Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Andika

hanya orang biasa, bukan siapa siapa juga

Tidak “Amin”, pada Sholat Berjemaah

REP | 21 July 2012 | 16:02 Dibaca: 1733   Komentar: 3   3

13428439311954194166

Msyarakat Indonesia di Kuala Lumpur, hala bil hal, foto andika

Kurang lebihnya sepuluh tahun yang lalu, ketika menunggu masuk waktu sholat zuhur saat puasa ramadhan di musholla tempat kerja, saya ketika itu sempat bincang bincang dengan senior, katanya waktu dia masih muda dulu ada bosnya yang rajin mengajak stafnya untuk melaksanakan sholat magrib di tempat kerja.

Mereka sering  menunaikan sholat magrib ditempat kerja karena lembur berhubung kerja menumpuk dan banyak. Mungkin karena keseringan diajak sholat berjemaah magrib oleh bossnya lama lama ada teman kerjanya yang jahil ( isengnya ) timbul, katakanlah namanya Ridwan ( bukan nama yang sebenarnya ) mengajak teman temannya sekitar 6 orang kompak untuk sesekali mengerjai boss mereka pada saat menjadi makmum sholat magrib, dengan tidak mengucapkan kata “Amin” pada saat  boss sebagai imam selesai mengucapkan Surat Fatihah .

Maka ketika imam ( yang boss mereka  ) mengucapkan ” Waladhdhoollin “, hanya imam saja yang mengucapkan “Amin “, lainya tidak. Karena tidak ada makmum yang mengucapkan “Amin “, tiba tiba saja si boos yang jadi imam sholat magrib itu, menengok kebelakang dan berucap dengan keras ” huyyy aminnin dong “.…..kekekekekkekkek, semua makmum  tidak bisa menahan tawa sebentar, cuma imamnya jalan terus.

Nah, pada saat saya sekali waktu ikut melaksanakan sholat taraweh  bersama masyarakat Indonesia di  KBRI Kuala Lumpur, saat menunggu waktu shoat isya tiba, saya ceritakan cerita itu ke teman teman, ada seorang bapak diplomat  KBRI Kuala Lumpur yang dulunya pernah bertugas di Teheran, Iran mengatakan, oh ya hal itu benar benar  pernah terjadi dan dialaminya sendiri ketika ditugaskan di Teheran. Belum begitu lama dia bertugas disana katanya, sekali waktu di sholat magrib berjemaah disalah satu masjid di kota Teheran yang tidak begitu jauh dari tempat tinggalnya, ketika iman membaca Surat Fatehah dengan suara keras, selesai mengucapkan kalimat waladhdhoollin, maka dia  ( diplomat itu ) dengan kencangnya mengucapkan ” Amin ” ditengah jemaah sholat magrib yang ramai itu. Apa yang terjadi katanya, ternyata hanya dia sendiri yang mengucapkan amin seperti berteriak ditengah keramaian, olalla katanya lagi.

Canda yang  sempat mengganggu pikiran itu, menimbulkan tanya tanya “apa sebenarnya yang harus dilakukan makmum, apakah ” harus mengucapkan Amin pada akhir imam mengucapakan surat Fatehah dan bagaimana mengucapkannya dengan benar”, karena bapak diplomat yang sholat di Teheran itu, katanya dia yakin sebenarnya mereka muslim di Teheran bukan tidak mengucapkan ” amin ” setelah imam selesai membabca Surat Fatehah, tetapi mereka mengucapkannya dengan pelan, tida terdengar, tidak keras keras seperti kita umat muslim pada umumnya mengucapkan Amin setelah imam membaca Surat Fatehah di Indonesia.

Karena penasaran itu, pagi ini saya tadi meminta bantuan mas google mencarikan jawabannya, kenapa ada makmum yang tidak mengucapkan ” Amin ” pada saat iman selesai membaca Surat Fatehah pada sholat berjemaah” ( terutama pada saat Surat Fatehah diucapkan imam dengan suara keras ) . Ternyata mas google mengantarkan saya ke sini, langsung ke jawabannya yang ditulis oleh Mohhamad Masri dari  Malaysia.

Setelah saya baca, tampaknya tulisan Moh Masri itu telah memberikan jawaban yang mantap, yuk kita tengoknya yuk

____________

“Hukum Membaca Amin Ketika Solat Jemaah”, ditulis Mohd Masri  ( Malaysia ) pada tanggal 30 Maret 2008 di blognya ” Koleksi Soal Jawab Agama “

Assalamu’alikum wr. wb.

Bagaimanakah hukum membaca Amin selepas tamat surah al-Fatihah di dalam solat jemaah.

Jawapan

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Kesimpulan singkatnya dari hukum membaca lafadz ‘Aamiin‘ setelah Al-Fatihah dalam shalat adalah sebuah perkara khilafiyah. Para ulama ternyata memang berbeza pendapat ketika bicara masalah yang satu ini.

Sebahagian besar ulama (jumhur) mengatakan bahawa mengucapkannya secara jahr (suara dikeraskan termasuk sunnah, sedangkan sebahagian lainnya mengatakan bahawa lafadz itu dibacasirr (perlahan) saja dan itu lebih utama.

1. Mazhab Abu Hanifah

Dalam hal ini mazhab Abu Hanifah termasuk yang berbeza dengan pendapat mazhab jumhur lainnya. Dalam pandangan mazhab ini, bacaan Amin lebih utama untuk diperlahankan, tidak dibaca keras sebagaimana yang umumnya kita kenal selama ini.

Hal ini cukup menarik, saat kami ke Turki dan shalat berjamaah Maghrib di masjid Abu Ayyub Al-Anshari dan shalat Shubuh di masjid dekat hotel, kami sempat sedikit terkecoh. Sebagai bangsa Indonesia yang tinggal bersama dengan kalangan mazhab Syafi’i, begitu mendengar imam selesai mengucapkan lafadz waladhdhaaalliin, maka secara naluri kami pun langsung siap-siap mengucapkan Amin dengan suara keras.

Tapi apa yang berlaku, ternyata suasana tetap hening, sepi dan tak seorang pun yang melafadzkannya. Sempat juga bingung sebentar, tapi setelah itu langsung tersadar. Oh, iya. Ini kan Turki. Bagaimana boleh lupa, mereka ini kan bermazhab Hanafi. Dan dalam pelajaran waktu kuliah dulu, kami jadi teringat bahawa dalam mazhab Abu Hanifah memang tidak disunnahkan mengeraskan bacaan Amin dalam shalat berjamaah.

Jadi, kenapa mazhab Hanafi ini tidak menyunnahkan untuk menjahar lafadz Amin? Apa landasannya?

Begini, sebagaimana yang dituliskan oleh Al-Qurthubi dalam kitab tafsir yang masyhur-Jami’ li Ahkamil Quran, kita menemui sedikit penjelasan, tepatnya kalau kita buka pada jilid 1 halaman 200. Di sana dijelaskan bahawa ternyata mereka punya landasan dan berhujjah dengan ayat Al-Quran berikut ini:

Berdo’alah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas .(QS. Al–A’raf: 55)

Makanya para ulama mazhab ini tidak mengajarkan bacaan doa yang dikeraskan. Sebab bagi mereka, kedudukan ayat ini mengikat dan lebih kuat dari hadits nabawi. Sehingga tidak dianjukan untuk berdoa dengan lafadz yang dikeraskan.

Dan kerana lafadz Amin itu bahagian daripada doa, maka yang lebih utama tidak dibaca keras, cukup dibaca secara lirih saja.

Mungkin anda akan protes, yang merupakan doa itukan lafadz surat Al-Fatihah-nya, sedangkan lafadz ‘Amin’ itu kan bukan doa?

Maka kalangan mazhab Hanafi menjawab bahawa mengucapkan lafadz ‘Amin’ itu juga bahagian dari doa. Sebagaimana firman Allah SWT:

AlIah berfirman, “Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua, sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus dan janganlah sekali-kali kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui”.(QS. Yunus: 89)

Ayat ini sedang mengisahkan Musa dan Harun ‘alaihimassalam yang berdoa. Dan diriwayatkan meski dengan sanad yang dhaif sekali, bahawa Musa yang mengucapkan lafadz doa itu dan Harun yang mengaminkan. Makanya, mengucapkan lafadz ‘Amin‘ pun termasuk berdoa.

2. Mazhab Jumhur (Majoriti) Ulama

Adapun hujjah majoriti ulama tentang kesunnahan mengeraskan bacaan ‘Amin‘ ada banyak, di antaranya hadits yang berstatus muttafaqun ‘alaihi berikut ini:

إذا أمن الإمام فأمنوا فإنه من وافق تأمينه تأمين الملائكة غفر له ما تقدم من ذنبه

Apabila Imam mengucapkan Amin maka ucapkanlah Amin. Siapa yang amin-nya sesuai dengan amin para malaikat, diampuni dosanya yang sudah lewat. (HR al-Bukhari dan Muslim)

Namun di kalangan jumhur ulama sendiri ternyata masih juga ada perbezaan, yakni apakah imam ikut mengeraskan juga bacaan Amin-nya ataukah membaca dengan perlahan.

  • Menurut mazhab Asy-Syafi’i dan Maliki dalam riwayat madaniyyin, Imam hendaklah ikut mengeraskan juga bacaan ‘Amin’ itu, sehingga terdengar juga oleh makmum.
  • Sedangkan dalam pandangan Ath-Thabari dan Ibnu Hubaib, imam tidak perlu mengucapkannya secara keras, demikian juga pandangan kalangan Kufiyyin dan Madaniyyin.
  • Sedangkan dalam pandangan Ibnu Bukair, imam boleh memilih antara mengeraskan bacaan amin atau melirihkannya.

Namun yang lebih kuat dari perbezaan pandangan ini menurut kami adalah pendapat pertama, kerana ada hadits yang kuat dan boleh menjadi dasarnya.

عن وائل بن حجر قال: كان رسول الله إذا قرأ ولاالضآلين قال: آمين يرفع بها صوته

Dari Wail bin Hujr berkata bahawa Rasulullah SAW kalau membaca Waladhdhaallin, maka beliau mengucapkan Amin dengan suara yang keras. (HR Ad-Daruquthny dengan sanad yang shahih menurutnya)

Rasanya sampai di sini dulu penjelasan yang teramat singkat tentang hukum mengucapkan lafadz ‘amin’ di belakang imam shalat. Dan yang mana saja dari pendapat di atas, tidak ada yang bertentangan secara prinsip sehingga mengakibatkan dosa besar. Ini hanya sekadar perbezaan yang tidak terlalu prinsip, yakni tentang apakah bacaan amin itu sebaiknya dikeraskan atau diperlahankan.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

____________

Semoga berkenan.

Selamat pagi, selamat melaksanakan ibadah puasa ramadhan 1433 H dan sukses

Salam dari Jakarta………………http://regional.kompasiana.com/2012/07/20/sholat-jumat-di-masjid-albarokah/

Kenapa kok tulisannya warna kuning?………………..saya enggak tahu juga kenapa kok bisa jadi seperti itu, admin?


Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | | 25 October 2014 | 17:32

ATM Susu …

Gaganawati | | 25 October 2014 | 20:18

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Gayatri Wailisa, Anggota BIN? Perlukah …

Arnold Adoe | | 25 October 2014 | 16:01

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Serunya di Balik Layar Pemotretan Presiden …

Gatra Maulana | 5 jam lalu

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | 7 jam lalu

Hatta Rajasa Tahu Siapa Bandit Migas …

Eddy Mesakh | 8 jam lalu

Presiden Jokowi, Ibu Negara, dan …

Sintong Silaban | 9 jam lalu

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | 10 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: