Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Stefanus Toni A.k.a Tante Paku

Membaca dan menulis hanya ingin tahu kebodohanku sendiri. Karena semakin banyak membaca, akan terlihat betapa selengkapnya

Kerisku, Benda Pusaka Jejak Sejarah Masa Silam

OPINI | 23 August 2012 | 05:18 Dibaca: 5790   Komentar: 55   17

13456281991059257670

Banyak benda-benda budaya yang menjadi kebanggaan bangsa Indonesia, bahkan ada beberapa yang sudah diakui dunia sebagai peninggalan khas negeri kita, salah satunya adalah KERIS.

Bagi masyarakat Solo dan sekitarnya pada umumnya memiliki kebanggaan tersendiri yang berkait erat dengan Keraton Solo maupun Pura Mangkunegaran tentang pusaka-pusaka yang konon menyimpan kekuatan magis dan memberi GRENGSENG bagi mereka yang memilikinya.

Bahkan sudah menjadi fenomena tersendiri di kalangan masyarakat, terutama yang berada pada strata ekonomi atas, yaitu kecenderungan ingin dianggap sebagai PRIYAYI atau bangsawan, kendati mereka sebenarnya bukan TRAH (keturunan) kerabat Keraton maupun Mangkunegaran.

Salah satu upaya untuk itu dengan cara berburu benda-benda PUSAKA (budaya) untuk dikoleksi dan dipajang di rumahnya, agar menimbulkan kesan bahwa dirinya dianggap dekat dengan keraton.

13456282671336222424

Awalnya penjualan pusaka-pusaka leluhur itu berlangsung sembunyi-sembunyi atau melalui perantara yang menawarkan dagangan tersebut dari rumah ke rumah orang yang dipandang membutuhkannya.Motivasi para pembeli jelas beragam, ada yang memang berniat mengkoleksinya, memelihara dan melestarikan benda peninggalan nenek moyang tersebut.

Namun tak jarang yang memang untuk bisnis semata, mencari keuntungan sebesar-besarnya, sebab tahu harga pusaka-pusaka itu cukup tinggi lantaran langka dan keantikannya.Maka tidak perlu heran, dari dulu hingga kini muncul pasar bebas yang khusus menjual benda-benda bersejarah bahkan sudah lama merambah dunia ON LINE.

Beruntung saya menyimpan satu pusaka yang sebenarnya bukan hak saya, melainkan hak anak lelaki sulung untuk memiliki pusaka tersebut, berhubung  kakak sulung itu enggan buat menyimpannya, saya dinilai sangat menghargai benda-benda kuno, maka salah satu pusaka yang berujud keris menjadi benda JADUL yang sangat saya perhatikan pemeliharaannya.

1345628317359051842

Pusaka keris tersebut bernama KYAI NOGO KIKIK, konon menurut orang tua keris tersebut peninggalan dari Trah Raden Kajoran atau Panembahan Rama. Raden Kajoran ini tokoh istimewa dalam cerita tutur. Silsilah Raden Kajoran bisa kita baca dalam BUKU SILSILAH Tjandrakanta, kumpulan beraneka ragam tulisan Raden Ngabei Tjondropradana dari Solo, jilid I.

Secara ringkas, Raden Kajoran (1670) termasuk keturunan dari tokoh agama termasyhur, Kyai Ageng Pandanarang, juga disebut Sunan Tembayat atau Sunan Bayat. Sampai sekarang Anda bisa melihat petilasan tokoh-tokoh tersebut di wilayah Klaten.

Menurut ortu, sebenarnya pusaka peninggalannya yang berada di Kajoran sangat banyak, namun anak keturunannya ada yang  secara diam-diam menjual benda pusaka itu satu persatu namun ada juga yang hilang karena dicuri!

Beruntung Keris Kyai Nogo Kikik berhasil disimpan hingga berada di tangan saya.Pada awalnya pusaka tersebut tidak terawat sama sekali, kotor hitam bahkan sudah mulai dimakan karat tipis, begitu di tangan langsung saya bersihkan kepada empu yang saya kenal. Akhirnya pusaka itu kembali bersih dan tampak PAMOR-nya.

Keris Kyai Nogo Kikik merupakan pusaka AGEMAN seorang Senapati. Keris ini jika menilik WARANGKA-nya GAYAMAN Wanda Surakarta, keris ini memiliki  gandik yang ditatah berbentuk atau mensetilasi seekor anjing . Ketika saya telusuri sejarahnya, pusaka ini salah satu karya dari Kyai Supo seorang EMPU dari Demak yang mengabdi di Mataram. Oleh Sampean Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Agung Prabu Anyakrakusuma diangkat menjadi LURAH EMPU dan mendapat ganjaran nama EMPU WARIHANOM.

Dari tangan kreatif Empu Warihanom dan rekan-rekannya banyak lahir keris-keris pusaka yang cukup baik dan sangat mengesankan, sebab semua pusakanya berciri khusus, awak-awakannya banyak bertabur lapisan emas. Keris-keris yang terkenal hasil karyanya antara lain : Kyai Nagasasra, Kyai Naga Siluman, Kyai Naga Welang, Kyai Naga Kikik dan lain sebagainya.

Keris saya ini memang ber-DAPUR   Naga Kikik  mempunyai LUK sebelas dengan ricikan sebagai ganti LAMBE GAJAH dibuat menyerupai bentuk Anjing, ada roncean berbentuk melati dari emas murni. Dulu, pada mulut Naga Kikik ini terselip batu berlian, tapi ketika ada saudara yang meminjamnya, malah berbuat nakal, batu berlian tersebut dicungkil dan diganti dengan EMAS tanpa sepengetahuan kami. Hingga sekarang mulut Naga Kikik itu masih menggigit bulatan dari emas murni.

13456283961093193545http://images.alamshah67.multiply.com/image/fhvnjTU27zHQOPYMND6oHg/photos/1M/300x300/3950/DSCF1312.JPG?et=r3iwHmKOQiFPXLucy7MIHA&nmid=0

Padahal selipan batu berlian itu ada maknanya, setiap bulan Suro keris tersebut harus diruwat atau dibersihkan dan diberi kalung dari roncean kembang melati, roncean emas berbentuk melati dan selipan batu berlian itu merupakan langkah antisipasi dalam meredam aura panas yang dimiliki keris berdapur Naga itu.

Adalagi salah satu besan ortu yang termasuk abdi dalem Keraton Solo, pak Condro panggilannya (masih kerabat dengan Eyang Srini (alm) seorang paranormal yang terkenal di Solo) waktu itu, pernah meminjam Pusaka tersebut, dalam kondisi mulut Naga Kikik terselip batu emas, cukup lama tidak dikembalikan, rupanya ia punya maksud untuk MENAYUH, maksud hati ingin menguji “isi”pusaka tersebut. Apa jadinya?

Akhirnya keris tersebut dikembalikan, walau tidak diminta, beliau menceritakan, ketika menayuh di bawah bantal tempat tidurnya, malamnya beliau merasakan seolah-olah dikerubuti banyak Anjing yang membuatnya ketakutan. Akhirnya beliau mengembalikan keris tersebut pada keluarga kami. Adalagi cerita dari ortu, sekitar 40 tahun yang lalu, keris ini pernah ditawar seharga 10 juta rupiah, untung ortu tidak memberikannya.

Hingga sekarang keris pusaka Kiai Naga Kikik masih saya simpan dan merawatnya dengan penuh cinta. Setiap bulan Syuro tak pernah lupa saya mandikan dan memberi roncean kembang melati sesuai dengan tradisi. Nyatanya keris tersebut tidak pernah mengganggu keluarga saya, dulu sering GLODHAKAN bila ada kerabat yang akan meninggal, sekarang ini tidak pernah saya rasakan gangguannya. Entah masih ada penunggunya atau sudah pergi, yang jelas saya akan terus merawatnya sebagai benda pusaka bersejarah yang paling berharga dari sekedar uang mahar yang sering ditawarkan kepada saya. .

Benda-benda bersejarah bangsa kita banyak yang hilang, sebab kita sering tidak mau menghargai warisan leluhur yang harus kita jaga sebaik mungkin sebagai peninggalan jejak nenek moyang yang layak diwariskan ke generasi berikutnya.  Sebab peninggalan kuno itu sejatinya indah, mempunyai nilai seni tinggi dan kewibawaan serta keagungan budaya kita yang adiluhung ini.

Saya kira para EMPU membuat keris mempunyai tujuan yang luhur, misalnya untuk diwariskan kepada anak cucu keturunannya. Zaman dulu memang Keris  bisa menjadi perisai diri bila terpaksa melawan musuh. Namun yang lebih besar dari kedua tujuannya itu, mereka bisa memperlihatkan kepada dunia bahwa orang Indonesia sudah lama menemukan teknik menyatukan benda-benda dari beberapa jenis yang semula terpisah. Bisa jadi ini sekedar sindiran kepada kita manusia, benda mati saja bisa disatukan, mengapa manusia yang mempunyai akal dan pikiran tidak bisa bersatu?

Keris adalah salah satu sarana dari para empu untuk menunjukkan bahwa persatuan dan kesatuan tak lepas dari garis suci dari Yang Maha Luhur, dan saya sangat beruntung bisa merawat Keris yang usianya sudah ratusan tahun ini.

http://1.bp.blogspot.com/_DG6Hj5Ju3bU/ScRKFZE1xII/AAAAAAAAAfQ/IXV2LyAnjSQ/s1600/Keris+Semar.jpg

Illustrasi : Foto Koleksi Pribadi, alamshah67.multiply.com, fasak.com

Tags: cfbd

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sukses sebagai Pengusaha Telur Asin …

Tjiptadinata Effend... | | 21 December 2014 | 11:54

Cegah Lintah Darat Merajalela dengan GNNT …

Agung Soni | | 21 December 2014 | 11:16

Rahasia Keberhasilan Pariwisata: Jangan …

Jimmy Haryanto | | 21 December 2014 | 08:18

Gratifikasi Natal dan Tahun Baru …

Mas Ukik | | 21 December 2014 | 10:01

Blog Competition Coca-Cola Sampai Akhir …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Lain Fahri Hamzah, Lain Pula Fadli Zon …

Ajinatha | 9 jam lalu

Lebih Baik Pernyataan Dwi Estiningsih …

Hendi Setiawan | 9 jam lalu

Beda Fahri Hamzah, Fadli Zon, Setya Novanto …

Ninoy N Karundeng | 10 jam lalu

Natal, Skandal Sejarah Kelahiran Yesus …

Nararya | 10 jam lalu

Pintu Damai Tertutup, Menang Golkar Bali …

Erwin Alwazir | 19 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: