Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Wajiran

Wajiran, S.S., M.A. adalah dosen Ilmu Budaya di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Penerima Beasiswa Program selengkapnya

Jual Harga Diri demi Sesuap Nasi

OPINI | 25 May 2012 | 04:07 Dibaca: 676   Komentar: 4   0

Jual Harga Diri demi Sesuap Nasi

Oleh

Wajiran, S.S., M.A.

Degradasi moral yang ada di kalangan masyarakat kita nampaknya sudah sedemikian parah. Pasalnya, degradasi bukan hanya dialami oleh kaum muda, tetapi juga kaum tua dan setengah tua. Bukan hanya terjadi pada orang bodoh, tetapi juga orang yang super pintar. Bukan hanya pada orang miskin, tetapi juga orang kaya. Inilah fenomena hidup yang sangat memprihatinkan bagi kita semua.

Lahirnya para tokoh “gadungan” yang mencari popularitas dengan mengorbankan harga diri dan juga aqidah merajalela di berbagai kalangan. Inilah yang mendasari tulisan ini berjudul Jual Harga Diri demi Sesuap Nasi. Di kalangan artis; Julia Peres, Dewi Persik, dan Ayu azhari adalah contoh kecil dari para artis yang mengais rezeki dengan seksualitas dan sensualitas tubuh mereka. Tidak ketinggalan Inul Daratista (yang sering dijuluki darah nista), dengan goyang ngebornya telah mengebor seluruh sendi-sendi norma, agama dan nilai-nilai kemanusiaan kita.

Tak kalah menghebohkan seksualitas juga diperdagangkan oleh para cendikia wanita. Para sastrawati Indonesia yang dipelopori oleh N.H. Dini dan Ayu Utami telah membuat gebrakan dengan mendrobak semua tatanan norma-norma. Dengan berbagai cara mereka mengekspresikan kejengkelannya terhadap system patriarkhi dengan menciptakan tokoh yang syarat dengan seksualitas dan sensualitas. Para penulis ini mengeksplorasi habis-habisan mengenai tubuh dan kebebasan perempuan.

Masih hampir mirip dengan para sastrawati, para aktivis keagamaan atau bisa dikatakan cendikiawan pun tidak ketinggalan. Demi mendapatkan popularitas Ulil Absor Abdala membuat begitu banyak gebrakan. Tokoh muda ini telah menggabungkan pemikiran barat, yang dimotori agama Kristen, dengan pemikiran Islam. Hasilnya Ulil lebih mengedepankan rasionalitas daripada norma agama yang suci dan agung itu. Pemikiran Ulil Absor Abdalah telah merusak nilai agama Islam yang sesungguhnya sangat mulia.

Lahirnya para pendobrak ini sangat berpengaruh terhadap tatanan masyarakat kita. Itu sebabnya telah lahir berbagai dinamika yang sangat jauh dari nilai-nilai norma masyarakat kita. Wacana liberalisme dan feminisme saat ini sudah menjadi paham yang sangat umum di dalam masyarakat kita. Wacana ini menimbulkan berbagai pro dan kontra yang sangat menguras pikiran dan tenaga kita.

Dampak paling riil terhadap paham kebebasan ini adalah lahirnya pikiran-pikiran anti terhadap norma yang ada di dalam masyarakat. Pergaulan bebas, kebrutalan remaja, dan juga kebasan berfikir telah melahirkan manusia-manusia setengah binatang. Walhasil, timbulah persoalan yang lebih berbahaya yaitu; merebaknya penyakit-penyakit masyarakat yang diikuti dengan merebaknya penyakit kelamin; HIV/AIDs dan sejenisnya. Belum lagi persoalan kelahiran di luar nikah yang saat ini sudah dianggap sebagai hal yang biasa.

Mereka-mereka yang berpaham bebas ini dengan berbagai cara berdalih atas nama kemanusiaan. Atas dasar pertimbangan rasio, dan akal pikir, mereka berkreasi menciptakan dan menganggap sebagai paham yang paling sempurna. Walhasil, nilai-nilai norma, bahkan agama dianggap sudah usang dan tidak bisa di aplikasikan bagi manusia modern saat ini. Paham-paham seperti inilah yang nantinya akan melahirkan manusia-manusia yang tidak ada bedanya dengan binatang. Hidup semaunya, tanpa pernah memperhatikan nilai etik dan nilai estetik sebagai manusia. Wa Allah a’lam.

Yogyakarta, 25 Mei 2012

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jakarta Community Tampil Semarak di Asean …

Tjiptadinata Effend... | | 02 September 2014 | 19:52

Modus Baru Curi Mobil: Bius Supir …

Ifani | | 02 September 2014 | 18:44

Beranikah Pemerintah Selanjutnya …

Dhita A | | 02 September 2014 | 19:16

Si Biru Sayang, Si Biru yang Malang …

Ikrom Zain | | 02 September 2014 | 21:31

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Mungkinkah Jokowi Bisa Seperti PM India …

Jimmy Haryanto | 9 jam lalu

Bebek Betutu Ubud Pak Mangku …

Febi Liana | 12 jam lalu

Presiden SBY dan Koalisi Merah Putih …

Uci Junaedi | 13 jam lalu

Ahok, Mr. Governor si “Pembelah …

Daniel H.t. | 14 jam lalu

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Kejujuran …

Rahmat Mahmudi | 8 jam lalu

Berupaya Mencapai Target Angka 7,12% …

Kun Prastowo | 8 jam lalu

Jejak Indonesia di Israel …

Andre Jayaprana | 8 jam lalu

Jazz Atas Awan, Mendengar Musik Menikmati …

Pradhany Widityan | 8 jam lalu

Indahnya Kebersamaan di Ultah Freebikers …

Widodo Harsono | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: