Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Jonny Hutahaean

Sarjana Strata 1, hobby membaca

Orang Pintar Kalah sama Orang Bejo

OPINI | 25 August 2012 | 14:21 Dibaca: 11455   Komentar: 10   1

“Orang bodoh kalah sama orang pintar, orang pintar kalah sama orang bejo”.

Begitu bunyi iklan jamu masuk angin di TV

Bejo itu artinya orang yang selalu beruntung, alias bernasib baik. Tidak ada yang salah dengan iklan ini, karena memang tidak ada yang bisa melawan “nasib baik”.

Yang salah adalah dalam memaknai nasib baik. Dalam memaknai nasib baik, ada dua kelompok manusia. Kelompok pertama “yang menunggu nasib baik mampir”, dan kelompok kedua “yang mengejar nasib baik kemanapun”. Sebenarnya kedua kelompok ini sama-sama tidak tahu kapan nasib baik muncul dan kalau muncul dalam bentuk apa, waktu dan wujud dari nasib baik itu tidak jelas.

Chentiao dan Bongak sama-sama dua pemuda energik dan keduanya teman akrab yang sedang tumbuh dan sedang merajut mimpi menjadi pemuda kaya-raya. Dan karena masih muda mereka merasa perlu menambah keyakinan diri, dan berangkatlah mereka menuju tukang ramal, seorang nenek tua yang menyendiri dan tinggal di pinggir hutan kampung, dekat kuburan lagi. Harus tahu masa depan, demikian mereka berpikir.

Dengan sejumlah mantra, tentu saja ada sajen seperti kembang bunga kamboja, sirih, telur ayam kampung, dan ayam hitam yang lidahnya juga hitam, masa depanpun diramalkanlah. Dan, alhamdulilah, kedua pemuda mendapat hasil yang sama, sepuluh tahun ke depan mereka berdua akan menjadi orang yang kaya raya. Terimakasih nek.

Di rumah Chentiao merenung tentang apa yang harus dilakukannya agar ramalan itu terwujud?, aku harus mewujudkannya, harus.

Chentiao meminta uang ke bapaknya untuk modal usaha.

Di rumah Bongak merenung tentang bagaimana cara merayakan ramalan ini?. Ini pantas dirayakan, dan harus dirayakan.

Bongak meminta uang ke bapaknya untuk membuat perayaan.

Chentiao sekarang lebih percaya diri mengejar kekayaannya, menjadi lebih yakin akan kesuksesannya, maka banyak usaha yang dicoba dilakukannya. Dia buka bengkel tapi bangkrut, dia berkebun sayur habis dimakan hama, dia berkebun kacang habis dimakan tikus, dan sekian banyak percobaan yang gagal. Tapi ramalan itu menguatkannya, dia menjadi pantang menyerah, setiap kali jatuh selalu bangkit lagi. Jadi dia coba lagi, dan dia lakukan lagi, dan lagi.

Ternyata semua kegagalan itu adalah pelajaran dan pengalaman. Saat buka bengkel dia mengenal para pemilik angkutan, saat menanam sayur dia mengetahui di mana pupuk dapat diperoleh dan kemana sayur harus dijual, saat bertanam kacang dia mengetahui di mana racun tikus dapat diperoleh dan kemana kacang harus dijual, sekarang dia menjadi juragan di kampung, memasok semua keperluan pertanian dan menampung semua hasil panen.

Bongak juga percaya diri akibat ramalan itu. Dia menunggu sambil merayakan kekayaan yang diramalkan itu, menyiarkannya ke seluruh penjuru kampung, dan tetap menjadi pemuda miskin.

Sepuluh tahun sesudah ramalan, Chentiao menjadi juragan di kampung, Bongak salah satu karyawannya.

Hingga kini Bongak belum sadar, bahwa nasib baik tidak datang menghampiri, tapi harus dikejar sampai kapan dan kemanapun. Dia rela menjadi buruhnya Chentiao sambil menunggu nasib baiknya datang, sampai kapan?

Etnis manakah Chentiao ini, dan suku manakah si Bongak ini?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Belajar Mencintai Alam Ala Kebun Wisata …

Rahab Ganendra 2 | | 31 October 2014 | 23:42

Tim Jokowi-JK Masih Bersihkan Mesin Berkarat …

Eddy Mesakh | | 01 November 2014 | 06:37

Bahaya… Beri Gaji Tanpa Kecerdasan …

Andreas Hartono | | 01 November 2014 | 06:10

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

Pramono Anung Sindir Koalisi Indonesia Hebat …

Kuki Maruki | 4 jam lalu

Keputusan MK Tentang MD3 Membuat DPR Hancur …

Madeteling | 5 jam lalu

Karena Jokowi, Fadli Zon …

Sahroha Lumbanraja | 7 jam lalu

Sengkuni dan Nilai Keikhlasan Berpolitik …

Efendi Rustam | 9 jam lalu

Susi Mania! …

Indria Salim | 13 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: