Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Aristi Audri Triani

Seorang pembelajar hidup dari kota pelajar.

OSPEK, Kaderisasi dan Ajang Eksistensi

OPINI | 15 July 2012 | 21:59 Dibaca: 274   Komentar: 2   0

Sore sepi di ambang gerbang Ramadhan…

Di beberapa tab  browser terdengar kicauan sekelompok orang, penduduk dunia maya. Prihatin nada dalam tulisannya. Berbicara tentang betapa primitifnya budaya pengkaderan di negeri ini, maksud saya Indonesia, bukan dunia maya. Berbagai alasan diejawantahkan untuk “memaksa” publik dunia maya mengamini keprihatinannya tersebut. Apakah saya terdengar sinis? Terserah bagaimana sudut pandang anda. Yang jelas, saya ingin menyampaikan pendapat saya, pendapat pribadi saya. Pengkaderan jelas dilakukan karena ada nilai-nilai yang ingin diteruskan, nilai-nilai yang harus dibawa agar tercapai suatu tahapan yang disebut impian tercapai. Nilai-nilai itu bervariasi sekali, tergantung kelompok yang mengusungnya. Jika hal ini kita ibaratkan dalam hal OSPEK (baik universitas, maupun tingkat SMA), maka nilai-nilai yang dibawa mungkin berkisar antara pendidikan berkarakter. Kenapa pendidikan berkarakter? Mungkin karena kekhawatiran generasi terpelajar tersebut akan rendahnya kualitas kepemimpinan di Indonesia saat ini. Orang pintar banyak, yang menjadi pimpinan juga banyak, tapi yang berkarakter? Langka. Krisis pendidikan berkarakter ini akhirnya memicu krisis kepemimpinan.

Lantas atas dasar keprihatinan tersebut, sebuah gerakan perubahan diusung untuk mentransfer nilai-nilai tersebut kepada setiap generasi penerusnya. Hal tersebut diejawantahkan dalam bentuk OSPEK. Disini, OSPEK yang saya maksudkan adalah tidak sekedar ajang perkenalan mahasiswa/siswa lama dan mahasiswa/siswa baru. OSPEK yang saya maksudkan adalah OSPEK yang juga difungsikan sebagai sarana pengkaderan. Namun tidak dapat dipungkiri, memang telah terjadi beberapa penyimpangan dalam OSPEK itu sendiri. OSPEK yang tujuan awalnya adalah baik, justru dimanfaatkan sebagai ajang eksistensi diri bagi sebagian kaum, hanya untuk mengatakan kepada secuil makhluk, bahwa dirinya ada. Salah? Jawabannya tentu salah jika dilakukan dengan “membodohi” mahasiswa/siswa baru. Atribut-atribut aneh, mungkin tidak begitu disenangi oleh mereka yang menjadi objek penderita (mahasiswa dan siswa baru), yang bisa saja memupuk rasa benci mereka terhadap OSPEK itu sendiri. Kebencian ini kemudian mengendap dan jika awal tahun ajaran baru tiba (kembali), simfoni sakit hati itu akan dengan buasnya melampiaskan kebenciannya pada “adik-adik”-nya. Begitulah selanjutnya, membentuk sebuah siklus: OSPEK–>Ajang Eksistensi–>Simfoni Sakit Hati–>OSPEK dan seterusnya.

Lantas bagaimana OSPEK sebagai sarana kaderisasi itu seharusnya difungsikan? Ada beberapa hal yang harus dicatat. Pertama, tujuan dari OSPEK itu sendiri harus jelas, apa nilai yang akan dibawa? Kedua, sasaran OSPEK juga harus jelas, seperti apa output yang ingin dicapai dengan adanya OSPEK tersebut? Ketiga, packaging seperti apa yang akan dipakai untuk menyampaikan nilai yang diusung agar dicapai output yang diinginkan? Keempat, kriteria output tercapai atau tidak juga harus ditentukan. OSPEK seharusnya dihindarkan dari tindakan “pembodohan” seperti memakai atribut aneh, melakukan tugas-tugas aneh (contoh: menceburkan diri ke kolam atau ke kali, dll). Materi yang ada dalam OSPEK hendaknya disampaikan dengan santun dan berbobot, daripada “menyiksa” kader-kader (mahasiswa atau siswa baru) itu, adalah lebih bijaksana jika mereka diajak untuk berfikir, berdialog, dan diajak untuk experiencing nilai-nilai luhur yang diusung oleh pihak penyelenggara (sebut saja panitia). Ada baiknya, sistem OSPEK yang dilakukan, menerapkan sistem adult learning, dimana peserta OSPEK diajak untuk experiencing dan dipancing untuk menyimpulkan nilai-nilai yang didapat dari setiap kegiatan dalam OSPEK tersebut. OSPEK yang memanusiakan manusia seperti ini tentu lebih worth it dibandingkan dengan OSPEK yang digunakan ajang eksistensi saja. OSPEK juga bukan ajang doktrinasi, hanya saja, OSPEK memang sebaiknya difungsikan untuk memancing pesertanya untuk berfikir kritis dan menemukan karakter mereka masing-masing. OSPEK yang biasanya berlangsung hanya sekitar 3-4 hari tentu tidak dapat merubah karakter yang sudah dibawa setiap orang secara langsung. Namun jika disampaikan dengan tepat dan “ngena”, nilai-nilai tersebut akan diserap dan dikembangkan oleh mahasiswa ataupun siswa baru tersebut.

Siapa bilang OSPEK hanya ajang pembodohan dan ajang senioritas? Pada akhirnya, saya hanya ingin berpendapat, OSPEK itu baik dan penting, selama dilakukan dengan cara yang tepat. Semoga para punggawa OSPEK di luar sana, dapat me-mahasiswa-kan mahasiswa dan men-siswa-kan siswa. Semua dilakukan sesuai azas fungsionalitas dalam kadar yang tepat. Salam semangat! ^^

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Wahana Baru Ice Age Arctic Adventure, Dufan …

Rokhmah Nurhayati S... | | 19 April 2014 | 01:35

Sesat Pikir Koalisi …

Faisal Basri | | 18 April 2014 | 19:08

Jangan Prasangka Pada Panti Jompo Jika Belum …

Mohamad Sholeh | | 19 April 2014 | 00:35

Araira …

Fandi Sido | | 16 March 2014 | 19:39

Memahami Skema Bantuan Beasiswa dan Riset …

Ben Baharuddin Nur | | 18 April 2014 | 23:26


TRENDING ARTICLES

Mengintip Kompasianer Tjiptadinata Effendi …

Venusgazer™ | 6 jam lalu

Kasus Artikel Plagiat Tentang Jokowi …

Mustafa Kamal | 9 jam lalu

Kue Olahan Amin Rais …

Hamid H. Supratman | 18 jam lalu

Puan Sulit Masuk Bursa Cawapres …

Yunas Windra | 18 jam lalu

Misteri Pertemuan 12 Menit yang Membungkam …

Gatot Swandito | 19 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: