Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Pak De Sakimun

Sedang menapaki sisa usia,senang (belajar) menulis dan membaca, mencari kawan canda didunia maya. MOTTO : SERIBU selengkapnya

Makna atau Filosofi pada Tembang Jawa

REP | 27 July 2012 | 03:28 Dibaca: 2488   Komentar: 62   22

Bunga dalam bahasa jawa artinya kembang atau sekar. Tetapi tembang artinya juga sekar. Jika seorang waranggana atau wiraswara sedang nembang (melantuntan suatu lagu tertentu) disebut nyekar. Kenapa berziarah di pemakaman juga disebut nyekar?, mungkin maksudnya menabur bunga.

Karawitan dan/atau tembang jawa merupakan salah satu dari sekian banyak kekayaan budaya warisan leluhur yang sangat tinggi nilainya. Tidak salah jika seni karawitan disebut sebagai seni adi luhung yang berarti sangat indah dan mempunyai nilai-nilai luhur. Bukan hanya karena keindahan gending dan keharmonisan instrumen gamelannya saja, tapi makna atau nilai yang terkandung dalam tembang-tembang jawa tersebut.

Dalam tembang jawa ada tiga istilah tembang atau sekar. Sekar Ageng, Sekar Tengahan dan Sekar Macapat. Berhubung saya bukan ahli gending atau tembang, juga bukan pengamat, saya hanyalah sebagai penikmat, maka disini saya bukan hendak mengulas tentang gending atau  tembang tersebut, namun hanya akan mengutip sedikit makna yang terkandung dalam sebuah tembang (sekar).

Inilah cakepan (syair) tembangnya :

Bawa Sekar Ageng KUSUMASTUTI

Dhuh kulup putraningsun
Sireku wis wanci
Pisah lan jeneng ingwang
Ywa kulineng ardi
Becik sira neng praja
Suwiteng Narpati
Nanging ta wekasingwang
Ywa pegat teteki

Inilah terjemahan bebasnya :

Wahai anakku
Sudah tibalah saatnya engkau
Berpisah denganku
Jangan terbiasa digunung (dusun)
Lebih baik pergi ke kota (berbakti pada Negara)
Dan mengabdi pada sang pemimpin
Namun pesanku wahai anakku
Jangan lupa pada sang pencipta (beribadah ?)

Itulah makna cakepan Bawa Sekar Ageng Kusumastuti, tentang seorang ayah yang sedang memberi petuah kepada anaknya agar rela berbakti pada nusa dan bangsanya serta tidak melupakan ibadahnya.

Mohon maaf jika terjemahannya kurang tepat.

Semoga bermanfaat.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Merawat Identitas Melalui Karya Seni …

Khus Indra | | 23 September 2014 | 11:34

Menemukan Pembelajaran dari kasus Habibi dan …

Maria Margaretha | | 23 September 2014 | 03:26

Ke Mana dan di Mana Mantan Penghuni …

Opa Jappy | | 23 September 2014 | 08:58

Pak Jokowi, Jangan Ambil Kepala Daerah Kami …

Felix | | 23 September 2014 | 10:00

[Studio Attack] Mau Lihat Geisha Latihan …

Kompas Video | | 23 September 2014 | 11:00


TRENDING ARTICLES

Ini Kata Anak Saya Soal 4 x 6 dan 6 x 4 …

Jonatan Sara | 3 jam lalu

PR Matematika 20? Kemendiknas Harus …

Panjaitan Johanes | 5 jam lalu

Kesamaan Logika 4 X 6 dan 6 X 4 Profesor …

Ninoy N Karundeng | 5 jam lalu

Cara Gampang Bangun ”Ketegasan” …

Seneng Utami | 8 jam lalu

Ramping Itu Artinya Wamen dan Staff Ahli …

Den Bhaghoese | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Pak Menteri, Tolong Hentikan Nyiksa Anak SD …

Prabu Bolodowo | 8 jam lalu

Dari Pelukis Jalanan, Becak Indonesia dan …

Christie Damayanti | 8 jam lalu

Memecah Kontroversi RUU Pilkada …

Daryani El-tersanae... | 8 jam lalu

Kodam Jaya Terlibat Serbuan Teritorial ke …

Simon | 8 jam lalu

“Quantum Leap eSeMKa” …

Tjhen Tha | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: