Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Mobit Warsono Atmojo

Hidup itu bukti sebuah kematian....

Mengapa Pidato Kyai Hasyim Menghebohkan?

OPINI | 08 June 2012 | 22:12 Dibaca: 1317   Komentar: 29   6

Pluralitas di Indonesia itu adalah keniscayaan. Perbedaan adalah hal yang wajar dan tidak bisa terbantahkan, oleh apapun bahkan oleh firman Allah ataupun sabda nabi. Sehingga siapapun tidak bisa menyamakan perbedaan-perbedaan itu.

Sinyalemen yang akhir-akhir ini muncul dan dihembus-hembuskan oleh banyak media yang cenderung kurang jujur dan adil dalam pemberitaan, adalah upaya penyamaan perbedaan-perbedaan itu. Pemelintiran bahasa sering digunakan untuk mengelabui orang-orang untuk membenarkan pendapatnya.

Lihat saja kata pluralism. Saat ini terminology pluralism justru diarahkan pada penyamaan-penyamaan yang memang berbeda. Seakan-akan pluralism itu adalah benar adanya. Dengan terminology itu orang-orang yang “barat minded” telah digerakkan untuk berbuat untuk menghambur-hamburkan dan mempertajam perbedaan alami.

Ada logika yang sulit dipahami dalam konteks pluralism itu. Di sisi lain, pengusung ide itu sangat mengnginkan orang lain menghormati perbedaan-perbedaan yang ada, namun sisi sebaliknya mereka sering menyerang orang-orang yang berseberangan dengan ide mereka. Sebuah ironi sebetulnya.

Pun kabar terakhir, beredarnya pidato mantan Ketua Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PB NU) Kyai Hasyim Muzadi. Pidato yang biasa-biasa dan apa adanya itu pun diheboh-hebohkan oleh banyak kalangan.  Salah satunya Yahoo Indonesia yang kemarin (7/6/12) mengangkat sebagai berita utama.  Dengan mengambil judul yang “heboh” Yahoo memberitakan pidato Kyai Hasyim penuh semangat “Pidato Hasyim Muzadi yang Menghebohkan Beredar Luas”.

Tak pelak berita itu menjadi berita yang menarik. Ketika penulis menyimpan laman itu, sudah terdaftar  2.695 komentar yang nyantol di berita itu. Tidak hanya itu, ada sekitar  424 menyalurkannya lewat tweeter.

Komentar pertama yang dituliskan oleh Iras, misalnya, berkomentar “biasanya kalau heboh pasti ada yang salah dan menyimpang…tapi setelah saya baca berulang kali kok perasaan ngga ada yang menyimpang, sepertinya 99% masuk akal dan benar adanya….apanya yang menghebohkan ??? yaho jangan bikin kacau dech” mendapat tanggapan 27 komentar. Selain itu komentar itu diapresiasi dengan jempol keatas yang menandakan komentar yang baik sebanyak 244. Artinya banyak pembaca yang menyetujui isi pidato Kyai Hasyim tersebut.

Selain Iras, masih banyak sekali komentar yang mengapresiasi pidato Kyai Hasyim dan merasa telah diwakili oleh pidato yang menurut salah satu komentar, itu benar-benar suara umat Islam di Indonesia yang tanpa tedheng aling-aling, “Setuju banget dg isi pidato pak Hasyim, cm beliau diantara ketua PBNU jaman skr yg masih istiqomah. Itulah realita yg ada tanpa tedeng aling2, klo toh ada yg prote pasti ada maksud lain yg ga suka negara aman.”

Pidato KH. Hasyim Muzadi, yang menjabat Presiden WCRP (World Conference on Religions for Peace) & Sekjen ICIS (International Conference for Islamic Scholars) & Mantan Ketum PBNU  tentang tuduhan INTOLERANSI agama di Indonesia oleh Sidang PBB di Jeneva, memang dianggap menghebohkan oleh banyak kalangan, terutama mereka yang mengusung HAM, Sekularisme, dan Pluralisme.

Dalam pidato itu (terlepas kabar ini benar atau tidak) KH Hasyim memang betul-betul tanpa tedeng aling-aling dalam menyampaikan pendapatnya. Pidato itu seakan menjadi tameng atas semua berita kemiringan yang menimpa umat Islam di Indonesia. Terus terang jarang seorang ulama yang berani bersikap jujur apa adanya seperti KH. Hasyim.

Ada beberapa terminology yang dibantah oleh beliau di antaranya tentang tuduhan intoleran, tentang Ahmadiyah, tentang konflik Gereja Yasmin Bogor, beberapa konflik dalam masyarakat terkait dengan pendirian gereja di kawasan muslim, Lady Gaga dan Irsad Manji, dan tentang ukuran HAM yang sering digembor-gemborkan oleh Barat dan antek-anteknya.

Kenyataannya, pidato itu memang sangat berseberangan dengan isu yang diusung oleh beberapa media yang terus menghembuskan hal-hal yang diangkat oleh KH. Hasyim tersebut. Dan itu tentu hal yang wajar, karena banyak media dan LSM yang memang tidak pernah berpihak kepada umat Islam.

Umat Islam memang mayoritas di bumi Indonesia, namun secara media memang tidak ada apa-apanya. Hembusan-hembusan miring selalu terarah kepada umat Islam. Umat Islam memang jarang diposisi positif bila berhadapan dengan beberapa media, dan siapapun yang berhadapan dengan umat Islam akan mendapat pembelaan yang luar biasa, termasuk mungkin PBB sekalipun.

Ambil contoh misalnya konflik gereja Yasmin, PBB pun akhirnya mengirimkan pesan keprihatinan. Dan masih banyak lagi kasus-kasus kecil menjadi perhatian dunia. Namun demikian tidak sedikit kasus-kasus kejahatan terhadap umat Islam tidak dilirik oleh PBB bahkan dunia. Lihat saja konflik Israel Palestina, Iraq, dan kejahatan kemanusiaan yang terjadi di mana-mana. Kemana itu HAM, TOLERANSI?

Karena memang politik dunia tidak menginginkan Islam menjadi bagiannya, itulah mungkin yang mengakibatkan pidato KH. Hasyim Muzadi menghebohkan dunia.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

5 Kompasianer Beropini tentang Paspampres …

Kompasiana | | 02 September 2014 | 15:41

Keuntungan-keuntungan dari Kasus Florence …

Andreas Ab | | 02 September 2014 | 12:43

Mengapa Plagiarisme Disebut Korupsi? …

Himawan Pradipta | | 02 September 2014 | 11:59

Menyaksikan Sinta Obong di Yogyakarta …

Bugi Sumirat | | 02 September 2014 | 12:19

Inilah Pemenang Lomba Kompetisi Blog ACC! …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 12:25


TRENDING ARTICLES

Presiden SBY dan Koalisi Merah Putih …

Uci Junaedi | 4 jam lalu

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 6 jam lalu

Halusinasi dan Penyebabnya, serta Cara …

Tjiptadinata Effend... | 7 jam lalu

Vonis Ratu Atut Pamer Kekuatan Mafia Hukum …

Ninoy N Karundeng | 9 jam lalu

3 Langkah Menjadi Orang Terkenal …

Seneng Utami | 11 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: