Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Aneppaoji

Anep Paoji, saya tinggal di kota kecil indah dan bersahabat. Suka bisnis, sesekali menulis opini selengkapnya

Perlukah Silaturahim kepada Orang yang Sudah Meninggal?

OPINI | 21 August 2012 | 10:16 Dibaca: 5806   Komentar: 4   2

Beberapa saat kemudian, keramaian shalat Idul Fitri di lapangan dan masjid, berpindah ke  Tama Makam Umum (TPU) atau tempat pemakman keluarga. Tujuannya, berziarah kubur, dengan maksud mendoakan orang tua, saudara dan kerabat yang sudah meninggal.

Bersilaturahmi dengan orang yang masih hidup dengan cara berjabat tangan, bertemu muka dan saling mendoakan. Dengan ornag yang sudah mati cukup mengunjungi kuburannya, membacakan al-quran juga mendoakannya. Doa umumnya agar orang yang sudah mati tersebut arwahnya diterima di sisi Allah SWT dan diterangkan di alam kuburnya.

Dalam keyakinan kaum muslimin, mereka sedang berada di alam peralihan antara alam dunia dan alam akhirat. Kebahagiaan ahli kubur, merupakan cermin kebahagiaan nanti di hari kekal abadi, yakni hari akhirat. Maka boleh dikatakan, mengunjungi  pekuburan sanak keluarga merupakan silaturahmi dari yang masih hidup terhadap orang yang sudah mati.

Para ulama ahli fiqh Islam berbeda pendapat soal ziarah kubur tersebut juga soal doa orang hidup, apakah akan akan sampai kepada orang yang mati atau tidak? Satu pendapat mengatakan, doa orang yang hidup terhadap orang yang mati tidak akan berpengaruh apapun. Sebab orang yang sudah mati tidak lagi memiliki amal baik atau buruk juga dosa-dosa tidak bisa ditanggung oleh orang lain temasuk keluarganya. Maka bacaan apapaun tidak akan sampai keapada ahli kubur. Bila di kubur dalam kondisi bahagia (di taman surga) perbuatan baik keluarganya tidak akan menambah atau melebihkan kebahagiannya. Sebaliknya, jika keluargnya tidak mendoakan sama sekali, di kubur akan adem ayem saja. Semuanya tergantung pada amalan di dunia, baik atau buruk.

Pendapat ulama lain mengatakan, mengambil keterangan sebuah hadist Nabi Muhammad SAW. Bahwa “ketika anak adam mati maka terputuskan seluruh amalnya. Kecuali tiga hal: yakni sodaqoh zariyah, doa anak yang shalih dan ilmu yang bermanfaat”.

Para ulama menyimpukan, bila seorang anak mendoakan orang tuanya yang sudah meninggal, bila doanya terkabulkan, akan berpengaruh pada kondisi ahli kubur. Termasuk anak-anak yang sholeh memberi sedekah dengan maksud sebagai tadzim dan berbakti kepada orang tua. Dampak terhadap ahli kubur di sini, karena anak yang shalih itu. Dari pendapat inilah maka muncullah tradisi tahlilan atau pengajian berjamaah yang digelar oleh keluarga masing-masing ketika anggota keluarganya meninggal dunia.

Maksud pengajian dan doa-doa itu bukanlah meminta kepada orang yang sudah meninggal, melainkan mendoakan mereka agar mendapat kebaikkan ketika menghadap Allah SWT. Bagaimanapun ornag yang sudah mati, mereka sudah punya urusan sendiri, menyangkut pertanggungjawaban amal perbuatannya.

Nah, dalam  berziarah meski kita mengunjungi makam keluarga, kita tidak bertemu dengan jasadnya. Benar, jasad keluarga berada dalam makam tersebut, meski mungkin sudah jadi tulang belulang atau tanah, namun arwahnya entah berada di mana. Demikian juga, doa yang dipanjatkan, hanya kepada Allah, sama halnya ketika kita berdoa di masjid atau di rumah. Di manapun berkehandak, Allah bisa mengabulkan atau sebaliknya.

Dengan demikian,  mendoakan arwah keluarga kita yang sudah meninggal, rasanya tidak kalah jauh afdol dengan mendoakan di kejauhan. Apalagi, banyak madarat jika berkunjung ke TPU di hari raya. Jalan cukup padat, terjadi macet dan waktu untuk silaturhami dengan orang-orang yang sudah hidup jadi tersita.

Namun demikian, ziarah kubur juga akan ada nilai plusnya bagi yang hidup, untuk mengingat dirinya pada kematian. Sehingga menambah kualitas atau kuantitas amalan baiknya serta meninggalkan setiap bentuk dosa dan maksiat. (*)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Istiwak, Jam Kuno di Kota Solo …

Agoeng Widodo | | 23 September 2014 | 11:20

Perang Mulut di Talkshow TV (Mestinya) Cuma …

Arief Firhanusa | | 23 September 2014 | 11:04

Billboard, Sarana Sosialisasi Redam Gepeng …

Cucum Suminar | | 23 September 2014 | 16:30

Mengapa Toga Berwarna Hitam? …

Himawan Pradipta | | 23 September 2014 | 15:14

Lelaki Pengingatku …

Edrida Pulungan | | 23 September 2014 | 17:11


TRENDING ARTICLES

Mendikbud Akhirnya Tegur Guru Matematika …

Erwin Alwazir | 7 jam lalu

Ini Kata Anak Saya Soal 4 x 6 dan 6 x 4 …

Jonatan Sara | 9 jam lalu

PR Matematika 20? Kemendiknas Harus …

Panjaitan Johanes | 11 jam lalu

Kesamaan Logika 4 X 6 dan 6 X 4 Profesor …

Ninoy N Karundeng | 11 jam lalu

Cara Gampang Bangun ”Ketegasan” …

Seneng Utami | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Kemana Peghuni Eks Bongkaran Tanah Abang dan …

Akhmad Sujadi | 8 jam lalu

Usia Orang Kota Lebih Pendek Dari Orang …

Asep Rizal | 8 jam lalu

Apa Salahnya Ahok, Dimusuhi Oleh Sekelompok? …

Kwee Minglie | 8 jam lalu

Waspadai Caries Gigi …

Amallya Luckyta | 8 jam lalu

Kunci Sukses itu Sesungguhnya Ada di Tangan …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: