Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Andreas Winanta

Masih dalam rangka belajar menulis

“Pasok Tukon” dalam Lamaran Adat Jawa

OPINI | 01 September 2012 | 04:50 Dibaca: 2535   Komentar: 0   0

Bagi orang Jawa, tentu tidak asing lagi dengan apa yang disebut asok tukon atau pasok tukon. Kalau diterjemahkan, asok atau pasok artinya membayar, dan tukon artinya pembelian. Jadi, asok tukon adalah membayar pembelian. Dengan arti seperti itu, mau tidak mau asok tukon mengindikasikan terjadinya transaksi jual beli. Pasok tukon di sini tidak berlaku pada pembelian barang-barang, tetapi hanya terdapat pada upacara lamaran formal di Jawa. . Bentuknya adalah pemberian sejumlah uang dari pihak laki-laki kepada orang tua perempuan, ditambah pemberian khusus kepada sang pujaan hati. Seperti pakaian sapangadeg (kain panjang, kebaya), perhiasan, peralatan mandi dan lain-lain. Di Jawa, asok tukon berbeda dengan pemberian mahar/mas kawin  Asok tukon lebih sebagai peristiwa adat dan kepantasan. Karena dalam realitasnya, banyak kalangan yang kurang mampu pun juga tidak memberikan asok tukon.

Yang terasa aneh adalah, mengapa peristiwa ini disebut asok tukon? Benarkah  perempuan dibeli oleh laki-laki yang ingin menikahinya? Benarkah orang tua pihak perempuan menjual anaknya kepada calon menantu? Misalnya benar, mengapa perempuan dapat diperjualbelikan semacam benda atau barang? Sedangkan kalau peristiwa tersebut bukan jual beli, mengapa disebut asok tukon yang artinya jelas-jelas membayar pembelian?

Dalam konsep kejawen, asok tukon  bukanlah pembayaran atau pembelian terhadap nilai perempuan yang akan dinikahi atau dimiliki. Tetapi merupakan pangarem-arem, atau  bebungah, atau semacam hadiah. Dalam pandangan lain, pasok tukon sering pula dimaknai sebagai srakah (bantuan ongkos pernikahan). Soalnya, di Jawa tidak terdapat konsep orang tua menjual anak perempuannya dalam konteks pernikahan, tetapi menitipkan kepada sang menantu.

Asok tukon bukan manifestasi jual beli. Melainkan penghormatan yang diwujudkan secara material sebagai penghargaan kepada calon mertua yang telah mengizinkan anak perempuannya untuk  dinikahi.

Ada juga yang unik dalam pasok tukon ini; apabila kelak calon mempelai perempuan membatalkan rencana pernikahan maka keluarga mempelai perempuan harus mengembalikan dua kali lipat nilai pasok tukon tersebut. Tetapi kalau calon mempelai laki-laki yang membatalkan maka pasok tukon yang telah diserahkan tidak boleh diminta kembali.

Semoga bermanfaat dan memberi pencerahan bagi teman-teman yang masih salah memahamani arti pasok/asok tukon dalam lamaran adat Jawa.

Apabila informasi yang saya sampaikan ini ada yang salah mohon dikoreksi dan dibetulkan.

Matur nuwun. Berkah Dalem.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kalau Ga Pengen Gundul? Rawat Rambutmu??? …

Kang Isrodin | | 29 November 2014 | 12:00

Sentilan-sentilun SBY dan Jokowi …

Gunawan | | 29 November 2014 | 09:00

Saatnya Kirim Reportase Serunya Nangkring …

Kompasiana | | 12 November 2014 | 11:39

Festival Payung Indonesia Pertama, …

Indria Salim | | 29 November 2014 | 13:31

Tulis Aspirasi dan Inspirasi Aktif Bergerak …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Jangan Tekan Ahok Lagi …

Mike Reyssent | 7 jam lalu

Ibu Vicky Prasetyo Ancam Telanjang di …

Arief Firhanusa | 7 jam lalu

Pak Jokowi, Dimanakah Kini “Politik …

Rahmad Agus Koto | 9 jam lalu

Ketika Jonru Murka #KJM …

Alan Budiman | 11 jam lalu

Anak Madrasah Juara 1 Olimpiade Indonesia …

Ahmad Imam Satriya | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Kekhawatiran Masyarakat Terhadap Bahaya Susu …

Hikmawati . | 8 jam lalu

Seperti Apa Mas Kawin di Zaman Rasulullah …

Achmad Suwefi | 8 jam lalu

Kontraversi Aborsi …

Jahrianti Nur Tahir | 8 jam lalu

Remang-remang Kunang-kunang …

Harry Ramdhani | 9 jam lalu

Panggung Rising Star Indonesia Gagal …

Pietro Netti | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: