Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Mamang Haerudin

Koordinator ADIL (Arus Dialektika Islam non-Literal)

Haul Pesantren Gedongan, Kabupaten Cirebon

REP | 17 May 2012 | 07:31 Dibaca: 373   Komentar: 0   0

Di Wilayah III Cirebon (Kota dan Kabupaten cirebon, Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Indramayu), Kabupaten Cirebon merupakan satu Kabupaten yang banyak memiliki Pesantren. Tak ayal, jika Kabupaten Cirebon pantas menyandang Kampung Pesantren. Pesantren itu, sekurangnya; Pesantren Babakan Ciwaringin, Pesantren Buntet, Pesantren Kempek, dan Pesantren Gedongan. Ada banyak hal apik dan unik di Pesantren. Dan Gus Dur, adalah satu diantara tokoh yang pernah banyak menggagas pemikiran apik tentang Pesantren, satu diantaranya mengenai Pesantren sebagai sub kultur. Nah, dalam hemat saya, bahwa salah satu komponen sub kultur Pesantren yang apik dan unik adalah ritualnya dalam mentradisikan Haul. Ya, haul adalah salah satu tradisi Pesantren, yang dimaksudkan untuk mengenang serta mentauladani sosok kharismatik para Kiai, yang sudah wafat.

Berkenaan dengan ini, yang juga akan segera digelar oleh Keluarga Besar Pesantren Gedongan, Kabupaten Cirebon, dalam waktu dekat, tepatnya pada hari Sabtu malam Minggu, tanggal 19 Mei 2012. Setelah sebelumnya ritual Haul serupa, juga telah digelar oleh para Pesantren lain, tetangganya, secara berurutan sebelumnya, mulai dari Haul Pesantren Kempek, Haul Pesantren Buntet, dan terakhir Haul Pesantren Babakan Ciwaringin. Dan menurut informasi yang saya dapatkan, gelaran Haul ini akan dihadiri oleh banyak kalangan, terutama oleh Ketua Umum PBNU; Prof. Dr. KH. Said Aqiel Siradj, MA–yang juga termasuk keluarganya–dan KH. Musthofa Bisri; Wakil Rais Syuriah PBNU.

Sementara, tokoh kharismatik, Kiai, yang akan dihauli itu adalah KH. Amin Siradj, KH. Hasanuddin Imam, dan beberapa Kia kharismatik lainnya. Inilah saya rasa, apa yang selama ini dipegang teguh oleh Pesantren, yang sesuai dengan adagium “al-Muhafadhatu ‘ala Qadimi al-Shalih wa al-Alakhdzu Bi al-Jadid al-Ashlah” (Menjaga tradisi lama yang masih relevan, dan mengambil tradisi baru yang lebih relevan). Karenanya, kepada segenap warga Pesantren, Nahdliyin, dan segenap bangsa Indonesia, mari untuk senantisa memegang teguh adagium tersebut. Maka dari itu, kiranya tak berlebihan, jika salah satu bentuk dari memegang teguh adagium itu adalah dengan menghadiri Haul ini. Sekian. Wallahu ‘alam Bi al-Shawab.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Heritage Kereta Api, Memadukan Bisnis …

Akhmad Sujadi | | 20 August 2014 | 08:31

Kabar Gembira, Kini KPK Ada TVnya! …

Asri Alfa | | 20 August 2014 | 11:16

Kesadaran Berdaulat Berbuah Ketahanan dan …

Kusuma Wicitra | | 20 August 2014 | 12:38

Saonek Mondi Sebuah Sudut Taman Laut Raja …

Dhanang Dhave | | 20 August 2014 | 12:13

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Nikita Willy Memukul KO Julia Perez …

Arief Firhanusa | 6 jam lalu

Kalau Tidak Bisa Legowo, Setidaknya Jangan …

Giri Lumakto | 7 jam lalu

Di Balik Beningnya Kolang-kaling …

Hastira | 8 jam lalu

Menebak Putusan Akhir MK di Judgment Day …

Jusman Dalle | 9 jam lalu

Massa ke MK, Dukungan atau Tekanan Politis? …

Herulono Murtopo | 10 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: