Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Wiyamara

Pecinta dan penikmat hidup sederhana

Fenomena Maraknya Perampokan Mini Market

OPINI | 01 September 2012 | 15:50 Dibaca: 316   Komentar: 2   0

1346471323195108894

SF : www.majalahfranchise.com

Pagi ini, lagi-lagi berita perampokan minimarket menghiasai halaman bacaan berita media massa. Kompas.com menuliskan, sembilan orang bercadar dan bersenjata parang dan pisau merampok toko Alfamart di Jalan Karet Pedurenan Raya, Karet Kuningan, Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan, Sabtu (1/9/2012) pukul 04.20 WIB. Dalam sepuluh menit, komplotan ini merampas uang tunai Rp 26 juta, 10 slot rokok, dan sejumlah susu bubuk dalam kemasan kardus.

Kalau kita cermati barang-barang yang diambil oleh para perampok, ada beberapa pertanda perampokan itu dilakukan bukan semata demi diri sendiri dan komplotannya. Ada sejumlah susu bubuk dalam kemasan kardus. Buat siapa? Semua orang pasti menduga kalau bicara tentang susu bubuk, pasti tujuannya adalah anak-anak. Apakah mungkin motif perampokan itu adalah tuntutan kebutuhan hidup rumah tangga seseorang? Atau hanya untuk bersenang-senang dan berfoya-foya?

Saya lebih melihat fenomena maraknya perampokan mini market adalah fenomena tekanan hidup perekonomian sebuah keluarga di dalam masyarakat yang timpang. Perekonomian negeri ini bisa dikatakan sangat kacau balau, pemerintah yang seharusnya bertanggung jawab atas kondisi mereka, tidak berpikir tentang nasib banyak orang yang kehilangan pekerjaan dan memiliki tuntutan kebutuhan yang semakin tinggi. Lapangan pekerjaan semakin sulit didapat. Ditambah lagi, pemberitaan media massa tentang korupsi ratusan juta dan milyaran rupiah oleh para petinggi negeri ini membuat mereka berspekulasi sendiri untuk melakukan cara illegal demi mempertahanakn situasi dan kondisi anak-anak mereka di rumah.

Sebenarnya, secara psikologis massa, penyakit ini harus diwaspadai oleh masyakat dan negara. Karena masyarakat yang sudah berani mengambil keputusan untuk melakukan perampokan bersama-sama atas tuntutan keluarga yang menghimpit mereka, lama kelamaan akan menjadi suatu dorongan bagi masyarakat lain yang memiliki situasi kondisi perekonomian yang sama untuk melakukan hal yang sama. Perampokan akan menjadi suatu jalan alternatif dimana masyarakat melihatnya sebagai cara untuk survive, cara untuk bertahan hidup dalam jaman yang semakin kacau balau ini tanpa harus takut dengan hukum dan pengadilan yang mereka sendiri sudah tahu seperti apa para penegak hukum di negeri ini.

Melihat perkembangan yang akan terjadi ke depan bila situasi ini tidak berubah, maka kemungkinan akan banyaknya kejahatan yang berasal dari masyarakat golongan tak mampu akan semakin meningkat. Bahkan bisa menimbulkan suatu kemarahan publik atas kemiskinan yang menimpa kehidupan keluarga mereka. Bila sudah sampai taraf kemarahan secara psikologi, maka korban yang pertama kali mereka incar adalah golongan kaya dan berduit, minimarket-minimarket, toko-toko swalayan bahkan bisa menjadi penodongan yang secara terang-terangan dilakukan bersama teman-teman yang senasib sepenanggungan.

Bila pemerintah, para wakil rakyat dan para pengayom masyarakat tidak memperhatikan fenomena ini, maka tingkat keamanan dan tingkat kenyamanan kita dalam hidup bermasyarakat akan sangat terngganggu sekali oleh semakin maraknya perampokan dimana-mana. Bisa terjadi kepada siapa saja, dimana saja dan oleh siapa saja, karena tuntutan kebutuhan hidup membuat banyak orang terdorong melakukan tindakan seperti setan agar bisa memberi makan pada anak-anaknya sendiri di rumah. Apa yang saya tulis, hanyalah suatu analisa dari runutan psikologi massa, dimana bila tidak ada perubahan dalam sisi ekonomi masyarakat yang semakin tinggi tuntutan kebutuhan hidupnya, bisa menimbulkan gejolak sosial yang buruk, yang sangat merugikan kehidupan masyarakatnya sendiri dengan berbagai pemberitaan kejahatan dimana-mana.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Santri dan Pemuda Gereja Produksi Film …

Purnawan Kristanto | | 22 October 2014 | 23:35

Kontroversi Pertama Presiden Jokowi dan …

Zulfikar Akbar | | 23 October 2014 | 02:00

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Lilin Kompasiana …

Rahab Ganendra | | 22 October 2014 | 20:31

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

Ketua Tim Transisi Mendapat Rapor Merah dari …

Jefri Hidayat | 3 jam lalu

Jokowi, Dengarkan Nasehat Fahri Hamzah! …

Adi Supriadi | 8 jam lalu

Ketika Ruhut Meng-Kick Kwik …

Ali Mustahib Elyas | 13 jam lalu

Antrian di Serobot, Piye Perasaanmu Jal? …

Goezfadli | 13 jam lalu

Mengapa Saya Berkolaborasi Puisi …

Dinda Pertiwi | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Mati Karena Oplosan dan Bola …

Didi Eko Ristanto | 7 jam lalu

Ketika Lonceng Kematian Ponsel Nokia …

Irawan | 7 jam lalu

Catatan Terbuka Buat Mendiknas Baru …

Irwan Thahir Mangga... | 7 jam lalu

Diary vs Dinding Maya - Serupa tapi Tak Sama …

Dita Widodo | 7 jam lalu

Nama Kementerian Kabinet Jokowi yang Rancu …

Francius Matu | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: