/2012/09/10/pencitraan/ (blog saya sendiri)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Paser Baroe, Malioboronya Jakarta …

Nanang Diyanto | | 24 November 2014 | 14:09

Catatan Kompasianival: Lebih dari Sekadar …

Ratih Purnamasari | | 24 November 2014 | 13:17

Saatnya Kirim Reportase Serunya Nangkring …

Kompasiana | | 12 November 2014 | 11:39

Pak Mendikbud: Guru Honorer Kerja Rodi, Guru …

Bang Nasr | | 24 November 2014 | 11:48

Olahraga-olahraga Udara yang Bikin Ketagihan …

Dhika Rizkia | | 11 November 2014 | 13:41


TRENDING ARTICLES

Tjiptadinata, Menang Karena Senang …

Felix | 5 jam lalu

Butuh Rahma Azhari untuk Bekuk Filipina? …

Arief Firhanusa | 6 jam lalu

Tanggapan Negatif Terhadap Kaesang, Putera …

Opa Jappy | 8 jam lalu

Sikap Rendah Hati Anies Baswedan dan Gerakan …

Pong Sahidy | 8 jam lalu

Putra Presiden Konsumsi Babi …

Muhammad Armand | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Resensi Buku “Beriman di Arus …

Elisabeth Meilinda | 8 jam lalu

Nikmatnya Pergaulan Bebas …

Lala Anggraini | 8 jam lalu

Komunikasi Orang Tua dan Remaja Macet? …

Endah Soelistyowati | 8 jam lalu

Meladeni Tantangan Thamrin Sonata di …

Tarjum | 9 jam lalu

Mari Berpartisipasi Berbagi bersama Sanggar …

Singgih Swasono | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: