Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Qidiq

"apa yang aku tulis adalah yang pernah membiru dalam hatiku"

Tradisi Jagong Masyarakat Pedesan di Jawa Tengah

REP | 16 June 2012 | 22:11 Dibaca: 946   Komentar: 0   0

Salam kompasioner,

Sebelum bicara lebih lanjut,saya mau menjelaskan apa arti kata : JAGONG.Kata JAGONG berasal dari bahasa jawa (jawa tengah pada umumnya dan kab sukoharjo yang merupakan tempat tinggal saya khususnya) yang kurang lebih artinya menghadiri undangan ke tempat orang punya hajat,baik itu pernikahan (mantu:istilah orang jawa),sunatan atau hajatan lain yang si empunya hajat mengedarkan undangan (ulem;bahasa jawa) kepada seluruh kerabat,saudara,teman,sekedar kenalan atau bahkan orang yang tidak dikenal sekalipun.

Sebagain besar orang jawa (orang-orang sekitar lingkungkan saya) masih banyak berpegang pada budaya PEKEWUH/PAKEWUH atau dalam bahasa indonesia bisa diartikan “perasaan tidak enak” atau cenderung condong ke sedikit rasa malu pada sesuatu (orang).

Kali ini saya akan menghubungkan tradisi jagong itu dengan budaya pekewuh tersebut.Pada dasarnya setiap orang yang mendapat undangan (ulem;bahasa jawa) secara umum memwajibkan dirinya untuk memenuhi undangan tersebut.Nah disinilah pokok bahasan kita,karena kalau jagong itu kita harus NYUMBANG(sejumlah uang yang dimasukan dalam amplop yang diperuntukan siempunya hajat) dan rata-rata didaerah saya tiap amplop sekitar 20rb-25rb untuk masyarakat biasa.
Untuk mereka yang berkecukupan mungkin tidak masalah kalau setiap musim hajatan dibanjiri undangan yang bertubi-tubi,bahkan ada yang bilang mendapat 10-15 undangan pada satu bulan,mereka bisa saja menghadiri undangan dan nyumbang.Tapi untuk orang yang kurang mampu mungkin menjadi semacam beban yang wajib mereka lakukan karena kalau tidak datang/nyumbang merasa pekewuh.Inilah satu hal unik yang saya rasakan,walaupun untuk biaya sehari-hari saja mepet bahkan mungkin kurang tapi mereka berusaha untuk bisa jagong/nyumbang.Entah apapun caranya,ada yang hutang atau menjual barang-barang mereka untuk jagong/nyumbang.Rasa pekewuhlah yang membuat mereka harus jagong/nyumbang bahkan ada yang jagong/nyumbang berkali-kali pada satu orang yang sama.Contohnya orang tuaku sendiri yang baru 2 kali hajatan tapi mungkin udah berpuluh-puluh kali jagong/nyumbang (seingat saya sih) dan pernah satu kali saya bertanya:”kok jagong terus sih bu,padahal udah beberapa kali jagong”…ibu jawab:”ra popo le,pekewuh yen ora jagong idep-idep jajan(ngga apa-apa,ngga enak kalau ngga datang itung-itung jajan),yaa seperti itulah.

Padahal besarnya uang untuk nyumbang biasanya nilainya harus sama atau bahkan harus lebih dengan besarnya uang yang kita terima waktu kita punya hajat sebelumnya.Tapi kalau frekuensi hajatan ngga sama bisa bisa tekor kita…hehehe.Karena berapapun jumlah kita nyumbang kita akan memperoleh hidangan dan ulih-ulih (bawaan yang diberikan setelah jagong/nyumbang,ditempatku biasanya berupa makanan,roti atau mie instan) makanya mereka bilang anggep aja jajan.

Disatu sisi saya sebagai orang jawa bangga dengan budaya pekewuh/pakewuh itu,karena didalamnya mengandung rasa penghargaan kepada si pengundang dan hal itu membuat kita bisa dipandang tidak rendah oleh orang lain.Tapi disatu sisi lainya yang saya rasa kurang bijak adalah bahwa kita (orang yang hidup pas-pasan) harus berusaha mengupayakan walaupun mungkin ada keperluan lain yang lebih penting.

Tapi itulah satu keunikan dari tradisi jagong/nyumbang di lingkungan saya yang saya anggap tradisi unik dari jawa yang sudah turun temurun dan lestari sampai saat ini.

Sekian,ada kurang lebihnya mohon maaf

Salam kompasaioner

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Manajemen Mudik …

Farida Chandra | | 25 July 2014 | 14:25

Quo Vadis Jakarta Baru? …

Shendy Adam | | 25 July 2014 | 14:41

Sensasi Rafting di Kali Oyo Gunungkidul …

Tri Lokon | | 25 July 2014 | 15:27

Keras, Tegas dan Tajam Suara Politik di …

Hendrik Riyanto | | 25 July 2014 | 12:45

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Legitimasi Pilpres 2014, Gugatan ke MK dan …

Michael Sendow | 7 jam lalu

Risma dan Emil Lebih Amanah Dibanding …

Leviana | 7 jam lalu

Analisis Prosedur Sengketa Hasil Pilpres …

Muhammad Ali Husein | 8 jam lalu

Jokowi: The First Heavy Metal’s …

Severus Trianto | 11 jam lalu

Dilema MK …

Akhmad Yunianto | 13 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: