Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Wajiran

Wajiran, S.S., M.A. adalah dosen Ilmu Budaya di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Penerima Beasiswa Program selengkapnya

Kesalahan Kita dalam Memakna Idul Fitri

OPINI | 27 July 2012 | 02:26 Dibaca: 364   Komentar: 4   2

Merefleksikan Kembali Makna Idul Fitri

Oleh

Wajiran, S.S., M.A.

(Dosen Fakultas Sastra Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarata)

Meskipun baru mendekati pertengahan Bulan Ramadha tulisan ini sengaja ditampilkan untuk mengingatkan kita akan kesalahan kita pada Bulan Ramadhan tahun-tahun sebelumnya. Ternyata selama ini kita salah di dalam merefleksikan makna Ramadhan dalam kehidupan kita. Hal ini dapat terlihat dari begitu banyaknya aktivitas yang ternyata bertentangan dari maksud ditunaikanya ibadah puasa itu.

Berakhirnya Bulan Ramadhan umumnya dirayakan dengan kegiatan-kegiatan kesukariaan. Di sepuluh hari terakhir yang harusnya kita tingkatkan amalan ibadah, kita justru disibukan dengan mengunjungi pusat perbelanjaan. Kita membeli berbagai macam kebutuhan, baik makanan, pakaian, perabot rumah, dan lain sebagainya. Ironisnya, kebanyakan hal-hal yang kita beli itu kurang begitu bermanfaat, atau sekedar untuk pamer.

Selain boros dalam hal makanan, hari lebaran juga lebih banyak dihabiskan dengan mengunjungi tempat-tempat wisata. Akibatnya, dari awal sampai satu minggu di hari lebaran tempat wisata penuh sesak dengan kaum muslimin yang berwisata. Akibatnya, masjid dan mushola terlupakan kembali. Inilah bentuk kegagalan kita selama berpuasa.

Kenyataan ini menjadi sebuah ironisme yang sering kita lakukan saat Hari Raya Idul Fitri. Waktu-waktu yang membahagiakan itu tidak digunakan secara maksimal untuk sesuatu yang bermanfaat, tetapi justru untuk kegiatan sia-sia. Yang menjadi pertanyaan, apa yang harus kita lakukan di hari yang suci ini? Bagaimana cara menjaga agar puasa kita memberi makna dalam kehidupan?

Idul Fitri diartikan sebagai hari pembebasan, hari dimana kita disucikan kembali dari berbagai noda dan dosa yang telah dilakukan sebelumnya. Berakhirnya Bulan Ramadhan ibaratnya kita telah selesai bertapa. Seperti seekor ulat yang bertapa dalam kepompongnya, orang yang selesai melaksanakan puasa akan mengalami perubahan, baik fisik maupun mental. Seekor ulat sebelum menjadi kupu-kupu nampak menakutkan dan menjijikkan. Jalannya pelan, bentuknya mengerikan, makanannya dedaunan. Ulat yang menjijikan itu jika dipegang dapat menimbulkan iritasi atau gatal-gatal. Namun demikian, setelah selesai bertapa dalam kepompong, ia akan berubah menjadi kupu-kupu. Ia berubah menjadi seekor binatang yang indah dipandang, jalannya lebih ringan karena bisa terbang, makannya pun sari madu yang sangat nikmat dan menyehatkan.

Begitulah ibaratnya, orang yang berpuasa. Manusia yang telah selesai menunaikan ibadah puasa hendaknya menjadi manusia yang lebih menarik. Akhlaknya menjadi baik, tutur kata, dan perbuatannya menjadi indah. Pola makan dan gaya hidupnya berubah, terkendali dan teratur. Sehingga ia menjadi manusia yang diharapkan oleh Allah, yaitu bertakwa. Orang yang bertakwa adalah orang yang menarik dalam segala hal. Segala kata dan perbuatan jauh dari sifat permusuhan, tetapi mendatangkan kesejukan dan manfaat bagi kehidupan.

Jika lebaran kali ini kita masih menjalankan rutinitas yang tidak bermanfaat tentu kita belum bisa seperti kupu-kupu. Penggemblengan kita gagal karena tidak mencapai apa yang sesungguhnya diharapkkan. Puasa yang kita lakukan telah sia-sia karena tidak berpengaruh pada pola pikir dan tingkah laku kita.

Apa yang harus dilakukan seusai Bulan Ramadhan?

Pertama, mempererat tali silaturahmi. Wujud dari kuatnya ikatan emosional atau ikatan kekeluargaan adalah adanya komunikasi yang lancar. Hal ini juga dibuktikan dengan aktivitas saling mengunjungi. Kegiatan ini, di pedesaan masih sangat erat dan membudaya, tetapi untuk diperkotaan sudah sangat langka. Kegiatan saling mengunjungi akan mempererat ukhuah islamiah. Baik dengan saudara dalam arti hubungan darah, maupun dengan saudara sesama muslim. Aktivitas bersilaturahmi akan memberikan dampak yang sangat besar dalam kehidupan, karena dengan adanya persaudaraan yang kuat akan ada perasaan saling membutuhkan. Dengan demikian, kehidupan ini akan terasa indah dengan adanya persaudaraan.

Kedua, menjaga diri dari perbuatan yang sia-sia. Perbuatan sia-sia adalah perbuatan yang kurang mengandung manfaat. Kebiasaan berfoya-foya dengan makanan berlebihan adalah salah satu kebiasaan buruk yang sering dilakukan umat muslim saat lebaran. Saat lebaran tiba, berbagai makanan kita sediakan dengan jumlah yang sangat melimpah. Bukan hanya itu, kita pun sering membuang makanan yang terlalu banyak untuk dihabiskan. Kita lebih suka membuang makanan ketimbang memberikannya kepada orang lain yang membutuhkan. Padahal masih banyak saudara-saudara kita yang kesulitan mendapatkan makanan.

Selain berlebih-lebihan dalam hal makanan, kita juga sering berlomba-lomba dengan apa yang kita miliki dengan maksud pamer. Baju baru, perabot rumah, dan kendaraan yang mewah selalu kita bangga-banggakan. Dengan demikian adanya idul fitri justru kita jadikan sebagai ajang pamer kemegahan dan kekayaan. Hal ini tentu akan merusak amalan ibadah kita selama Bulan Ramadhan yang diharapkan akan mengurangi kebiasaan buruk tersebut.

Ketiga, perbanyak bersyukur kepada Allah. Bersyukur kepada Allah atas semua rezeki yang kita nikmati selama hidup adalah kewajiban kita. Apalagi dengan dipertemukannya kita dengan bulan ramadhan adalah anugrah yang luar biasa bagi umat muslim. Pada bulan inilah satu-satunya kesempatan bagi kita memperbanyak bekal bagi kehidupan kita. Pada bulan ini, Allah menganugrahkan berbagai kemudahan dan barokah yang berlimpah kepada umat manusia. Oleh karena itu, dengan bersyukur kepada Allah, maka Allah akan menambah segala nikmat yang kita terima.

Keempat, meningkatkan kinerja dan produktifitas. Pada saat puasa kita dilatih bersabar dan menyesuaikan diri. Dalam kondisi lapar kita diharapkan tetap beraktivitas seperti biasa, bahkan harus memperbanyak ibadah-ibadah sunnah. Oleh karena itu, seusai puasa, harapannya kebiasaan baik itu tetap terjaga dalam kehidupan kita. Jika saat lapar saja kita bisa banyak melakukan aktivitas yang super banyak, diluar puasa tentunya akan lebih banyak hal yang dapat kita lakukan.

Keempat hal itulah yang harus kita lakukan dalam mengarungi kehidupan setelah berpuasa. Adanya perubahan diri yang lebih baik dari sebelumnya adalah keharusan setiap muslim yang mencapai derajat takwa, yaitu seorang muslim yang lebih indah dari sebelumnya. Setelah berakhirnya puasa, kita akan menghilangkan sifat-sifat buruk yang ada di dalam diri kita. Kita harus membakar sifat culas, curang, iri, dengki, sombong dan segala sifat setaniah yang ada di dalam diri kita. Semoga kita adalah bagian dari orang-orang yang dikategorikan berhasil dalam meraih tujuan puasa tersebut, yaitu menjadi orang yang muttaqin. Amin. Wallahua’lam…

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Membayar Zakat Fitrah di Masjid Turki, …

Gaganawati | | 27 July 2014 | 22:27

Kiat Menikmati Wisata dengan Kapal Sehari …

Tjiptadinata Effend... | | 27 July 2014 | 19:02

Indahnya Perbedaan :Keluarga Saya yang Dapat …

Thomson Cyrus | | 27 July 2014 | 19:45

Ini Rasanya Lima Jam di Bromo …

Tri Lokon | | 27 July 2014 | 21:50

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Temuan KPK: Pemerasaan Pada TKI Capai Rp 325 …

Febrialdi | 26 July 2014 22:14

KPK Lebih Dibutuhkan TKI Ketimbang TNI, …

Fera Nuraini | 26 July 2014 19:21

Taruhan Kali Ini Untuk Jokowi dan Demokrasi …

Hosea Aryo Bimo Wid... | 26 July 2014 19:19

Surat Lebaran untuk Emak …

Akhmad Mukhlis | 26 July 2014 14:40

Daftar Kompasioner yang Berkualitas …

Hendrik Riyanto | 26 July 2014 13:29

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: