Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Afrisal Planter

'Kuli kebun' di Kalimantan Barat.

Pelajaran Hidup dari Pemakaman Suku Dayak

OPINI | 29 August 2012 | 15:26 Dibaca: 884   Komentar: 4   1

Ada yang menarik jika mengamati makam/kuburan suku dayak di Kalimantan Barat, di mana makam suku dayak sangat berbeda dengan makam-makam yang ada di Indonesia. Di lihat secara visual kuburan suku dayak di penuhi oleh barang-barang yang bersifat duniawi. Sudah menjadi budaya jika seorang suku dayak meninggal maka akan di bekali dengan barang-barang yang bersifat duniawi atau di berikan barang-barang kesayangannya semasa hidup.

Dalam prosesi penguburan seorang suku dayak yang meninggal akan di kubur bersama barang-barang atau “perbekalan hidup” menurut istilah suku dayak bahkan ada juga yang  di letakkan di atas atau sekitar pemakaman maka tidak mengherankan jika banyak kadang di temui alat-alat masak, tikar, ember, chain saw, kasur, handphone, televisi bahkan motor. Seperti gambar di bawah ini

1346209090597076698

Kuburan suku dayak

Namun jika melihat dari sisi lain tata cara penguburan suku dayak, ada pelajaran hidup bagaimana keluarga yang di tinggal dangan penuh keikhlasan menyerahkan barang-barang untuk “perbekalan hidup” bahkan ada salah satu keluarga hampir menyerahkan seluruh harta yang di miliki di rumah. Selanjutnya yang patut di hargai dalam prosesi pemakaman suku dayak setelah barang-barang di tinggal di areal pemakaman dapat di pastikan tidak ada satupun barang-barang “perbekalan hidup” yang hilang, barang-barang tersebut akan hancur karena di telan waktu tetapi tidak akan ada yang mencuri padahal biasanya pemakaman suku dayak berada di pinggir jalan tempat lalu lalang masyarakat baik itu yang berasal dari masyarakat suku dayak maupun masyarakat di luar suku dayak. Jelas terlihat telah terbentuk pola pikir ” bahwa barang yang di letakkan di areal pemakaman bukan untuk milik orang di luar makam”. Pola pikir yang terbentuk ini mengajarkan kita tidak mengambil hak yang bukan menjadi hak kita.

Seandainya pola pikir ini terbentuk di negeri ini maka akan kita temui pejabat pemerintahan yang lebih mementingkan hak rakyatnya di banding kepentingan pribadi, tidak akan ada koruptor di negeri ini karena tidak akan mengambil hak yang bukan miliknya dan kita akan melihat pejabat hukum membela kebenaran dan menindak yang bersalah. Sudah seharusnya para pemimpin di negeri ini mau belajar dari kearifan lokal dari pelosok pedalaman Kalimantan Barat.

salam planter

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kalau Bisa Beli, Kenapa Ambil yang Gratis?! …

Tjiptadinata Effend... | | 01 November 2014 | 14:03

Sebagai Tersangka Kasus Pornografi, Akankah …

Gatot Swandito | | 01 November 2014 | 12:06

Danau Toba, Masihkah Destinasi Wisata? …

Mory Yana Gultom | | 01 November 2014 | 10:13

Traveling Sekaligus Mendidik Anak …

Majawati Oen | | 01 November 2014 | 08:40

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

MA si Tukang Sate Ciptakan Rekor Muri …

Ervipi | 5 jam lalu

Jokowi Kelolosan Sudirman Said, Mafia Migas …

Ninoy N Karundeng | 6 jam lalu

Pramono Anung Sindir Koalisi Indonesia Hebat …

Kuki Maruki | 6 jam lalu

Keputusan MK Tentang MD3 Membuat DPR Hancur …

Madeteling | 7 jam lalu

Karena Jokowi, Fadli Zon …

Sahroha Lumbanraja | 8 jam lalu


HIGHLIGHT

Film Hollywood Terbaru ‘ Interstellar …

Djarwopapua | 8 jam lalu

Selfie Produk: Narsisme membangun Branding …

Yudhi Hertanto | 8 jam lalu

Masa Kecil yang Berkesan di Lingkungan …

Amirsyah | 8 jam lalu

Kisruh Parlemen, Presiden Perlu Segera …

Stephanus Jakaria | 8 jam lalu

Kalau Bisa Beli, Kenapa Ambil yang Gratis?! …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: