Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Hamdy

HaMdy alias Handono Mardiyanto. Penulis sosial, spiritual. Buku terbaru, Telaga Bahagia Syaikh Abdul Qadir Jailani selengkapnya

Guyonan Orang Jepang kepada Orang Indonesia

OPINI | 22 July 2012 | 11:23 Dibaca: 1188   Komentar: 7   1

Guyonan Orang Jepang kepada Orang Indonesia


Saya mendengar guyonan ini di awal tahun 90-an dari Pak Tonny (direktur saya dulu). Ia mengatakan pernah berbincang dengan rekan-rekan jepangnya. Salah seorang di antara mereka mengatakan demikian kepada direktur saya itu:

“Mr. Tonny, kami bersedia memberikan seluruh kekayaan orang Jepang kepada orang Indonesia. Apa yang kami miliki di Jepang silakan kalian ambil. Kalian pun boleh membawa semua kekayaan Indonesia ke Jepang. Lalu kami akan datang ke Indonesia hanya dengan memakai cawat (celana pendek model tarzan). Kami yakin, dalam 25 tahun kemudian, kami akan kaya raya dan kalian malah menjadi miskin kembali!”

“Saya tahu itu cuma guyonan mereka,” kata Pak Tonny, “tetapi, muka saya sempat merah juga mendengarnya.”

Mari kita renungkan sejenak guyonan itu dengan pikiran jernih dan hati tenang tanpa gejolak emosi. Menurut hemat saya sendiri, guyonan orang Jepang tersebut memang masuk akal. Andaikata guyonan itu benar-benar dilaksanakan, nampaknya memang orang Jepanglah yang bakal hidup kaya raya di Indonesia; dan orang Indonesia yang justru menjadi miskin di negeri Jepang.

Sangat mungkin suatu negara menjadi makmur tanpa memiliki sumberdaya alam yang melimpah, sebagaimana Jepang dan Singapura. Kunci keberhasilan kemakmuran bangsa lebih ditentukan oleh kualitas sumberdaya manusia daripada sumberdaya alamnya. Orang Jepang memang telah berhasil membangun kembali mentalitasnya saat era restorasi Meiji di akhir abad 19. Intinya, mereka memadukan semangat Bushido (semangat perang ksatria Jepang) dengan ilmu pengetahuan dan teknologi barat yang modern. Hasilnya, dalam waktu kurang lebih 20 tahun, mereka mampu melakukan lompatan besar di bidang ilmu dan teknologi hingga kini.

Selalu ada upaya dari pemerintah kita sejak dulu hingga kini, untuk membangun sumberdaya manusia Indonesia. Namun, upaya itu nampaknya belum tertuang dalam grand strategy pengembangan SDM Indonesia yang menyeluruh dan terukur secara kuantitatif. Masih parsial dan sebatas reaksi sesaat dari suatu kejadian. Misalnya, ketika masalah TKW di luar negeri mencuat di mass media, maka program-program peningkatan kualitas tenaga kerja Indonesia pun kemudian digulirkan; namun, biasanya tak berlangsung secara berkelanjutan.

Pendidikan karakter, dengan demikian, menjadi hal penting untuk dikembangkan. Karakter jujur dalam urusan uang, amanah dalam menjalankan pekerjaan, semangat untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik, sudah harus menjadi agenda nasional yang utama. Semuanya memang menuntut kesungguhan dalam berpikir dan bekerja untuk Indonesia. Bukan sekadar retorika politik jelang tahun 2014, yang lalu terlupakan setelah posisi politik didapat.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Imaji Mutiara Senja di Senggigi …

Dhanang Dhave | | 28 February 2015 | 10:59

Reformasi Sepak Bola Tiongkok Menuju Pentas …

Aris Heru Utomo | | 28 February 2015 | 12:05

Kiat-kiat Membangun Rumah yang Nyaman dan …

Alifiano Rezka Adi | | 27 February 2015 | 17:41

Selingkuh, Sadar Atau Tidak? …

Cahyadi Takariawan | | 28 February 2015 | 06:38

Kompasiana Ngulik: Ngobrolin Genre Musik …

Kompasiana | | 23 February 2015 | 14:51


TRENDING ARTICLES

Ahok vs Dewan, Jokowi Nampar Pinjam Tangan …

Sowi Muhammad | 14 jam lalu

Ahok dan si Cantik Nuri Shaden …

Gunawan | 16 jam lalu

Ahok dan APBD 2014 Giring DPRD DKI ke Rumah …

Ninoy N Karundeng | 21 jam lalu

Nyalo UPS, DPRD DKI Dapat Untung 321 Milliar …

Abd. Ghofar Al Amin | 22 jam lalu

Bagaimana Ya Cara Memecat Wakil Rakyat? …

Marius Gunawan | 27 February 2015 18:30


Subscribe and Follow Kompasiana: