Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Wajiran

Wajiran, S.S., M.A. adalah dosen Ilmu Budaya di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Penerima Beasiswa Program selengkapnya

Tontonan Jadi Tuntunan, Tuntunan Jadi Tontonan

OPINI | 05 June 2012 | 18:09 Dibaca: 493   Komentar: 9   1

Tontonan Jadi Tuntunan, Tuntunan Jadi Tontonan

Oleh

Wajiran, S.S., M.A.

(Kepala Pusat Pengembangan Bahasa Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta)

Penulis tidak tahu persis asal peribahasa dalam judul tulisan ini, namun yang jelas, kata-kata ini tidak asing lagi di telinga kita. Meskipun peribahasa tersebut berasal dari bahasa Jawa, tetapi sudah sangat sering diucapkan oleh masyarakat dimana-mana. Selain itu, setiap saat kita juga melihat fenomena masyarakat, yang menjadikan tontonan jadi tuntunan sedangkan tuntunan jadi tontonan.

Peribahasa ini nampak sederhana namun sangat mengena. Begitu banyak orang berbondong-bondong dengan antusiasnya menghadiri suatu acara yang penuh hura-hura, dan penuh kesenangan sesaat. Sedangkan acara yang mengandung pelajaran sepi penggemar. Tempat-tempat hiburan, setiap detik dipenuhi begitu banyak orang, sedangkan acara yang mengandung pendidikan hanya digemari segelintir orang. Itupun hanya di waktu-waktu tertentu yang intensitasnya sangat sedikit. Bulan Ramadhan seumpamanya, sering hanya menjadi tontonan rohaniah. Pengajian, tausyah, dan kultum ataupun kegiatan keagamaan lainnya, dianggap hanya hiburan semata. Karena setelah mengikuti acara keagamaan, bukannya mengaplikasikan tetapi sekedar penyejuk batin sesaat.

Berbeda halnya dengan orang yang datang ke suatu acara hiburan, mereka dengan penuh antusias memakai berbagai atribut yang sangat mencolok, sebagai tanda ketaatan terhadap tontonan. Mereka pun tidak segan-segan menggunakan atribut sang artis di rumah, di tempat perbelanjaan ataupun di tempat umum lainnya. Para penggemar itu dengan sangat percaya diri menggunakan pakaian ala artis (seolah di atas panggung) dimanapun mereka berada.

Inilah sebuah kontradiksi di dalam masyarakat kita. Saat menonton hiburan kebanyakan dari kita menirukan dan mengaplikasikan “ilmu” yang dilihatnya, sedangkan saat pengajian ataupun perkuliahan, pesan dan informasinya hanya lewat begitu saja.

Kita menyadari bahwa tontonan sebagai manu utama kita setiap hari. Di acara-acara televisi lebih dari 90 % adalah hiburan. Mulai pementasan musik, infotainment, film dan lain sebagainya. Acara-acara ini setiap hari menghegemoni kita secara terus-menerus. Itulah sebabnya kenapa tontonan lebih meresap ke dalam benak dan pikiran kita. Begitu massifnya serangan ideology dalam tontonan ini masuk kedalam otak kita, menyebabkan kita terlena dan tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak.

Inilah sebuah realitas kehidupan masyarakat kita. Penjajahan model barat dengan konsep hegemoni budaya sudah nyata merasuk di dalam diri kita. Hegemoni melalui produk budaya ini akan mengalihkan atau bahkan menghilangkan ideologi asli bangsa kita. Wajarlah jika karakteristik bangsa tentang; kesopanan, kesantunan, keramahan dan gotongroyong sudah terkikis di dalam masyarakat kita. Pancasila, sebagai landasan hukum, sudah tidak berdaya lagi mengikat generasi kita. Ideologi pancasila kini tinggal kenangan, karena sudah tidak ada lagi yang perduli terhadap nilai-nilai luhur, hasil jerih payah pendahulu kita.

Pengaruh penjajahan ideologis ini lebih berbahaya dari penjajan model lainya, fisik dan ekonomi. Jika penjajahan fisik (kolonialisme) kita sudah lolos, karena kita bisa merasakan betapa perihnya menjadi negara yang terjajah. Namun sekarang kita mengalami penjajahan gaya baru yang bernama penjajahan ekonomi dan ideologi. Kita sudah bisa melihat bagaimana kolonialisme ekonomi sudah begitu nyata dalam kehidupan kita. Produk-produk yang ada di negeri ini didominasi oleh negara lain. Belum lagi hasil bumi kita yang setiap detik dikuras oleh negara asing.

Berbeda halnya dengan penjajahan fisik dan penjajahan ekonomi, dalam penjajahan ideologi kita tidak merasakan kepedihan. Tetapi justru sebaliknya, penjajahan ini memanjakan kita dengan paham dan nilai-nilai baru yang dianggap lebih modern (Huntington: 2004). Kita lihat saja bagaimana generasi kita lebih berbangga dengan model pakaian ala barat, produk-produk teknologi, makanan dan juga hiburan. Dalam kontek ini, masyarakat kita sangat menikmati penjajahan itu karena kebanggaan terhadap budaya asing. Penjajahan ideologis melahirkan sebuah kondisi hilanngnya harga diri. Padahal, kebanggaan terhadap budaya asing, hanya akan memakmurkan negara asing itu.

Realitas seperti inilah yang dikhawatirkan para founding father negeri ini. Saat gempuran ideologi asing masuk dengan leluasanya, maka akan melahirkan sebuah kebingungan. Kebingungan terhadap identitas diri sendiri yang melahirkan sebuah keambiguan. Loose identity adalah keterjajahan kita secara idelogis yang akhirnya membuat diri kita tidak percaya diri. Kita hanya mengekor budaya asing, kita bahkan tidak kuasa berdiri sendiri. Itulah sebabnya lahir sebuah istilah loose character is loose everything. Kehilangan karakter (kepribadian) berarti kehilangan segalanya. Kemerdekaan, kemandirian, dan kebebasan berdiri sendiri sudah terpasung oleh negara lain.

Tulisan ini bukan bermaksud anti terhadap kemodernan. Tetapi keseimbangan antara pemahaman teknologi haruslah tidak mengikis nilai-nilai luhur di dalam kebudayaan kita sendiri, apalagi agama. Hilangnya nilai-nilai luhur ini hanya akan melahirkan sebuah ketidakjelasan identitas, sebagai sebuah negara. Itu sebabnya sangat disayangkan jika Pancasila, sebagai dasar negara akan dihapuskan dari dunia pendidikan kita. Penghapusan terhadap pengajaran Pancasila adalah sebuah bentuk bunuh diri yang paling nyata.

China, adalah salah satu negara yang sangat konsisten dengan pahamnya, komunis. Untuk menjaga keaslian dan kekhasan masyarakat China, negara itu membentuk sebuah lembaga khusus yang mengajarkan dan mengawal paham komunis di setiap lembaga yang ada di negeri itu. Itulah sebabnya China dengan penduduknya yang 1,3 Milyar mampu menciptakan sebuah negara yang tangguh dengan kedisiplinan dan keteguhan di dalam memperjuangkan harkat dan martabatnya.

Kita hanya berharap pemerintah memikirkan kembali akan dihilangkannya pengajaran Pancasila dari lembaga pendidikan. Karena kita harus menghargai jerih payah perjuangan para pendahulu kita yang telah mengorbankan harta, benda dan bahkan nyawa demi bangsa ini. Identitas adalah harga yang paling tinggi bagi kita. Kehilangan identitas sama halnya kematian kita sendiri. Wa Allah a’lam.

Yogyakarta, 4 Mei 2012

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Patung Survivor Lapindo Mulai Tenggelam …

Teguh Hariawan | | 22 September 2014 | 21:21

Daya Tarik Kota Emas Prag, Ditinggalkan …

Cahayahati (acjp) | | 23 September 2014 | 04:08

Beginilah Antusiasme para Warga Belajar …

Pkbm Al-fath | | 22 September 2014 | 23:52

Ketika Animasi Tom & Jerry Ditegur KPI, …

Sahroha Lumbanraja | | 23 September 2014 | 00:24

Ayo, Tunjukan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Ini Kata Anak Saya Soal 4 x 6 dan 6 x 4 …

Jonatan Sara | 1 jam lalu

Cara Gampang Bangun ”Ketegasan” …

Seneng Utami | 6 jam lalu

Ramping Itu Artinya Wamen dan Staff Ahli …

Den Bhaghoese | 9 jam lalu

Kasus PR Habibi, ketika Guru Salah Konsep …

Erwin Alwazir | 14 jam lalu

Abraham Lunggana, Ahok, Messi, dan Pepe …

Susy Haryawan | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Tak Serenyah Makan Krupuk …

Sulis Voyager | 7 jam lalu

Konflik Perkalian PR SD, Bukti Pendidikan …

Muhammad | 7 jam lalu

Profesionalisme Guru Indonesia …

Huda Ahmadi | 7 jam lalu

Perang Mulut di Talkshow TV (Mestinya) Cuma …

Arief Firhanusa | 7 jam lalu

Menghaturkan Tanya …

Anis Fuadah Zuhri | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: