Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Misszp

Book-admirer • Writer • Music enthusiast • Professional procrastinator • Wanderlust • Keep calm and eat tahu *nom nom nom*

Pencitraan

OPINI | 10 September 2012 | 23:30 Dibaca: 2504   Komentar: 0   0

Ijinkan saya menjelaskan apa  itu pencitraan dalam pendapat saya sendiri. Pencitraan adalah suatu upaya pembentukan opini publik sesuai dengan harapan pihak yang melakukan pencitraan tersebut. Umumnya, yang melakukan pencitraan ini adalah orang yang bersangkutan. Tetapi, bisa juga dilakukan dengan bantuan tim sukses atau orang terdekat. Bisa secara ekplisit atau implisit. Bisa tertulis ataupun lisan.

Contohnya bisa kita lihat di dalam film The Iron Lady, yang mengkisahkan tentang Margaret Thatcher, mantan PM Inggris. Dalam film tersebut, ada adegan yang menunjukkan bagaimana Margaret belajar dengan seorang guru vokal untuk merubah gaya bicara Margaret agar tidak melengking lagi. Agar terdengar lebih lugas dan tegas.

Nah, pencitraan tidak hanya dibuat dengan cara merubah penampilan. Tapi, ada juga yang melakukan pencitraan dengan tulisan seperti yang dilakukan oleh kebanyakan petinggi organisasi atau bahkan negara. Kebanyakan mempunyai tim penulis pidato khusus yang berkewajiban untuk membuat suatu pidato yang akan meningkatkan citra baik tapi tetap sesuai dengan karakter orang yang akan membacakannya.

Paling mudah, di jejaring sosial bisa kita temukan beberapa akun milik selebriti atau orang terkenal lainnya yang dikelola oleh tim managemen atau tim sukses orang yang bersangkutan. Mereka bertugas memastikan bahwa berita yang tersampaikan terdengar/terlihat personal tapi tetap tidak membawa dampak buruk atau minimal, tidak membawa dampak yang tidak diharapkan. Bukan tidak mungkin pula, mereka yang mengelola jejaring sosialnya sendiri sebenarnya tetap diarahkan oleh tim atau mungkin orang tertentu.

Lalu, pertanyaan yang mungkin akan muncul selanjutnya, apakah ini adalah suatu hal yang baik? Jawabannya bisa ya dan bisa tidak.

Ya, karena kebanyakan orang tidak bisa menerima ketidaksempurnaan. Seperti yang saya sebut di awal, kebanyakan orang menuntut untuk diterima apa adanya tapi tidak bisa menerima orang lain apa adanya. Seseorang bisa diserang dengan begitu kejam karena kesalahan memilih kata padahal dia sudah mengucapkan jutaan kata baik.

Tidak, karena terkadang pencitraan akhirnya membentuk opini publik terhadap sosok ‘lain’ dari orang tersebut yang sebenarnya bahkan tidak dia miliki. Anggap saja, demi pencitraan, dia harus berbohong, mengatakan dia melakukan suatu hal yang tidak pernah dia lakukan. Pencitraan tersebut akan membuatnya tersiksa dan paling penting, membuatnya tidak menjadi diri sendiri. Apalagi, saat kebohongannya terbongkar, bukankah itu hanya akan menambah masalah?

Sadar atau tidak sadar, suka atau tidak suka, kita pernah dan terkadang perlu melakukan pencitraan. Contoh paling simple, ada beberapa dari kita yang enggak mau mengumbar kegalauan kita ke publik. Padahal, kita sering banget terjebak dalam kegalauan. Atau, sebenernya jago banget nulis puisi dan saat ada yang komentar, malah bilang itu cuma nyontek dari buku yang entah terbitnya dimana. Atau bisa juga enggak mau upload foto narsis kita karena takut dibilang alay.

Yang ingin saya sampaikan disini adalah, pencitraan itu bisa berdampak baik kalau kita tau batasnya. Pencitraan bisa menolong kita dianggap sebagai seseorang yang kita harapkan. Tapi, menurut saya, bukankah lebih asyik dan lebih menyenangkan kalau orang mengenal kita sebagai diri kita sendiri?

Kita tidak akan pernah jadi sempurna. Masyarakat memang selalu sulit menerima ketidaksempurnaan seseorang. Siapa yang bisa menganggap seseorang sempurna selain dirinya sendiri?

Jaga sikap, itu harus. Jaga omongan, itu penting. Tapi, lakukan karena memang kamu adalah orang yang menghargai orang lain dan paling penting, menghargai dirimu sendiri. Bukan karena kamu butuh ‘pengakuan’ dan ‘penerimaan’ dari orang lain.

Be your self and proud.

Cheers!

:D

- disadur dari http://zpetronella.wordpress.com/2012/09/10/pencitraan/ (blog saya sendiri)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | | 25 October 2014 | 14:51

Kompasiana Nangkring Special di Balikpapan …

Bambang Herlandi | | 25 October 2014 | 13:44

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Gayatri Wailisa, Anggota BIN? Perlukah …

Arnold Adoe | | 25 October 2014 | 16:01

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 11 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 17 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 17 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 18 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 21 jam lalu


HIGHLIGHT

Gayatri Dwi Wailissa, Anggota BIN yang Gugur …

Opa Jappy | 8 jam lalu

Belajar Ngomong:”Mulutmu …

Wahyu Hidayanto | 8 jam lalu

MEA 2015; Bahaya Besar bagi Indonesia …

Choerunnisa Rumaria | 8 jam lalu

Bersenang-Senang dengan Buku …

Mauliah Mulkin | 8 jam lalu

Kematian Pengidap HIV/AIDS di Kota Depok …

Syaiful W. Harahap | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: